INVESTIGASI

Saat Amplifier
Dibayar Nyawa

“Kalau misalnya ini sebuah kaset dan bisa diputar balik, ampli diambil, saya biarkan saja, biar diambil.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 10 Agustus 2017

Sesekali Rojalih, 40 tahun, mengusapkan tangannya ke muka. Raut wajahnya sedikit menunjukkan penyesalan. Warga Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, ini juga terlihat kelelahan setelah beberapa hari harus bolak-balik ke kantor polisi, termasuk meladeni sejumlah wartawan yang datang ke rumahnya.

Rojalih memang menjadi saksi kunci penganiayaan hingga pembakaran Muhammad Al Zahra alias Joya, 30 tahun, warga Kampung Jati, Desa Cikarang Kota, yang dituduh mencuri amplifier di Musala Al-Hidayah milik keluarganya. Rojalih menyesalkan sikap main hakim sendiri yang dilakukan warga. Hilangnya nyawa Joya, bagaimanapun, tak sebanding dengan amplifier yang diduga diambilnya.

“Saya tak menyangka akan jadi begini. Kalau misalnya ini sebuah kaset dan bisa diputar balik, ampli diambil, saya biarkan saja, biar diambil. Saya sangat kasihan. Apalagi istrinya lagi hamil. Saya juga sangat miris,” ucap Rojalih sambil mengelus dada saat berbincang dengan detikX di rumahnya, Kampung Cabang Empat, RT 02 RW 01, Desa Hurip Jaya, Senin, 8 Agustus 2017.

Rojalih pun tak kuasa menahan air mata ketika teringat rengekan korban meminta maaf dan minta pertolongan sebelum dihajar massa di Pasar Muara Bakti. “Banyak sekali orang. Saya juga nggak dengar jelas. Yang terngiang hanya kalimat ‘mohon maaf, Pak Ustaz’ dan ‘saya minta tolong, Pak Ustaz’,” ujar Rojalih dengan mata berkaca-kaca.

Rojalih kembali menuturkan kronologi sebelum terjadinya penganiayaan dan pembakaran Joya hingga tewas pada Selasa, 1 Agustus lalu, itu. Setelah salat asar, ia bersama anaknya membersihkan musala karena malam harinya akan digelar haul salah satu orang tua istri Rojalih di tempat ibadah tersebut. Setelah itu, Rojalih menuju toko pulsa sekaligus SPBU mini miliknya, yang berjarak sekitar 10 meter dari musala.

Musala Al-Hidayah tempat Joya sempat singgah.
Foto: Ibad Durohman/detikX

Lokasi tempat amplifier musala yang kini sudah tidak ada.
Foto: Ibad Durohman/detikX

Rojalih
Foto: Ibad Durohman/detikX

Saat itulah seorang laki-laki muda yang tak dia kenal datang ke musala mengendarai sepeda motor Honda Revo berwarna merah dengan nopol B-6756-FRF. Di jok belakang terlihat bungkusan plastik yang diikat karet. Setelah melepas helm warna biru, pria yang membawa tas di punggungnya itu masuk musala. Ketika berpapasan dengan Rojalih, pria itu tak menyapa atau mengucapkan salam. “Awalnya saya curiga juga. Minimal kalau tak tegur-sapa, ya, senyum. Ketika dia pulang juga sama. Apalagi pintu musala terbuka,” tuturnya.

Rojalih berusaha berbaik sangka orang yang dilihatnya itu mampir untuk salat asar. Apalagi posisi musala memang berada di pinggir jalan besar. Setelah pria itu pergi, paman Rojalih, Zainuddin, 54 tahun, dengan menenteng mikrofon, gantian masuk ke musala. Zainuddin, yang tak melihat keberadaan amplifier di dalam musala, langsung menanyakan kepada Rojalih.

Keduanya sadar amplifier hilang dicuri orang. Sebab, sebelumnya, Rojalih mengumandangkan azan asar memakai amplifier itu. Curiga terhadap orang yang sempat singgah di musala, Rojalih langsung menaiki sepeda motor untuk mengejar Joya. Ia bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya apakah melihat pengendara Revo warna merah dengan bungkusan di jok belakang.

Hampir putus asa mencari sambil menyisir jalan sepanjang 7-8 kilometer melalui Desa Pondok Cabang Empat dan Desa Sukatenang di sepanjang Sungai CBL atau Sungai Kalimati, akhirnya Rojalih menemukan Joya. Keduanya berpapasan tak jauh dari Jembatan Kalimati, yang menghubungkan Desa Muara Bakti dan Desa Sukatenang.

Rojalih, yang ingin memastikan amplifier di jok belakang sepeda motor Joya, sempat terlibat cekcok. Joya mengaku merupakan tukang servis elektronik dan membawa tiga amplifier yang akan direparasi. Pada saat bersamaan, warga sekitar mulai berdatangan menanyakan apa yang tengah terjadi. Rojalih pun meminta agar amplifier dikembalikan.

image for mobile / touch device
image 1 for background / image background


Karena warga yang datang semakin banyak dan sebagian meneriakkan kata “maling”, Joya panik dan langsung tancap gas. Tapi tak jauh, Joya terjatuh di sebuah tikungan. Ia pun terjun ke Sungai Kalimati, yang airnya kehitaman, dan berusaha menyeberangi sungai. Namun nahas, di seberang sungai juga sudah banyak warga yang berkerumun untuk menangkap Joya.

Saat tertangkap warga itulah Joya sempat bersimpuh di kaki Rojalih dan minta pertolongan. Rojalih berusaha menenangkan warga yang berkerumun itu dengan mengatakan Joya hanya mengambil amplifier, bukan sepeda motor. Rojali pun meminta massa tidak main hakim sendiri. Saat itu, Joya sudah diamankan oleh Kepala Dusun Muara Bakti, Syafruddin.

Rojali juga menelepon personel Binmaspol dan diberi tahu bahwa aparat Polsek Babelan sudah meluncur ke tempat kejadian perkara. Rojalih kembali ke kampungnya tanpa membawa amplifier karena akan dijadikan barang bukti oleh polisi. Ia tak tahu nasib selanjutnya yang dialami Joya, karena ia berpikir pelaku sudah aman dibawa Kepala Dusun Muara Bakti menuju kantor Desa Muara Bakti.

Malam harinya, ketika di musala dilakukan acara haul, Rojalih didatangi Kepala Unit Reskrim Polsek Babelan, yang menanyakan apa benar amplifier-nya hilang. Ia membenarkannya. Rojalih saat itu belum dikabari tentang nasib Joya selanjutnya. Tapi kemudian seorang warga memberi tahu bahwa pelaku tewas dibakar massa di Pasar Muara Bakti. “Jadi saya dikasih tahu teman yang hadir di acara haul, dia lihat dari Facebook soal kejadian itu,” ujarnya.

Menurut pengakuan saksi mata di Pasar Muara, Desa Muara Bakti, Joya dianiaya massa dalam perjalanan ke Balai Desa Muara Bakti. Apalagi menjelang petang itu adalah saatnya jam pulang kerja pabrik. Bahkan arus lalu lintas sempat macet dari pertigaan menuju Desa Sukatenang dan Desa Hurip Jaya. “Orang datangnya cepat benar, orang sudah pada tumplek, kumpul semua,” kata pemilik toko mebel di Pasar Muara Bakti yang tak mau disebutkan namanya kepada detikX.

Jembatan Kalimati, lokasi yang menjadi pertemuan Rojalih dan Joya.
Foto: M Rizal/detikX

TKP tempat tubuh Joya dibakar oleh warga di Pasar Muara Bakti.
Foto: Ibad Durohman/detikX

Muhammad Al Zahra alias Joya
Foto: dok. keluarga

Ia sempat melihat Joya, yang berada di pelukan Syafruddin, dipukuli dan ditendang massa. Karena massa yang beringas begitu banyak, Syafruddin kewalahan. Namun ia tak mengetahui persis kejadian ketika Joya yang bersimbah darah dan tak berdaya itu dibakar di depan tokonya. “Masalah pembakaran, saya nggak tahu lagi karena toko sudah saya tutup karena takut. Tapi faktanya, korban itu dibakar persis di depan toko saya,” kata dia.

Dalam sebuah video yang beredar di YouTube, terlihat massa ramai-ramai menganiaya dan menelanjangi Joya. “Matiin aja, matiin aja,” teriak massa. Seorang yang mengenakan celana pendek warna cokelat, sandal, dan kaus putih berlengan hijau muda terlihat menyiramkan cairan ke tubuh Joya, yang terkapar di bibir got. Tak lama kemudian, api membakar tubuh korban.

Sekitar satu jam kemudian, polisi baru tiba di lokasi kejadian mengamankan korban beserta barang bukti. Polisi sudah meminta keterangan kepada 17 orang saksi, termasuk Rojalih, Syafruddin, dan para pemilik toko di Pasar Muara Bakti. Beberapa hari kemudian, Polres Bekasi menetapkan lima orang tersangka dalam kasus pembakaran Joya. Dari kelima pelaku, tiga di antaranya adalah AL, 18 tahun, KR (55), dan SD (27), yang semuanya merupakan warga Desa Muara Bakti.

AL dituduh sebagai pelaku yang menginjak-injak kepala Joya. KR pelaku yang memukuli bagian perut dan punggung Joya. Sedangkan SD sebagai pelaku yang membeli, menyiram, dan membakar Joya. ”SD ini perannya sangat signifikan,” kata Kepala Polres Metro Bekasi Kabupaten Kombes Asep Adi Saputra di kantornya, Rabu 9 Agustus.

Dua orang tersangka penganiayaan dan pembakaran Joya yang diamankan oleh Polres Bekasi
Foto: dok. detikcom

Kepada detikX, Asep membantah anggapan bahwa polisi telat datang ke lokasi untuk mengantisipasi aksi biadab tersebut. Menurutnya, begitu banyaknya massa menjadi kesulitan bagi polisi untuk mengamankan Joya. Jarak ke TKP pun sangat jauh. “Jarak kantor polisi ke TKP itu 10 kilometer. Polisi sampai dalam waktu satu jam saja sudah untung itu. Kejadian itu cepat sekali dari pukul 16.30 WIB itu,” kata Asep.

Kini got, gerobak ayam bakar, dan dua pohon angsana menjadi saksi bisu kebiadaban massa membakar Joya yang dituduh mencuri amplifier musala. Bekas pembakaran berwarna hitam masih terlihat di got. Jauh di rumah Joya, istrinya, Siti Zubaidah, 25 tahun, masih shock hingga sekarang. Ia sampai tak kuat menyaksikan pembongkaran makam suaminya untuk diautopsi. “Kalaupun dia maling, kan nggak pantas diperlakukan seperti itu. Dia sudah diperlakukan kayak binatang,” ucap Siti.


Reporter: Ibad Durohman, Ratu Ghea Marisa
Redaktur: M. Rizal
Redaktur: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE