INVESTIGASI

Taksi Online, Sopir Tembak, dan Makin Sengitnya Persaingan

"Yang part time kayak saya ini ujung-ujungnya
jadi saingan sopir yang full time.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 10 Oktober 2017

Setelah menunggu beberapa saat, taksi online GrabCar yang kami pesan akhirnya tiba juga. Mobil Toyota Avanza seri terbaru berwarna putih, yang dikemudikan Yudi—bukan nama sebenarnya—mengantar kami dari Mal Senayan City, Jakarta Pusat, menuju kampus Bina Nusantara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Dalam perjalanan yang ditempuh kurang-lebih 40 menit pada Jumat, 6 Oktober 2017, malam itu, kami menanyakan beberapa hal kepada pria berusia 40 tahunan tersebut tentang pekerjaan sopir taksi online. Masih maniskah pendapatan layanan transportasi online ini?

Dari pengakuannya, Yudi sudah dua tahun jadi sopir taksi online. Tiga aplikasi taksi online dia ikuti, yaitu Grab, Go-Car, dan Uber. Namun bekerja sebagai sopir taksi online hanya sebagai sampingan, karena sehari-hari ia bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.

“Kalau Sabtu dan Minggu saya full time. Kan hari libur,” ujar pria tersebut dari balik kemudinya.

Menurutnya, jika narik 8 jam dalam sehari, sedikitnya ia bisa mendapatkan Rp 500 ribu bersih. Sedangkan kalau narik setelah pulang kerja, paling tidak Rp 200-300 ribu masuk ke kantongnya.

Aplikasi GrabCar yang dimiliki mitra pengemudi.   
Foto: Rachman Haryanto/detikcom

Namun sekarang ia agak cemas dengan makin banyaknya orang yang berminat menjadi sopir angkutan online. Sebab, persaingan menjadi semakin sengit. Dalam sebulan belakangan, ia mengaku lebih banyak ngetem dibanding membawa penumpang. “Yang part time kayak saya ini ujung-ujungnya jadi saingan sopir yang full time juga kan jadinya sekarang,” ujarnya.

Selain itu, jalanan di Jakarta jadi semakin macet gara-gara banyak pengemudi taksi online yang menyerbu untuk mengantar dan mencari penumpang. Banyak orang nekat ambil kredit mobil dan sepeda motor untuk ikut bisnis ini. Bahkan Grab menyediakan fasilitas kredit untuk mitra pengemudinya.

Karena mengikuti beberapa penyedia aplikasi, Yudi jadi bisa membandingkan kelebihan dan kelemahan masing-masing taksi online yang mengaspal di Indonesia. Uber misalnya. Pemesan taksi perusahaan asal San Francisco, California, Amerika Serikat, itu kebanyakan kalangan menengah ke atas karena pembayaran harus menggunakan kartu kredit.

Tarif bisa berubah-ubah berdasarkan jarak dan kondisi kepadatan lalu lintas. Namun sopir Uber tidak pernah tahu ke mana tujuan penumpang pada saat mendapatkan order. Karena itu, bisa saja wilayah jelajahnya tak terbayang jauhnya. Bisa saja dari Kebon Jeruk, Jakarta Barat, ke Bekasi atau lebih jauh lagi.

“Kalau buat sampingan, nggak ngejar karena bisa makan waktu berjam-jam kalau jarak jauh,” kata dia. Kelemahan lain Uber, belum ada customer service-nya, sehingga sulit untuk komunikasi lantaran hanya mengandalkan e-mail.

Ilustrasi
Foto: Safir Makki/CNN Indonesia

Beda lagi dengan Grab. Perusahaan asal negeri jiran Singapura itu dianggap lebih menyenangkan bagi sopir. Sebab, selain ada uang insentif, ada jaminan tarifnya. Sopir bisa tahu ke mana tujuan penumpang. Namun kepastian harga juga terkadang bisa bikin tekor sopir jika rute yang dilalui mengalami kemacetan parah. Sopir akan tekor di bahan bakar minyak.

Pernah suatu ketika Yudi mengantar penumpang dari Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, ke Bekasi hingga memakan waktu dua jam karena macet luar biasa. Tarifnya hanya Rp 85 ribu. “Mending dikasih tip. Penumpangnya cuma bilang terima kasih. Ya, bensin kita ‘bocor’-lah karena macet,” ucapnya.

Meski begitu, kasus tekor di bensin karena tarif flat di Grab diakuinya sangat jarang terjadi, sehingga masih banyak orang yang mendaftar jadi sopir Grab. Hanya, mendaftar menjadi sopir Grab saat ini relatif sulit karena mobil mitra harus melewati proses pengujian kendaraan bermotor alias kir di dinas perhubungan.

“Sebenarnya kalau nggak kir bisa-bisa saja. Tapi kadang manajemen suka menggertak, ‘Harus kir! Harus gini, harus gini,’” ujarnya.

Untuk menjadi sopir taksi Grab, calon mitra harus membeli top-up point minimal Rp 50 ribu, yang bisa dibeli di salah satu minimarket. Dari poin itu nanti manajemen akan memotong 20 persen dari poin yang dibayarkan penumpang. Misalnya penumpang membeli poin Rp 100 ribu, sopir akan mendapat Rp 80 ribu. Sisanya diambil perusahaan.

Uji kir taksi online
Foto: Noval/detikcom

Namun sejumlah sopir Grab mengeluh karena manajemen sedang menerapkan tarif promo. Soalnya, terkadang pembayaran promo tidak didapatkan secara penuh.

“Kadang nih ada yang nggak dibayarin. Dari 12, cuma 10 yang dibayarin. Dua lagi mereka bilang aplikasinya erorlah, apalah. Jadi nggak dibayarin,” ujarnya kesal.

Dia juga mengungkapkan, banyak pula sopir Grab yang merupakan sopir tembak karena menggunakan akun milik orang lain. Hal ini terjadi karena ketatnya perekrutan sopir Grab. Penjualan akun ini dilakukan oleh pemilik yang sedang malas narik atau alasan lain. Lumayan, satu akun bisa dijual Rp 500-700 ribu. Jangan heran jika saat penumpang memesan Grab yang menjadi sopirnya berbeda dengan yang muncul pada aplikasi.

Sekalipun bisa mendapat uang yang lumayan dengan jadi sopir taksi online, para sopir disarankan siap mental dalam menghadapi penumpang. Kadang banyak penumpang yang meminta buru-buru sampai ke tujuan dengan melanggar aturan lalu lintas. Jika sedang apes karena ada polisi yang berjaga, sopir pasti kena denda tilang. Sedangkan si penumpang diam seribu bahasa.

Yudi pernah mengalami hal itu pada suatu hari. Karena ulah si penumpang, ia terkena tilang hingga Rp 400 ribu. Karena kesal, ia pun menurunkan si penumpang di tengah jalan dan rela tidak dibayar.

Razia transportasi online di Bandung, 10 Oktober 2017 
Foto: Muhklis Dinillah/detikcom

Ada pula pengalaman tidak mengenakkan karena penumpang seenaknya membatalkan pesanan. Padahal ia sudah berjibaku melewati kemacetan untuk mencapai lokasi si pemesan. “Pokoknya banyak suka-dukanya. Sukanya banyak kenalan dan dukanya sering dikeselin sama ulah penumpang,” begitu kata Yudi.

Kendati persaingan semakin ketat, taksi online rupanya masih diburu para pendatang baru. Sebut saja Didin—bukan nama sebenarnya—yang baru dua hari mendaftar jadi mitra Grab. Didin mengundurkan diri dari tempatnya bekerja untuk berkumpul dengan keluarganya di Jakarta. Dia pun akhirnya menjajal peruntungan dengan menjadi sopir taksi online karena pendapatan yang dinilainya masih menjanjikan.

“Mau usaha nggak punya modal. Modalnya hanya mobil ini. Makanya saya mencoba nge-Grab,” ujarnya kepada detikX.

Dimintai konfirmasi terpisah, Marketing Director Grab Indonesia Mediko Azwar mengatakan Grab bukanlah operator layanan transportasi dan tidak punya kendaraan atau armada apa pun. Grab bekerja sama dengan perusahaan penyedia transportasi independen dengan berbagai layanan, seperti GrabCar, GrabBike, dan GrabTaxi.

Saat ini, Grab bermitra dengan 1,9 juta pengemudi di Asia Tenggara. Namun Mediko menolak memberikan perincian jumlah mitra pengemudi Grab itu, termasuk yang ada di Indonesia. Begitu pula dengan jumlah kendaraan Grab yang telah menjalani uji kir di dinas perhubungan. “Kami sarankan untuk menanyakan langsung ke pihak dishub untuk data yang lebih akurat,” katanya.


Reporter: Ratu Ghea Yurisa
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE