INVESTIGASI

Rencana Prewedding Berujung Maut

Chatarina diduga dibunuh dalam perjalanan ke Bandara Palembang bersama calon suaminya, Asworo. Asworo kini dicari polisi.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 22 Mei 2017

Amri, 35 tahun, warga Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, saban hari mencari rumput untuk pakan sapi di lahan kosong tak jauh dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Sumatera Selatan. Seperti biasa, ia pergi dari rumahnya di Jalan Sei Sedapat I, Soak Simpur, Lorong Setia Bakti 1 RT 14 RW 08, untuk mengarit rumput pada Kamis, 11 Mei 2017, pukul 09.00 WIB, itu.

Ketika tengah menyusuri jalan yang menuju Bandara, tiba-tiba hidung Amri mencium bau tak sedap. Hidungnya pun kembang-kempis mengendus bau yang dikira berasal dari hewan mati tersebut. Tak berapa lama, ia melihat sesosok tubuh tergolek mengenakan baju berwarna putih. Ia terkejut, ternyata sosok itu adalah mayat seorang perempuan yang sudah lama meninggal.

Amri lari tunggang-langgang menuju arah permukiman warga. Ia memberitahukan penemuan mayat itu dan warga pun langsung melapor ke Polsek Sukarami. Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Sukarami Inspektur Satu Marwan bersama beberapa anak buahnya mendatangi tempat kejadian perkara, diikuti oleh Tim Identifikasi Polres Kota Palembang, untuk melakukan identifikasi.

Chatarina (kanan) dan Asworo
Foto: dok. pribadi via Facebook


Sabtu itu anak saya ngabarin dan pamit mau ke Yogyakarta bersama Asworo. Mereka berangkat ke Palembang dari Prabumulih."

Mayat ditemukan sudah membusuk dan sulit dikenali. Pakaian putih yang dikenakan juga berlumuran darah kering. Diduga mayat perempuan ini korban pembunuhan. Tak jauh dari TKP, polisi menemukan tas jinjing bergambar Winnie The Pooh berisi pakaian dan barang-barang lain milik korban.

Saat itu juga, pihak kepolisian mengevakuasi mayat itu dan membawanya ke Instalasi Forensik Rumah Sakit Bhayangkara. Dari uji forensik, diketahui korban mengalami luka pada bagian belakang kepala akibat hantaman keras benda tumpul. ”Selain itu, ada luka di bagian wajah dan langit-langit giginya,” ungkap Perwira Administrasi Pelayanan Kedokteran Polisi RS Bhayangkara, Palembang, Inspektur Satu Edison.

Polisi mencocokkan data fisik korban sebelum meninggal dengan laporan tujuh pihak yang merasa anggota keluarganya hilang. Minggu, 14 Mei 2017, polisi menemukan titik terang identitas mayat perempuan tersebut. Saat itu polisi menerima laporan dari Paulus Slamet, 59 tahun, warga Muara Enim, yang kehilangan anaknya, Chatarina Wiedyawati, 30 tahun.

Chatarina
Foto: Sukma Indah P/detikcom

Setelah dicocokkan, ternyata benar, korban adalah Chatarina Wiedyawati alias Wiwid, yang beralamat di Jalan Gereja Atas No 106, Kelurahan Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Keluarga Paulus sudah lama tinggal di Sumatera Selatan. Mereka berasal dari Yogyakarta. Paulus pindah ke Sumatera Selatan karena dulu bekerja di perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia, PT Bukit Asam. 

Paulus telah melaporkan hilangnya sang anak pada Selasa, 9 Mei 2017. Awalnya Wiwid memberitahukan akan pergi ke Yogyakarta pada 6 Mei 2017 untuk pengambilan foto prewedding dengan Asworo, calon suaminya. Sejoli itu berencana melangsungkan pernikahan pada 5 September 2017 di Yogyakarta.

Wiwid juga memberi tahu adik sepupunya, Alvian, yang mengurus semua persiapan foto prewedding-nya di Kota Gudeg. Korban juga bilang bahwa Asworo sudah berada di tempat kosnya di Prabumulih dan siap berangkat ke Yogya. Penerbangan dijadwalkan pada Minggu, 7 Mei 2017. Ia meminta Alvian menjemput di Bandara Adisutjipto, Yogya.

“Terus sampai saya tunggu, Minggu pagi itu saya kontak, saya hubungi, kok susah dihubungi. Nomornya nggak aktif. Cowoknya saya hubungi juga nggak aktif (ponselnya). Minggu malam juga masih nggak ada kabarnya,” kata Alvian kepada detikX, Senin, 22 Mei 2017.

Karena bingung tak juga ada kabar, keesokan harinya Alvian nekat pergi ke bandara. Ia mengecek satu per satu penerbangan dari Palembang ke Yogya pada 7 Mei 2017. Hasilnya membuat Alvian semakin cemas. Di daftar penumpang pesawat, tak ada nama Chatarina dan Asworo. Padahal sebelumnya Wiwid bilang tiket pesawat sudah beres di tangan Asworo.

Jenazah korban di rumah duka
Foto: Raja Adil Siregar/detikcom

Alvian pun berinisiatif menyebarkan info orang hilang di media sosial Facebook. Pengumuman itu direspons oleh netizen sampai akhirnya ada yang memberitahukan penemuan mayat di jalan menuju bandara Palembang. Sempat tak yakin itu mayat sepupunya, Alvian akhirnya meminta pamannya atau ayah Wiwid ke Palembang.

Sementara itu, teman satu kos Wiwid, Eva Sinta Simatupang, mengatakan Wiwid bilang melalui telepon bahwa ia cuti tiga hari untuk pergi ke Yogya mengurus foto prewedding, undangan, dan lain-lain. Ia akan naik pesawat bersama Asworo. “Mau naik pesawat katanya. Cuma saya nggak bertanya pesawatnya apa,” tutur Eva kepada detikX.

Asworo sendiri sampai hari ini tidak jelas keberadaannya. Polisi menduga kuat pria yang bekerja sebagai tukang fotokopi di SMA Xaverius 1 Palembang itulah yang melakukan pembunuhan terhadap Wiwid, calon pendamping hidupnya. Namun sejauh ini polisi belum mengantongi bukti yang cukup.

Polisi baru menemukan mobil Toyota Innova berwarna hitam dengan nomor polisi BG-1719-JA beberapa hari setelah penemuan mayat korban. Posisinya tak jauh dari TKP. Mobil sewaan itulah yang dipakai Asworo untuk menjemput Wiwid dari rumah kosnya di Prabumulih. Asworo sendiri tinggal di Kota Palembang.

Pada malam tanggal 6 Mei 2017, Asworo masih mengendarai mobil itu seorang diri ke mesnya yang terletak di Jalan Bangau, Kota Palembang. Setelah tidur-tiduran sebentar di mes tersebut, ia pergi ke counter pulsa milik Aripin. Ia membeli pulsa sebesar Rp 100 ribu.

Situasi rumah Chatarina di Yogyakarta
Foto: Sukma Indah P/detikcom

Asworo juga sempat mencuci mobil berwarna hitam itu di mes. Berdasarkan keterangan yang diperoleh Alvian dari Eko, salah seorang penghuni mes, Asworo hanya mencuci bagian dalam mobil. Di bagian dalam mobil ada bercak-bercak yang mencurigakan. Namun, begitu kejanggalan itu ditanyakan, Asworo buru-buru pergi.

Alvian mengungkapkan seluruh barang dan benda berharga milik Wiwid dicurigai dibawa Asworo, termasuk kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Hal itu terlihat dari penarikan uang dari rekening Wiwid setelah hilang kontak. Jumlahnya variatif. Salah satunya, penarikan uang di sebuah ATM di Bambu Kuning, Lampung, pada 9 Mei 2017.

Polisi kabarnya sudah mendeteksi beberapa tempat yang menjadi persinggahan pria berambut pendek tersebut. Namun polisi hingga kini masih melakukan perburuan terhadap pria asal Blitar, Jawa Timur, itu. Asworo diketahui juga sempat mengganti foto di akun media sosial Facebook miliknya.

Adapun jenazah Chatarina kini telah dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum Ngrau, Suryodiningratan, Mantrijeron, Yogyakarta, pada Jumat, 19 Mei 2017. Duka mendalam menyelimuti keluarga Chatarina. Beberapa barang yang sudah dipersiapkan untuk pesta pernikahan dikuburkan bersama jenazah Wiwid. “Saya berharap ini dapat segera diungkap karena menyangkut nyawa kakak saya,” ujar Alvian.


Reporter: Gresnia Arela F, Raja Adil Siregar (Palembang)
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE