INVESTIGASI

Nasib Indekos
Hary Tanoe

Sebagai pemula, langkah politik Hary Tanoe terombang-ambing. Mendirikan Perindo karena tak mau lagi indekos di partai orang.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 7 Agustus 2017

Ada wajah baru dalam beberapa kali pertemuan para tokoh Partai Nasional Demokrat (NasDem) di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, enam tahun lalu itu. Dia adalah Hary Tanoesoedibjo (HT), pemilik salah satu grup media terbesar di Indonesia, MNC Group.

Saat itu belum lama NasDem dideklarasikan menjadi partai politik pada 26 Juli 2011 dari sebelumnya sekadar organisasi kemasyarakatan. Ketua Umum NasDem Rio Patrice Capella dan Sekretaris Jenderal NasDem Ahmad Rofiq melaporkan perkembangan NasDem kepada Surya Paloh, pendiri ormas NasDem yang juga raja media (Media Group).

HT sedang melakukan penjajakan terhadap partai baru tersebut. Dia banyak bertanya tentang pembentukan cabang-cabang NasDem di daerah sebagai syarat mendapat pengesahan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

HT pun kemudian diundang dalam Musyawarah Kerja Nasional I NasDem, yang digelar pada 10 November 2011. Boleh dibilang inilah penampilan pertama HT di kancah politik nasional. Namun saat itu HT belum resmi menyatakan diri bergabung dengan NasDem.

Hary Tanoesoedibjo bersama Wiranto saat masih berada di Partai Hanura.
Foto: dok detikcom

HT baru bergabung dengan NasDem setelah partai tersebut mendapatkan pengakuan dari Kementerian Hukum. Ia langsung dinobatkan sebagai Ketua Dewan Pakar. Adapun Surya Paloh menjadi Ketua Majelis Tinggi Partai NasDem.

NasDem jelas mendapatkan kekuatan berkali-kali lipat dengan tambahan HT dan media di belakangnya. Karena itu, agar NasDem lolos sebagai peserta Pemilu 2014, HT semakin giat mengikuti rapat membahas strategi “pemasaran” NasDem, termasuk melalui jaringan media yang dimilikinya.

Kalau mengikuti bahasa survei, Partai Perindo sudah menjadi partai menengah, partai yang sangat diperhitungkan. Dan paling penting, bisa menjadi harapan baru bangsa Indonesia.”

Selain itu, HT ikut turun ke daerah-daerah dalam rangka konsolidasi partai. Seorang sumber yang mengetahui kiprahnya di NasDem saat itu mengatakan HT tak segan merogoh modal yang besar untuk menggerakkan roda partai. “Semua kegiatan operasional NasDem, HT yang nanggung. Lebih dari Rp 200 miliar,” katanya kepada detikX.

NasDem dinyatakan lolos sebagai peserta Pemilu 2014 pada Januari 2013. Bahkan kemudian mendapat urutan pertama dalam pengundian nomor parpol peserta pemilu. Namun justru dari sinilah bibit-bibit perpecahan HT dengan Surya Paloh muncul.

Sebagian pengurus, termasuk Rio Patrice, menghendaki pergantian pimpinan parpol melalui kongres pertama. Alasannya, NasDem bakal tak sanggup melawan parpol yang sudah mapan bila tak dipimpin seorang tokoh. Saat itu parpol lain dipimpin tokoh-tokoh politik yang populer serta didukung dana yang besar.

Ketum NasDem Surya Paloh
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Ketum Perindo Hary Tanoesoedibjo
Foto: Ari Saputra/detikcom

Mereka menggadang-gadang Surya Paloh menjadi ketua umum melalui kongres. HT menolak dengan keras kongres itu. Menurut dia, pemilu semakin mepet waktunya, sehingga NasDem tak perlu menyibukkan diri dengan pergantian pengurus. Ia ingin pengurus lama, yang berisi kelompok muda, tetap dipertahankan. Terlebih mereka telah membuktikan diri berhasil membangun partai. Kalaupun diadakan kongres, menurut HT, sebaiknya pasca-Pemilu 2014.

Karena tidak ditemukan titik temu juga, HT, yang kecewa berat terhadap kubu Surya Paloh, akhirnya memilih hengkang dari NasDem. “Hary Tanoe beserta seluruh anggota DPP yang lama keluar dan langsung menyatakan bergabung dengan Wiranto. Ya, jadi sepemahaman saya, keluarnya Hary Tanoe itu karena tidak setuju kongres,” kata Rio Patrice kepada detikX.

Kongres I NasDem pada 23 Januari 2013 itu memang kemudian menetapkan Surya Paloh sebagai ketua umum dan Rio turun jabatan menjadi sekretaris jenderal. Sedangkan HT, bekas Sekjen NasDem Ahmad Rofiq, serta beberapa pengurus lainnya berlabuh di Partai Hati Nurani Rakyat besutan Wiranto.

Awalnya mereka tidak satu suara merapat ke Hanura. Sebab, elektabilitas partai itu hanya nol koma sekian persen, sehingga tak menjanjikan sama sekali. Namun, menurut sumber detikX, HT mengatakan Hanura hanyalah tempat transit. Namun ia mempunyai misi kehadirannya di Hanura dapat mengantarkan partai itu lolos parliamentary threshold di Dewan Perwakilan Rakyat.

HT didapuk menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Hanura. Yang mengejutkan, tak menunggu lama, Hanura mengusung HT menjadi calon wakil presiden mendampingi Wiranto dalam Pilpres 2014. Deklarasi capres-cawapres Hanura itu dilakukan di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, pada 24 Januari 2013.

image for mobile / touch device
image 1 for background / image background




Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo melantik pengurus Perindo..
Foto: Ari Saputra/detikcom

Menurut Wiranto, HT dan dia merupakan perpaduan yang saling melengkapi. Ia punya pengalaman militer selama 30 tahun dan mendampingi tiga presiden. Sedangkan HT adalah pengusaha sukses yang sangat memahami masalah ekonomi. Duet Wiranto-HT juga bisa merajut keberagaman agama dan etnis.

Hanura lolos parliamentary threshold dengan mengantongi 5,26 persen suara pada Pemilu Legislatif 2014. Namun, ketika tiba masanya membahas pilpres, duet Wiranto-HT perlahan tenggelam. Bahkan Wiranto mengumumkan bergabungnya Hanura ke koalisi parpol pendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla tanpa berembuk dengan HT.

HT kecewa untuk kedua kalinya. Terlebih gerbong HT di Hanura kabarnya tak diberi wewenang dalam menentukan caleg, tapi cuma memberikan usulan. Padahal HT telah ikut menyumbang pembiayaan operasional partai seperti ketika berkecimpung di NasDem.

HT lantas mendukung rival Jokowi-JK, pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. HT diketahui ikut rapat Koalisi Merah Putih, sebutan bagi koalisi parpol pendukung Prabowo. Di depan media, HT mengaku mendukung capres yang punya integritas dan kompetensi, bukan capres berkemampuan kosong.

Namun manuver pribadi HT itu berbuah pahit. Ia “diusir” Wiranto dari Hanura. Dalam penjelasannya, Wiranto mengatakan, sebagai pengusaha, HT punya banyak sahabat di kedua kubu. HT menyanggupi untuk memberikan bantuan bagi misi politik Jokowi dan Prabowo. Namun hal itu telah merusak citra Hanura, yang mendukung penuh Jokowi.

Diminta mundur dari Hanura, HT mendirikan Partai Persatuan Indonesia (Perindo) pada 7 Februari 2015. HT rupanya merasa sudah tidak bisa lagi hanya bergabung dengan partai yang sudah ada. “Kita nggak usah indekos lagi. Kita buat (partai) sendiri,” tutur salah satu politikus Perindo menirukan ucapan HT kepada detikX.

Ahmad Rofiq, yang kini menjadi Sekjen Perindo, mengungkapkan Perindo sudah mempunyai pengurus di 34 provinsi atau sudah 100 persen. Perindo juga sudah punya perwakilan di 514 kabupaten/kota dan 7.130 kecamatan. Saat ini partainya sedang berkonsentrasi agar lolos verifikasi parpol di Kementerian Hukum.

“Kalau mengikuti bahasa survei, Partai Perindo sudah menjadi partai menengah, partai yang sangat diperhitungkan. Dan paling penting, bisa menjadi harapan baru bangsa Indonesia,” katanya kepada detikX.


Reporter: Ibad Durohman, Ratu Ghea Marisa
Redaktur: M. Rizal
Redaktur: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE