INVESTIGASI

Gus Dur Total Football, SBY Salat dan Zikir

Gus Dur memilih menteri bukan berdasarkan rekam jejak, melainkan karakter. SBY melakukan salat dan zikir sebelum mengganti menterinya.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 14 Agustus 2017

Sejak Pemerintah Republik Indonesia hadir, sejak saat itu pula pergantian menteri atau reshuffle kabinet ada. Setiap presiden memiliki perbedaan penilaian, pandangan objektif dan subjektif, termasuk suasana hati yang berbeda-beda dalam mengganti para menterinya.

Presiden Abdurrahman Wahid, dengan periode pemerintahan yang singkat (1999-2001), terhitung paling sering melakukan reshuffle kabinet. Tercatat empat kali Gus Dur merombak jajaran Kabinet Persatuan Indonesia. Bahkan, hanya dalam waktu dua minggu setelah reshuffle, Gus Dur kembali mengganti menteri-menterinya.

Pada 1 Juni 2001, Gus Dur mengumumkan formasi kabinet baru untuk ketiga kalinya. Ia antara lain mencopot Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono dan mengalihkan jabatan itu kepada Agum Gumelar. Gus Dur menunjuk Mahfud Md. menjadi Menteri Pertahanan, menggantikan Juwono Sudarsono, Marsillam Simanjuntak sebagai Menteri Hukum dan HAM, serta Rokhmin Dahuri menggantikan Menteri Kelautan dan Perikanan Sarwono Kusumaatmadja.

Baru sebelas hari berselang, Gus Dur merombak lagi kabinet dengan menempatkan Rizal Ramli sebagai Menteri Keuangan, Burhanuddin Abdullah sebagai Menteri Ekonomi, Keuangan, dan Industri, serta Anwar Supriadi sebagai Menteri Negara Reformasi Administrasi. Gus Dur masih sekali lagi merombak kabinet sebelum dilengserkan Majelis Permusyawaratan Rakyat pada 24 Juli 2001.

Bukan hanya nama-nama itu. Bahkan wakil presiden sekarang, Jusuf Kalla, Menko Polkam Wiranto, dan mantan wapres presiden Hamzah Haz pernah merasakan dicopot Gus Dur secara tiba-tiba. Saat kampanye Pilpres 2014 di Gorontalo, JK mengungkapkan ada 18 menteri era Gus Dur yang kena gusur. Sambil berkelakar, ia menyebut kebiasaan gonta-ganti menteri itu karena hobi.

Abdurrahman Wahid
Foto: dok. Getty Images

“Itulah zaman Gus Dur. Jadi bukan 1, tapi 18 (menteri). Dan alasannya selalu tidak bisa kerja sama. Ya sudah, kita pulang kampung waktu itu. Sebanyak 18 orang, termasuk SBY. Tanya SBY, diganti bulan ke-10. Saya alhamdulillah bulan ke-6. Hamzah bulan ke-2, Wiranto bulan ke-4. Jadi kita sama-sama diganti. Nggak ada apa-apanya. Karena hobi saja itu," kata JK sambil terkekeh.

Mantan juru bicara Gus Dur, Adhie Massardi, mengibaratkan gaya kepemimpinan Gus Dur dalam mengelola kabinetnya itu bak manajer klub sepak bola Eropa. Gus Dur memiliki kuasa penuh dalam memilih para menteri sebagai pemain di lapangan. Maklum, Indonesia saat itu masih dalam krisis ekonomi yang akut. “Jadi ini pola Gus Dur, total football untuk rakyat, keberpihakan kepada rakyat. Dia, misalnya, mencari pemain ekonomi yang memiliki karakter yang sama dengan dia,” kata Adhie kepada detikX, Minggu, 13 Agustus 2017.

Gus Dur tak melihat kemampuan teknis seseorang untuk ditempatkan di sebuah kementerian, melainkan karakternya. Sebab, masalah teknis bisa dipelajari dalam waktu singkat. Itulah jawaban kenapa Gus Dur menunjuk Mahfud Md. sebagai Menteri Pertahanan, padahal Mahfud adalah pakar hukum tata negara. “Jadi Gus Dur me-manage karakter-karakter orang itu. Kalau ditaruh di satu posisi, akan jalan sendiri, ditinggal tidur saja dia akan kerja. Nggak perlu disuruh-suruh lagi sama presiden,” terangnya.

Dengan memiliki karakter kuat, Gus Dur beranggapan, para menteri tidak mudah ditekan oleh pihak tertentu, bahkan mereka akan berani melawan. Menteri tersebut juga lebih mudah fokus pada pekerjaannya, sehingga tidak ikut-ikutan dalam politik yang terus gonjang-ganjing sepanjang pemerintahan Gus Dur.

Urusan politik menjadi bagian Gus Dur sebagai presiden. “Dia (Gus Dur) hanya mengurusi soal politik. Nah, dalam konteks ini, dalam memang menguasai politik, tak ada orang yang bisa mengimbangi kemampuan politik Gus Dur. Sehingga dia di sektor politik saja. Kan hanya menghadapi DPR. Gonjang-ganjingnya di situ, kan?” katanya.

Susilo Bambang Yudhoyono
Foto: Abror Rizky/Setpres

Heru Lelono
Foto: dok. detikcom

Adhie Massardi
Foto: dok. pribadi via Twitter

Tentu saja, sebelum memilih menteri, Gus Dur akan minta kepada partai politik pendukungnya. Bila parpol menunjuk seseorang, Gus Dur akan segera menempatkan orang itu dalam kabinet. Tapi, bila ternyata performa dia tidak bagus dan merusak sistem, Gus Dur tak segan-segan mencopotnya, tidak perlu menunggu waktu atau menjadwalkan agenda reshuffle kabinet.

Gus Dur jarang meminta pertimbangan pihak tertentu sebelum mengganti menteri. Justru, ketika membuat sebuah langkah kebijakan, Gus Dur akan terlebih dahulu meminta masukan kepada sejumlah ulama atau kiai sepuh. Contohnya ketika Gus Dur mengumpulkan sejumlah kiai khos untuk dimintai pendapat bagaimana keluar dari krisis di Indonesia saat itu.

Setelah seminggu, baru para kiai sepuh itu berkumpul lagi, meminta Gus Dur menjalankan perintah Surat Yusuf dalam Al-Quran. Gus Dur diminta menjalankan surat itu bila ingin Indonesia keluar dari segala macam krisis yang dihadapi. Saat itu Gus Dur menafsirkan dalam surat itu tentang Nabi Yusuf yang bermimpi soal sapi gemuk dan sapi kurus, yaitu tentang akan terjadinya masa krisis selama tujuh tahun hingga 2004.

“Saat itu Gus Dur berpikir, caranya adalah membersihkan politik terlebih dahulu. Harus diluruskan dahulu, karena kerja-kerja politiknya diluruskan, kemudian melakukan demiliterisasi di politik,” kata Adhie.

Lain Gus Dur, lain pula SBY, yang juga beberapa kali merombak gerbong kabinetnya. SBY juga mengganti menterinya. Ada lima kali reshuffle kabinet di dua kali periode pemerintahan SBY. Perombakan kabinet pertama terjadi pada 2005 atau setahun pemerintahan berjalan.

Reshuffle paling menghebohkan publik adalah ketika Yusril Ihza Mahendra dilengserkan dari posisi Menteri-Sekretaris Negara dan digantikan Hatta Rajasa pada 2007. Menurut politikus Ali Mochtar Ngabalin ketika masih berada di Partai Bulan Bintang, Yusril dilengserkan karena menikah lagi. Selain itu, penggantian Menteri Keuangan Sri Mulyani disebut-sebut karena terlibat konflik dengan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie perihal saham perusahaan Ical.

Andi Alifian Mallarangeng
Foto: Bay Ismoyo/AFP

Namun mantan anggota Staf Khusus SBY, Heru Lelono, mengatakan menteri pada era SBY diganti karena kinerja mereka kurang baik atau melambat. SBY membentuk Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) untuk menilai kinerja setiap menterinya. UKP4 mempunyai tugas melakukan pengkajian dan penilaian kinerja para menteri dan melaporkannya secara rutin kepada SBY. Itulah yang menjadi patokan SBY untuk memutuskan reshuffle.

“Saya berikan gambaran sikap SBY terhadap menteri saat terjadi pelambatan kinerja. Begini ucapan SBY dalam sidang kabinet, ‘Para Menteri, laksanakan saja apa yang sudah kita putuskan dalam sidang kabinet, apa yang sudah saya putuskan sebagai presiden. Karena saya yang bertanggung jawab kepada rakyat. Para menteri bertanggung jawab kepada saya,’" kata Heru kepada detikX.

Selain itu, penggantian menteri mendesak dilakukan SBY karena menterinya tersandung kasus hukum. Misalnya Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, yang terseret kasus korupsi pembangunan Pusat Pelatihan Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional di Hambalang pada 2012. Jabatan Andi kemudian diisi oleh Roy Suryo sampai pemerintahan SBY berakhir pada 2014.

Bagi SBY, mengganti menteri adalah persoalan sangat penting. Bukan tentang politiknya, namun karena menteri sangat berperan dalam mengelola program pembangunan rakyat. SBY pun kerap menunaikan salat dan zikir terlebih dahulu. Karena itu pula, menurut Heru, banyak juga yang memperhatikan dan menanyakan serta mengomentari kantong mata SBY.

“Saya yakin, sebelum melakukan reshuffle, SBY berdoa di dalam salatnya atau zikir yang hampir selalu beliau lakukan. Saat masyarakat memperhatikan dan sering berkomentar tentang kantong mata SBY, faktanya memang beliau selalu bangun sangat awal, berzikir dan sebagainya, sehingga waktu tidurnya sangat kurang. Selain hobi beliau membaca, yang dikatakan sebagai obat bila sedang lelah,” kata Heru.


Reporter: Gresnia Arela F., Ratu Ghea Yurisa
Redaktur: M. Rizal
Redaktur: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE