INVESTIGASI

Pondok Pesantren dan Surat Sakti Patrialis

Patrialis Akbar tengah membangun pondok pesantren di dekat vila miliknya di Puncak, Bogor. Pernah mengirim surat berkop MK saat menyelesaikan konflik tanah untuk akses jalan vila menuju pondok pesantren.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 11 Februari 2017

Lahan seluas 7.654 meter persegi di tepi jalan utama Kampung Citeko, Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu dikelilingi oleh pagar beton setinggi 3 meter lengkap dengan pintu gerbang berwarna hitam. Di dalamnya terdapat bedeng dua lantai yang digunakan sebagai tempat berteduh sejumlah pekerja dari Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Di lahan itulah hakim Mahkamah Konstitusi, Patrialis Akbar, berencana membangun pondok pesantren. Meski Patrialis ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi karena dugaan menerima suap pada 25 Januari lalu, pembangunan pondok pesantren tersebut tampaknya tidak terpengaruh.

Pantauan detikX pada Senin, 6 Februari lalu, sejumlah pekerja sibuk menggali tanah, merangkai besi beton, dan membuat fondasi bangunan. Sampai sejauh ini, baru fondasi masjid yang sudah selesai. Rencananya, pondok pesantren itu terdiri atas gedung kelas 2-3 lantai, perumahan ustad atau pengajar, serta kantor Yayasan Miftahul Jannah Akbar.

Amat, 55 tahun, mandor pembangunan pondok pesantren tersebut, mengaku tak tahu-menahu proyek yang digarapnya merupakan milik Patrialis. Para buruh bangunan itu dipekerjakan oleh yayasan. “Saya belum pernah melihat Pak Patrialis ke sini,” ujar Amat kepada detikX. Hingga kini, ujar Amat, belum ada perintah apa pun dari yayasan setelah ditangkapnya Patrialis. “Nggak ada perintah untuk stop. Orang Yayasan juga belum datang ke sini. Makanya kita kerja saja,” tutur Amat.

Jalan yang menghubungkan pondok pesantren dengan vila milik Patrialis di Desa Citeko
Foto: M. Rizal/detikX


Kita memang belum ketemu pemiliknya (Patrialis). Yang datang ke sini adalah notaris bernama Hariyadi. Di AJB-nya sebagai pemohon atas nama Patrialis Akbar."

Ketua RT 01 RW 07 Kampung Citeko, Suwardi, 45 tahun, juga mengatakan baru tahu belakangan bahwa Yayasan Miftahul Jannah Akbar dikelola Patrialis. Saat membeli lahan pada 2013, yayasan tersebut mengutus notaris dari Cibinong bernama Hariyadi. Kebetulan salah satu tanah yang dibeli adalah milik ibunya seluas 1.400 meter persegi.

Namun Patrialis bukanlah orang asing di Kampung Citeko. Sekitar tujuh tahun lalu, mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia itu membeli sebuah vila di kampung tersebut. Vila itu pun hanya terpaut jarak sekitar 200 meter di belakang bakal pondok pesantrennya. “Dengan Pak Patrialis, saya kenal lama. Dia warga saya. Makanya kalau dia ke sini, ya, ke vila itu,” ungkap Suwardi kepada detikX.

Patrialis sempat ingin memanfaatkan sebuah jalan buntu di sekitar lahan yang kini dibangun ponpes itu untuk membuat akses ke vilanya. Upaya tersebut menimbulkan perselisihan dengan warga setempat. Namun masalah itu beres setelah Patrialis mengirim surat berkop MK meminta dibantu mediasi dengan pemilik tanah.

“Itu sempat. Itu sebelum membeli lahan di situ kan ada jalan kecil, jalan buntu. Nggak tahu secara jelas. Tapi saya dengar (Patrialis) menggunakan surat (MK) itu,” ujar Sekretaris Desa Citeko, Sahrudin, kepada detikX di kantornya.

Sekretaris Desa Citeko H Sahrudin.
Foto: M. Rizal/detikX

Surat Izin Peruntukan Penggunaan Tanah untuk pondok pesantren Patrialis Akbar.
Foto: M. Rizal/detikX

Kepala Bidang Pelayanan Perizinan dan Pemanfaatan Ruang DPMPTSP Kabu­paten Bogor Dani Rahmat
Foto: M. Rizal/detikX

Sahrudin menjelaskan pembangunan masjid dan Pondok Pesantren Miftahul Jannah Akbar telah dilengkapi dengan izin lingkungan. Izin itu dilayangkan dua bulan lalu oleh Hariyadi dengan melampirkan tiga akta jual-beli (AJB) atas nama Patrialis. Patrialis membeli tahan dari tiga warga, yakni Haji Uwes Kurnia, Haji Fahrur Rozi, dan Hajah Khodijah (almarhum), ibunda Suwardi.

"Kita memang belum ketemu pemiliknya (Patrialis). Yang datang ke sini adalah notaris bernama Hariyadi. Di AJB-nya sebagai pemohon atas nama Patrialis Akbar," ujarnya.

Walau sudah mengantongi izin lingkungan dari sejumlah warga desa, ternyata pembangunan popes itu belum memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). Patrialis baru mengantongi izin peruntukan penggunaan tanah (IPPT) dari Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bogor.

IPPT itu diterbitkan pada 17 Januari 2017 sesuai dengan surat Keputusan Bupati Bogor Nomor 591.2/002/0006/DPMPTSP/2017. Dalam surat itu, Patrialis memperoleh izin lokasi pembangunan Pondok Pesantren Miftahul Jannah Akbar di lahan seluas 7.654 meter persegi. Dalam pengajuan permohonan IPPT itu, Patrialis menyerahkan fotokopi tujuh sertifikat hak milik atas tujuh bidang tanah yang sudah dialihkan atas namanya.

“Pemohonnya langsung atas nama pribadi Patrialis Akbar. Tanahnya juga tanah pribadi,” kata Kepala Bidang Pelayanan Perizinan dan Pemanfaatan Ruang DPMPTSP Kabupaten Bogor Dani Rahmat kepada detikX di kantornya, Jalan Tegar Beriman, Cibinong, Bogor, pada 8 Februari lalu.

Gambar denah Pondok Pesantren Miftahul Jannah Akbar.
Foto: M. Rizal/detikX

Gerbang masuk pondok pesantren Patrialis.
Foto: M. Rizal/detikX

Bagian dalam proyek pondok pesantren Patrialis.  
Foto: M. Rizal/detikX

Dani menjelaskan, bila mengikuti aturan teknis yang ada, setelah mendapatkan IPPT, proses selanjutnya adalah mengurus site plan (gambar tapak) ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Lalu mengurus rencana pengelolaan dan pengawasan lingkungan ke Dinas Lingkungan Hidup.

Selanjutnya ke Dinas Tata Bangunan dan Pemukiman Perumahan untuk pengesahan gambar atau pengesahan dokumen rencana teknis. Setelah dokumen semua didapatkan, baru dapat mengajukan permohonan IMB. “Nah, kalau semua perizinannya lancar, baru tiga bulanlah, bisa mengajukan IMB ke sini,” katanya.

Pengacara Patrialis, Indra Syahnun Lubis, mengaku tidak tahu-menahu rencana pendirian pondok pesantren tersebut. “Ya, mungkin dia menjadi donatur. Bisa jadi. Kan nggak tahu saya,” kata Indra saat ditemui detikX di kantornya, Apartemen Wijaya, Jalan Wijaya, Jakarta Selatan, Senin, 6 Februari.

Sebenarnya, selain membangun Pondok Pesantren Miftahul Jannah Akbar di Bogor, Patrialis membangun pondok pesantren di kawasan Kompleks Masjid Nurul Hidayah Ngalau, Kelurahan Batu Gadang, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatera Barat. Kota ini merupakan kampung halaman dan tempat tinggal keluarga besar Patrialis.


Reporter: M. Rizal, Gresni Arela F., Aryo Bhawono
Penulis: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE