INVESTIGASI

Satu Putaran
untuk Agus

Tim pendukung Agus-Sylvi tak menyangka memperoleh suara kecil. Benarkah polemik SBY berpengaruh besar?

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 16 Februari 2017

Layar slide projector di teras posko pemenangan pasangan Gubernur DKI Jakarta nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni di Wisma Proklamasi, Jalan Proklamasi Nomor 41, Jakarta Pusat, telah padam. Deretan kursi yang sudah ditata rapi oleh panitia terlihat kosong. Pesta demokrasi di DKI Jakarta usai lebih cepat bagi tim pemenangan Agus-Sylvi.

Pada Rabu, 15 Februari, sore itu, mestinya layar tersebut menampilkan proses hitung cepat (quick count) pemilihan Gubernur DKI Jakarta melalui salah satu televisi swasta. Baru lewat setengah jam hitung cepat dimulai sejak pukul 13.00 WIB, hanya segelintir anggota tim pemenangan Agus-Sylvi yang meramaikan teras Wisma Proklamasi.

Pasangan ini tak pernah beranjak dari posisi buncit melawan dua kandidat lain. Dua pasangan calon lawannya, pasangan nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) dan pasangan urut 3 Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi), bertahan di posisi pertama dan kedua. Angka keduanya terpaut jauh dengan Agus-Sylvi, yang tak pernah melewati angka 20 persen.

Tak berapa lama, Sylvi datang dengan mobil Mitsubishi Pajero putih dan langsung melenggang ke dalam ruangan. Satu per satu anggota tim pemenangan menyusulnya, seperti Ketua Tim Pemenangan Nachrowi Ramli, Vike Veri Ponto, Hinca Pandjaitan, dan Dede Yusuf. “Kita lihat saja, kita lihat situasinya seperti apa,” Sylvi menanggapi hasil hitung cepat.

Kampanye pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Agus Harimurti Yudhoyono di GOR Soemantri Brodjonegoro, Jakarta, Sabtu (11/2).
Foto: Adhi Wicaksono/CNN Indonesia

Hasil hitung cepat tak kunjung membaik bagi Agus-Sylvi. Hingga selesai hitung cepat, tiga lembaga survei menempatkan mereka di posisi terakhir. Masing-masing Lingkaran Survey Indonesia (LSI) dengan perolehan 16,9 persen, PolMark dengan 18 persen, dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dengan 16,7 persen. Selesai sudah untuk Agus dan Sylvi.

Baik Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi tak mampu menyudahi pemilihan Gubernur Jakarta dalam satu putaran. Tak ada satu pun yang meraup suara lebih dari separuh. Ahok menduduki urutan pertama, yakni menurut penghitungan LSI 43,2 persen, PolMark 42,3 persen, dan versi SMRC 43,2 persen. Anies-Sandi di urutan kedua menurut penghitungan LSI 39,9 persen, PolMark 39,8 persen, dan SMRC 40,1 persen.

Tim Agus-Sylvi tak menyangka suara yang mereka dapatkan tak lebih dari 20 persen. Ketua tim perekrutan saksi tim pemenangan Agus-Sylvi, Lazarus Simon, mengatakan mereka mematok target perolehan suara 30 persen di setiap tempat pemungutan suara. Namun, apa daya, perolehan jauh dari harapan. “Kami juga masih heran. Kami masih mau analisis dulu, sekalipun kami menerima hasilnya seperti kata Mas Agus,” ujarnya.

Mereka punya harapan tinggi ketika menutup kampanye di GOR Soemantri Brodjonegoro, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 11 Februari lalu. Menurut pemetaan terakhir, paling tidak kekuatan terbesar Agus-Sylvi berada di Tebet dan wilayah Jakarta Selatan lainnya. Tapi di daerah itu suara justru mengalir kepada pasangan Anies-Sandi.

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono membantah tudingan Antasari, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi.
Foto: dok. detikcom

Sulit untuk tidak mengatakan bahwa serangan fitnah dan pembunuhan karakter ini terkait dengan pilkada Jakarta.”

Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum Partai Demokrat

Di beberapa tempat yang mereka kunjungi pun mereka menyangka warganya akan memberikan suara kepada Agus-Sylvi atau Anies-Sandi. Tetapi justru suara di tempat-tempat itu malah direbut Ahok-Djarot. “Bahkan warga di situ juga heran, kenapa dalam pembicaraan sehari-hari masyarakat mengatakan akan pilih 1 atau 3, tapi malah pilih 2,” ujarnya.

Masa-masa akhir kampanye memang saat yang panas bagi kubu Agus-Sylvi. Dalam persidangan kasus dugaan penistaan agama yang menjerat Ahok, sapaan Basuki Tjahaja Purnama, ketua tim pengacara Ahok, Humphrey Djemat, melemparkan bola panas ke arah Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Humphrey, ada komunikasi SBY dengan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin, sekaligus Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, menjelang pemilihan Gubernur Jakarta.

Dalam persidangan itu, Ahok membeberkan silaturahmi pasangan calon Gubernur DKI Agus-Sylvi di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada 7 Oktober 2016. Menurut Humphrey, silaturahmi ini berkaitan dengan permintaan fatwa MUI, lembaga yang diketuai oleh Ma’ruf Amin, untuk menjerat kliennya dengan kasus penodaan agama.

SBY tentu saja membantah tuduhan Ahok dan Humphrey. Justru ia curiga komunikasinya tengah disadap tanpa prosedur hukum demi kepentingan politik.

Tudingan terhadap SBY tidak berhenti. Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar, yang dipidana dalam kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen, menuding SBY turut serta merekayasa kasus yang menjeratnya. Tudingan ini dilempar Antasari hanya sehari menjelang pencoblosan.

Agus Harimurti Yudhoyono dan istri memasukkan surat suara setelah mencoblos di TPS 06 Rawa Barat, Jakarta Selatan, Rabu, 15 Februari 2017.
Foto : Safir Makki/CNN Indonesia

Antasari tak hanya menuduh SBY terlibat dalam rekayasa kasusnya. Antasari mengaku pernah disambangi oleh pengusaha Hary Tanoesoedibjo, pemilik konglomerasi media Grup MNC. Dalam pertemuan itu, Hary, kata Antasari, menyampaikan pesan SBY supaya besannya, Aulia Pohan, tak ditahan. Kala itu komisi antirasuah tersebut memang tengah memeriksa Aulia, tersangka korupsi di Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia Bank Indonesia.

“Sulit untuk tidak mengatakan bahwa serangan fitnah dan pembunuhan karakter ini terkait dengan pilkada Jakarta,” SBY menjawab tudingan Antasari. Menurut dia, pengakuan Antasari sangat politis. Ia justru balik menuding, pengakuan Antasari sengaja diarahkan kepadanya untuk menggembosi suara Agus-Sylvi. Dia menduga pengakuan Antasari ada kaitan dengan pemberian grasi kepada mantan jaksa itu.

Antasari mendapatkan grasi dari Presiden Joko Widodo pada Senin, 23 Januari 2017. Keputusan presiden yang diteken oleh Presiden Joko Widodo juga mengurangi hukuman Antasari selama 6 tahun, walaupun Antasari sebenarnya berstatus bebas bersyarat sejak 10 November 2016.

Namun Lazarus Simon tak yakin tudingan Antasari terhadap SBY berpengaruh besar terhadap dukungan kepada Agus-Sylvi. Jika target timnya adalah 36 persen, tak mungkin hanya lantaran satu kejadian langsung kehilangan sekitar 20 persen sehingga menyisakan 16 persen saja. “Kata-kata SBY tidak ada yang istimewa, tapi kok begitu jauh hilangnya,” kata Lazarus.

Mantan Ketua KPK Antasari Azhar menggelar konferensi pers di kantor Badan Reserse Kriminal Polri soal kasus yang pernah menjeratnya.
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Dia menduga pemilih Agus-Sylvi memiliki faktor demografis dan psikologis yang hampir sama dengan Anies-Sandi. Makanya Agus-Sylvi harus berebut suara dengan Anies-Sandi di kantong-kantong suara yang sama. “Dari 85 persen pemilih muslim, 35 persen di antaranya itu konservatif. Mereka memilih berdasarkan identitas atau agama,” dia menduga.

Apa pun pertimbangan pemilih, peluang Agus ke putaran kedua pemilihan Gubernur DKI Jakarta praktis sudah tertutup. Pada Rabu malam, Agus resmi “mengibarkan bendera putih”. Pada malam itu, seluruh tim pemenangan Agus-Sylvi berkumpul di kediaman SBY, Jalan Mega Kuningan Timur VII, Jakarta Selatan.

Tak berselang lama, putra sulung SBY ini menyampaikan pidato kekalahannya. “Secara kesatria dan dengan lapang dada menerima kekalahan saya dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta,” kata Agus.


Reporter: Ibad Durohman, Gresnia Arela F.
Penulis: Aryo Bhawono
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE