INVESTIGASI

KOMBATAN CILIK ISIS

Kisah Tragis Tewasnya Anak Brekele di Suriah

Hatf asal Indonesia baru berusia 12 tahun ketika bergabung dengan ISIS. Ia dipersenjatai laras panjang AK-47, pistol, dua granat, dan pisau komando.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 14 September 2017

Setelah melakukan salat asar, Ummu Hatf segera meraih telepon selulernya. Sebuah pesan melalui aplikasi percakapan Telegram masuk ke ponsel istri terpidana kasus terorisme Syaiful Anam alias Brekele, 38 tahun, itu. Pengirim pesan tak lain adalah anaknya, Hatf Saiful Rasul, yang tengah berada di Suriah. “Ummi, minta doanya. Ini kami sedang mundur dari Jarablus (wilayah di Suriah),” begitu isi pesan Hatf yang disampaikan kepada ibunya pada 25 Agustus 2016.

Bocah yang menjadi kombatan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) itu menceritakan bahwa ia bersama teman-temannya digempur oleh milisi Kurdi dan pasukan koalisi. Tak lama kemudian, komunikasi terputus. Sepekan berselang, 1 September 2016, bocah laki-laki yang berusia 12 tahun itu tewas dihantam serangan bom udara.

Meski sudah setahun berlalu, kabar tewasnya Hatf itu baru terungkap belakangan ini setelah diberitakan oleh Reuters. Reuters mengutip cerita Hatf dari tulisan panjang Brekele yang dibuat pada 16 September 2016.

Brekele menuliskan kisah anak sulungnya itu dari dalam penjara Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Ia mendekam di penjara terkait kasus peledakan bom rakitan di Pasar Tentena, Poso, Sulawesi Tengah, pada 2005. Bahkan Brekele juga diduga terlibat aksi peledakan Bom Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta, pada Januari 2016.

Markas Besar Kepolisian RI membenarkan bahwa Hatf, yang lahir di Poso pada 23 November 2003, adalah anak Brekele. “Iya, benar itu. Kan sekarang (Brekele) ada di lapas,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul di Mabes Polri, Jakarta, Rabu, 13 September 2017.

Dalam tulisannya yang dilihat detikX Selasa, 12 September lalu, Brekele bercerita bahwa Hatf berangkat ke Suriah pada 25 Agustus 2015. Hatf pergi bersama paman dan bibinya (saudara kandung Ummu Hatf), yaitu Abu Hafsah dan Ummu Hafsah. Saat itu Hatf baru dua tahun belajar di Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud di Desa Sukajaya, Taman Sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Hatf Saiful Rasul tengah memegang senapan serbu AK-47.
Foto: dok. Reuters

Hatf mengutarakan keinginan menjadi pejuang ISIS saat menjenguknya di LP Nusakambangan. Saat itu Brekele enggan menanggapinya karena menganggap sekadar gurauan anak-anak. Namun permintaan Hatf itu disampaikan berulang-ulang, apalagi saat makan bersama Brekele, ibu, dan adiknya, Zainab Saifun Najdah.

Hatf bilang teman-teman sesama santri dan beberapa ustaz di Ponpes Ibnu Mas’ud sudah berangkat ke Suriah, bahkan sudah ada yang mati syahid. Karena keinginan anaknya yang menggebu-gebu itu, akhirnya Brekele memberi lampu hijau.

“Alhamdulillah, sebenarnya Abi (Brekele) juga sangat menginginkan Hatf berangkat, hanya Abi belum yakin apakah Hatf siap atau tidak. Maka saat itu Hatf sendiri yang meminta, apalagi Ummi juga setuju, urusannya jadi lebih mudah,” ujar Brekele.

Sepulang dari Nusakambangan, Hatf bersama paman dan bibinya langsung mengurus pembuatan paspor. Hatf pun keluar dari Ponpes Ibnu Mas’ud. Hatf masih bertemu dengan Brekele sekali lagi untuk menerima nasihat. Setelah itu, ia pulang ke rumah ibunya di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Seorang pengurus Ponpes Ibnu Mas’ud, Jumadi, ketika ditemui detikX, Rabu, 13 September, mengatakan Hatf keluar dari ponpes dengan sepengetahuan mereka. Namun Jumadi mengaku tidak tahu mantan santrinya itu bergabung dengan ISIS. “Hatf memang pernah di sini. Tapi alasan apa dan tahun berapa dia keluar, saya lupa,” kata Jumadi.

Selama 15 hari sebelum berangkat ke Suriah, menurut Brekele, Hatf rajin membantu ibunya yang tengah hamil tua dan menunggu kelahiran adik ketiganya. Setiap hari ia mencuci piring, baju, tikar hingga membantu menyetrika pakaian. Ia juga selalu mengantar-jemput jemput adiknya ke sekolah.

Peta Raqqah, Suriah, tempat Hatf biasa mengunjungi paman dan bibinya.
Foto: screenshot

Sehari sebelum pergi, bocah berambut tebal itu minta dibelikan sate untuk makan bersama ibu dan adik-adiknya. Bahkan Hatf minta disuapi ibunya. “Hatf disuap, Umm. Kan nanti kita sudah nggak ketemu dan nggak makan bareng lagi,” ujar Hatf.

Persis pada 25 Agustus 2015, Hatf berangkat menuju Suriah. Seminggu kemudian, Hatf dan rombongan tiba di Suriah. Hatf langsung masuk Mu’asykar Tadhrib (Kamp Pelatihan Militer) Al’am. Hatf masuk pusat latihan militer khusus dewasa, bukan anak-anak.

Hatf beserta anggota ISIS lain dari sejumlah negara berlatih dasar-dasar militer selama dua bulan. Hatf dinyatakan lulus dengan baik, tidak kalah dengan anggota ISIS yang lebih dewasa. Bahkan ia lolos ujian bongkar-pasang senapan serbu AK-47, yang panjangnya setara dengan tinggi badan Haft, itu, hanya dengan waktu 32 detik.

Setelah dua bulan menjalani latihan, Hatf diminta memilih bergabung dengan khatibah (kelompok tempur atau batalion) mana. Walau sudah ada dua Khatibah Nusantara, yang berisi anggota-anggota ISIS asal Indonesia dan negara-negara lainnya di Asia Tenggara, Hatf rupanya lebih memilih bergabung dengan Khatibah Prancis. Khatibah ini berada di wilayah Hamma dan Al-Halab, Aleppo.

Di Khatibah Prancis, Hatf mengasah kemampuannya dalam menembak. Pimpinan Khatibah Prancis menjadikan Hatf sebagai Junud Daulah, yang dibekali senjata api secara permanen, yaitu satu pucuk AK-47, satu pucuk pistol kaliber 9 milimeter, dua granat tangan, kompas, dan seragam khas Junud Daulah.

“Hatf tergolong fasih berbahasa Arab sehingga selalu diminta jadi jembatan untuk mengurusi berbagai masalah, seperti fasilitas air dan sebagainya. Ia juga didaulat oleh komandan batalionnya untuk menjadi imam salat karena dianggap bacaan dan hafalan Alquran-nya bagus,” kata Brekele.

Pintu gerbang Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud di Desa Sukajaya, Taman Sari, Kabupaten Bogor, tempat Hatf sempat menimba ilmu.
Foto: Farhan/detikX

Syaiful Anam alias Brekele, terpidana kasus bom Pasar Tentena, Poso, yang juga ayah Hatf.
Foto: Beawiharta/Reuters

Sebagai kombatan ISIS, Hatf diberi jatah libur tiga hari setiap bulannya. Biasanya Hatf memanfaatkan masa libur itu untuk bertemu dengan paman dan bibinya, Abu Hafsah dan Ummu Hafsah, yang berada di Raqqah. Bila tidak pulang, Hatf menghabiskan waktu berjalan-jalan ke daerah Suknah atau Syadadi, karena di dua daerah ini banyak teman alumni Ponpes Ibnu Mas’ud dan kombatan lain asal Indonesia.

Suatu hari, ketika Hatf tengah asyik duduk dan ngobrol dengan kelompok ISIS di markas Raqqah, tiba-tiba ia diserbu pesawat tempur yang menjatuhkan sejumlah bom. Tiga teman Hatf dari Prancis tewas, sementara ia terlempar beberapa meter dan telinganya mengeluarkan darah. Setelah sembuh, Hatf kembali ke medan pertempuran.

Kali ini Hatf, yang memakai berseragam lengkap ala milisi ISIS, bergabung dengan Khatibah Syamiyyun (Arab lokal). Hatf ditugaskan di wilayah perbatasan Manbij dan Jarablus, yang berbatasan langsung dengan negara Turki.

Komunikasi Hatf dengan paman dan bibinya yang berada di Raqqah saat itu sempat terputus. Pernah selama dua bulan penuh ia tak berkunjung atau menelepon paman dan bibinya, atau ibunya di Tawangmangu. Ternyata wilayah Jarablus tengah dibombardir serta dikepung milisi Kurdi, Jaisyul Khur.

Serangan pesawat tempur koalisi ini membuat jalur logistik pasukan ISIS terputus. Akibatnya, bahan makanan pun habis, hanya beberapa butir kurma yang tersisa. Mereka akhirnya mencuri di rumah-rumah penduduk yang ditinggal penghuninya untuk mencari sisa-sisa makanan.

“Kadang kala mereka memetik mentimun, tomat, melon, atau apa saja dari tanaman penduduk yang masih tersisa,” tulis Brekele.

Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius
Foto: Gautama Padmacinta/CNN Indonesia

Setelah insiden itu, Hatf kembali ke Raqqah. Ia berenang di Sungai Furot, yang menjadi kegemarannya bila ke Raqqah. Bibinya sempat melarang Hatf berenang di sungai itu karena sebelumnya ada orang mati tenggelam. “Tenang, aku tidak akan mati tenggelam di Sungai Furot. Aku nanti syahidnya kena bom di Ribath,” jawab Hatf.

Tak dijelaskan Brekele kapan persisnya liburan terakhir Hatf sebelum tewas. Namun, setelah liburan itu, Hatf berpesan agar uang tabungan dari gajinya sebagai kombatan ISIS diberikan kepada adik-adiknya di Indonesia. Hatf pun pamit meninggalkan Raqqah.

Hatf kembali ke Jarablus dengan dua temannya, yaitu Uwais, teman barunya asal Indonesia yang baru tergabung ke khatibah-nya, dan Dava, yang akrab sejak di Katibah Prancis. Uwais sendiri bergabung setelah ayahnya tewas di Suriah.

Saat Hatf bersama Dava, tiba-tiba pesawat tempur pasukan koalisi menyerang. Salah satu bom menghantam Hatf, Dava, dan dua anggota ISIS lainnya, Abu Zuffar dan Ibnu Salahudin. Bom itu mencerai-beraikan tubuh para kombatan ISIS itu, termasuk tubuh mungil Hatf.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Komjen Suhardi Alius mengatakan perlunya kewaspadaan terhadap anak-anak terpidana terorisme. Sebab, sifat radikal tidak hanya menjangkiti orang tua, tapi juga menurun kepada anak-anak mereka. Sikap radikal itu juga tumbuh karena anak-anak itu dikucilkan oleh lingkungan.

“Walaupun dia masih anak-anak, tapi kalau orang tuanya begitu? Anaknya harus kita luruskan dan dikembalikan ke jalan yang benar. Kita mempunyai kesempatan untuk memperbaiki anak-anak bangsa ini yang salah jalan,” katanya kepada detikX.


Reporter/Penulis: Farhan (Bogor), Ratu Ghea Yurisa
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE