INVESTIGASI

POTRET RUSUN KUMUH

Horor Air Kuning di Rusun Komarudin

Rusunawa Komarudin baru sepuluh tahun berdiri, namun bangunannya sudah jauh dari kata layak. Rusun Cibesel malah sudah terlihat kumuh.

Foto: Edward Febriyatri Kusuma

Senin, 11 September 2017

Sudah bertahun-tahun rembesan air mengganggu penghuni Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Komarudin, Cakung, Jakarta Timur. Air rembesan dari lantai 5 bangunan rusun selama ini membuat warga cemas.

Badriah, 53 tahun, salah satu penghuni rusun, mengatakan rembesan pada tembok unitnya membuatnya takut. Bahkan ia terpaksa mencopot lampu bohlam di ruang tamu karena rembesan masuk ke instalasi listrik yang mengakibatkan korsleting.

“Ini lampu sampai saya copot karena air masuk ke instalasi listrik,” ujar perempuan paruh baya korban gusuran dari wilayah Mampang, Jakarta Selatan, itu saat ditemui detikX pekan lalu.

Supeno, 35 tahun, yang juga menempati lantai 1 Blok F Rusun Komarudin, mengeluhkan hal yang sama. Bahkan ia memilih mandi di luar karena rembesan air yang berwarna kuning kecokelatan masuk ke bak mandi. “Ya, kita sendiri nggak tahu air apa itu, apa dari septic tank atau apa. Kami mau mandi jadi jijik,” ujar pria yang pekerjaan sehari-harinya berdagang itu.

Mereka menyayangkan masalah rembesan tersebut belum terselesaikan sampai sekarang. Saat ditanya penghuni, petugas kebersihan hanya mengatakan belum bisa memperbaiki karena tidak ada anggaran.

Soal rembesan air di Rusun Komarudin, yang menampung 600 keluarga, itu sebenarnya sudah disampaikan kepada Djarot Saiful Hidayat, yang waktu itu menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Warga menunjukkan kebocoran di Rusun Komarudin
Foto : Edward Febriyatri Kusuma/detikcom

Saat berkunjung ke Rusun Komarudin pada 15 Oktober 2015, Djarot berjanji akan merevitalisasi rusun yang memiliki enam tower itu. Bahkan Djarot sempat berujar rusun tersebut sudah sangat tidak layak huni.

“Iya, kita akan perbaiki secara total rusunawa ini. Memang sudah memprihatinkan dan tak layak huni lagi. Lihat saja tangga-tangganya yang hancur dan kerusakannya sudah membahayakan warga," ujar Djarot setelah melakukan kunjungan ke Rusun Komarudin waktu itu.

Djarot pun mengaku sudah meminta Dinas Perumahan dan Gedung Provinsi DKI Jakarta segera memperbaiki rusunawa menggunakan APBD 2016. Tapi janji tinggal janji. Sampai saat ini rembesan air di Rusun Komarudin masih tetap menghantui penghuni. “Boro-boro (kerusakan) diperbaiki. Ngeluh saja dicuekin. Giliran telat bayar sewa, dendanya gede, sudah kayak rentenir,” ujar Badriah bersungut-sungut.

Bukan hanya itu. Sistem pembayaran juga bermasalah. Sering kali nama penyewa tertukar saat pembayaran. Akibatnya, banyak penghuni yang sudah bayar malah dikenai denda karena dianggap belum bayar. Jika denda itu ditagih balik setelah penghuni menyodorkan bukti pembayaran, pengelola malah bilang anggap saja sebagai sedekah.

Rusun Komarudin mulai dibangun pada 2008, tapi baru dihuni sejak 2014 setelah diserahkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat kepada Pemprov DKI Jakarta pada 2013. Penghuni pertama di Rusun Komarudin adalah warga gusuran dari Kemayoran, Jakarta Pusat. Mereka menempati Blok D dan E. Saat ini semua tower, yang masing-masing berkapasitas 100 keluarga, sudah penuh terisi.

Harga sewa rusun bervariasi. Harga sewa lantai pertama Rp 235 ribu, lantai kedua Rp 220 ribu, lantai tiga Rp 200 ribu, lantai empat Rp 175 ribu. Dan yang paling atas atau lantai lima, harga sewanya paling murah, yakni Rp 150 ribu per bulan. Harga tersebut untuk warga yang terkena gusuran. Bila disewakan untuk umum, harga sewa untuk lantai pertama Rp 508 ribu.

Fasilitas penampuang air rusun Komarudin yang terbengkalai
Foto : Edward Febriyatri Kusuma/detikcom

Alaram kebakaran di rusun Cibesel yang dicuri
Foto : Edward Febriyantri Kusuma/detikcom

Saluran hidrant di rusun Cibesel
Foto : Edward Febriyatri Kusuma/detikcom

Sayang, baru beberapa tahun dihuni, bangunan rusun sudah rusak di sana-sini. Pipa-pipa mulai bocor, tangga rusak, hingga alarm kebakaran di tiap-tiap lantai raib digondol maling. Beberapa penghuni rusun saat ditemui detikX mengatakan banyak fasilitas yang hilang karena kurangnya pengamanan dari pengelola.

“Belum lama ini empat sepeda motor milik warga hilang. Di sini nggak aman, apalagi banyak warga di luar rusun yang nongkrong-nongkrong di sini,” ujar Supeno, warga Blok F.

Ternyata masalah pipa yang bocor hingga merembes ke unit-unit di rusun juga terjadi di rusun Cipinang Besar Selatan (Cibesel), Jalan Panca Warga, Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur. Rusun berjumlah enam tower yang berkapasitas 600 unit ini diresmikan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada 24 Februari 2015. Namun baru dua tahun berdiri, hampir semua unit mengalami kebocoran air di kamar mandi.

“Bangunan juga sudah pada retak. Ini lagi pada ditambal,” kata Hanifa, 38 tahun, warga rusun Cibesel yang menghuni Unit C lantai 1, saat ditemui detikX.

Menurut Hanifa, penghuni rusun Cibesel kebanyakan warga gusuran dari Pluit, Bukit Duri, dan Kampung Melayu. Sebelumnya, Hanifa dan penghuni rusun lainnya bermimpi tinggal di rusun akan lebih nyaman dan aman karena mereka tinggal di daerah yang legal alias bukan penduduk liar.

Bangunan rusun Cibesel dengan banyaknya retakan di dindingnya.
Foto : Edward Febriyatri Kusuma/detikcom

Tapi kenyataan berkata lain. Mereka malah direpotkan oleh masalah rusun yang bocor dan minimnya keamanan karena warga sering kehilangan sepeda motor. Lingkungan yang terkesan kumuh yang sudah mereka tinggalkan kini seakan-akan datang kembali. Sebab, kondisi rusun semakin kotor dan bangunan mulai rusak meski baru dihuni dua tahun.

Hal itu dikatakan Rudi, penghuni rusun Cibesel. Menurutnya, rusun yang dihuninya sejak dua tahun lalu itu sekarang terlihat kumuh karena rembesan air dan bangunan yang rusak. “Kalau boleh teriak, saya pengin teriak. Bayangin, walau susah, dulu tinggal di rumah sendiri. Sekarang semua harus bayar, sementara kerjaan jadi tambah jauh,” katanya.

Berdasarkan pantauan detikX, banyak tambalan pada dinding rusun Cibesel. Tembok rusun juga dipenuhi coretan. Fasilitas hidran dan alarm kebakaran banyak yang copot atau hilang. Sampah-sampah di lantai dasar juga banyak terserak.

Yanti, Kepala Seksi Pembangunan dan Permukiman Suku Dinas Perumahan dan Gedung Pemda Jakarta Timur, saat dimintai konfirmasi detikX mengatakan kerusakan fasilitas umumnya terjadi karena ulah penghuni rusun. Banyak penghuni rusun yang iseng. Dan kondisi ini terjadi hampir di semua rusun.

Ia mencontohkan hilangnya tombol lift di rusun Jatinegara Barat. Dari pantauan kamera CCTV, tombol lift terlihat ditendang-tendang. Akhirnya Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) yang menomboki.

Dijelaskan Yanti, kerusakan kecil atau ringan yang bersifat darurat ditangani UPRS lewat dana swakelola. Jika kerusakan yang terjadi besar, seperti kebocoran pipa dan kerusakan bangunan, hal itu akan ditangani Dinas Perumahan.

Suasana di dalam rusun Cibesel
Foto : Edward Febriyatri Kusuma/detikcom

Saat ini di wilayah Jakarta Timur ada 13 rusun yang ditangani, yakni Jatinegara Barat, Pinus Elok, Rawa Bebek, Komarudin, Pulogebang, Pondok Bambu, Cipinang Muara, Cipinang Besar Selatan, Jatinegara Kaum, Pulo Jahe, Cipinang Besar Utara, Tipar Cakung, dan Cakung Barat.

Tugas masing-masing UPRS tiap rusun berbeda, tergantung kondisi blok dan kebutuhannya. Tapi masing-masing punya fokus yang sama, yakni mengatasi kebocoran.

Yanti tidak menampik anggapan banyak rusun yang ada saat ini terkesan kumuh. Alasannya, UPRS efektif bekerja baru satu tahun. Sebab, sebelumnya hanya ada unit pelaksana teknis per wilayah yang kesulitan menjangkau semua rusun. Anggaran pun masih warisan sistem sebelumnya.

“Masuk 2016, masing-masing rusun punya UPRS, jadi mudah terpantau dan tentunya akan punya anggaran sendiri-sendiri,” kata Yanti.

Meski penanganan rusun akan lebih optimal ke depan, peran serta penghuni menjaga dan merawat rusun juga mutlak diperlukan, misalnya masalah kebersihan. Soal kekumuhan di rusun pun bukan mutlak kelalaian pengelola. Perilaku penghuni juga berperan besar. Sebab, masih banyak penghuni yang buang sampah sembarangan dan mengotori bangunan rusun.


Reporter: Edward Febriyatri Kusuma, Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE