INVESTIGASI

Metamorfosis
Tommy Soeharto

“Jika dibentuk Keluarga Cendana, (partai) tidak punya peluang. Nasibnya akan sama dengan partai yang dulu dibentuk Mbak Tutut.”

Ilustrasi: Nadia Permatasari

Jumat, 20 Oktober 2017

Hutomo Mandala Putra, putra presiden kedua RI Soeharto, kini semakin serius terjun ke dunia politik. Setelah gagal membawa Partai Nasional Republik (NasRep) menjadi peserta Pemilu 2014, kini Tommy Soeharto—sapaan akrab pemilik usaha Humpuss Group ini—membentuk Partai Berkarya, yang akan bertarung dalam pesta politik Pemilu 2019.

Parpol besutan mantan anggota Dewan Pembina Partai Golkar ini pun sudah mendapat tanda terima penyerahan berkas persyaratan pendaftaran parpol peserta pemilu dari Komisi Pemilihan Umum pada 18 Oktober 2017. KPU telah mengumumkan 14 partai politik yang memenuhi persyaratan pendaftaran peserta Pemilu 2019.

Partai tersebut adalah Partai Persatuan Indonesia, Partai Solidaritas Indonesia, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Nasional Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Gerakan Indonesia. Kemudian Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Garuda, dan Partai Berkarya.

Tinggal satu langkah lagi, apakah Berkarya akan lolos verifikasi faktual yang akan dilakukan KPU hingga 15 November mendatang. Partai Berkarya mengklaim telah memiliki kepengurusan di 34 provinsi dan 514 kepengurusan di tingkat kabupaten/kota.

Partai Berkarya, yang dibentuk pada 15 Juli 2016, telah disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M.NH-21.AH.11.01 Tahun 2016 pada 13 Oktober 2016. Dalam kepengurusan DPP Partai Berkarya periode 2016-2021, Tommy Soeharto menjabat Ketua Majelis Tinggi Partai sekaligus Ketua Dewan Pembina.

Partai Berkarya mendaftarkan diri sebagai peserta Pemilu 2019 di Kantor KPU, Jakarta, Jumat (13/10).
Foto: Lamhot Aritonang/detikcom

“Ya, alhamdulillah, kita sudah diterima dan Partai Berkarya sudah terdaftar untuk mengikuti tahapan berikutnya,” ujar Ketua Umum DPP Partai Berkarya Neneng A Tutty saat ditemui detikX di kantornya, Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, Rabu, 18 Oktober.

Neneng menceritakan, Partai Berkarya berawal dari Partai NasRep. Lalu ada permintaan dari Tommy untuk mengubah nama parpol tersebut. Mengenai lambang dan logo partai yang mirip dengan Golkar, yakni sama-sama menggunakan gambar pohon beringin, merupakan ide dan usulan Tommy Soeharto.

Hal senada diungkapkan Laksamana TNI (Purnawirawan) Tedjo Edhy Purdijatno, yang menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya. Ia mengatakan Tommy ingin melanjutkan ekonomi kerakyatan yang dulu dilakukan oleh Soeharto ketika membentuk Partai Golkar. Ia tak menampik kalau dikatakan lambang atau logo Partai Berkarya dan Golkar mirip, tapi ia menyebut tak serupa. Sama-sama menggunakan gambar pohon beringin dan rantai sebagai perlambang persatuan dan pengayom masyarakat.

“Tapi kita tidak ada hubungan dengan Golkar. Penempatan visi dan misinya beda. Kita mengambil sesuatu yang punya makna menurut cita-cita Tommy Soeharto ini. Itu saja,” tutur Tedjo kepada detikX di Gedung Granadi, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 18 Oktober.

Tedjo menegaskan Partai Berkarya dibentuk bukan untuk mengembalikan citra kejayaan Orde Baru. Begitu pula dengan upaya sejumlah kalangan yang menginginkan adanya penghargaan kepada Soeharto. Apa yang dilakukan Partai Berkarya tak lebih sama dengan yang dilakukan PDI Perjuangan, yang terus menghidupkan cita-cita Presiden Sukarno.

Tommy Soeharto
Foto : Istimewa

Neneng A. Tutty
Foto : Dok. Berkarya

“Sekarang PDI Perjuangan kan bukan Orde Lama. Walau dia ajarannya Sukarno dipakai, kan dia bukan Orde Lama. Nah, itu sama. Jadi begitu,” ucap Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan pada era Presiden Joko Widodo ini.

Neneng tak memungkiri adanya keinginan banyak orang agar Soeharto diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Tapi ia mengembalikan itu kepada masyarakat yang nanti akan menilainya. Sebenarnya apa yang dilakukan Soeharto saat memimpin negara ini juga melanjutkan pembangunan yang dilakukan Sukarno. Namun pembangunan yang dilakukan Soeharto terhenti sejak gerakan Reformasi muncul pada 1998.

“Pak Tommy ingin mengembalikan kejayaan dalam ekonomi kerakyatan dan terus membantu pemerintah. Nanti melihat siapa saja yang presidennya itu jelas,” imbuh Neneng.

Partai Berkarya, menurut Neneng, juga belum mau terburu-buru untuk memunculkan nama tokoh yang bakal diusung sebagai bakal calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2019. Yang jelas, pihaknya tengah mempersiapkan tahapan verifikasi faktual. “Nanti, itu belum. Kita masih konsentrasi ke verifikasi faktual itu dulu,” ujarnya.

Laksama TNI (Purnawirawan) Tedjo Edhy
Foto : Gresnia Arela F/detikX

Ketika ditanya apa target partainya pada Pemilu 2019, “Kita pasti yang terbaiklah. Nggak muluk-muluk, tiga besar saja cukuplah,” jawab Neneng sambil tertawa.

Menurut Neneng dan Tedjo, hingga saat ini tak ada Keluarga Cendana lainnya yang bergabung ke Partai Berkarya. Tapi partai membuka diri bila ada anggota Keluarga Cendana lain yang akan masuk. Keluarga Cendana sendiri bebas memilih masuk partai politik mana saja.

“Kan banyak, ada 14 partai politik, tinggal pilih mau yang mana. Kan sekarang ada Mbak Titiek di Golkar, Tommy di Berkarya, masing-masing terserah. Kalau nanti muncul Mbak Mamiek, ya monggo. Itu hak setiap orang yang ingin berpolitik,” Tedjo menambahkan.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Syamsuddin Haris memprediksi Partai Berkarya sulit berkembang. Alasannya adalah sosok sang pendirinya serta masih adanya ingatan masyarakat Indonesia terhadap keburukan Orde Baru yang otoriter dan represif.

“Jika dibentuk Keluarga Cendana, (partai) tidak punya peluang. Nasibnya akan sama dengan partai yang dulu dibentuk Mbak Tutut (Siti Hardijanti Rukmana) dulu (Partai Karya Peduli Bangsa),” ujar Syamsuddin kepada detikX.

Berbeda dengan Partai Gerindra, yang mampu eksis walau dibentuk menantu Soeharto, Prabowo Subianto. Bagaimanapun, Prabowo adalah orang luar Cendana. “Kedua, karena Prabowo sendiri sudah jadi figur publik ketika maju sebagai cawapres dan capres,” ujar Syamsudin.


Reporter: Gresnia Arela F, Ratu Ghea Yurisa, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE