INVESTIGASI

Chatarina Tewas,
di Mana Kamu, Asworo?

Wiwid dan Asworo menjalin hubungan asmara selama 1-2 tahun. Asworo pendiam dan jarang tersenyum.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 23 Mei 2017

Isak tangis pecah di Tempat Pemakaman Umum Ngrau, Suryodiningratan, Mantrijeron, Yogyakarta. Seluruh keluarga, kerabat, dan teman mengantarkan penguburan Chatarina Wiedyawati alias Wiwid, 30 tahun. Ratusan pelayat tak kuasa menahan air mata mengiringi jenazahnya ke pemakaman yang berjarak 100 meter dari rumah keluarga Wiwid, Perumahan Suryo II, Suryodiningratan, itu.

Suasana makin mengharukan ketika peti jenazah dimasukkan ke liang lahat. Bukan hanya itu, gaun berwarna merah, rangkaian bunga, serta balon bertulisan ‘I Love You’ dan soft lens, yang sedianya dipakai untuk pemotretan prewedding, turut dikuburkan. Pemotretan prewedding itu sedianya dilakukan di Taman Sari, Tebing Breksi, dan pantai di Yogya pada 8 Mei 2017.

“Balon itu disiapkan mbak saya, karena dia sangat cinta pada calon suaminya (Martinus Asworo),” kata Stefanus Alvian, adik sepupu Wiwid, saat berbincang dengan detikX melalui telepon pada Senin, 22 Mei 2017.

Menurut Alvian, gaun merah yang dibeli sendiri oleh Wiwid beserta perlengkapan lain itu dikirimkan ke Yogya. Bahkan Wiwid meminta Alvian lebih dulu mencuci gaun tersebut agar bersih dan wangi ketika akan digunakan pada sesi pemotretan prewedding.

Tapi takdir menentukan lain. Proses pemotretan itu batal. Wiwid dan Asworo tak datang pada Minggu, 7 Mei, dari Palembang, Sumatera Selatan. Padahal saat itu keluarga telah menunggu di Bandara Adisutjipto, Yogya. Mereka malah menerima kabar Wiwid ditemukan tewas mengenaskan di Soak Simpur, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami, Palembang, pada 11 Mei 2017.

Tewasnya Wiwid menyisakan kesedihan dan tanda tanya bagi keluarga besarnya. Banyak kenangan dan rencana yang telah dipersiapkan, khususnya soal pernikahan Wiwid-Asworo. Apalagi pernikahan telah ditentukan pelaksanaannya pada 5 September 2017 di Gedung Suryo Puri, Yogyakarta.

Chatarina dan Asworo
Foto: dok. pribadi via Facebook

Orang tua Wiwid, Paulus Slamet dan Elishabet Tri Sumarni, memang berasal dari Yogyakarta tapi sudah lama tinggal di Kabupaten Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Karena sudah pensiun dari PT Bukit Asam, Paulus berencana memboyong kembali keluarganya untuk tinggal di Yogya.

Wiwid, yang merupakan lulusan S-2 Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, merupakan putri pertama Paulus dan Elishabet. Ia memiliki seorang adik bernama Febri, yang masih duduk di bangku kelas VI sekolah dasar.

Setelah menamatkan kuliah S-2, Wiwid kembali ke Tanjung Enim dan diterima bekerja di perusahaan alat berat PT Cipta Hasil Sugiarto di Kabupaten Prabumulih, Sumatera Selatan.

Saat bekerja di bagian keuangan perusahaan itulah Wiwid menjalin asmara dengan Asworo, yang bekerja sebagai karyawan koperasi SMA Xaverius 1, Kota Palembang.

Wiwid dicomblangi oleh teman satu kosnya di Prabumulih bernama Eva. Wiwid dan Asworo baru satu-dua tahun ini berpacaran. Asworo sendiri sempat diperkenalkan kepada kedua orang tua Wiwid.

“Malah sempat diajak ke Yogya juga. Ketemu akhir tahun lalu, pas liburan Natal 2016. Saya ketemu juga, kok,” ujar Alvian.

Saat itu, kata Alvian, Wiwid dan Asworo berada di Yogya selama satu minggu. Berdasarkan penilaiannya, Asworo terbilang sosok yang sangat pendiam. Bahkan untuk sekadar senyum pun jarang terlihat di raut wajah Asworo. “Walau kita bercanda kayak apa, dia ekspresinya datar-datar saja. Saya juga heran,” ujarnya.

Suasana pemakaman Chatarina di Yogyakarta
Foto: Sukma Indah P/detikcom


Karakter Asworo sebaliknya berbeda dengan sifat Wiwid yang periang, ceria, dan polos. Wiwid juga dinilai teman dan keluarga sebagai sosok yang sangat peduli terhadap keluarga dan teman-temannya. “Orangnya baik, ramah, suka bantu orang, bawel tapi dewasa. Suka curhat dan cerita soal pekerjaannya. Pokoknya orangnya ramai,” tutur Eva kepada detikX.

Eva sendiri tak kenal secara langsung dengan Asworo. Awalnya Eva mencomblangi Wiwid dengan Bonifius Viet. Namun Bonifius, yang beragama Kristen, merasa tak cocok dengan Wiwid, yang beragama Katolik. Akhirnya Bonifius Viet mengenalkan Asworo, yang memang sama-sama Katolik, kepada Wiwid pada 2015.

Hingga kini keberadaan Asworo masih misterius. Polisi terus mencari pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, pada 1985 itu. Polisi mencari ke tempat tinggal Asworo di mes Yayasan Xaverius, Jalan Bangau Nomor 60, Kelurahan 9 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang. Hasilnya nihil. Jejak Asworo seperti lenyap ditelan bumi.

Mes berupa rumah tua bercat krem yang berada di luar lingkungan yayasan itu hanya diisi beberapa karyawan. Saat detikX. menyambangi tempat itu pada 19 Mei 2017, kamar yang diisi Asworo masih terkunci rapat. Beberapa temannya mengaku sudah lama tak melihat Asworo. Pihak yayasan sendiri terkesan menutup diri ketika dimintai konfirmasi soal sosok Asworo itu.

“Ya, setahu saya memang tinggal di sini, kerja di dalam (Yayasan Xaverius). Tapi sudah lama nggak pernah lihat lagi. Sebelum kejadian juga nggak pernah lihat,” kata petugas keamanan Xaverius, Syamsuddin, 40 tahun.

Stastus BBM di HP Chatarina sebelum berangkat.
Foto: dok. Istimewa

Catatan transaksi di rekening Chatarina
Foto: dok. Istimewa

Sementara itu, Aripin, 35 tahun, yang mengaku kenal dekat dengan Asworo, sempat melihat temannya itu pulang ke mes pada Sabtu, 6 Mei 2017, malam. Asworo membawa mobil Toyota Innova seorang diri. Tak lama, Asworo sempat mendatangi gerai pulsa miliknya, yang tak jauh dari mes itu. Saat itu, Asworo membayar pulsa paket internet sebesar Rp 100 ribu.

“Karena orangnya pendiam, memang nggak banyak omong, setelah bayar langsung pergi malam itu juga. Tapi nggak tahu mau ke mana,” ujar Aripin, yang mengaku mengenal Asworo selama lima tahun.

Aripin menambahkan, sejak berpacaran dengan Wiwid, Asworo jarang berkumpul dengan teman-temannya. Sebelumnya, Asworo sering nongkrong di Taman Kambang Iwak, Benteng Koto Besak, dan warung bandrek di Jalan Merdeka, Kota Palembang. Setelah berpacaran, setiap hari libur langsung pergi ke Prabumulih untuk menemui Wiwid.

“Pokoknya, sejak pacaran, dia jarang kumpul. Tiap ada hari libur, pasti langsung berangkat ke Prabumulih. Kadang naik motor sendirian, kadang naik travel,” ungkapnya.

Anehnya, ujar Aripin, pada Kamis, 18 Mei 2017, sekitar pukul 22.00 WIB, Asworo, yang memiliki akun Facebook dengan nama ‘Azz Martinus’, sempat mengganti foto sampul akunnya itu. Aripin berharap kasus ini bisa cepat diungkap oleh polisi agar jelas apakah temannya itu merupakan pelaku atau korban juga.

Hal serupa diungkapkan Eko, teman satu mes Asworo. Asworo, yang dikenal serius dan tak pernah bercanda, keluar dari rumah sejak Minggu, 7 Mei 2017. “Terakhir ketemu hari Minggu. Setelah itu nggak ada kabar lagi. Waktu pergi, bilangnya mau ke bengkel dan tempat laundry,” kata Eko.

Mobil yang disewa Asworo untuk menjemput Chatarina.
Foto:  dok. Istimewa

Eko heran karena tak biasanya Asworo pergi ke tempat laundry. Kalau ke bengkel, memang Asworo sering melakukannya karena ia punya hobi memodifikasi sepeda motor. Saat itu Asworo terlihat tergesa-gesa dengan membawa tas berwarna hijau. “Biasanya dia pergi ke Prabumulih hari Jumat, pulang hari Senin,” Eko menambahkan.

Keluarga Wiwid sendiri mengungkapkan, setelah hilang kontak dengan keduanya, sempat ada penarikan uang di rekening bank milik Wiwid. Hal itu diketahui setelah Paulus mengecek rekening anaknya itu. Ada penarikan sejumlah uang di sebuah ATM di Bambu Kuning, Lampung, pada Selasa, 9 Mei 2017. Saat itu juga rekening Wiwid langsung diblokir.

“Iya, benar, informasinya itu penarikan di Lampung. Ada beberapa nominal yang ditarik dari rekening korban,” kata Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Selatan Kombes Cahyo Budisiswanto kepada detikX, 22 Mei 2017.

Menurut Cahyo, informasi ini sedang dalam penyidikan serta proses pengumpulan bukti kesaksiannya. Tim kepolisian saat ini telah membentuk satu tim untuk melakukan pencarian secara khusus terhadap Asworo karena dianggap sebagai kunci penting dalam mengungkap pembunuhan Chatarina.


Reporter: Gresnia Arela F, Raja Adil Siregar (Palembang)
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE