INVESTIGASI

Siapa Mau Terima Rohingya

Ada lebih dari sejuta orang Rohingya terusir dari kampung halaman di Myanmar. Tak diterima di mana-mana.

Pengungsi rohingya berjalan ke desa terdekat setelah melintasi perbatasan Bangladesh.

Foto: Mohammad Ponir Hossain/REUTERS

Kamis, 7 September 2017

Puluhan tahun silam, Pakistan pernah jadi tanah harapan bagi orang-orang Rohingya. Adalah Muhammad Ayub Khan, Presiden Pakistan, yang membuka pintu untuk orang-orang Rohingya di Arakan (kini negara bagian Rakhine), Myanmar, pada pertengahan 1960-an.

Orang-orang tua keturunan Rohingya di Pakistan masih ingat bagaimana Presiden Khan “bermurah hati” mengizinkan mereka “hijrah” dari Myanmar ke negaranya. Ada ribuan orang Rohingya yang menyambut tawaran baik Presiden Khan. Sebagian “hijrah” ke wilayah barat Pakistan (kini jadi negara Pakistan), sebagian lagi pindah ke wilayah timur Pakistan, sekarang menjadi negara Bangladesh. Sebagai sesama muslim, orang-orang Rohingya merasa mereka diterima seperti saudara.

Setelah Presiden Ayub Khan turun dari kekuasaan pada 1969, beberapa penggantinya, seperti Zulfikar Ali Bhutto dan Muhammad Zia-ul Haq, juga lumayan ramah kepada orang-orang Rohingya. Bahkan Presiden Zia-ul Haq sempat menjanjikan status kewarganegaraan kepada orang-orang Rohingya di Pakistan.

“Tapi dia keburu meninggal sebelum janjinya itu terlaksana,” kata Tajul Islam, nelayan keturunan Rohingya di Kampung Machchar, Karachi, Pakistan, kepada majalah The Friday Times beberapa bulan lalu. Presiden Zia-ul Haq tewas dalam kecelakaan pesawat pada 1988. Sejak saat itu sampai hari ini, nasib sekitar 350 ribu keturunan Rohingya di Pakistan tak makin baik, tak makin jelas pula masa depannya. “Pengganti-penggantinya kemudian tak mengizinkan kami mendapatkan status kewarganegaraan.”

Kami tak menuntut macam-macam…. Kami tak minta listrik, gas, atau makanan. Kami hanya minta status warga negara.”

Noor Hussain Arakani, pemimpin komunitas Rohingya di Karachi

Pengungsi Rohingya di Teknaf, Bangladesh, pada awal 2017 lalu.
Foto : Allison Joyce/Getty Images

Puluhan tahun tak diterima di kampung halamannya sendiri, sekarang ada lebih dari sejuta orang Rohingya hidup di negeri orang. Sulit menghitung berapa persisnya orang-orang Rohingya yang berserak di Bangladesh, India, Malaysia, Arab Saudi, Indonesia, Australia, sampai Amerika Serikat. Malang bagi mereka, negara orang juga tak mengakui mereka sebagai anggota keluarga. Hanya sebagian kecil Rohingya di pengungsian yang akhirnya mendapatkan status kewarganegaraan.

Shamsul Hassan lahir dan tumbuh besar di Kampung Arakanabad, di pinggiran Kota Karachi, Pakistan. Kedua orang tuanya adalah orang Rohingya yang mengungsi dari Myanmar puluhan tahun silam. Tapi, meski lahir di Pakistan, Shamsul tak punya kartu identitas. Pakistan tak mengakuinya sebagai warga negara.

Orang-orang Rohingya di Pakistan seperti Shamsul inilah yang sering jadi “sapi perah” polisi-polisi nakal. Sekali kena tangkap polisi, Shamsul terpaksa merogoh dompet 200 rupee atau sekitar Rp 25 ribu agar tak perlu menginap di kantor polisi. “Perlakuan polisi seperti itu sudah jadi hal rutin di komunitas kami lantaran tak punya kartu tanda penduduk,” kata Shamsul seperti dikutip Dawn.

Sesuai dengan namanya, sebagian besar penghuni Arakanabad adalah keturunan Rohingya dari Arakan atau kini Rakhine, Myanmar. Ada beberapa kampung seperti Arakanabad ini di sekitar Karachi. Di kampung-kampung itu, orang-orang Rohingya sudah beranak-pinak, namun tanpa status jelas. Lantaran tak punya kartu identitas, anak-anak mereka sulit bersekolah. Rumah sakit kadang juga tak bersedia melayani orang-orang keturunan Rohingya.

Kampung Rohingya di Sittwe, Myanmar
Foto : Jonas Gratzer/Getty Images

“Padahal, tak seperti pengungsi lain, kami tak membebani Pakistan,” kata Noor Hussain Arakani, salah satu pemimpin komunitas Rohingya di Karachi. Tenaga orang-orang Rohingya ini sangat dibutuhkan industri perikanan, garmen, dan kerajinan karpet. Mereka bersedia mengerjakan apa saja untuk bertahan hidup. Dan yang pasti, mau dibayar murah. “Kami tak menuntut macam-macam…. Kami tak minta listrik, gas, atau makanan. Kami hanya minta status warga negara supaya kami tak terus dilecehkan dan anak-anak kami bisa bersekolah.”

Tak bisa bersekolah dan tak punya masa depan, anak-anak Rohingya banyak yang hidup di jalan. Ditaksir, seperlima anak-anak jalanan di Kota Karachi merupakan keturunan Rohingya. 

***

Ada sekitar 1,3 juta keturunan Rohingya di Myanmar. Leluhur mereka sudah ratusan tahun tinggal di Myanmar, tapi Rohingya, yang sebagian besar beragama Islam, tak pernah benar-benar diterima di tanah kelahirannya sendiri. Rohingya tak termasuk di antara 135 suku yang diakui pemerintah Myanmar. Dalam sensus penduduk pada Maret 2014, pemerintah Myanmar menyebut mereka keturunan Bengali dan mengharamkan penggunaan sebutan Rohingya.

Teraniaya dan terusir dari kampung halaman serta tak diterima di negeri orang. Itulah nasib orang-orang Rohingya. Dari total sekitar 2,5 juta orang Rohingya, sekitar separuhnya hidup terlunta-lunta di pelbagai negara sebagai pengungsi. Lebih dari separuh pengungsi Rohingya sekarang bertahan di Bangladesh, negara terdekat dari negara bagian Rakhine, kampung halaman mereka.

Menurut taksiran Al-Jazeera, sejak 1970-an sekitar 350 ribu orang Rohingya mengungsi ke Pakistan, 200 ribu terdampar di Arab Saudi, 150 ribu mengungsi ke Malaysia, 40 ribu ada di kamp penampungan di India, dan sebagian yang lain tersebar di Uni Emirat Arab, Thailand, Indonesia, Australia, Kanada, hingga Amerika Serikat.

image for mobile / touch device
image 1 for background / image background





Orang-orang berdiri di luar tempat penampungan mereka di kamp pengungsian Rohapya Kutapalong di Cox's Bazar, Bangladesh.
Foto : Allison Joyce/Getty Images

Dan sekarang, hanya dalam dua pekan terakhir, lebih dari 120 ribu orang Rohingya dari Rakhine kembali berhembalang, lari dari kampungnya untuk menyelamatkan diri. Rakhine kembali membara setelah militer Myanmar membalas serangan kelompok militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) pada 26 Agustus lalu dengan operasi pembersihan membabi-buta dari rumah ke rumah.

“Aku sangat lapar,” Dilara Begum merintih, dikutip Washington Post. Anaknya yang masih bayi terkulai lemah dalam pelukannya. Dua anaknya yang lain mengisi botol minuman dengan air sungai yang kecokelatan dan menyedotnya. Tak ada lagi bekal makanan untuk mengisi perut. Mereka lari dari rumahnya tanpa sempat membawa banyak bekal.

Inilah kesekian kalinya dalam beberapa tahun terakhir orang-orang Rohingya mengungsi dari Rakhine. Bara huru-hara tahun lalu belum lagi padam. Pada Oktober tahun lalu, ARSA menyerang pos perbatasan Myanmar-Bangladesh dan menewaskan 13 petugas. Tentara Myanmar membalasnya tak tanggung-tanggung. Menurut laporan Human Rights Watch, tentara Myanmar membakar rumah-rumah orang Rohingya dan menangkap siapa saja yang mereka curigai.

Hanya sebagian kecil dari pengungsi Rohingya yang sedikit beruntung. Nasir bin Zakaria salah satunya. Nasir lahir dan tumbuh remaja di Buthidaung, negara bagian Rakhine. Saat umurnya baru 14 tahun, Nasir terpaksa lari dari Buthidaung setelah lolos dari penculikan kelompok militan anti-Rohingya. Selama hampir 20 tahun, Nasir berpindah-pindah dari Bangladesh, Thailand, dan Malaysia. Untuk menyambung hidup, pekerjaan apa pun dia sambar. Dari pencuci piring di warung makan sampai kuli bangunan.

Pengungsi Rohingya di Shamlapur, Bangladesh pada Juli 2015.
Foto : Shazia Rahman/Getty Images

Tujuh tahun lalu, Nasir dan keluarganya mendarat di Chicago, Amerika Serikat, setelah permohonan suakanya dikabulkan. Itulah pertama kali dalam hidupnya dia melihat salju. “Aku sangat bahagia,” Nasir menuturkan kepada Medill Reports. Sekian tahun hidup terlunta-lunta tanpa punya negara—Myanmar tak mengakui Nasir dan orang Rohingya sebagai warga negara—di Amerika, Nasir bak terlahir kembali.

“Aku tak pernah punya perasaan orang-orang berpikiran, ‘Oh, kamu seorang pengungsi,’” kata Nasir kepada Al-Jazeera. “Inilah hidup baru kami, masa depan kami. Kami bayi yang baru lahir di sini.”

Chicago memang bukan surga. Datang tak punya pekerjaan, Nasir harus berjuang mati-matian untuk menghidupi keluarganya. Bukan hal asing baginya. Tapi di kota itu Nasir diperlakukan sama seperti orang lain. “Di Myanmar, kami tak ada harganya…. Di sini kami bebas menjadi diri sendiri. Sekarang kami punya rumah,” kata Nasir. 

Menurut data Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, hingga September 2016, ada 11.902 pengungsi dari Myanmar yang ditampung Amerika, 2.173 orang di antaranya Rohingya. Di Kota Chicago saja, ada lebih dari 1.000 orang Rohingya. “Selama beberapa tahun terakhir, jumlah pengungsi Rohingya terus bertambah,” kata Melineh Kano, Direktur Eksekutif RefugeeOne, kepada Reuters.

Perempuan dan anak-anak Rohingya terlihat setelah tiba di pelabuhan di desa Julok pada tanggal 20 Mei 2015 di Kuta Binje, Provinsi Aceh, Indonesia.
Foto : Ulet Ifansasti/Getty Images

Abdul Hamid, 69 tahun, sudah kenyang menderita selama hidup di Myanmar, juga selama lari ke Thailand dan Malaysia. Bahkan, saat baru berumur 7 tahun pun, dia sudah mencicipi dinginnya lantai penjara. Abdul menyaksikan bagaimana buruknya perlakuan terhadap orang Rohingya di negaranya.

“Mereka memperkosa perempuan dan membunuh orang-orang Rohingya,” kata Abdul. Bersama anaknya, sekarang Abdul menemukan kedamaian di Chicago, ribuan kilometer dari kampung kelahiran. Keluarga Abdul dan Nasir jauh lebih beruntung ketimbang ratusan ribu pengungsi Rohingya lainnya yang terlunta-lunta tanpa masa depan.


Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

SHARE