Teror-Bandit-bagi-Pemburu-Koruptor

INVESTIGASI

Teror Bandit bagi Pemburu Koruptor

Teror terus mengancam KPK. Komisi antirasuah ini diusulkan membuat mekanisme pengamanan dan meningkatkan anggaran untuk perlindungan personelnya.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 17 April 2017

Penyiraman air keras ke wajah penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan, pada Selasa, 11 April 2017, mengejutkan publik. Penyiraman cairan H2SO4 atau asam sulfat ke wajah Novel oleh dua pelaku dinilai keji.

Novel dikenal sebagai penyidik paling ulet yang dimiliki KPK. Banyak kasus suap dan korupsi besar yang melibatkan sejumlah pejabat negara maupun pengusaha besar yang ditanganinya.

Tugasnya itu bukan tanpa risiko. Nyawa jadi taruhan. Penyiraman air keras telah membuat wajah dan kedua matanya terluka. Novel kini dirawat di Singapore National Eye Center, Singapura.

Penyerangan terhadap Novel memang bukan pertama kalinya terjadi. Penyerangan yang dianggap sebagai teror kepada penyidik KPK itu ternyata sudah beberapa kali dialami Novel.

Menurut data Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi, yang di dalamnya ada juga beberapa mantan pimpinan KPK, Novel sudah berkali-kali mengalami upaya kekerasan dan pembunuhan.

Pertama, ketika mengusut kasus cek pelawat pada 2010, yang menyeret 25 anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 2004-2009 dan mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom.

Kedua, ketika menangani kasus korupsi pengadaan simulator SIM pada 2012 dengan tersangka Irjen Djoko Susilo. Saat itu Novel hendak dijemput personel Bareskrim Polri.

Ia dituduh melakukan penganiayaan berat terhadap pelaku pencurian sarang burung walet ketika menjabat Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bengkulu pada 2004.

Ketiga, Novel, yang baru keluar dari rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, menggunakan sepeda motor menuju kantor KPK, ditabrak mobil Toyota Avanza pada pertengahan 2016.

Sejumlah petugas KPK mendatangi ruang kerja Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar di lantai 15 gedung MK, Jakarta, 3 Oktober 2016.  
Foto: Dhoni Setiawan/Antara Foto

Kantor Korps Lalu Lintas Polri digeledah KPK
Foto : dok. detikcom

Petugas KPK menggeledah rumah Ketua DPRD Bangkalan Fuad Amin Imron di Surabaya, Jawa Timur, pada 2015. 
Foto: Suryanto/Antara Foto

Lalu pada 2015, mobil tim penyidik KPK serta penyidik Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), termasuk di dalamnya Novel, mengalami kecelakaan masuk sungai di Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Saat itu, beberapa penyidik mengalami luka-luka, termasuk Novel, yang mengalami luka di bagian kepalanya. Saat itu tim KPK dan BPKP sedang bertugas melakukan pengecekan fisik terkait kasus dugaan korupsi pengadaan e-KTP.

Mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas mengatakan teror kepada KPK dan penyidiknya sudah kasatmata. “Kasus terakhir memperjelas, ini bukan hanya obstruction of justice, tapi lebih daripada itu. Bandit-bandit koruptor itu dominan dengan melakukan teror di lapangan, dan sudah kasatmata,” ujar Busyro.

Bambang Widjajanto, mantan komisioner KPK lainnya, menyatakan, penyiraman cairan berbahaya ke wajah Novel merupakan bentuk terorisme. Aksi tersebut, selain untuk menebar ketakutan, bertujuan melemahkan KPK secara kelembagaan.

“Ini bentuk terrorizing. Pasti pelakunya teroris, harus dikualifikasikan sebagai teroris, karena apa? Tindakannya itu sudah di luar batas,” kata Bambang kepada detikX.

Selain Novel, sejumlah anggota komisioner KPK pernah mendapatkan “teror” dalam menjalankan tugasnya. Sebut saja Bambang. Ia sempat dikriminalisasi dan ditangkap tim Bareskrim Polri.

Bambang dituduh melakukan kejahatan mempengaruhi saksi dalam sidang sengketa pilkada Kotawaringin Barat. Begitu juga dengan mantan Ketua KPK Abraham Samad, yang dituduh sebagai tersangka kasus pemalsuan dokumen dan paspor.

Saat itu memang KPK tengah melakukan penyidikan dugaan korupsi yang melibatkan Komjen Budi Gunawan.

Pegawai KPK mendoakan kesembuhan penyidik senior Novel Baswedan, yang disiram air keras oleh orang tak dikenal pada Selasa (11/4).
Foto: Feri Agus Setyawan/CNN Indonesia


Dari catatan yang dikumpulkan detikX, setidaknya ada beberapa “teror” yang diterima sejumlah penyidik KPK ketika menangani kasus suap dan korupsi.

Teror tersebut di antaranya ancaman santet pada 2013 ketika KPK menangani kasus suap dengan tersangka Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Lalu teror bom di rumah penyidik KPK, Afief Julian Miftach, di Jakamulya, Bekasi, Jawa Barat, pada 2015.

Bukan hanya itu, ban mobil Afief juga ditusuk hingga bolong serta mobilnya disiram cairan kimia. Pada 2015 juga muncul isu ancaman pembunuhan terhadap sejumlah penyidik KPK lainnya.

Tentu masih ingat pernyataan mantan Ketua KPK Antasari Azhar selepas bebas bersyarat dari sel tahanan pada November 2016.

Antasari mengaku, sebelum dijadikan tersangka kasus pembunuhan pengusaha Nasrudin Zulkarnaen, dia sempat mendapat ancaman dari seseorang agar tak melakukan tindakan hukum terhadap seseorang.

Saat itu Antasari mengaku menolak permintaan orang yang meneleponnya itu. Namun sosok pembawa pesan ini mengancam Antasari jika tak mengabulkan permintaan tersebut.

“Nah, Pak Antasari, hati-hati,” tutur Antasari menirukan perkataan sosok yang membawa pesan tersebut.

Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas menyampaikan visi-misinya dalam fit and proper test yang dilakukan Komisi III DPR di gedung parlemen, Senayan, Jakarta, pada 2014.
Foto: dok. detikcom

Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi meminta pemerintah pusat dan Polri menuntaskan kasus ini agar tidak terus terulang. “Kalau ini tak dituntaskan dan tak pernah berakhir, artinya KPK tengah ditikam di ulu hatinya,” Bambang menegaskan.

Sementara itu, Busyro meminta Presiden Joko Widodo segera mengambil langkah tegas. Misalnya, membentuk tim gabungan antara Polri dan masyarakat untuk memburu pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan.

“Menurut kami, Presiden Jokowi, TNI, Polri terpanggil dengan kewajibannya mengambil langkah konkret atas kejadian ini,” ujar Busyro.

Mantan komisioner KPK M Jasin mengusulkan agar KPK membentuk semacam mekanisme untuk melindungi personelnya. KPK harus melakukan standardisasi pola pengamanan sehingga seluruh awak KPK terjamin keamanannya.

KPK sudah berjasa bagi pengembalian uang negara yang dikorupsi para koruptor dalam jumlah besar. Maka wajar saja apabila anggaran untuk pengamanan personel juga ditingkatkan.

Malah bukan hanya personel KPK yang harus dilindungi, keluarga mereka pun harus dilindungi. “Kalau untuk mengamankan stafnya, ya wajarlah. Jangan dibiarkan, hingga sampai salat saja tidak dijaga oleh satpamnya,” kata Jasin.


Reporter: Gresnia Arela F., Ibad Durohman
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE