Berebut-Suara-Agus

INVESTIGASI

Berebut Suara Agus

Pemilihan Gubernur DKI Jakarta berlanjut ke putaran kedua. Ke mana suara Agus-Sylvi beralih jadi penentu.

lustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 16 Februari 2017

Pada Rabu, 15 Februari, sore kemarin, saat tempat-tempat pemungutan suara di Jakarta masih sibuk melakukan penghitungan suara, Basuki Tjahaja Purnama datang ke Rumah Lembang. Inilah rumah tempat tim pemenangan Ahok—dia biasa disapa—bekerja untuk merebut kursi di Balai Kota Jakarta.

Di depan kerumunan pendukungnya, Ahok dan pasangannya, Djarot Saiful Hidayat, bercerita bagaimana mereka sempat dipandang sebelah mata. "Kalau kita mengingat 3-4 bulan lalu, ada lembaga survei yang menyatakan Ahok-Djarot bisa jadi paling buncit, juara III, perolehan suaranya tidak sampai 20 persen…. Bahkan ada lembaga survei yang mengatakan hanya 10 persen,” kata Ahok.

Sebagai keturunan Tionghoa dan seorang Nasrani, dia barangkali bukan pilihan “populer” di Jakarta. Apalagi berbulan-bulan Ahok terus-menerus ditonjok isu penistaan agama dan gosip-gosip buruk lain. Tapi, berdasarkan hasil hitung cepat lembaga survei, perolehan suara pasangan Ahok-Djarot ada di urutan teratas dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.

Hasil hitung cepat Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan pasangan calon nomor urut 2 Basuki-Djarot jadi pemenang dengan raihan 43,19 persen suara. Disusul oleh pasangan nomor urut 3 Anies Baswedan-Sandiaga Uno dengan perolehan 40,12 persen dan di posisi paling buntut ada Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dengan 16,69 persen suara.

Berdasarkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 6 Tahun 2016 Pasal 36 ayat 2, jika tidak ada pasangan calon yang memperoleh suara lebih dari 50 persen, diadakan pemilihan putaran kedua. Dus, Ahok-Djarot akan kembali bertarung pada 19 April mendatang. "Hasil quick count menunjukkan tidak ada pasangan calon yang mendapat suara lebih dari 50 persen, sehingga pilkada DKI Jakarta diprediksi akan berlangsung dua putaran,” demikian siaran pers SMRC.

Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat berada di markas pemenangan Rumah Lembang, Jakarta, Rabu (15/2).
Foto: Andry Novelino/CNN Indonesia

Menurut pemetaan perolehan suara masing-masing pasangan oleh SMRC, Ahok-Djarot unggul di tiga wilayah. Di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu, Ahok-Djarot meraup 47,16 persen. Di Jakarta Barat, Ahok unggul dengan 48,51 persen suara. Ahok juga mendapat suara terbanyak di Jakarta Pusat dengan 45,36 persen suara.

Lawannya nanti di putaran kedua, pasangan Anies-Sandiaga, menang di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Untuk Jakarta Timur, pasangan Anies-Sandi meraih 42,76 persen, sedangkan Ahok-Djarot menguntit di angka 38,99 persen. Di Jakarta Selatan, Anies-Sandi mendominasi dengan perolehan 45,94 persen, disusul Ahok-Djarot dengan 39,44 persen.

Melihat perolehan suara pada putaran pertama, kubu Anies-Sandi yakin bisa menang pada putaran kedua, sekalipun pada putaran pertama suaranya masih di bawah pasangan Ahok-Djarot. Tim pemenangan Anies-Sandi yakin bisa membelokkan suara warga Jakarta yang diberikan kepada Agus-Sylvi. “Insya Allah, bukan cuma pendukung nomor 1, pendukung nomor 2 juga beralih ke kami semua,” ujar M. Taufik, salah satu anggota tim sukses pasangan Anies-Sandi, kepada detikX.

Prediksi Taufik bukan tanpa alasan. Sebab, bila melihat jumlah kursi partai pendukung Ahok-Djarot di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta—Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Nasional Demokrat, Partai Hanura, dan Partai Golkar—yang mencapai 52 kursi atau 49 persen dari total kursi, suara yang didapat Ahok-Djarot lebih kecil dari suara dukungan ke partai. Artinya, ada suara empat partai itu yang “lari” ke pasangan calon lain.

Tentu saja membelokkan suara pendukung Agus-Sylvi atau merebut pilihan warga Jakarta tak segampang omongan Taufik. Sebab, kubu Ahok-Djarot juga tidak hanya ongkang-ongkang kaki menunggu limpahan suara penyokong Agus-Sylvi. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, sebagai pendukung utama Ahok-Djarot, mengatakan basis pendukung Agus-Sylvi yang masuk dalam barisan pendukung pemerintah Joko Widodo, seperti Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Kebangkitan Bangsa, akan diajak bergabung.

"Partai-partai yang mengusung Pak Jokowi-JK merupakan skala prioritas untuk kami ajak berdialog," ujar Hasto. Sampai sekarang, empat partai pendukung Agus-Sylvi, yakni PAN, PKB, PPP, dan Partai Demokrat, belum bisa menentukan sikap.

"Saya lagi minta waktu sama kawan-kawan untuk berdiskusi, berbicara karena kita koalisi, kita bicara dulu langkah-langkah selanjutnya," kata Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Pertemuan untuk menentukan sikap PAN mungkin akan digelar akhir pekan ini. Di situ akan dibicarakan arah dukungan untuk putaran kedua pilkada Jakarta.

Partai Demokrat pun tampaknya tak ingin buru-buru menentukan akan ke mana melabuhkan pilihan. "DPP Demokrat hingga kini masih menunggu hasil akhir dari penghitungan manual dan pleno KPU DKI," kata juru bicara Partai Demokrat, Imelda Sari.

Arsul Sani, Sekretaris Jenderal PPP, dan teman-temannya memilih bersikap pasif. Pimpinan partai berlambang Ka’bah ini masih menunggu komunikasi dari tim Ahok-Djarot dan Anies-Sandi mengenai koalisi di putaran kedua.

Anies Baswedan, calon Gubernur DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Gerindra bersama Partai Keadilan Sejahtera, saat berkampanye di hadapan pendukungnya.
Foto: dok. detikcom

Jika SBY diam saja, bisa jadi Ahok akan unggul lagi.”

Rico Marbun dari Media Survei Nasional

“PPP posisinya menunggu, bukan yang aktif komunikasi. Jika mereka tidak komunikasi, ya kami pasif saja," ujar Arsul. Menurut dia, jika Agus-Sylvi benar tersingkir berdasarkan hasil resmi KPU, PPP akan bertemu dengan tokoh senior partai setelah ada komunikasi dari tim Ahok-Djarot dan Anies-Sandi mengenai jajak koalisi di putaran kedua pilgub DKI.

“Tapi, bila pasangan (bersaing) head to head, mood pemilih mungkin akan berubah,” kata Marbun. Akan ke mana suara Agus-Sylvi masih sulit diramal, sehingga Anies dan Ahok masih sama-sama berpeluang melaju ke Balai Kota Jakarta. Peran tokoh di belakang layar, seperti Jokowi, Megawati, Prabowo, dan Susilo Bambang Yudhoyono, Rico memperkirakan, bakal menjadi penentu kemenangan.

Marbun memprediksi, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono akan berusaha menyatukan partai pendukung Agus-Sylvi. Dan berharap negosiasi dengan Jokowi-Megawati serta Prabowo secara grosiran atau gelondongan. Namun, kata Marbun, kubu Megawati dan PDIP lebih menyukai retail atau eceran dengan jalan bergerilya mendekati satu demi satu partai-partai pendukung Agus.

Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni berorasi saat mengikuti apel siaga relawan di lapangan eks Golf Driving Range, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (21/1)
Foto: Adhi Wicaksono/CNN Indonesia

Beda tipis perolehan suara Ahok-Djarot dengan lawannya, Anies Sandi, membuat hasil akhir nanti sulit ditebak. Menurut Rico Marbun dari Media Survei Nasional, suara pendukung Agus-Sylvi saat ini jadi incaran kubu Ahok dan Anies. Jika melihat suara yang tak memilih Ahok, yakni gabungan suara Anies-Sandi dan Agus-Sylvi, mood untuk mengganti petahana Gubernur DKI Jakarta mungkin cukup besar.

Lagi pula, dengan menggaet partai pendukung, belum tentu suara penyokong partai ikut boyongan. Sebab, berkaca dari gabungan suara partai pendukung Agus-Sylvi, sejatinya suara bisa di atas 20 persen. Total kursi partai pendukung Agus-Sylvi di DPRD Jakarta ada 28 kursi atau 26 persen. Nyatanya, suara Agus-Sylvi hanya di bawah 20 persen.

“Berarti mesin partai tidak terlalu maksimal,” Marbun memaparkan kesimpulannya. Dia malah menduga ke mana suara pendukung Agus-Sylvi beralih banyak ditentukan oleh sikap SBY. “Jika SBY diam saja, bisa jadi Ahok akan unggul lagi.”


Reporter: Ibad Durohman, Gresnia Arela F.
Penulis: Deden Gunawan
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE