INVESTIGASI

‘Kolaborasi’ Dua Sekawan di Padang Golf

"Bermain golf itu tidak salah. Kita tidak menyalahkan hobinya, tapi menyalahkan kumpulannya.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 11 Februari 2017

Di mata Achmad Irfan, seorang caddy master di lapangan golf Jakarta Golf Club, Jalan Rawamangun Muka Nomor 1, Jakarta Timur, Patrialis Akbar dan Kamaludin adalah sahabat kental. Di mana Patrialis memukul bola, di situ pula Kamaludin berada.

Keduanya hampir selalu bersama saat bermain golf di lapangan golf dekat Universitas Negeri Jakarta itu. Bahkan Patrialis dan Kamaludin bareng-bareng saat mendaftar sebagai member di situ. “Sudah lama. Mungkin 5-6 tahun,” ujar Irfan saat ditemui detikX, Selasa, 7 Februari 2017.

Menjadi member di Jakarta Golf Club, menurut Irfan, mereka dikenai iuran Rp 300-450 ribu per bulan. Namun biasanya tamu masih memberikan tip kepada caddy yang mendampingi. “(Pak Patrialis) sekali main bayar Rp 200-300 ribu,” katanya.

Di lapangan golf tersebut, Patrialis selalu minta ditemani caddy bernama Ariyanto. Ia menolak saat ditawari caddy perempuan. Alasannya, caddy perempuan kurang bisa membaca situasi saat bermain golf, seperti sudut kemiringan lapangan. “Terus, kata Pak Patrialis, bukan muhrim,” tutur Irfan.

Kamaludin mengenakan rompi oranye di gedung KPK, Jakarta.
Foto: Agung Pambudhy/detikcom


(Patrialis) sekali main bayar Rp 200-300 ribu."

Dikatakan Irfan, Patrialis dan Kamaludin rutin bermain golf, tiga kali dalam sepekan. Patrialis biasanya tiba di lapangan golf sekitar pukul 05.30 WIB dan bermain dua jam. Habis bermain golf, Patrialis lantas berangkat ke kantornya di gedung Mahkamah Konstitusi. “Kadang dia (Patrialis) salat Jumat di sini. Salat doang, habis itu pulang,” kata Irfan.

Perkawanan Patrialis dengan Kamaludin itu memang sudah lama berlangsung. Keduanya pernah bertetangga di Perumahan Harapan Baru Regency, Bekasi, Jawa Barat. Rumah Kamaludin berada di Jalan Nusa Indah IV Blok C4 Nomor 32, sedangkan Patrialis dulu tinggal di Blok C5. Jarak rumah keduanya hanya 100 meter.

Patrialis mulai tinggal di kompleks itu sekitar tahun 1990. Patrialis, yang masih berprofesi sebagai pengacara, pernah menjadi Ketua RW 14. Ia merupakan donatur tetap Masjid At-Taqwa di kompleks tersebut. Bahkan masjid itu diresmikan oleh Patrialis bersama Akbar Tandjung. “Patrialis itu orangnya gaul. Suka bercanda sama tetangga. Banyol terus,” kata Rio, seorang warga setempat, kepada detikX.

Menjelang pemilu legislatif 2004, Patrialis menjual rumahnya di Harapan Baru Regency itu. Ia juga melego rumah-toko miliknya di kompleks tersebut, yang sebelumnya jarang dipakai untuk berdagang. Sedangkan Kamaludin tetap berada di kompleks hingga kini. Namun pertemanan keduanya berlanjut karena punya hobi yang sama, ya golf itu. Selain di Rawamangun, keduanya diketahui kerap bermain golf di lapangan golf di kawasan Bogor.

Rumah Kamaludin di Kompleks Perumahan Harapan Baru Regency, Bekasi
Foto: Ibad Durohman/detikX

Namun dari lapangan golf pula “kolaborasi” keduanya berakhir. Rabu, 25 Januari 2017, dua sekawan tersebut tengah bermain golf di Rawamangun. Selesai bermain golf pada pukul 08.00 WIB, Patrialis dan Kamaludin menyantap sarapan di restoran. Puas sarapan, Patrialis pamit, sedangkan Kamaludin masuk kamar mandi dekat lobi untuk menikmati sauna.

Begitu rampung mandi uap, Kamaludin kaget saat didekati sejumlah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi. Ia lantas digelandang ke kantor KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. KPK juga menangkap pengusaha impor daging Basuki Hariman dan seorang karyawannya bernama Fenny pada waktu yang hampir bersamaan.

Patrialis sibuk bersidang di MK sepanjang hari itu. Namun, malam harinya, mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia itu ditangkap di Mal Grand Indonesia. Saat itu Patrialis sedang mengantar seorang perempuan muda bernama Anggita Eka Putri dan keluarganya untuk makan malam dan berbelanja.

Menurut KPK, penangkapan mereka terkait dengan dugaan suap putusan MK atas permohonan uji materi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang ditangani Patrialis. Patrialis diduga menerima pemberian uang total senilai Rp 2,15 miliar dari Basuki. Uang itu diserahkan melalui Kamaludin, yang berperan sebagai perantara.

Juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan transaksi penyerahan uang antar tersangka diduga dilakukan sebanyak tiga tahap. Penyerahan terakhir dilakukan Kamaludin saat berolahraga di lapangan golf Rawamangun pada Rabu pagi itu. “Indikasi penerimaan uang sebelumnya sudah ada, sekitar US$ 20 ribu,” ujar Febri di KPK.

Pengusaha impor daging Basuki Hariman setelah diperiksa KPK.
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Seorang sumber di komisi antirasuah itu kepada detikX membisikkan, uang dari Basuki tersebut antara lain digunakan Patrialis untuk melakukan ibadah umrah ke Tanah Suci Mekah. Selain itu, uang panas tersebut mengalir untuk pembangunan Pondok Pesantren Miftahul Jannah Akbar milik Patrialis di Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Uang itu juga dibagi dua oleh Patrialis kepada Kamaludin.

Suap itu diduga diberikan agar Patrialis membocorkan draf putusan uji materi UU tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Draf putusan yang akan dibacakan pada Selasa, 8 Februari, itu pun telah diserahkan kepada Kamaludin saat di lapangan golf Rawamangun. Namun sumber detikX menambahkan, sebelumnya Patrialis juga pernah memberikan draf kepada Basuki melalui Kamaludin. “Draf pertama itu minta agar dihancurkan dengan dibakar,” katanya.

Basuki membantah telah mendanai umrah Patrialis. Pasalnya, kepada Basuki, Kamaludin bilang dialah yang akan berangkat ke Mekah. detikX berusaha melakukan konfirmasi kepada Kamaludin melalui keluarga. Namun, ketika disambangi pada Rabu, 8 Februari, rumahnya sepi. Tidak ada seorang pun yang menyahut ketika detikX menyapa.

Patrialis sendiri membantah bila dikatakan menerima uang dari Basuki. Setelah diperiksa KPK, ia mengaku tak ada sepeser rupiah pun yang diterimanya dari Basuki. “Demi Allah, saya betul-betul dizalimi. Saya tidak pernah menerima uang satu rupiah pun dari Pak Basuki,” ucapnya.

Sedangkan pengacaranya, Indra Sahnun Lubis, menganggap keluarnya draf putusan dari gedung MK itu bukan perkara yang penting. Lembaga legislatif sendiri, sebelum membuat undang-undang, juga disosialisasikan kepada masyarakat. Lagi pula setiap hakim konstitusi mempunyai draf sendiri-sendiri.

Padang golf Jakarta Golf Club, Rawamangun, Jakarta
Foto: Ari Saputra/detikcom

“Menurut saya, itu bukan putusan, tapi draf. Tahu draf? Masih konsep. Nggak jadi masalah. Itu pun yang diberi temannya,” kata Indra kepada detikX di kantornya, Apartemen Wijaya, Jalan Wijaya, Jakarta Selatan, Senin, 6 Februari.

Namun, bagi Mahkamah Konstitusi, pembocoran draf itu adalah pelanggaran etik tingkat berat bagi seorang hakim. Dewan Etik MK telah membentuk Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi yang diketuai oleh mantan Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan untuk mengusut Patrialis. Majelis ini pun telah memeriksa Patrialis.

Pemeriksaan dilakukan pada Kamis, 2 Februari. Menurut sumber detikX, selama persidangan Patrialis banyak berkeluh kesah mengenai KPK, yang dianggap menzalimi dirinya. KPK memperlakukannya secara buruk selama melakukan pemeriksaan. Sebagai contoh, Patrialis sengaja diberi nasi kebuli kambing, padahal jantungnya bermasalah. Suhu udara di ruang pemeriksaan juga sangat dingin.

Namun anggota Majelis Kehormatan MK, As'ad Said Ali Patrialis, mengatakan soal itu bukan urusan Majelis Kehormatan. Yang penting, dalam sidang tersebut, Patrialis jujur mengakui telah memberikan draf putusan UU tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan kepada Basuki. “Kami tidak menginterogasi, tapi Patrialis mengaku sendiri,” kata A’sad kepada detikX.

Patrialis Akbar
Foto : Ari Saputra/detikcom

Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat
Foto: dok. detikcom

Majelis Kehormatan masih akan melanjutkan pemeriksaan terhadap hakim lain dan beberapa pegawai terkait pelanggaran etik Patrialis. Namun, mempertimbangkan pelanggaran berat yang sudah dilakukan Patrialis, MK akhirnya mengusulkan pemberhentian secara tidak hormat atas Patrialis kepada Presiden Joko Widodo. Dan Jokowi menyetujuinya. Patrialis sendiri sudah mengundurkan diri.

“Ini seperti menjual informasi. Kasusnya Pak Akil (Akil Mochtar) kan juga menjual informasi. Padahal tanpa dibayar pun sudah jadi putusan,” kata Ketua MK Arief Hidayat kepada detikX, Jumat, 3 Februari.

Kasus Patrialis, menurut Arief, sekali lagi, merupakan pukulan telak bagi MK, yang belum pulih dari kasus Akil. Ia menyesalkan Patrialis yang menantang bahaya karena hobi bergaul dengan orang yang punya kepentingan dengan perkara di MK. “Bermain golf itu tidak salah. Kita tidak menyalahkan hobinya, tapi menyalahkan kumpulannya,” ujar Arief.


Reporter: Ibad Durohman, Gresnia Arela F., Aryo Bhawono
Penulis: Aryo Bhawono
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE