INVESTIGASI

Kilau Cacing di
Puncak Pangrango

Akibat perburuan cacing yang diduga dilakukan kelompok Didin, lima area hutan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) rusak. Sebanyak 200-300 pohon ditebang demi mendapatkan cacing-cacing itu.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 16 Mei 2017

Sisa-sisa gubuk di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) itu masih berdiri. Beberapa lembar pakaian manusia dan jeriken berserakan. Tunggak-tunggak kayu setelah ditebang terlihat di beberapa sudut area. Tanah bekas penggalian cacing pun masih terbuka.

Itulah gambaran kerusakan alam di salah satu titik perburuan cacing di kawasan TNGGP, yang berada di Provinsi Jawa Barat. Pihak TNGGP melansir setidaknya ada lima titik yang menjadi lokasi perburuan cacing yang berada di ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut itu.

TNGGP adalah kawasan hutan hujan tropis yang ditetapkan sebagai taman nasional sejak 1980. Luasnya mencapai 22.851 hektare. Di area taman nasional masih banyak dijumpai aneka flora dan fauna. TNGGP merupakan habitat bagi satwa liar, seperti kijang, macan tutul, pelanduk, dan sekitar 250 jenis burung.

Area yang menjadi lokasi perburuan cacing 
Foto: dok. TNGGP


Lahan kita segitu (20 hektare) habis. Sangat besar itu investasinya. Dampaknya, kita harus memulihkan lagi dengan cara menanami lahan kembali. Itu kan besar biayanya.”

Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar TNGGP Adison mengatakan total lahan yang tergerus akibat aktivitas perburuan cacing itu kurang-lebih 20 hektare. Sedangkan pohon yang ditebang para pencari cacing itu 200-300 batang.

Aktivitas perburuan cacing jelas mengancam kelestarian hutan konservasi TNGGP. Juga mengkhawatirkan keberlangsungan hidup satwa yang mendiami taman nasional itu. “Gunung Pangrango merupakan andalan bagi penduduk DKI Jakarta, Jawa Barat, dan sekitarnya. Termasuk untuk air. Nah, kalau itu digunduli, ya bakal hancur,” kata Adison.

Perburuan cacing jenis kalung dan sonari di TNGGP mulai marak dilakukan kurang-lebih setahun belakangan ini. Mereka memburu dua jenis cacing, yakni kalung atau gelang dan sonari. Cacing kalung (Pheretima aspergillum) mempunyai ukuran tubuh lebih besar daripada cacing tanah pada umumnya.

Cacing sonari mempunyai ukuran sama besar dengan panjang bisa mencapai 60 cm. Sementara cacing kalung hidup di dalam tanah di kedalaman 30-50 cm, sonari menempel pada batang pohon kadaka. Cacing ini sering mengeluarkan bunyi pada malam hari. Karena itulah dinamai sonari, yang berarti “bernyanyi”.

Tenda yang dipakai para pemburu cacing 
Foto: dok. TNGGP

Mantan Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Indah Yuning Prapti mengatakan cacing sonari punya manfaat sebagai antimikroba bagi tubuh manusia. Cacing itu bisa digunakan untuk meredakan penyakit, seperti tifus dan diare. Selain itu, cacing tersebut dipakai menjadi bahan kosmetik.

Permintaan atas cacing itu sangat tinggi di masyarakat. Bahkan cacing tersebut diekspor ke China dan Jepang, dua negara yang terkenal dengan produksi obat-obatan tradisional. Harga jenis cacing itu terbilang cukup mahal. Cacing kalung di Puncak, Bogor, per ekor Rp 40 ribu. Bila dihitung dalam satuan kilogram, harga per kilogram cacing kalung kering Rp 5 juta.

Maka tak aneh bila cacing raksasa yang hidup di TNGGP itu menjadi buruan. Apalagi, menurut TNGGP, populasi cacing tersebut terbilang sangat berlimpah. Masyarakat pun rela bertaruh nyawa mendaki lereng-lereng curam untuk mencari cacing itu. Cuaca sangat ekstrem di puncak Gunung Pangrango tak mereka pedulikan.

Aparat taman nasional dan Polisi Hutan menyisir taman nasional untuk merazia para pemburu cacing.
Foto: Istimewa 

Pemilihan lokasi yang terjal itu juga dimaksudkan untuk menghindari patroli Polisi Hutan. Mereka naik ke gunung tidak melewati jalur resmi pendakian. Para pemburu cacing tersebut masuk lewat kawasan Cisarua dan Pasir Sumbul. Hanya orang-orang yang punya fisik kuat yang mampu melewati jalur tersebut karena treknya menanjak terus.

Pemburu cacing itu biasanya bergerombol dengan anggota per kelompok 20 orang. Mereka membawa tenda untuk menginap di hutan dan genset untuk penerangan. Peralatan yang digunakan untuk menggali tanah pun sangat lengkap. Mereka bertahan selama seminggu sebelum digantikan kelompok lain.

Untuk mendapatkan cacing kalung, biasanya para pelaku menggali tanah dan mengikuti lubang cacing. Nah, apabila lubang itu mengarah ke bawah pohon, mereka akan menebang pohon tersebut. Jumlah pohon yang ditebang makin banyak karena mereka berpindah-pindah.

“Lahan kita segitu (20 hektare) habis. Sangat besar itu investasinya. Dampaknya, kita harus memulihkan lagi dengan cara menanami lahan kembali. Itu kan besar biayanya,” kata Adison.

Pengarahan diberikan kepada aparat TNGGP sebelum melakukan penyisiran taman nasional untuk merazia pemburu cacing.
Foto: Istimewa

Aktivitas pengambilan cacing di puncak Pangrango mulai meredup pada akhir 2016 karena patroli yang dilakukan pengelola TNGGP setelah mendapatkan laporan tentang kerusakan hutan. Pertama kali melakukan patroli, kabarnya petugas TNGGP menyisir lokasi hingga lima kali tapi tidak berhasil menangkap pelaku.

Pada 24 Maret 2017, Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menangkap Didin, 48 tahun. Warga Cibodas ini diduga sebagai penyuplai logistik kepada aktor di lapangan sekaligus penadah cacing-cacing yang diambil dari hutan. Penangkapan ini diharapkan memutus rantai perburuan cacing.

Kepala Humas Kementerian Lingkungan Hidup Djati Witjaksono mengungkapkan masyarakat sebetulnya boleh saja memperoleh manfaat cacing hutan itu. Namun pengembangannya harus dilakukan secara swadaya.

Infografis: Luthfy Syahban

Karena itu, diperlukan penelitian lebih mendalam tentang bagaimana membudidayakan cacing mengingat habitat aslinya di hutan dan pada suhu dingin. “Ya, memang masyarakat harus diberi kesempatan untuk mengembangbiakkan cacing tersebut,” kata Djati.


Reporter: Gresnia Arela F
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.





SHARE