INVESTIGASI

Novel & Pria Misterius Dekat Sate Bang Kumis

“Biarlah malaikat yang menjaga saya,” kata Novel Baswedan.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 17 April 2017

“Tolong… tolong…. Panas… panas….” Teriakan Novel Baswedan seusai salat subuh di Masjid Jami Al-Ihsan itu mengagetkan jemaah masjid di Jalan Deposito, Kelurahan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa, 11 April 2017.

Mereka lantas beramai-ramai mendatangi Novel, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi, yang sedang kesakitan. “Ya Allah. Teriakan itu kayak, kalau sapi, kayak sapi dipotong gitu, lo. Kasihan Pak Novel,” ujar Yasri Yudha Yahya, Wakil Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Jami’ Al-Ihsan, kepada detikX.

Saat dihampiri warga, Novel, yang baru saja menyelesaikan salat subuh, sudah tak lagi mengenakan baju gamisnya. Novel hanya mengenakan kaus oblong. Ia berdiri menghadap ke tembok tempat wudu, yang terletak di depan masjid.

Bau menyengat tercium, dan wajah Novel memerah. Sebuah benjolan lumayan besar juga terlihat di keningnya. Sebelum kembali ke tempat wudu, Novel sempat menabrak pohon nangka karena matanya tak bisa dibuka.

Melihat kondisi Novel yang mengenaskan itu, Yasri, Ketua DKM, dan beberapa warga langsung membawanya ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, menggunakan mobil milik warga. Di sepanjang jalan hingga rumah sakit, Novel terus berteriak kesakitan.

Suasana rumah penyidik KPK Novel Baswedan.
Foto : Jabbar Ramdhani/detikcom

Lokasi tempat penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan
Foto : Wahyu Putro A/antarafoto

Polisi mengecek lokasi penyerangan Novel Baswedan.
Foto : Jabbar Ramdhani/detikcom


Kalau diingetin soal keamanannya, Pak Novel selalu bilang, ‘Biarlah malaikat yang menjaga saya.”

“Di rumah sakit juga terus teriak, sampai keluar ingusnya. Waduh, Pak Novel parah sekali. Saya sendiri nggak tega melihatnya. Tak terasa, kami semua keluar air mata,” kata Yasri.

Dari keterangan Novel kepada Yasri dan beberapa warga lainnya di perjalanan menuju rumah sakit, ia disiram air keras oleh seseorang saat berjalan pulang menuju rumahnya seusai salat subuh.

Jarak antara Masjid Al-Ihsan dan rumah Novel cukup dekat. Hanya terpaut empat rumah. Dan penyerangan itu terjadi hanya beberapa meter sebelum Novel sampai ke gerbang rumahnya.

Yasri menjelaskan, begitu warga menolong dan membawa Novel ke rumah sakit, ia diminta menghubungi KPK dan menjaga keluarganya. “Saya diminta Pak Novel telepon KPK dan menjaga keluarga Pak Novel,” ujarnya.

Itu sebabnya, sampai saat ini Yasri dan beberapa warga serta polisi selalu berjaga di depan rumah Novel, yang saat ini dirawat di Singapore National Eye Center (SNEC), Singapura.

Novel diterbangkan ke Singapura setelah sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Jakarta Eye Center, Menteng, Jakarta Pusat. Saat ini Novel masih dalam perawatan intensif di SNEC.

Penyidik KPK Novel Baswedan tiba untuk menjalani perawatan di RS Jakarta Eye Center, Jakarta, Selasa (11/4).
Foto : Akbar Nugroho Gumay/antarafoto

“Alhamdulillah, sekarang masih dalam perawatan intensif dan ada perkembangan membaik,” tutur kakak Novel, Taufik Baswedan, kepada detikX, Minggu, 16 April.

Menurut Taufik, keluarga belum tahu kapan Novel diperbolehkan pulang oleh dokter. Sebab, kabarnya, masih ada tindakan medis lanjutan yang harus dilakukan terhadap Novel.

Sementara itu, Kepala Biro Humas KPK Febri Diansyah mengatakan dokter Singapura sedang merawat kulit wajah Novel. Dokter juga berusaha memperbaiki tekanan mata kiri dan kanan Novel.

Kerusakan sel pada mata Novel sudah berhenti, tapi pertumbuhan jaringannya masih lambat. Untuk tindakan operasi, dokter belum bisa mengambil keputusan karena masih memantau kondisi Novel hingga beberapa hari ke depan.

Terkait dengan dugaan pelaku di balik teror terhadap Ketua Wadah Pegawai KPK itu, Febri tidak mau berandai-andai. Ia menyerahkan semua urusan penyerangan itu kepada polisi.

Seperti diketahui, Novel saat ini sedang menggarap sejumlah kasus besar. Salah satunya kasus dugaan megakorupsi proyek e-KTP, yang merugikan negara hingga Rp 2,5 triliun.

Sidang kasus korupsi e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta.
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Kasus yang terjadi di era Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi ini banyak menyeret nama besar di kalangan politikus.

Teranyar, KPK telah melayangkan surat permohonan cegah kepada pihak Imigrasi atas Ketua Dewan Perwakilan Rakyat sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto, Senin, 10 April lalu.

Namun, sampai saat ini, polisi belum bisa menyimpulkan ada-tidaknya kaitan penyiraman air keras itu dan kasus yang ditangani Novel. “Jangankan motifnya, pelakunya saja belum ketemu,” ucap Kepala Polda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan.

Untuk menangkap para pelaku, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian sebelumnya membentuk tim khusus yang terdiri atas personel Mabes Polri, Polda Metro Jaya, dan Polres Jakarta Utara.

“Kita tunggu hasil kerja tim. Saat ini masih memeriksa saksi-saksi, mendalami potensi motif. Identitas pelaku tidak akan kami sampaikan supaya dia tidak mengetahui," ujar Tito.

Saat ini sudah 16 saksi yang diperiksa. Sejumlah bukti dan petunjuk juga dikumpulkan, seperti cairan asam yang ditemukan di sekitar lokasi kejadian dan kamera CCTV di rumah Novel untuk identifikasi pelaku.

Berdasarkan kesaksian warga yang ditemui detikX, pelaku penyiraman air keras itu adalah dua orang misterius yang mengendarai sepeda motor jenis matik. Kedua orang tersebut mengenakan jaket dan helm full face.

Gedung KPK
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Informasi lain yang diperoleh detikX, dua bulan sebelum kejadian, warga mencurigai dua orang yang gelagatnya mencurigakan. “Yang satu orangnya gemuk, satu lagi kurus,” tutur Ramli, seorang warga yang sering mengurut Novel kalau pegal-pegal.

Ramli, yang tinggal di wilayah itu sejak 1992, tahu informasi mengenai dua orang yang mengintai itu dari cerita Novel saat sedang diurut. Dua orang itu diketahui sering duduk di warung sate yang ada di bawah pohon depan masjid.

Dari pantauan detikX, di depan masjid itu memang ada sebuah warung sate Madura. Namun, pemilik warung, yang biasa disapa Bang Kumis, mengaku tidak pernah memperhatikan keberadaan dua lelaki misterius itu.

Kecurigaan terhadap dua orang itu semakin kuat karena, berdasarkan kesaksian banyak warga, ciri-ciri pelaku sama, yakni ada orang yang gemuk dan satu lagi kurus.

“Makanya saya tambah yakin. Dan saya sudah ceritakan semuanya ke polisi yang datang ke sini (TKP),” ujar Ramli, yang bekerja sebagai sopir pribadi.

Menurut Ramli, penyiraman air keras itu merupakan teror kesekian kalinya terhadap Novel. Bahkan, pada pertengahan 2016, Novel pernah ditabrak dari belakang menggunakan mobil Avanza saat naik sepeda motor di Wisma Gading Permai.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian memberikan keterangan soal teror terhadap penyidik KPK Novel Baswedan, Selasa (11/4/2017).
Foto : Mochamad Solehudin/detikcom

Beruntung, Novel bisa diselamatkan setelah ada seorang tukang parkir yang menolongnya. Ia hanya mengalami lecet-lecet dan terkilir kakinya. “Pak Novel cerita sendiri ke saya,” Ramli mengenang.

Pascakejadian tabrak lari itu, Ramli dan beberapa tetangga sering melontarkan saran supaya rumahnya dikawal. Apalagi Kapolri sudah siap mengirim anggotanya untuk mengawal Novel.

Namun semua saran itu ditolak Novel dengan alasan tidak mau membebani uang negara. “Kalau diingetin soal keamanannya, Pak Novel selalu bilang, ‘Biarlah malaikat yang menjaga saya,’” kata Ramli.

Kini para tetangga, karyawan KPK, dan pegiat antikorupsi hanya bisa berharap Novel cepat sembuh dan polisi menangkap pelaku serta otak di balik penyerangan terhadap Novel.


Reporter: Ibad Durohman, Gresnia Arela F.
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE