Marabahaya-untuk-Novel

INVESTIGASI

Marabahaya
untuk Novel

Novel Baswedan sudah biasa dengan urusan intimidasi ketika menyidik kasus korupsi. Ia beberapa kali hendak dibikin celaka, dari dicegat, dikeroyok massa, hingga ditabrak mobil.

Ilustrasi: Kiagoos 

Senin, 17 April 2017

Bambang Widjojanto ingat betul dengan peran Novel Baswedan. Mantan penyidik kepolisian itu menyimpan puluhan prestasi selama bertugas di Komisi Pemberantasan Korupsi. Beberapa kasus korupsi kelas kakap tuntas di tangannya.

Namun torehan prestasi ini bukan tanpa risiko. Novel acap kali berhadapan dengan marabahaya ketika melakukan penyidikan atau penangkapan.

“Novel adalah salah satu penyidik otentik KPK. Kewajiban yang dia tunaikan melebihi tugas yang diberikan kepadanya,” ucap Bambang ketika berbincang dengan detikX.

Nama Novel mencuat semasa Bambang menjabat pimpinan KPK (2010-2015). Banyak kasus korupsi besar dan sensitif saat itu. Pada 2012, KPK tengah menangani kasus korupsi pengadaan simulator SIM tahun 2004 di Korps Lalu Lintas (Korlantas) Mabes Polri.

Tim penyidik yang dipimpin Novel Baswedan menghadapi rintangan ketika menggeledah kantor Kepala Korlantas di Cawang, Jakarta Timur. Sebanyak 21 penyidik KPK “diganggu” oleh tim Bareskrim Mabes Polri beranggota 16 penyidik di kantor Korlantas pada 30 Juli 2012. Mereka mengaku tengah mengincar barang bukti yang sama.

Mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto
Foto: Andry Novelino/CNN Indonesia


Jadi bisa saja menjaga bukan hanya penyidiknya, tapi keluarganya juga diberi pengamanan, terhadap suami atau istri serta anak-anaknya.”

Ketegangan di antara penyidik dua institusi ini tak dapat dihindarkan. Novel saat itu masih berstatus penyidik polisi yang ditempatkan di KPK dengan pangkat komisaris polisi. Bapak empat anak ini harus berhadapan dengan rekan satu korpsnya dengan pangkat komisaris besar. Berkat keberanian Novel, proses penggeledahan akhirnya dilakukan oleh KPK.

Rintangan tak berhenti. Menggeledah markas polisi seperti masuk kandang macan. Penyidik KPK tertahan di dalam kompleks Korlantas Mabes Polri karena tak diizinkan keluar. Novel melapor kepada pimpinan KPK.

Kabar pencegatan ini pun menyebar. Polisi mendapat tekanan dari pemerintah maupun masyarakat saat itu juga. Beberapa tokoh antikorupsi bertandang ke KPK untuk memberikan dukungan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, melalui menterinya, meminta polisi tak gegabah. Alhasil, penyidik KPK melenggang dari kantor Korlantas membawa dokumen hasil penggeledahan.

Perlawanan oleh tersangka kasus korupsi boleh jadi merupakan makanan sehari-hari lelaki kelahiran Semarang, Jawa Tengah, ini. Salah satu contohnya adalah ketika menangkap Bupati Buol Amran Batalipu dalam kasus dugaan korupsi penerbitan hak guna usaha perkebunan kelapa sawit di daerahnya.

Mantan Bupati Buol, Sulawesi Tengah Amran Batalipu
Foto: Lamhot Aritonang/detikcom

Pada akhir Juni 2012, penyidik KPK bertandang ke Buol untuk melakukan penangkapan. Pasalnya, surat panggilan KPK sudah dilayangkan beberapa kali, namun tak ada tanggapan. Mereka mendekati Amran di sela-sela acara partai politik.

Penyidik KPK saat itu menggunakan mobil Toyota Innova dan dua buah sepeda motor. Amran melakukan perlawanan ketika tahu ada penyidik KPK. Beberapa pendukungnya meneriaki KPK dan siap melakukan kontak fisik.

Amran lalu mengarahkan sopirnya untuk menabrak rombongan KPK. Mobil yang ditumpangi Amran menabrak salah satu sepeda motor rombongan KPK.

Masalah ini tak berhenti. Setelah tahu jadi incaran, Amran menyiapkan personel Satuan Polisi Pamong Praja dan barisan pendukungnya untuk menjaga rumah dinasnya di Buol. Suasana di kabupaten itu pun mencekam.

KPK baru berhasil merangsek masuk pada Jumat subuh, 6 Juli 2012. Mereka langsung menangkap Amran, membawanya ke Polres Tolitoli, lalu terbang ke Jakarta. Rekaman video penangkapan yang beredar menunjukkan suasana gaduh di rumah dinas Bupati Buol.

Istri Amran berteriak-teriak ke arah penyidik KPK dan Amran sendiri berontak. Namun KPK berhasil meringkusnya dan membawa ke Polres Tolitoli menggunakan mobil.

Novel Baswedan
Foto: Safir Makki/CNN Indonesia

Marabahaya fisik tak cukup bagi cucu anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Abdurrahman Baswedan, ini. Saat menyidik kasus korupsi pengadaan simulator SIM 2004, Novel tersandung kriminalisasi.

Kamis, 4 Oktober 2012, sekelompok polisi gabungan dari Polda Bengkulu dan Polda Metro Jaya hendak datang menjemput beberapa penyidik asal Polri yang diberi tugas ke KPK. Mereka beralasan penyidik tersebut sudah selesai masa tugasnya.

Nama Novel juga masuk dalam daftar jemputan tersebut. Hanya, ia dijerat dengan kasus penghilangan nyawa semasa bertugas sebagai Kepala Satuan Reserse Polresta Bengkulu pada 18 Februari 2004. Saat itu ia tengah menangani kasus dugaan pencurian sarang burung walet.

Anak buahnya melakukan penganiayaan terhadap salah satu terduga pencurian itu. Novel selaku atasan turut dipersalahkan hingga harus menghadapi pemeriksaan.

Ia menjalani pemeriksaan etik di Polres Bengkulu dan Polda Bengkulu. Hasilnya, ia mendapat sanksi teguran. Sedangkan kariernya di sebagai Kasat Reskrim Polres Bengkulu terus berlanjut hingga Oktober 2005.

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Ketegangan ini lagi-lagi menuntun Presiden Yudhoyono berpidato bahwa penetapan Novel sebagai tersangka tidak tepat waktu dan cara. Polisi pun kembali mundur teratur.

Pascakasus itu, lulusan Akademi Kepolisian 1998 ini pun undur diri dari kepolisian. Ia menjadi penyidik independen KPK.

Kasus ini kembali memanas saat KPK menetapkan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka kasus korupsi. Penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri menciduk Novel di kediamannya, bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Namun kasus ini lenyap di tangan kejaksaan dengan penghentian penuntutan karena kurang alat bukti. Kasus Novel akhirnya terpendam selamanya karena telah melampaui masa kedaluwarsa.

Serangan demi serangan diterima oleh Novel. Penyerangan langsung pun ia alami. Novel tercatat mengalami tiga kali penabrakan. Ia menduga tabrakan ini bukan tanpa sengaja, karena penabrak selalu lari setelah insiden.

Tabrakan pertama terjadi pada 2011 saat lelaki kelahiran 22 Juni 1977 itu menangani kasus cek pelawat. Seorang penabrak yang diduga membidik Novel salah sasaran hingga menyerempet Dwi Samayo, penyidik lain di KPK. Novel luput dari tabrakan karena lebih dulu pulang.

Muhammad Jasin, mantan Wakil Ketua KPK
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Dua tabrakan terakhir membuat Novel terpental dari sepeda motor. Sebuah mobil Toyota Avanza menyeruduk ketika Novel melintas di pertokoan dekat rumahnya. Ia mengalami luka ringan.

Muhammad Jasin, mantan Wakil Ketua KPK, mengaku keberadaan Novel sebagai penyidik sangat krusial. Tak aneh jika ada saja koruptor yang mengincar keselamatan Novel. Sejak masanya memimpin KPK, Novel selalu terlibat dalam penanganan kasus besar.

Kasus besar tersebut antara lain pengadaan mobil pemadam kebakaran di Kementerian Dalam Negeri dan kasus cek pelawat. Seharusnya pengamanan KPK meliputi pribadi penyidik.

“Jadi bisa saja menjaga bukan hanya penyidiknya, tapi keluarganya juga diberi pengamanan, terhadap suami atau istri serta anak-anaknya,” ucap Jasin.


Reporter: Gresnia Arela F., Aryo Bhawono
Redaktur: Aryo Bhawono
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE