INVESTIGASI

BRIMOB BERONDONG BRIMOB

Video Call Terakhir Brigadir Budi

“Kita sudah ikhlas. Ini sudah suratan takdir. Kita serahkan semua kepada Allah SWT.”

Ilustrasi : Edi Wahyono
Foto-foto: Arif Syaefudin/Blora

Kamis, 12 Oktober 2017

Kasus penembakan yang menewaskan tiga anggota Kompi C Subdetasemen IV Satuan Brimob Polda Jawa Tengah di ladang minyak yang dikelola PT Pertamina EP dan mitranya, PT Sarana GSS Trembul di Desa Karangtengah, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, masih diselimuti tanda tanya.

Dua personel Brimob, Brigadir Budi Wibowo dan Brigadir Ahmad Supriyono, tewas. Bripka Bambang Tejo Wahono, yang diduga memberondong kedua rekannya itu dengan senapan AK-101, diduga menyusul bunuh diri di tempat kejadian perkara.

Tak banyak keterangan yang bisa diungkap dari peristiwa tragis pada Selasa, 10 Oktober 2017, sekitar pukul 18.30 WIB itu. Dua hari setelah kejadian, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkap investigasi yang telah dilakukan. Untuk sementara, disimpulkan kejadian itu dipicu stres karena utang, namun siapa yang terbelit uang tak diungkapkan.

Yang jelas, dukacita menyelimuti seluruh keluarga korban. Bahkan sebagian tak percaya atas apa yang menimpa ketiga personel Brimob itu. Pihak keluarga juga belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara ketiga korban.

Bripka Bambang tercatat bertempat tinggal di Jalan Mustika II No 35 RT 02 RW 04, Kelurahan Kunden, Kecamatan Kota Blora. Bambang, yang sudah dimakamkan di kampung halamannya di Desa Jetis pada Rabu, 11 Oktober, meninggalkan seorang istri dan dua anak yang masih duduk di bangku SD dan PAUD.

Pemakaman Bripka Bambang Tejo yang dijaga ketat polisi

Bambang dikenal sebagai pribadi yang sopan dan baik. Tetapi ia memang jarang berkomunikasi dengan keluarga besarnya. Bahkan penugasannya untuk pengamanan di sumur minyak SGT-1, Karangtengah, tak diketahui keluarganya. “Orangnya baik, kok. Sopan juga terhadap anggota keluarga lainnya,” ujar kakak ipar Bambang, Mulyono, saat menunggu autopsi jenazah Bambang di Rumah Sakit Umum Daerah Dr R Soetijono, Blora, Rabu, 11 Oktober.

Menurut Mulyono, keluarga selama ini hanya tahu Bambang sehari-hari tinggal di asrama Kompi C Subden IV Satuan Brimob Polda Jawa Tengah di Pati. Bambang sendiri masuk Brimob pada 2003.

Saat awal bergabung di kesatuannya itu, Bambang sering bercerita pengalaman bertugasnya, termasuk saat bertugas menumpas Gerakan Aceh Merdeka di Aceh pada 2003. Juga saat ikut menangani tsunami di Aceh pada 2004.

“Belakangan ini tak pernah cerita. Saya justru baru tahu dia ditugaskan di Blora, ya, karena insiden ini,” Mulyono menambahkan.

Sementara itu, jenazah Brigadir Budi Wibowo dan Brigadir Ahmad Supriyono dimakamkan di kampung halaman masing-masing secara militer. Budi dimakamkan di Desa Sugiharjo, Kecamatan Gabus, Pati. Pemakaman langsung dihadiri Kepala Satuan Brimob Polda Jawa Tengah Kombes Anis Victor Brugman, juga sejumlah polisi jajaran Polres Pati.

Suasana Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blora ketika jenazah tiga personel Brimob diautopsi.

“Kita sudah ikhlas. Ini sudah suratan takdir. Kita serahkan semua kepada Allah SWT,” tutur Purwanto, kakak sepupu Budi.

Purwanto mengatakan, pihak keluarga tidak bisa memberikan keterangan soal insiden yang terjadi karena sudah ditangani Polda Jawa Tengah. Budi, tuturnya, selama ini dikenal cukup baik di lingkungan keluarga dan tetangga.

Ia sendiri mengaku bertemu terakhir kali dengan sepupunya itu pada Senin, 9 Oktober, ketika akan berangkat bertugas ke Blora. “Sehari sebelum kejadian, jam setengah enam, dia sempat menelepon istrinya, Dina, melalui video call,” ujar Purwanto.

Sedangkan jenazah Ahmad pada hari yang sama dimakamkan di kampung halamannya, Dukuh Tingalsari RT 01 RW 03, Desa Pidodo, Kecamatan Karangtengah, Demak. Proses kedatangan jenazah di rumah duka hingga pemakaman dijaga ketat aparat kepolisian dan tidak boleh diliput media.

Sejumlah kendaraan yang diperkirakan milik para pelayat terparkir di sisi jalan Desa Boyo, Kecamatan Karangtengah. Untuk menuju rumah duka, dari Desa Boyo pelayat harus melintasi jembatan sekitar 50 meter dengan berjalan kaki. Jembatan tersebut hanya dapat dilalui sepeda motor. Sedangkan kendaraan roda empat harus melalui jembatan lain yang berjarak 500 meter ke utara dari jembatan pertama.

Pos keamanan sumur SGT-01 Blok Trembul.

Aparat kepolisian berjaga di setiap akses menuju rumah duka. Bahkan pengguna jalan umum untuk sementara tidak diperbolehkan masuk. Jarak jembatan menuju rumah duka masih sekitar 1 kilometer, sehingga jarak pantau dari Desa Boyo terhalang tanggul Sungai Cabean.

Komisi Kepolisian Nasional menekankan pentingnya semua anggota Polri yang diberi kewenangan membawa senjata api untuk tetap berpedoman pada Peraturan Kapolri Nomor 08 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar HAM dalam Penyelenggaraan Tugas Polri. Pasal 9 tentang penggunaan senjata api menyebutkan, dalam menerapkan tugas pelayanan dan perlindungan terhadap warga masyarakat, setiap anggota Polri wajib memperhatikan asas legalitas, proporsionalitas, dan nesesitas, sehingga tak terjadi kesewenang-wenangan.

“Kompolnas masih menunggu hasil investigasi Polda Jawa tengah, kita menunggu hasil itu,” kata anggota Kompolnas, Poengky Indarti, kepada detikX.

Menurut Tito, penggunaan senjata api dan setiap peluru yang keluar ada pertanggungjawabannya. Salah satu tata cara peminjaman harus melalui tes psikologi, sesuai dengan prinsip yang dianut di dalam negeri maupun internasional.

“Kalau ada kita temukan pelanggaran dalam tata cara peminjaman senjata api, termasuk pembinaan pengawasan satuan pimpinan yang bersangkutan, kita memiliki aturan sanksi cukup tegas,” ujar Tito.

Pascapenembakan dan bunuh diri anggota Brimob, PT Pertamina EP terus melanjutkan aktivitas pengeboran sumur minyak. Aktivitas pengeboran dimulai lagi pada Rabu, 11 Oktober, pukul 14.30 WIB.

Juru bicara PT Pertamina EP, Pandjie Galih Anoraga, mengakui insiden tersebut sempat mempengaruhi kinerja di lingkungan proyek, khususnya di SGT-1.

Pengamanan di lokasi proyek masih akan melibatkan personel Brimob. Warga yang berada di sekitar lahan proyek juga diminta tetap tenang. “Kerja sama dengan pihak keamanan tentu tetap dilakukan, karena ini merupakan obyek vital nasional,” kata Pandjie kepada detikX.


Reporter: Arif Syaefudin (Blora), Angling Adhitya Purbaya (Semarang)
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE