INVESTIGASI

Misteri Bunuh Diri Saksi Kunci e-KTP

Johannes Marliem memilih mengakhiri hidup dengan menembakkan peluru ke kepala setelah menyandera anak dan istrinya. Berikut penelusuran kepada sumber-sumber di AS terkait kematian Marliem.

Ilustrator: Edi Wahyono

Senin, 21 Agustus 2017

Sore itu, sekitar pukul 16.30 waktu Los Angeles, Amerika Serikat, suasana di Jalan Edinburgh Avenue, kawasan Beverly Grove, sungguh menegangkan. Sejumlah polisi dari Los Angeles Police Department (LAPD) mengepung sebuah rumah bernomor 623 di jalan itu.

Satu tim Special Weapons and Tactics (SWAT), unit Federal Bureau of Investigations (FBI) yang lazim diterjunkan untuk operasi pembebasan sandera dan aksi terorisme, juga bersiaga di Blok 600 Avenue.

Peristiwa penyanderaan yang dilakukan Johannes Marliem, 32 tahun, terhadap istrinya, Macy Marliem, dan anaknya, yang terjadi pada Rabu, 9 Agustus 2017, itu sudah berlangsung beberapa jam. Marliem membarikade rumahnya.

Tim negosiator dari LAPD dan tim SWAT kesulitan membebaskan sandera. Negosiasi berjalan sangat alot. Juru bicara Kepolisian Los Angeles, Tony Im, saat dihubungi detikX, menyatakan penyanderaan baru berakhir pada pukul 19.30. Macy dan anaknya akhirnya bisa dibebaskan dan dilindungi oleh kepolisian Los Angeles.

Johannes Marliem
Foto : dok. pribadi via facebook

Sedangkan Marliem masih bertahan di dalam rumahnya yang mewah itu. Selama negosiasi, ruas jalan di Beverly Grove, yang berdekatan dengan kawasan tempat tinggal selebritas dunia dan pusat fashion terkenal di Amerika Serikat, ditutup.

Malam terus berlalu hingga hari berganti. Polisi melemparkan gas air mata ke dalam rumah Marliem agar ia keluar. Namun akhirnya Marliem memilih bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri pada Kamis, 10 Agustus 2017, pukul 02.00.

Yang dicari FBI adalah bukti-bukti yang terkait dengan JM (Johannes Marliem) di Amerika plus bukti-bukti yang berhubungan dengan penyidikan yang dilakukan KPK."

Kejadian di LA itu seketika menghebohkan masyarakat Indonesia. Pasalnya, Marliem disebut-sebut sebagai saksi kunci dalam kasus korupsi e-KTP, yang kerugiannya lebih dari Rp 2 triliun. Tak hanya itu, kasus ini menyeret Ketua DPR Setya Novanto sebagai tersangka.

Marliem merupakan penyedia produk automated fingerprint identification system (AFIS) merek L-1 dari PT Biomorf Lone Indonesia, yang akan digunakan dalam proyek e-KTP. Ia adalah Direktur Biomorf Lone LLC, yang berpusat di Amerika Serikat.

Kepada media di Indonesia, Marliem sesumbar memegang banyak informasi berupa rekaman percakapan orang-orang yang mengakali dana proyek e-KTP.

Komisi Pemberantasan Korupsi pun sudah menyambangi Marliem di Negeri Paman Sam untuk dimintai keterangan. Namun dia menolak keterangannya dimasukkan dalam berita acara pemeriksaan.

Kematian Marliem mengundang sejumlah tanya. Kenapa Marliem, yang disebut sebagai saksi kunci, bisa tewas di tengah pengungkapan kasus e-KTP oleh KPK dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Sidang e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta.
Foto : Priska Sari Pratiwi/CNN Indonesia

detikX ingin mencari tahu lebih terperinci penyebab tewasnya Marliem. Sayang, Tony Im tidak bisa menjelaskan secara mendetail soal peristiwa tersebut. “Saya waktu itu sedang di kantor, tapi saya tidak mempunyai informasi itu,” kata Tony kepada detikX.

Tony mengatakan, sejauh ini, petugas kepolisian Los Angeles tidak mempunyai asumsi selain kasus penyanderaan dan bunuh diri biasa. Tony kemudian meminta detikX mengakses laporan kematian Marliem ke kantor Koroner kepolisian Los Angeles.

Dari data Koroner yang dirilis LAPD via website-nya, Marliem memang dinyatakan meninggal karena bunuh diri. Hal yang sama dikatakan Drake Madison dari bagian Divisi Hubungan Media Kepolisian Los Angeles. Pihaknya tidak punya informasi lebih lanjut terkait kejadian di rumah Marliem.

“Ini adalah kasus Koroner. Dan sudah ditentukan bahwa peristiwa itu adalah bunuh diri. Tidak ada investigasi lebih lanjut yang dilakukan terkait dengan pria itu (Johannes Marliem),” ucap Drake Madison via telepon kepada detikX.

Kolega Marliem di Biomorf Lone, Kevin Johnson, pun memilih irit bicara. Kevin, mantan Presiden Direktur PT Biomorf Lone Indonesia sejak September 2012 hingga Juli 2017, saat ditanya detikX hanya bilang Marliem sudah meninggal.

Begitupun dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, DC. Sekretaris Pertama Fungsi Penerangan KBRI Muhammad Al Aula hanya mengatakan kematian Marliem adalah kasus bunuh diri. Namun Al Aula tidak menjelaskan di mana lokasi persemayaman ataupun lokasi peristirahatan terakhir Marliem.




Rumah tempat tinggal Johannes Marliem di North Edinburgh Avenue Nomor 623, Beverly Grove, Los Angeles 
Foto : Capture Google Street View

Agen FBI sempat menggeledah rumah Marliem untuk membantu KPK dalam menemukan bukti-bukti terkait kasus e-KTP. Menurut Wakil Ketua KPK Laode Syarif, penggeledahan juga dilakukan di satu tempat lainnya di samping rumah Marliem.

“Yang dicari FBI adalah bukti-bukti yang terkait dengan JM (Johannes Marliem) di Amerika plus bukti-bukti yang berhubungan dengan penyidikan yang dilakukan KPK," kata Laode.

Dari penelusuran detikX di sejumlah rumah duka di Los Angeles, kemungkinan kuat Marliem diistirahatkan untuk terakhir kalinya di Amerika Serikat. Dugaan itu berdasarkan keterangan seorang pastor yang bertugas di rumah duka Cali Home Funeral, yang berjarak sekitar 213 mil dari Beverly Grove, lokasi rumah Marliem.

Dari informasi yang diperoleh, Cali Home Funeral merupakan rumah duka yang selalu digunakan oleh warga Los Angeles asal Asia. Tarifnya US$ 850-5.850 atau Rp 11-76 juta. Dihubungi lewat telepon, sang pastor mengkonfirmasi bahwa dia telah menyelenggarakan misa kematian untuk pria asal Medan, Sumatera Utara, tersebut.

Pastor yang enggan disebutkan namanya itu tidak mau memberikan informasi lebih lanjut. Dia juga tidak mau menyebutkan lokasi misa itu. “Iya, saya melakukan misa untuknya. Tetapi saya tidak akan memberikan informasi apa pun tentangnya karena saya tidak tahu siapa kamu,” ujar sang pastor dan langsung menutup teleponnya.

Posisi rumah Johannes Marliem di Baverly Grove.
Foto : Capture Google Map.

Ada dugaan Marliem memang dikuburkan di Amerika, bukan di daerah kelahirannya. Sebab, rumah orang tua Marliem, Sahat Panjaitan, yang berada Vila Gading Mas II, Blok N Nomor 8, Kelurahan Harjosari II, Kecamatan Medan Amplas, Sumatera Utara, pada 18 Agustus lalu, kosong dan pagarnya terkunci rapat saat disambangi detikX.

Edward Gultom, 59 tahun, tukang las yang bekerja di samping rumah Sahat, mengungkapkan, Sahat memang jarang datang ke rumah itu. Namun, dalam seminggu terakhir, kata Gultom, Sahat berada di rumah. “Rumah itu sepi-sepi saja. Tidak ada keramaian. Beberapa hari ini pun Sahat sudah tidak terlihat lagi. Entah ke mana,” kata Gultom.

Warga di kompleks itu memang tidak begitu mengenal Marliem karena keluarga tersebut tidak pernah berinteraksi dengan warga. Wajar jika para tetangga tidak tahu soal keterlibatan Marliem dalam kasus yang dananya berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara tersebut. Begitu pula soal kematiannya yang tragis di Amerika Serikat.


Reporter: Ratu Ghea Yurisa, Jeffries Santama
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE