Komitmen-Kartanegara-dari-Anies-untuk-Prabowo

INVESTIGASI

‘Komitmen Kartanegara’ Anies untuk Prabowo

Kemenangan Anies-Sandi membuat Prabowo kembali digadang-gadang pendukungnya menjadi capres 2019. Anies pun sudah berkomitmen kepada Prabowo tidak akan maju dalam pilpres.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat 21 April 2017

Rumah Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto, Jalan Kartanegara Nomor 4, Jakarta Selatan, menjadi saksi penting bagi perubahan politik yang terjadi di Jakarta hari ini. Pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno menjadi gubernur-wakil gubernur terpilih dalam pilkada putaran kedua pada Rabu, 9 April 2017.

Jumat, 22 September 2016, sekitar pukul 01.15 WIB, Anies tergopoh-gopoh menyambangi kediaman Prabowo. Saat itu adalah hari terakhir pendaftaran pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Gerindra bersama Partai Keadilan Sejahtera merupakan koalisi parpol terakhir yang belum mengusung kandidat gubernur-wakil gubernur.

Lobi itu berlangsung sangat alot dan menghabiskan waktu berjam-jam. Pasalnya, Gerindra jauh hari sebelumnya sudah menetapkan bakal mengusung Sandi sebagai calon Gubernur DKI Jakarta. Namun peta persaingan menjadi sangat sengit. PDI Perjuangan dan koalisinya mengusung calon petahana Basuki-Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.

Koalisi Cikeas, yang terdiri atas Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, dan Partai Persatuan Pembangunan, mengusung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni. Meskipun pendatang baru di dunia politik, Agus adalah putra presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono, sehingga tak bisa dipandang enteng

Dicapailah kesepakatan Anies akan menjadi calon gubernur karena lebih populer dan punya pengalaman di birokrasi dibanding Sandi. Anies menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan selama dua tahun pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno bersama Prabowo menggelar jumpa pers tentang kemenangannya dalam pilkada di kantor DPP Gerindra, Jakarta.
Foto: Lamhot Aritonang/detikcom

Namun ada pula komitmen yang disampaikan Anies kepada Prabowo dan parpol koalisi. Komitmen itu, apabila terpilih menduduki kursi DKI-1, ia akan mengemban jabatan itu hingga tuntas. Anies tidak akan tergoda untuk maju dalam pilpres pada 2019.

“Waktu itu dia (Anies) presentasi. Dia harus berkomitmen terutama kepada rakyat Jakarta, dan itu menandakan bahwa yang bersangkutan memang tidak ada niat nyapres dan bukan kutu loncat,” ujar Wakil Ketua Umum Bidang Hukum dan Advokasi Gerindra Sufmi Dasco Ahmad kepada detikX, Jumat, 21 April 2017.

Menurut Sufmi, munculnya komitmen Anies tersebut bukan berangkat dari kekhawatiran Prabowo bakal terulangnya apa yang terjadi pada Pilpres 2014. Pada tahun itu, Gerindra bersama PDI Perjuangan mengusung Jokowi dan Ahok menjadi calon Gubernur DKI Jakarta.

Jokowi-Ahok sukses mengalahkan pasangan petahana, Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli. Pada Pilpres 2014, Jokowi diusung PDI Perjuangan menjadi calon presiden. Lawan tunggalnya adalah Prabowo-Hatta Rajasa. Prabowo keok di tangan Jokowi.

Belakangan ini, mulai ramai wacana pengusungan calon untuk Pilpres 2019. Hal itu terkait dengan hasil survei Indo Barometer, yang mengukur elektabilitas para bakal capres 2019. Dari hasil survei pada 22 Maret 2017 itu, Jokowi berada di urutan pertama dengan angka 31,3 persen.

Di urutan kedua bertengger Prabowo, yang mendapatkan 9,8 persen. Lalu di bawahnya Ahok (8,3%), Anies (4,5%), Ridwan Kamil (3,1%), Tri Rismaharini (2,8%), Megawati Soekarnoputri (2,7%), Gatot Nurmantyo (1,9%) dan Hary Tanoesoedibjo (1,2%).


Foto: Ari Saputra/detikcom


“Pak Prabowo sih tidak khawatir. Kita semua tidak khawatir. Cuma memang, soal komitmen menjalankan program 5 tahun oleh Pak Anies itu disampaikan di depan partai pengusung,” Dasco melanjutkan.

Sebaliknya, Prabowo menjadikan pencalonan Anies sebagai bargaining untuk maju dalam pilpres. Saat berkampanye untuk Anies-Sandi di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, 5 Februari lalu, Prabowo mengatakan siap maju kembali asalkan Anies-Sandi menang.

Pada waktu itu, simpatisan Anies-Sandi memang meneriakkan yel-yel “Prabowo presiden”. “Saudara-saudara, kalau kalian ingin saya jadi presiden tahun 2019, Anies-Sandi Gubernur dan Wagub DKI Jakarta, betul? Menangkan, dan kalian di 2019 harus bekerja keras,” begitu kata mantan Danjen Kopassus ini di atas podium kampanye.

Teriakan yang sama juga menggema ketika digelar perayaan kemenangan Anies-Sandi di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra, Jalan Raya Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu lalu. Prabowo kembali dielu-elukan menjadi presiden pada 2019 di tengah kegembiraan simpatisan Anies-Sandi itu.

Namun, menurut Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Fadli Zon, sampai saat ini partainya belum membicarakan persoalan Pilpres 2019 secara serius, meskipun arus bawah sudah menginginkan kembalinya Prabowo pada Pilpres 2019.

Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama merayakan kemenangan berdasarkan quick count Pilkada DKI Jakarta pada 2012.
Foto: Hasan Alhabshy/detikcom

Capres-cawapres Jokowi dan Jusuf Kalla pada Pilpres 2014
Foto: Lamhot Aritonang/detikcom

Capres-cawapres Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa pada Pilpres 2014.
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Hingga kini, Prabowo sendiri belum menjawab soal aspirasi dari bawah partainya itu. “Sejauh ini kita belum mengarah ke pencapresan. Karena kan Undang-Undang Pemilu belum selesai,” ujar Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat ini.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum DPP Gerindra lainnya, Arief Poyuono, menyatakan partainya solid akan mengusung Prabowo sebagai calon presiden. Namun, ia menegaskan, kemenangan Anies-Sandi dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta tidak bisa dijadikan ukuran di level pilpres.

“Pemilih di DKI Jakarta itu hanya sekitar 7 juta orang. Bagaimana dengan pemilih di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan daerah lainnya di Indonesia?” katanya kepada detikX.

Bagaimana kinerja Anies-Sandi nantilah, lanjut dia, yang akan menjadi penentu Prabowo. Apabila keduanya mampu bekerja dengan baik, hal itu dapat menaikkan citra Prabowo dan menandingi popularitas Jokowi.

“Makanya, Anies-Sandi harus benar menjalankan janji-janji kampanye itu selama ini. Jangan sampai nanti, ketika memimpin Jakarta, nggak bener. Kan punya efek ke Gerindra. Jangan ada lagi korupsi, suap, dan lain-lain,” tuturnya.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.





SHARE