INVESTIGASI

Misteri Si Loreng
di Alas Ujung Kulon

“Dari sini saja kita bisa lihat ukurannya lebih mendekati ke macan tutul.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 21 September 2017

Pemerintah resmi menyatakan harimau Jawa (Javan tiger), yang bernama Latin Panthera tigris sondaica, punah pada 1994. Begitu juga Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) di Florida, Amerika Serikat, yang menyatakan karnivora terbesar di Pulau Jawa itu punah pada 1996.

The Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan harimau Jawa mengalami kepunahan (extinct) pada 1970. Kucing besar loreng ini punah akibat perburuan, kehilangan hutan sebagai habitat, dan kekurangan mangsa. Nasib yang sama dialami harimau Kaspia dan harimau Bali.

Dua puluh tiga tahun kemudian, tiba-tiba publik dihebohkan oleh penampakan seekor macan yang tengah memangsa banteng di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Pandeglang, Banten, 25 Agustus 2017. Hewan buas itu terekam kamera petugas Ranger TNUK yang tengah melakukan inventarisasi banteng di padang penggembalaan Cidaon.

Penampakan diduga harimau Jawa itu pun menjadi viral dan ramai diberitakan media massa, baik dalam maupun luar negeri. Tentu ini mengejutkan, sekaligus temuan yang menggembirakan, bahkan terkesan euforia. Namun tak lama kemudian muncul pro dan kontra terkait penemuan terduga hewan yang oleh sebagian masyarakat dijuluki Abah Kolot (Banten dan Sunda) atau Simbah (Jawa) itu.

Balai TNUK menerjunkan dua tim, yang terdiri atas petugas TNUK dan World Wildlife Foundation (WWF) Indonesia, untuk mencari jejak macan itu pada 12 September 2017. Tim ini berada di hutan selama sepuluh hari, termasuk memasang camera trap (kamera jebak) di hutan. “Kita survei untuk membuktikannya. Kita turunkan dua tim untuk melakukan ekspedisi kucing besar itu,” ujar Kepala Balai TNUK Mamat Rahmat.

Taufiq Purna Nugraha, peneliti senior Pusat Penelitian Biologi LIPI
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Salah seorang anggota tim yang masih berada di hutan, yakni Koordinator Spesies WWF Ujung Kulon Ridwan Setiawan, menyatakan belum berani menyimpulkan temuan terbaru itu harimau Jawa. Ia hanya mengatakan timnya masih berada di dalam hutan dan sedang memasang camera trap di sekitar lokasi penemuan terduga harimau Jawa. “Karena keluarga kucing besar itu habitatnya lebih banyak di perbukitan hingga pegunungan,” tutur pria yang akrab disapa Iwan Podol itu kepada detikX.

Adapun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia tegas menyatakan 90-95 persen foto predator yang diduga harimau Jawa itu adalah macan tutul Jawa. LIPI mengetahui kemunculan kabar penampakan harimau Jawa itu pada 5 September 2017 saat dilakukan open house di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong, Bogor.

Penampakan hewan yang diduga harimau Jawa itu direkam menggunakan telepon seluler dengan format video pada jarak yang cukup jauh oleh petugas TNUK. Saat itu LIPI mengatakan agar foto itu tidak buru-buru dipublikasikan dan menunggu konfirmasi gambar serta analisis dari sejumlah pihak.

“Sayangnya, nggak lama muncul berita dengan foto hasil screen cut tayangan video mengenai gambar terduga harimau Jawa ukuran 780 x 439 piksel. Jadi seperti ada miss identification,” kata peneliti senior Pusat Penelitian Biologi LIPI, R. Taufiq Purna Nugraha, kepada detikX di kantornya, Cibinong, Kabupaten Bogor, 18 September 2017.

Taufiq menerangkan pihaknya telah melakukan metode forensik pada foto dengan menggunakan dua pendekatan. Pertama morphometry, yaitu mengukur dimensi tubuh terduga harimau Jawa itu dengan pembanding kontrol seekor burung merak hijau, yang tak jauh dari keberadaan mamalia itu.

Hasil penelitian terduga harimau Jawa pada foto milik TNUK.  
Foto : Dok. Pusat Penelitian Biologi LIPI

Dengan metode ini, diketahui ukuran tubuh hewan buas itu 100,9-111 cm dan panjang ekor 75,1-82,7 cm. Hasil temuan itu lalu dibandingkan dengan ukuran macan tutul yang memiliki panjang tubuh 92-190 cm dan panjang ekor 94-99 cm. “Dari sini saja kita bisa lihat ukurannya lebih mendekati ke macan tutul,” ujarnya.

Menurut Taufiq, memang tidak ada referensi mengenai ukuran tubuh harimau Jawa. Namun, bila disandingkan dengan foto penampakan harimau Jawa pada 1938 di TNUK, didapati rasio dengan hewan yang masih misterius itu 0,48:0,74 untuk panjang badan. Sedangkan rasio tinggi badan kedua hewan tersebut adalah 0,49:0,59.

Teknik penelitian kedua menggunakan metode deblurring dan contrast enhancement, yaitu melakukan serangkaian manipulasi foto untuk mempertajam sosok terduga harimau Jawa. Hasilnya, kulit macan yang terekam kamera itu memiliki motif bercak, sedangkan harimau Jawa motif kulitnya bergaris atau loreng.

Ketiga, assessment perilaku makan terduga harimau Jawa dalam rekaman video. Kepada detikX sempat diperlihatkan rekaman utuhnya. Saat kucing besar memakan bangkai banteng, terlihat kibasan ekor macan ke kiri dan ke kanan dengan jelas. “Harimau ketika makan tidak terlalu aktif ekornya, karena relatif pendek dan kecil,” Taufiq menambahkan.

Anton Ario dari Forum Macan Tutul Jawa juga menguatkan pernyataan bahwa foto yang diduga sebagai harimau Jawa di TNUK adalah macan tutul Jawa. Ia, yang berkecimpung dalam penelitian soal macan tutul Jawa di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango selama 20 tahun, hafal betul dengan bentuk, warna, dan corak macan tutul Jawa.

Perbandingan rasio antara terduga harimau Jawa di TNUK, harimau Jawa, dan macan tutul.
Foto : Dok. Pusat Penelitian Biologi LIPI

“Saya tahu betul. Dari cara makan macan yang diduga harimau dalam video itu, terlihat kibasan ekornya itu identik sekali dengan macan tutul, bukan harimau,” kata Program Manager for Gedephala di Conservation International Indonesia ini kepada detikX.

Ia menerangkan banteng yang dimakan macan itu sudah mati, kemungkinan besar dimakan anjing hutan. Macan tutul di kawasan TNUK belum pernah memakan mangsa sebesar banteng, kecuali kijang atau rusa serta primata dan burung.

Erwin Wilianto dari Forum Harimau Kita juga menduga kuat foto penampakan macan yang memakan bangkai banteng itu adalah macan tutul. Di kawasan itu terdapat lebih dari 100 camera trap. Namun selama 10 tahun sejak dipasang, belum pernah terekam keberadaan harimau Jawa, kecuali macan tutul atau macan kumbang. “Jadi sangat kecil kemungkinan kalau harimau Jawa ditemukan di sana (TNUK),” tuturnya.

Erwin juga sangat menyayangkan pemberitaan yang menyebutkan lokasi penemuan macan yang diduga harimau Jawa itu di TNUK. Pasalnya, penyebutan nama lokasi penemuan itu dapat memancing para pemburu kucing besar tersebut.

“Para pemburu juga memantau jurnal ilmiah. Seharusnya nama lokasi tak disebutkan. Kalau keluar nama lokasi, pemburu akan mengejar ke sana. Ini jalan bagi para pemburu. Mereka juga sampai mantau akun komunitas Facebook teman-teman pencinta macan dan harimau,” katanya.

Anton Ario dari Forum Macan Tutul
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Anton menambahkan, sampai saat ini diprediksi populasi macan tutul Jawa berjumlah 500 ekor. Angka ini saja kian hari kian menyusut bila melihat luasan hutan di Pulau Jawa, belum lagi aksi perburuan oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Ia sangat menghargai pihak yang meyakini harimau Jawa masih ada.

“Saya menghargai pihak yang meyakini harimau Jawa masih ada, tapi sangat disayangkan jika energi kita habis untuk memperdebatkan keberadaan harimau Jawa. Lebih baik bagaimana melestarikan macan tutul yang ada di depan mata,” ucapnya.

Didik Raharyono, peneliti dari Peduli Karnivora Jawa, adalah salah satu yang masih percaya harimau Jawa belum punah total. Selama melakukan penelitian lebih dari 20 tahun, ia masih menemukan beberapa aktivitas harimau Jawa di beberapa hutan di Pulau Jawa. Ia menemukan beberapa bekas jejak tapak kaki, kotoran, dan bekas cakaran di pohon.

Begitu juga pengakuan sejumlah penduduk lokal di sekitar pegunungan yang pernah bertemu dan membunuhnya. Namun Didik mengaku belum pernah secara langsung melihat wujud bangkai harimau Jawa yang dibunuh warga itu.

“Sebagian besar mereka yang membunuh harimau baru bercerita setahun atau enam bulan kemudian, karena mereka tahu hewan itu dilindungi. Penuturan itu kadang hanya beredar di kalangan internal mereka saja,” ujar Didik kepada detikX.

Didik mengaku, pada 2016 menemukan tapak kaki dan kulit harimau di kawasan Jawa Timur yang diduga dibunuh pada 2014. Saat itu ia sudah mengirimkan sampel spesimen kulit untuk dites DNA ke LIPI dan IPB. “Sampai sekarang belum ada kabar lanjutannya,” ujarnya.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE