INVESTIGASI

KOMBATAN CILIK ISIS

Jejak Hatf,
Dari Poso hingga Suriah

Bocah Hatf tumbuh di tengah-tengah konflik. Ia dibawa berpindah-pindah orang tuanya yang menjadi buron Densus 88.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 14 September 2017

Hatf Saiful Rasul, 12 tahun, kombatan cilik Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) asal Indonesia, yang tewas terkena bom udara di Suriah pada 1 September 2016, belakangan ramai dibicarakan. Hatf ternyata anak napi kasus terorisme Poso, Saiful Anam alias Mujadid alias Brekele, yang kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Sebelum ditangkap pasukan Densus 88 Antiteror Mabes Polri di Temanggung, Jawa Tengah, 21 Maret 2007, Brekele, teroris asal Lampung tersebut, hidup berpindah-pindah tempat. Sudah tentu Hatf dibawa berpindah-pindah oleh orang tuanya itu.

Brekele mempersunting seorang perempuan asal Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Hatf lahir di Lamasi, Palopo, Sulawesi Tengah, pada 24 November 2003. Saat itu situasi di Poso masih diwarnai konflik.

“Mujahid kecilku pertama kali menghirup udara sebagai anak pertama. Hatf lahir hanya dibantu bidan kampung, ditemani abinya (ayah), dua ibu tetangga, tak ada keluarga dan kerabat yang datang, karena situasi kondisi yang tak memungkinkan,” kata Brekele dalam tulisan panjangnya untuk mengenang Hatf, 16 September 2016.

Syaiful Anam alias Brekele
Foto: AFP PHOTO / STR

Kelahiran Hatf rupanya terpantau oleh aparat. Saat berumur satu setengah bulan, Hatf kemudian diungsikan dari Palopo ke Tawangmangu. Brekele, istrinya, dan Hatf sempat beberapa waktu tinggal di daerah di lereng Gunung Lawu tersebut. Begitu merasa situasi sudah aman, setahun kemudian Brekele kembali memboyong anaknya itu ke Pandajaya, yang dikenal sebagai “Kampung Mujahidin” di Poso.

Di kampung itulah mereka pernah tinggal bersama pelaku terorisme lainnya, seperti Daeng Koro alias Sabar, Abu Wardah (tewas di Suriah), Abu Uswah alias Qodir, dan Hasan. Brekele sempat menduga anaknya mengidap sakit pada pita suara karena tak rewel dan jarang menangis.

Hatf memang pernah di sini, sekitar 2014, 2015, 2013, saya lupa. Tahun berapa keluarnya saya lupa. Tidak sampai setahun seingat saya.”

Sejak balita, kata Brekele, Hatf mudah bercengkerama dengan orang lain. Karena itu, selama Hatf  berada di Poso, beberapa teman Brekele ikut mengasuhnya. Mereka adalah Hiban dan Enal (asal Malaysia) dan sejumlah teman Brekele yang kini masih berada di pegunungan Poso.

Saat usia Hatf menginjak 2,5 tahun, terjadi ledakan bom rakitan di Pasar Tentena, Poso, pada 28 Mei 2005 pada pukul 08.15 Wita. Ledakan bom itu menewaskan 22 orang dan melukai 40 lainnya. Bom inilah yang didalangi oleh Brekele.

Hatf pun bersama ibunya, yang tengah hamil tujuh bulan, dipulangkan ke kampungnya di Tawangmangu. Sedangkan Brekele bersama beberapa temannya bersembunyi di suatu tempat di Poso dan di Jawa.

Beberapa bulan kemudian, Brekele bertemu lagi dengan istrinya, Hatf, dan adiknya yang baru lahir, Zainab. Mereka lalu pindah ke sebuah rumah kontrakan di Desa Binangun, Kecamatan Wonosobo, Jawa Tengah, tak jauh dari Rumah Sakit Wonosobo. Pergerakan mereka terus dipantau oleh Densus 88 hingga kemudian pasukan antiteror menggerebek rumah tersebut.

Dua teroris, Jabir dan Abdul Hadi, tewas ditembak. Sedangkan Brekele lolos dari penyergapan itu karena tengah berada di Semarang. Hatf pun sedang dibawa ke Lampung untuk bertemu dengan nenek buyutnya. Namun, setelah itu, Hatf kembali dibawa ke Tawangmangu.

Beberapa bulan kemudian, Brekele membawa keluarganya tinggal di sebuah dusun terpencil bernama Kebon Salak di Krangan, Temanggung. Namun gerak-gerik Brekele terus diikuti Densus 88 hingga akhirnya pada sebuah subuh Brekele tak dapat lagi lolos dari penggerebekan. Pada 21 Maret 2007, ia ditangkap dan ditembak kakinya.

Hatf Saiful Rasul
Foto: Telegram/Handout via Reuters

Hatf dan ibunya pulang ke Tawangmangu. Ia masuk sekolah TK Islam Al-Furqon, yang berjarak 1 kilometer dari rumah mereka di Tawangmangu. Umur 6 tahun, Hatf sudah lancar membaca Alquran, menghafal doa-doa harian, dan menjalankan salat lima waktu.

Setamat TK, ia melanjutkan ke Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Irsyad, Kalisoro, Tawangmangu. detikX mencoba menelepon sekolah yang beberapa waktu lalu heboh karena menolak hormat kepada bendera Merah-Putih itu, namun tak ada yang merespons.

Hanya sampai kelas V Hatf bersekolah di SDIT Al-Irsyad. Brekele kemudian memindahkan anaknya itu ke Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud di Kampung Jami, Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hatf dititipkan karena salah satu gurunya adalah teman Brekele, yaitu Abu Umar, yang telah tewas di Suriah.

Di ponpes inilah Hatf diajari secara mendalam tentang millah Ibrahim, makna kufur kepada thoghut, al-wala wal baro, kecintaan pada jihad dan mujahidin, serta cinta syahadah. Hatf juga kerap menonton video perjuangan ISIS yang disebut sebagai Daulah Islamiyah.

Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud
Foto: Farhan/detikcom

Sejak itu, Hatf, yang memiliki jalan pikiran seperti ayahnya, berniat pergi ke Suriah. Apalagi ada beberapa temannya di Ponpes Ibnu Mas’ud yang berangkat ke Suriah, bahkan ada yang sudah mati syahid.

Seorang pengurus Ponpes Ibnu Mas’ud, Jumadi, membenarkan Hatf, yang tewas di Suriah setahun lalu, adalah bekas santri ponpesnya. Hatf masuk pesantren itu pada 2014-2015. Namun Hatf keluar dari ponpes dan berangkat ke Suriah sebelum lulus. Hafalan Alqurannya pun belum selesai.

“Dia keluar dari pesantren itu atas sepengetahuan kami. Hatf memang pernah di sini, sekitar 2014, 2015, 2013, saya lupa. Tahun berapa keluarnya saya lupa. Tidak sampai setahun seingat saya,” kata Jumadi saat ditemui detikX di ponpesnya, Rabu, 13 September 2017.

Jumadi mengaku tak tahu siapa orang tua Hatf. Ia berdalih tak mengurusi latar belakang orang tua para santrinya yang ingin belajar tahfiz Alquran. Ia bahkan mengaku kaget ternyata Hatf adalah anak seorang terpidana terorisme, Brekele, yang kini mendekam di Lapas Nusakambangan.

“Pesantren kan tidak mengurusi itu, tidak melihat latar belakang, tidak sejauh itu. Selagi ada yang bertanggung jawab atas anak itu, baik orang tua asli maupun asuh, ya pasti kita terima di sini,” ujarnya.

Aktivitas di Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud
Foto: Farhan/detikcom

Jumadi seakan menutup identitas siapa yang mengantar Hatf saat masuk Ponpes Ibnu Mas’ud. Ia hanya mengatakan Hatf saat itu diantar seorang perempuan, tak tahu apakah ibunya atau ibu asuhnya. Begitu juga soal sosok guru (ustaz) yang pernah mengajar Hatf, yang juga berangkat ke Suriah.

Jumadi juga mengaku tak tahu-menahu 12 santri pesantrennya yang ditangkap di Singapura karena akan ke Suriah beberapa waktu lalu. “Saya juga dapat informasi itu, ada yang tanyain. Ada yang sodorkan nama, mengkonfirmasi. Saya bilang, ‘Kalau nama, mana bisa.’ Seharusnya datanya lengkap: ini namanya, ini foto wajahnya. Ini kan nggak,” ujar Jumadi.

Sementara itu, pihak Mabes Polri menyatakan saat ini tengah menyelidiki Ponpes Ibnu Mas’ud yang telah memberangkatkan sejumlah petarung ISIS asal Indonesia ke Suriah, termasuk Hatf. Densus 88 sempat mendatangi pesantren itu, tapi pihak pesantren membantah dan mengatakan tak mendukung ISIS.

“Ada beberapa siswa dan pembinanya kan yang berangkat. Pesantren ini juga beberapa waktu lalu gurunya membakar umbul-umbul merah-putih,” tutur Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Warsito di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, 11 September 2017.


Reporter: Farhan (Bogor)
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE