INVESTIGASI

Mimpi Whistleblower e-KTP Marliem yang Dibawa Mati

Johannes Marliem menjaring dana demi menjadi whistleblower kasus e-KTP. "Saksi kunci butuh makan untuk buka (kasus)," kata Marliem.

Ilustrator: Edi Wahyono

Senin, 21 Agustus 2017

Lili Pintauli Siregar tak menunggu waktu lagi begitu mengantongi nomor telepon Johannes Marliem. Ia langsung menghubungi Johannes, yang sudah menjadi warga negara Amerika Serikat. Lili berniat menawarkan perlindungan saksi untuk Direktur Utama Biomorf Lone LLC tersebut.

Waktu itu, 26 Juli 2017, nama Marliem makin sering muncul, baik dalam persidangan e-KTP maupun pemberitaan media seputar megaskandal itu. Ia bahkan sesumbar mempunyai bukti rekaman mengenai kongkalikong proyek yang juga mendudukkan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto menjadi tersangka itu. Karena itu, LPSK berpendapat keselamatan jiwa Marliem penting.

Marliem, melalui perusahaannya di Indonesia, Biomorf Lone Indonesia, ikut dalam proyek senilai Rp 5,9 triliun tersebut. Perusahaan itulah yang menyediakan alat automated fingerprint identification system (AFIS) merek L-1 untuk merekam data jutaan penduduk Indonesia.

Marliem bergabung dengan Konsorsium PNRI sebagai peserta lelang. Ia disebut memberi uang US$ 200 ribu kepada pejabat Kementerian Dalam Negeri Sugiharto. Marliem juga mendapatkan untung lebih dari Rp 200 miliar dari proyek yang diduga merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun itu.

Lili Pintauli Siregar
Foto : dok. pribadi via whatsapp

Karena itu, sekitar pukul 21.00 WIB atau pukul 9 pagi di Amerika, Lili mengontak Marliem melalui aplikasi percakapan WhatsApp. “Saya buka percakapan siapa saya, terus apa itu LPSK. Lalu kenapa kita mencoba mengajukan diri memberikan perlindungan kepadanya,” kata Lili mengingat kembali perbincangannya dengan Marliem itu kepada detikX.

Marliem menyambut baik perkenalan Lili. Ia juga tampak senang dengan iktikad baik LPSK tersebut dan menyampaikan terima kasih. “Dia bilang oke, terima kasih sekali. Saya senang LPSK stand behind me. Kata dia itu,” ujarnya. Lili pun kemudian memberi tahu Marliem tentang prosedur permohonan perlindungan LPSK via website.

Recehan tidak mengapa selama Anda berdiri dengan saya untuk mengungkap kebenaran.'

Namun Marliem tak pernah mengisi formulir perlindungan saksi hingga ia dikabarkan tewas pada Kamis, 10 Agustus 2017. Pria asal Medan, Sumatera Utara, itu dinyatakan bunuh diri setelah menyandera istri dan anaknya di sebuah rumah di kawasan elite Beverly Grove, Los Angeles.

Sebelum tewas, Marliem juga sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan terkait kasus e-KTP yang menyeretnya. Ia sudah bertemu dengan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, DC. Namun ia menolak keterangannya itu dituangkan dalam berita acara pemeriksaan.

Bahkan Marliem berencana menjadi peniup peluit (whistleblower) dalam skandal e-KTP, yang mulai menyeruak pada 2014. Ia menggalang dana melalui situs fund rising gofundme.com pada 21 Juli 2017. “Saksi kunci butuh makan untuk buka (kasus),” begitu kata Marliem di halaman situs itu.

Rekam sidik jari dalam pembuatan e-ktp
Foto : Gautama Padmacinta/CNN Indonesia

Agar bisa mengungkap lebih banyak informasi, whistleblower membutuhkan perlindungan dan sumber daya agar tetap hidup. Ia minta dukungan dana karena pemerintah Indonesia tak sanggup membayar sisa utang Rp 48 miliar dari proyek KTP kepada Biomorf. Ia melampirkan surat keterangan PT Biomorf Lone Indonesia terkait utang itu kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan.

Sedangkan KPK, kata Marliem, tidak memiliki anggaran ekstra untuk mendukung aksinya. Karena itu, mau tidak mau Marliem minta bantuan dari masyarakat Indonesia. Target penggalangan dana itu US$ 5 juta atau sekitar Rp 65 miliar. Hingga saat itu, baru US$ 100 bantuan yang ia terima. 

“Recehan tidak mengapa selama Anda berdiri dengan saya untuk mengungkap kebenaran. Silakan bergabung dan dukung tujuan saya,” kata Marliem.

Hingga kini, penyebab Marliem menyandera istri dan anaknya hingga bunuh diri belum diketahui dengan pasti. detikX mencoba mengorek hal itu kepada otoritas Los Angeles Police Department (LAPD), namun mereka enggan memberikan informasi lebih gamblang. Begitu juga dengan rekan kerja Marliem, Kevin Johnson, mantan Presiden Direktur PT Biomorf Lone Indonesia.

Yang jelas, perusahaan warisan Marliem tersebut masih tetap beroperasi. Nomor telepon kantor PT Biomorf Lone Indonesia di Apartemen Thamrin Residence C19, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, masih aktif. Seorang resepsionis mengatakan perusahaan tersebut tetap beroperasi seperti biasa. Namun ia enggan berbicara lebih jauh tentang Marliem.

Kantor Biomorf Lone Indonesia di Thamrin Residence.
Foto : M Rizal/detikX

Anehnya, ketika detikX menyambangi Biomorf, kantornya seperti sudah lama ditinggalkan. Tidak ada plang nama selayaknya kantor perusahaan. Kaca kantor juga sangat gelap, berbeda dengan kantor perusahaan di sebelahnya. Selama lebih dari satu jam, tidak ada karyawan yang berlalu lalang di kantor itu.

Seorang petugas sekuriti yang enggan disebutkan namanya menyebutkan kantor Biomorf itu tidak berpenghuni sejak dua tahun lalu. “Itu memang kantor Biomorf. Dahulu memang sering ada bongkar-muat barang di situ. Tapi, sejak akhir 2015, nggak ada aktivitas lagi,” ujarnya kepada detikX.

detikX juga mendatangi kantor Biomorf yang berada di Menara BCA lantai 41, Jalan MH Thamrin Nomor 1, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Seorang resepsionis Menara BCA mengatakan Biomorf tutup sejak awal 2015.

Kantor seluas 10 x 10 meter persegi itu kini sudah diisi perusahaan lain. "Saya nggak tahu nggak aktifnya kapan. Tapi awal 2015 sudah kosong. Di database penyewaan kantor juga sudah tidak ada lagi nama Biomorf,” tutur si resepsionis.

Sementara itu, KPK menyatakan kematian Marliem tak membuat penyidikan kasus e-KTP terhambat. Menurut Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, kasus e-KTP sudah final hingga ditetapkannya sejumlah tersangka. Namun tetap terbuka kemungkinan bagi penyidik untuk melakukan pengembangan. “Nanti akan kita lihat almarhum ini punya data apa saja,” kata Saut.


Reporter: M. Rizal, Gresnia Arela F., Ghea Ratu Yurisa
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE