INVESTIGASI

Marliem, e-KTP, dan Hidup Sekelas Ronaldo

Johannes Marliem menetap di Amerika dengan kehidupan mewah sejak kasus e-KTP muncul. Sosoknya juga kontroversial.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 21 Agustus 2017

Rumah bercat putih di Vila Gading Mas II, Kelurahan Harjosari II, Medan Amplas, Kota Medan, Sumatera Utara, itu sering sepi. Pagar rumah berwarna hitam itu pun selalu terkunci.

Rumah tersebut selama bertahun-tahun ditinggali Sahat Panjaitan, orang tua Johannes Marliem, saksi kunci kasus e-KTP, yang saat ini sedang diusut Komisi Pemberantasan Korupsi.

Pekan lalu, Marliem meregang nyawa, yang menurut versi Kepolisian Los Angeles (LAPD), akibat bunuh diri setelah menyandera anak dan istrinya di rumahnya di kawasan Beverly Grove, West Hollywood, Los Angeles, California, Amerika Serikat.

Lurah Harjosari II, Haryadi Chaniago,‎ saat ditemui detikX di kantornya, mengakui nama keluarga Marliem tercatat di wilayahnya. Ia pun menunjukkan fotokopi kartu keluarga (KK) keluarga Marliem.

Dari KK yang dimutakhirkan pada 2010 itu tercatat Marliem, yang lahir pada 26 Oktober 1984, adalah anak semata wayang pasangan Sahat dan Sufia. “Sesuai data yang ada pada kami, dulu memang tinggal di situ bapaknya (Sahat Panjaitan). Sudah itu, kita nggak tahu,” tutur Haryadi.‎

Foto: dok. pribadi via Tumblr

Menurut Haryadi, Sahat, yang berusia 55 tahun, diketahui sebagai seorang pengusaha sawit yang beristri perempuan keturunan Tionghoa bernama Sufia, 53 tahun. Keluarga itu jarang tinggal di Medan karena sering pergi ke luar negeri.

Karena kesibukan bisnis Sahat, rumah yang berada di Vila Gading II itu pun, menurut informasi dari petugas keamanan kompleks tersebut, akhirnya sering disewakan. ”Sahat dan keluarganya sering ke luar negeri, jadi wajar tetangga tidak mengenal," Haryadi menambahkan.

Jika dilihat media sosialnya, Marliem adalah alumnus SMA Sutomo Medan 1, yang beralamat di Jalan Dr F.L. Tobing, Kecamatan Medan Kota. Sekolah itu dikenal menelurkan siswa-siswa berprestasi di bidang sains dan robotik.

Rumah Marliem itu mahal dan itu daerah elite. Bahkan yang pernah di situ adalah mantan Direktur IMF. Itulah mengapa FBI tertarik pada profil dia."

Sejumlah penghargaan didapatkan siswa SMA Sutomo, Medan, dalam kejuaraan sains nasional maupun olimpiade sains bertaraf internasional. Tapi entah kenapa, saat melanjutkan studi di Amerika, Marliem malah memilih jurusan psikologi dan sosial di Minnesota University.

Marliem juga diketahui meminang Mai Chi Thor pada 12 Juni 2007 di Minnesota. Keduanya kemudian memiliki seorang buah hati. Di wilayah itu pula Marliem membuka usaha jasa marketing bernama Marliem Consulting.

Selain itu, ia menjabat Direktur Biomorf Lone LLC, perusahaan yang mengerjakan proyek sistem identifikasi sidik jari otomatis atau automated fingerprint identification system (AFIS). Perusahaan inilah yang menyuplai AFIS merek L-1 pada proyek e-KTP.

Marliem pun disebut-sebut sering bolak-balik Amerika-Jakarta saat proyek e-KTP digagas sejak 2010 bersama Konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia bersama Andi Narogong dan kelompok Fatmawati yang dibentuknya.

Johannes Marliem bersama dua temannya
Foto: dok. pribadi via Tumblr

Hingga akhirnya pada 2014 Marliem memilih menetap di Amerika sejak kasus e-KTP disidik KPK dengan ditetapkannya mantan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Sugiharto sebagai tersangka dalam kasus ini pada 22 April 2014.

Pada tahun itu pula Marliem, menurut Kementerian Luar Negeri, berganti kewarganegaraan menjadi warga negara Amerika. “Sudah ada konfirmasi dari otoritas Amerika bahwa dia sudah memegang kewarganegaraan Amerika sejak 2014," kata Retno di Pusdiklat Kementerian Luar Negeri, Jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan, 20 Agustus 2017.

Seiring dengan menetapnya Marliem di Amerika, jejaknya di Jakarta pun lenyap. Belakangan diketahui Marliem terkait dengan kasus proyek e-KTP. Dalam surat tuntutan jaksa KPK terhadap terdakwa Irman dan Sugiharto, Marliem selaku Direktur Biomorf Lone LLC, Amerika Serikat, perusahaan penyedia layanan teknologi biometrik, disebut mendapat untung banyak dalam proyek itu.

Koleksi mobil mewah Johannes Marliem
Foto: dok. pribadi via Tumblr

Keuntungan yang didapat US$ 14.880.000 atau lebih dari Rp 200 miliar dengan kurs saat ini. Marliem juga diketahui menerima Rp 25.242.546.892 dari hasil proyek itu. Sejak meraup untung dalam proyek e-KTP, kehidupan Marliem berubah. Dia diketahui membeli rumah lagi di Beverly Grove.

Beverly Grove berada di pusat Kota Los Angeles dan berdekatan dengan kawasan tempat tinggal banyak selebritas kelas atas, seperti aktor George Clooney, diva pop dunia Madonna, dan Tony Curtis.

Rumah Marliem di Beverly Grove hanya beberapa langkah dari Jalan Melrose, yang sering disebut sebagai salah satu pusat fashion terkenal di Amerika Serikat. Bahkan nama jalan itu dijadikan film serial televisi berjudul Melrose Place, yang tayang pada 1990-an.

Jangan heran, kocek mesti dirogoh dalam-dalam jika ingin memiliki rumah di kawasan itu. Informasi yang diperoleh detikX, harga rumah di Beverly Grove pada 2017 pada kisaran US$ 1,5-4 juta. Jika dirupiahkan, nilai itu setara dengan Rp 20-53 miliar.

Selain punya rumah mewah, Marliem memiliki supercar Bugatti Veyron Grand Sport Vitesse. Mobil keluaran Prancis ini sama dengan yang dimiliki pesepakbola ternama Cristiano Ronaldo. Untuk meminang mobil yang mesinnya berkapasitas 7.993 cc ini, pembeli harus menyiapkan uang setidaknya US$ 1,8 juta atau setara dengan Rp 23 miliar.

Karena harga mobil itu selangit dan berkelas, Marliem pun kerap mengunggah foto dirinya bersama Bugatti pujaan di akun media sosialnya. Dari jejak digital di media sosial miliknya, diketahui Johannes Marliem beserta istrinya, Mai Chi Thor, adalah filantropis, sebutan untuk orang yang peduli pada kemanusiaan.

Menurut laporan tahunan Yayasan Genesys Works, pada 2014 Marliem dan istrinya menyumbangkan dana lebih dari US$ 2.500 untuk memajukan pendidikan pemuda di daerah Minnesota. Bukan hanya itu, Marliem bahkan pernah menyumbang Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan kegiatan politik lainnya di Amerika.

Rumah Johannes Marliem dari udara
Foto: screenshot ABC

Seperti dilansir startribune.com, Marliem merupakan penyumbang dana terbesar dari Minnesota untuk Obama dengan donasi US$ 225 ribu atau setara dengan Rp 2,92 miliar. Sumbangan itu untuk pelantikan Obama setelah berhasil memenangi pemilu presiden untuk kedua kalinya pada Januari 2012.

Sementara itu, menurut data Watchdog Minnesota Bureau, pada September 2013, Marliem tercatat mendonasikan US$ 25 ribu ke Partai Minnesota Democratic-Farmer-Labor. Dan pada Desember 2013, Marliem menggelontorkan dana US$ 25 ribu kepada WIN Minnesota, sebuah organisasi penggalangan dana untuk para kandidat dan petinggi Partai Demokrat di Minnesota.

Namun, Marliem juga sempat didakwa jaksa di Pengadilan County Hannepin, Minneapolis, pada tahun 2009 karena kejahatan menulis lebih dari US 10 ribu cek kosong. Ia mengaku bersalah atas kasus penipuan itu. Marliem juga pernah diperiksa otoritas AS dalam kasus pelanggaran lalu lintas.  

Tapi siapa sangka, dengan kemewahan yang dimilikinya, Marliem malah memilih bunuh diri di rumahnya. Kematian Marliem akhirnya mendorong kepolisian federal Amerika, Federal Bureau of Investigations (FBI), untuk menyelisiknya. Terlebih Marliem adalah saksi kunci skandal korupsi jumbo di Indonesia.

"Rumah Marliem itu mahal dan itu daerah elite. Bahkan yang pernah di situ adalah mantan Direktur IMF. Itulah mengapa FBI tertarik pada profil dia," ujar Wakil Ketua KPK Laode Syarif di Jakarta, Minggu, 20 Agustus 2017.

Menurut Laode, selain menyelidiki kematian Marliem, FBI akan membantu KPK mencari bukti kasus e-KTP di rumah mewah Marliem.


Reporter: Ratu Ghea Yurisa, Jeffries Santama
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE