INVESTIGASI

Dihantam Taksi Online, Digerogoti dari Dalam

Express bukan cuma terpuruk karena serbuan taksi online. Banyaknya kecurangan di pool juga diduga menjadi salah satu penyebab.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 9 Oktober 2017

Bagi seorang sopir angkutan umum di kota besar, seperti Jakarta, sore hari merupakan waktu tersibuk. Mereka biasanya akan kebanjiran penumpang yang pulang kerja. Namun hal ini berbeda dengan Priyo—sebut saja begitu—seorang sopir taksi Express, yang ditemui detikX di Jalan Barito, Jakarta Selatan.

Bukannya mencari penumpang, pria bertubuh tambun itu malah asyik melihat-lihat hewan peliharaan, seperti kucing dan burung, yang memang banyak dijual di pasar hewan dekat Rumah Sakit Pusat Pertamina itu. Saat ditanya kenapa tidak menjalankan taksinya, Priyo menjawab enteng. “Lagi sepi, Mas. Nggak ada yang sewa (penumpang)”.

Dan saat ditanya berapa penumpang yang dibawa dalam sehari itu, Jumat, 7 Oktober 2017, Priyo mengatakan baru dua orang. “Tadi baru nganter ke Permata Hijau. Lalu cari penumpang ke Gandaria. Karena nggak dapat juga, saya ke sini saja (Barito),” ucapnya santai.

Diakui Priyo, maraknya taksi online di Jakarta membuat sopir taksi konvensional seperti dirinya terimpit. Uang setoran pun sulit didapatkan karena sepinya penumpang. Sebelum ramai taksi berbasis aplikasi itu, Priyo biasanya membawa pulang uang Rp 300 ribu setelah 12 jam membawa taksi. Uang itu sudah dipotong setoran, yang besarnya Rp 240 ribu per hari.

Namun, setelah adanya taksi online, semacam Uber dan GrabCar, jangankan membawa pulang uang ratusan ribu, untuk menutupi biaya setoran saja Priyo mengaku kerepotan. Malah ia sering berutang setoran ke pengurus pool.

Taksi Express berjajar di pool .
Foto : Hasan Alhabshy/detikcom

Upaya perusahaan sebenarnya sudah cukup membantu dengan menurunkan uang setoran per hari menjadi Rp 150 ribu. Namun tetap saja para sopir masih kesulitan mendapatkannya. “Kadang seharian saya cuma dapat Rp 120 ribu, kadang Rp 100 ribu. Jadi tidak menentu,” ujarnya.

Kalau setoran tidak sesuai target, kepala pool suka minta uang tutup mulut. Biasanya diselipin Rp 10 ribu sama sopir.”

Gara-gara seretnya pendapatan itu, menurut Priyo, ada saja rekannya sesama sopir Express yang bandel. Jika mendapatkan Rp 170 ribu sehari, misalnya, yang disetor ke pool hanya Rp 70 ribu. Sedangkan sisanya dibagi antara driver dan pihak pool. Bahkan setoran itu diberikan tanpa diberi tanda terima.

Karena kondisi itu, Priyo pun sempat terpikir untuk meninggalkan pekerjaan yang telah dijalani belasan tahun tersebut. Namun, karena ia harus membiayai kebutuhan anak dan istri, niat itu belum dilakukannya. “Tapi saya harus membiayai dua anak saya yang masih sekolah. Kalau saya pindah atau keluar, khawatir dengan nasib anak-anak saya,” kata Priyo galau.

Bisnis taksi Express yang terimbas oleh taksi online memang bukan cerita baru. Namun kali ini kondisi perusahaan Express Group benar-benar terpuruk. Saham perusahaan berlabel PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) di Bursa Efek Indonesia itu sempat anjlok menjadi Rp 50 per lembar dan masuk zona merah.

Express pun mengumumkan rencana penjualan aset tanah dan rumah-toko untuk menutup utang Rp 500 miliar di Bank Central Asia. Perusahaan tersebut bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 400 karyawan. Karyawan yang terkena PHK paling banyak di bagian call center dan montir di pool taksi mereka.

Para pengemudi taksi Express demo tolak taksi online di kawasan Monas, Jakarta, Maret 2016 silam.
Foto : Aditya/detikcom

Sedangkan untung perusahaan melorot dari tahun sebelumnya. Pada Juni 2017, Express hanya berhasil membukukan pendapatan Rp 158,73 miliar. Padahal, dalam periode yang sama pada 2016, perusahaan mencetak pendapatan Rp 374,06 miliar.

Dalam surat jawabannya kepada BEI, Express menjelaskan, saat ini jumlah armada berbagai jenis yang dimiliki perusahaan tinggal 9.600 unit. Namun, tingkat utilitasnya hanya sekitar 45 persen. Sementara itu, CEO Express Transindo Utama, Benny Setiawan, menambahkan, dari 17 ribu driver mitra yang dimiliki Express, yang aktif hanya 40-50 persen.

Merasa kesulitan bersaing dengan taksi online, sejak Januari 2017, Express telah menggandeng Uber. Kolaborasi ini mampu meningkatkan utilitas armada Express. Rasio perolehan penumpang oleh pengemudi pun mengalami kenaikan. Adapun dari sisi pendapatan, layanan yang dinamai UberX itu mampu berkontribusi sebesar 5 persen.

“Mulai Januari setiap bulan ada penambahan pengemudi yang join program Uber. Ini bagus karena dari sisi pengemudi diberi kemudahan fleksibilitas. Biasanya mungkin kerja 18 jam cuma dapat 7 penumpang, sekarang dengan online bisa memanfaatkan waktu mungkin hanya 10 jam," kata Benny.

Namun kolaborasi itu belum mampu memacu kinerja perseroan. Menurut Priyo, banyak pengemudi Express di lapangan yang ogah-ogahan memakai aplikasi Uber. Penyebabnya, tarif yang dipasang sangat murah sehingga justru merugikan mereka. Selain buat membeli BBM, mereka harus mengeluarkan uang untuk membeli pulsa dan kuota Internet.

image for mobile / touch device
image 1 for background / image background





Ratusan pengemudi taksi Express memarkir armada mereka di kawasan Monas, Jakarta, saat berlangsung demo menolak taksi online, Maret 2016.
Foto: Reuters

Priyo menilai masalah yang dihadapi perusahaan saat ini, selain dihantam taksi online, adalah buruknya manajemen perseroan. Ia menyayangkan manajemen Express yang hingga kini seolah menutup mata atas penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di cabang/pool terkait uang setoran dari para pengemudi.

“Kantor pusat banyak menghabiskan anggaran. Sedangkan pool hanya setoran uang mobil. Tapi setoran uang mobil itu, kantor pusat nggak pernah tahu kejadiannya. Yang penting uang masuk perusahaan, dan uang yang masuk itu sebenarnya sudah ‘disunat’ sama orang cabang atau pool itu,” katanya.

Buruknya manajemen itu juga diamini sopir lainnya, Toni, bukan nama sebenarnya. Pria yang sudah 21 tahun mengabdi di perusahaan taksi putih itu mengatakan yang juga terkena PHK adalah para pegawai dan pimpinan pool yang tak becus bekerja. Namun hal itu baru-baru saja dilakukan perusahaan. Padahal praktik semena-mena terhadap pengemudi sudah lama terjadi.

“Selama ini mereka semena-mena terhadap pengemudi. Banyak sopir yang mundur karena peraturan kepala cabang atau pool yang memberatkan,” ujar Toni kepada detikX.

Kisah nakal kepala pool ini dikatakan Toni terkait masalah setoran para sopir. Kepala pool sering ‘memalak’ jika setoran sopir kurang. “Kalau setoran tidak sesuai target, kepala pool suka minta uang tutup mulut. Biasanya diselipin Rp 10 ribu sama sopir,” tutur sopir yang pool-nya berada di wilayah Bekasi tersebut.

Pengemudi taksi online berbondong-bondong mendatangi kantor Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) di Pulogadung, Jakarta Timur, Agustus 2016.
Foto : Noval/detikcom

Selain itu, ada aturan yang diberlakukan tanpa sepengetahuan kantor pusat. Misalnya, jika telat bayar setoran, sopir akan dikenai denda Rp 15 ribu per jam. Padahal para sopir tahu aturan itu tidak pernah tertulis dalam kontrak kerja mereka. Itu sebabnya, improvisasi pengurus pool dianggap tidak sesuai keputusan kantor pusat.

“Malah, yang kami tahu, uang setoran denda itu masuk kantong (pengurus pool) sendiri, bukan untuk mobil. Ya, jadi intinya mereka ini selalu mempersulit sopir,” ujar Toni kesal.

Ia menambahkan terkadang tindakan pengurus pool kelewatan, misalnya jika sopir kurang setorannya, kartu identitas pengemudi digantung atau surat izin jalannya tidak diberikan sehingga sopir tidak bisa narik.

Toni sebenarnya sempat beralih jadi menjadi sopir taksi online. Namun, karena dianggap tidak terlalu menguntungkan, Toni pun kembali memilih menjadi sopir taksi konvensional.

Untuk menyelamatkan bisnis Express, kini manajemen kembali mengeluarkan inovasi dengan terus bekerjasama dengan Uber. Express mencari pengemudi part time dengan konsep hybrid. Pengemudi tersebut bisa melayani penumpang dengan sistem online maupun konvensional. "Ini targetnya mahasiswa yang mungkin perlu uang tambahan dan mereka ingin menjadi driver online," kata Benny.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE