INTERMESO

Pamit Cium Tangan, Pulang Mati Dibakar

Joya dikenal sebagai pribadi yang taat beragama dan sopan santun. Lulusan pesantren ini membuka usaha sound system di tempat kontrakannya.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 10 Agustus 2017

Suasana duka masih menyelimuti rumah Muhammad Al Zahra alias Joya, 30 tahun, pria yang diamuk dan dibakar massa di Pasar Muara Bakti, Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, setelah dituduh mencuri amplifier musala. Rumah Joya di Kampung Jati, Desa Cikarang Kota, Kecamatan Cikarang, masih didatangi puluhan warga yang mengikuti pengajian dan tahlilan.

Di rumah kontrakan itu tinggal juga istri Joya, Siti Zubaedah, 25 tahun. Namun pada Selasa, 8 Agustus 2017, malam itu, Siti tidak terlihat menemui warga yang datang berbelasungkawa. Siti tengah tertidur karena kelelahan dan masih shock. Di salah satu sudut rumah terlihat sejumlah perangkat sound system buatan Joya, termasuk sejumlah peralatan elektronik, seperti televisi dan amplifier, bekas.

Keluarga dan warga masih tak menyangka nasib yang menimpa Joya. Selama ini Joya dikenal sebagai sosok yang sangat baik, bahkan sering mengajar mengaji atau menjadi imam di masjid tak jauh dari rumahnya itu. Joya juga dikenal sebagai sosok yang santun dan menghormati orang tua.

Bahkan, sebelum kejadian pada Senin, 1 Agustus 2017, Joya sempat mencium tangan mertuanya, Fandi, 55 tahun, dan istrinya. “Dia pamit kepada istrinya dan ke saya, cium tangan, bilang mau cari duit, mau cari servisan. Terus dia keluar dan minta doanya agar dapat duit banyak,” ujar Fandi saat ditemui detikX, Selasa, 8 Agustus.

Menurut Fandi, hari itu Joya pergi keliling mencari orderan dari orang-orang yang ingin mereparasi peralatan elektronik, seperti amplifier. Namun keluarga tak mengetahui tujuan pergi Joya ke mana seperti biasanya. Saban sore Joya selalu pulang. Namun hari itu, sampai sekitar pukul 21.00 WIB, Joya belum kembali ke rumah.

Suasana rumah duka Joya setelah tujuh hari kematiannya, Selasa (8/8/2017).
Foto: M Rizal/detikX

Satu jam berselang, kakak Fandi datang untuk menanyakan kabar Joya, yang memang meminjam sepeda motor Honda Revo miliknya untuk pergi. Saat itulah kakak Fandi mengabarkan, ia diberi tahu polisi bahwa motor berwarna merah itu ada di Babelan. Yang lebih mengagetkan, pemiliknya dibakar massa.

“Kronologinya nggak diceritakan. Terus dikirimi foto, saya lihat. Saya rada nggak percaya. Akhirnya, saya nanya juga ke istri Joya. Setelah lihat foto, dia bilang, ‘Ini bener suami saya,’” ujar Fandi.

Sebelumnya, seorang polisi dari Polsek Babelan datang ke rumah Joya menunjukkan foto-foto kepada Siti. Akhirnya, setelah diyakini foto yang dipegang polisi itu adalah Joya, Fandi dan Siti langsung menuju Polsek Babelan sekitar pukul 23.00 WIB.

Namun jenazah Joya sudah tak ada karena dikirim ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Keesokan harinya, Rabu, 2 Agustus, pukul 10.00 WIB, mereka berdua berangkat ke RS Polri. Fandi membawa uang tebusan Rp 1,4 juta untuk membawa jenazah dengan ambulans rumah sakit. “Anak saya, istri Joya, shock banget. Ya, karena nggak ada yang nganter, saya berdua saja sama anak saya itu,” tuturnya.

Karena pikirannya hanya ingin membawa pulang jenazah Joya, Fandi tak tahu dia juga disuruh polisi menandatangani surat yang isinya tak akan menuntut bila menantunya itu tewas karena dihakimi dan dibakar massa. “Saya cuma ingin anak saya pulang, apa pun bentuknya saat itu,” katanya.

Fandi menjelaskan Joya atau dirinya tak punya kerabat atau kenalan di Babelan. Bisa jadi Joya berada di Babelan karena berkeliling mencari orderan servis elektronik. Saat di rumah, Joya membuat sound system pesanan sejumlah orang. Mau memutar musik pun, Joya selalu minta izin kepada tetangga kiri-kanan agar tak terganggu.

Salon hasil buatan Joya
Foto: Ibad Durohman/detikX

“Itu usahanya bikin salon (sound system). Alhamdulillah banyak pesanan. Ya, ternyata ya, namanya umur, mau apa lagi. Caranya saja yang saya nggak terima,” ucap Fandi lirih.

Di mata Fandi, Joya sangat kreatif dalam membuat berbagai bentuk sound system atau mereparasi amplifier. Joya selalu berkeliling toko untuk melihat berbagai model amplifier dan sound system, lalu dia meniru model yang ada tersebut. Dia menjual sound system buatannya dengan harga Rp 800 ribu. Joya juga memiliki empat motor mainan yang disewakan kepada anak-anak dengan harga Rp 5.000 per lima menit. “Ya, lumayan, dia bukan orang nganggur. Kalau dia nganggur, bisa khilaf itu wajar, tapi ini nggak,” tuturnya.

Joya dan Siti awalnya tinggal bersama Fandi, yang berjarak sekitar 20 meter dari kontrakannya. Mereka berdua telah dikaruniai seorang anak lelaki berumur 4 tahun. Saat ini Siti tengah hamil 7 bulan. Mereka baru tiga bulan tinggal di rumah kontrakan hingga terjadi peristiwa menyedihkan itu.

Hingga kini, ayah Joya, bernama Asnawi, pun masih shock dan dirawat di salah satu rumah sakit di Cikarang. Joya sendiri baru setelah umur 19 tahun tinggal di Kampung Jati, Cikarang Kota. Sebelumnya, sejak kecil hingga remaja, ia tinggal bersama ibu kandungnya di daerah Semplak, Bogor, Jawa Barat. Sebab, sejak umur 10 tahun, kedua orang tua Joya bercerai.

“Korban (Joya) itu lulusan pesantren di Bogor. Dulu juga di Bogor itu ngajar ngaji kalau sore. Ibunya juga tinggal di Bogor, tapi kemudian cerai. Keluarga bapaknya di sini semua,” kata Juadi alias Cangak, 50 tahun, paman Joya, kepada detikX.

Suasana pembongkaran makam Joya untuk keperluan autopsi, Rabu (9/8/2017)
Foto: dok detikcom

Joya, yang merupakan lulusan sekolah teknik menengah, sebelum membuat sound system dan membuka jasa servis elektronik, sempat ikut bekerja di proyek bangunan bersama Juadi selama satu setengah tahun pada 2015. “Pokoknya rajin cari duit asal halal. Proyek apa saja dia kerjain. Puasanya juga penuh. Di sini saja dia sempat suka kasih pengarahan-pengarahan masalah keagamaan,” imbuh Juadi.

Sementara itu, paman Joya lainnya, Bahar Heryana, meminta kepolisian mengusut tuntas kasus ini. Walaupun, misalnya, benar keponakannya itu mencuri, seharusnya dibuktikan terlebih dahulu, diselidiki oleh polisi, dan diadili di pengadilan, bukan dihakimi oleh massa.

“Korban ini sehari-hari tukang servis, semua orang tahu dia tukang servis. Kecuali dia bukan tukang servis, tahu-tahu ngaku tukang servis, itu kan namanya bohong,” katanya kepada detikX.

Bahar juga mengakui Joya sering menjadi imam di masjid. Karena itu, tak masuk akal kalau Joya disebut maling. Hal kedua yang memberatkan warga adalah ketika polisi menyodorkan surat untuk tidak menuntut karena hal itu dianggap janggal.

“Itu kan yang harusnya tidak menuntut itu korban, keluarga korban, atau keluarga pelaku? Masak orang kepolisian yang nodong nyuruh tanda tangani surat itu. Makanya harus profesional yang kayak begini, biar Kapolri tahu bawahannya kayak begitu,” ujar Bahar.

Juadi dan Bahar juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat, berbagai kalangan, termasuk media massa, yang mau meluruskan kasus ini. Karena sebelumnya kasus ini simpang siur. Apalagi kasus penganiayaan dan pembakaran Joya sempat menjadi viral di media sosial. Bahkan muncul berita yang memojokkan korban Joya maupun pihak yang merasa kehilangan amplifier di Musala Al-Hidayah.

Fandi, mertua Joya
Foto: M. Rizal/detikX

Rojalih, pengurus Musala Al-Hidayah di Kampung Cabang Empat, Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, mengungkapkan hal serupa. Saat kejadian, Rojali meminta warga tidak memukuli Joya. Tapi apa daya, warga saat itu seperti air bah yang tak terbendung datang dari masa saja memukuli Joya.

“Saya pas dengar begitu kejadiannya, sampai dengar kabar meninggal, ya Allah, sampai sebegitunya. Saya nggak tahu kalau ending-nya kayak begitu,” ucap Rojalih lirih sambil berharap semua pelaku kekerasan dan pembakaran kepada Joya ditangkap.

Hingga kini pihak Polres Metro Bekasi Kabupaten telah menahan lima pelaku pemukulan dan pembakaran Joya. Tiga di antaranya AL, 18 tahun, KR (55), dan SD (27), yang semuanya warga Desa Muara Bakti. AL berperan menginjak-injak kepala Joya. KR pelaku yang memukuli bagian perut dan punggung Joya. Sedangkan SD pelaku yang membeli cairan, menyiramkan ke tubuh korban, dan menyulut api yang membakar Joya.


Reporter: Ibad Durohman, M. Rizal
Redaktur: M. Rizal
Redaktur: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE