INVESTIGASI

SONGSONG PILGUB JAWA TIMUR

Risma Digadang,
Mega Melarang

“Aku sudah ketemu Bu Mega. Aku nggak dibolehin maju di Pilgub Jawa Timur.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 26 Juni 2017

Sepucuk surat berkop Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jawa Timur meluncur ke meja kerja Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pekan lalu. Surat yang ditandatangani oleh Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Kusnadi dan Sekretaris DPD Sri Untari Bisowarno itu berisi soal penjaringan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur untuk Risma.

Pada surat bernomor 119/EKS/DPD/VI/2017 dengan tanggal 12 Juni 2017 tersebut juga dicantumkan pemberitahuan jadwal pengambilan formulir di DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. Namun, hingga habis batas waktu penjaringan, 14 Juni 2017, hanya ada enam pendaftar yang mengikuti penjaringan cagub dan cawagub Jawa Timur yang digelar PDI Perjuangan.

Pendaftar tersebut di antaranya Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf alias Gus Ipul dan Wakil Ketua DPRD yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Kusnadi. Selain itu, ada nama anggota DPRD Jawa Timur Suhandoyo, Bupati Ngawi Budi Sulistyono, anggota DPR M.H. Said Abdullah, serta Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, yang mendaftar pada hari terakhir penjaringan.

Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya
Foto: Budi Sugiharto/detikcom

Sedangkan Risma tidak termasuk dalam daftar calon karena tidak mengembalikan formulir yang dikirim DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. Namun, Entah kenapa DPC PDI Perjuangan Surabaya sepertinya ngotot menyodorkan nama Risma dalam penjaringan yang digelar partai berlambang kepala banteng yang memiliki 19 kursi di DPRD Provinsi Jawa Timur itu. Syaifuddin Zuhri, Sekertaris PDIP Kota Surabaya, saat dimintai konfirmasi detikX rupanya punya alasan tersendiri kenapa memunculkan Risma sebagai salah satu bakal calon.

Aku sudah ketemu Bu Mega. Aku nggak dibolehin maju di pemilihan Gubernur Jawa Timur.”

“DPC kan punya hak mengusulkan bakal calon. Dan dari masukan di kalangan internal, Risma dianggap punya potensi. Makanya kami masukkan namanya,” kata Syaifuddin, Rabu, 21 Juni 2017.

Potensi Risma, kata Syaifuddin, bukan hanya karena punya kinerja bagus. Dari hasil survei, Risma juga punya peluang besar menang karena tingkat keterpilihan (elektabilitas) Risma hanya terpaut 4 persen di bawah nama Gus Ipul, yang berada di urutan teratas.

Dari hasil survei Poltracking Indonesia yang dirilis pada 11 Juni 2017, tingkat keterpilihan tertinggi pada Pilkada Jawa Timur 2018 jatuh pada Gus Ipul, yang meraup 32,29 persen. Menyusul Rima di urutan kedua dengan 27,08 persen, Khofifah Indar Parawansa dengan angka 19,11 persen, dan Abdullah Azwar Anas, yang memperoleh 8,47 persen.

Wali Kota Risma memimpin pembongkaran bangunan di Surabaya.
Foto: Zainal Effendi/detikcom

“Bu Risma belum bergerak saja sudah dapat segitu (27,08 persen), apalagi kalau sudah bergerak. Mungkin bisa menyalip Gus Ipul,” ujar Syaifuddin.

Ternyata bukan cuma PDI Perjuangan di wilayah Jawa Timur yang kepincut pada Risma. Partai Golkar Jawa Timur, yang memiliki 9 kursi di DPRD, juga memasukkan nama Risma dalam usulan bakal calon yang dikirim ke DPP Partai Golkar.

Kepada detikX, Sekretaris DPD Golkar Jawa Timur Sahat Simanjuntak mengatakan pihaknya memang mengirimkan sejumlah nama bakal calon di pemilihan Gubernur Jawa Timur ke DPP Golkar untuk digodok. Mereka adalah Gus Ipul, Khofifah, Risma, dan Nyono Suwardi (Ketua DPD Golkar Jawa Timur). Beberapa nama anggota DPR dari Golkar, seperti Adis Kadir dan Gatot Sujito, juga dimasukkan.

“Yang jadi pegangan kita dalam mengusulkan sejumlah nama itu adalah survei, baik dari internal maupun eksternal,” ujar Sahat.

Politikus PDIP Maruarar Sirait secara terpisah menganggap wajar bila banyak yang ingin mengusung Risma maju dalam pemilihan Gubernur Jawa Timur. Pasalnya, Risma dua kali berturut-turut menjadi Wali Kota Surabaya. Dan selama menjabat, Risma tercatat sebagai wali kota terbaik bukan hanya di Indonesia, tapi internasional. “Dia (Risma) juga bisa menjaga pluralisme dan Pancasila dengan baik,” kata Maruarar.

Catatan positif lain yang ditorehkan, imbuh Maruarar, Risma bisa menutup lokalisasi legendaris Dolly di Surabaya secara manusiawi dengan membina dan mendidik para pekerja seks serta menyediakan pekerjaan dan memberikan modal. Catatan-catatan itulah, menurut Maruarar, yang membuat Risma layak menjadi kepala daerah.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bersama Wali Kota Surabaya, yang juga kader PDI Perjuangan, Tri Rismaharini tengah menghadiri pembukaan sekolah partai calon kepala daerah di Wisma Kinasih, Bogor.
Foto: Indah Mutiara Kami/detikcom

Pria yang akrab disapa Ara ini mengaku pernah menyaksikan sendiri bagaimana sikap Risma terhadap wong cilik. Saat itu setahun yang lalu dia sarapan pagi di warung soto di Kota Surabaya bersama Risma. Ada seorang anak menawarkan jasa semir sepatu kepada Risma. Namun Risma malah bertanya kepada anak itu.

"Kamu umur berapa? Kenapa kamu nggak sekolah?" tanya Risma.

Begitu anak itu menjawab tidak punya biaya, Risma langsung minta alamatnya dan menelepon Kepala Dinas Pendidikan Surabaya serta camat wilayah tersebut. Setelah itu, Risma bilang ke anak yang hanya lulus SD itu untuk bersekolah keesokan harinya. “Saya menyaksikan sendiri bagaimana Risma memberikan solusi-solusi yang sesuai aturan dan anggarannya jelas,” terang Ara.

Namun Ara tidak bisa berkata apa-apa saat ditanya soal peluang Risma maju dalam pemilihan Gubernur Jawa Timur. “Itu urusan Bu Mega dan DPP,” tuturnya.

Sementara itu, sumber detikX yang dekat dengan Risma menjelaskan Risma sudah membicarakan soal pemilihan Gubernur Jawa Timur dengan Megawati beberapa waktu lalu. Pertemuan keduanya berlangsung di rumah Megawati, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, seusai gelaran Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, Akhir April 2017. Saat itu Risma diminta datang ke Jakarta.

Dalam pertemuan itu, Megawati meminta Risma tidak maju lantaran dinamika politik di Jawa Timur yang keras. “Aku sudah ketemu Bu Mega. Aku nggak dibolehin maju di pemilihan Gubernur Jawa Timur,” ujar Risma seperti ditirukan sumber tersebut ke detikX.

Kader PDIP Maruarar Sirait
Foto: Hasan Alhabshy/detikcom

Masih menurut sumber tersebut, dalam pertemuan itu Megawati meminta rekomendasi Risma siapa yang kiranya cocok untuk maju. Namun Risma merahasiakan nama yang direkomendasikannya.

Soal pertemuan empat mata Megawati dengan Risma, anggota Badan Pemenangan Pemilu DPP PDIP Bambang Dwi Hartono mengaku tidak tahu. Bambang hanya mengatakan proses penjaringan cagub/cawagub Jawa Timur berjalan sesuai dengan peraturan partai No 4 Tahun 2015.

Saat ditanya soal Risma, Bambang menjawab diplomatis. “Jadi kita tidak bicara orang per orang. Kita kan memperlakukan sama. Justru pertanyaan saya, kenapa hanya satu nama itu (Risma) yang disorot? Wong yang lain juga banyak,“ tuturnya ketika dihubungi detikX, Kamis, 22 Juni 2017.

Sedangkan dalam berbagai kesempatan, Risma selalu menyampaikan keengganannya maju dalam pilgub Jawa Timur. Ia menolak didapuk jadi kandidat pemimpin Jawa Timur karena memilih berkonsentrasi di Surabaya.

Pada 8 Juni lalu, Risma mengakui bertemu dengan Megawati. Setengah bercanda kepada wartawan, Risma menuturkan, “Wong sudah aku sampaikan ke Bu Mega dan Bu Mega setuju bukan aku, yeee…."

Di Jawa Timur, PDI Perjuangan mengantongi 19 kursi parlemen. Sedangkan syarat mengusung calon di pilkada, partai atau gabungan partai minimal harus memiliki 20 kursi. Modal tersebut tidak cukup membuat PDI Perjuangan percaya diri mengusung kader sendiri untuk bersaing merebut posisi orang nomor satu di Jawa Timur.

Sikap itu dimaklumi pengamat politik dari Indo Barometer Ahmad Qodari. Ada dua prediksi yang disampaikannya terkait sikap PDI Perjuangan. PDI Perjuangan ingin mempererat hubungan dengan NU. Kedua, menghindari cap komunis. “Kenapa dengan NU? Karena komunis itu lawannya NU. Jadi, kalau PDIP koalisi dengan NU, tidak mungkin PDI Perjuangan itu komunis,” ujarnya kepada detikX.

Ketua Bidang Pemenangan Pemilu PDIP dan Pelaksana Tugas Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta Bambang Dwi Hartono
Foto: Ari Saputra/detikcom

Menurut Qodari, peta masyarakat di Jawa Timur terdiri atas beberapa wilayah basis, yakni basis santri, yaitu berada di wilayah Tapal Kuda, yang meliputi Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Wilayah tersebut merupakan basis NU. Sedangkan basis lainnya disebut Mataraman. Di wilayah itu, yang kuat adalah kalangan nasionalis, di antaranya PDIP.

“Kalau pakai peta itu, jika Gus Ipul melawan Risma, tentu akan sangat menarik karena punya segmen masing-masing. Jadi bukan cuma pertarungan antarfigur, tapi juga geopolitik,” kata Qodari. Namun, jika PDI Perjuangan memilih berkoalisi dengan PKB dan hanya menyodorkan cawagub, pasangan Gus Ipul bakal tambah superior dan sulit dilawan.


Reporter: Ibad Durohman, Gresnia Arela F.
Redaktur: Deden Gunawan
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE