INVESTIGASI

Mengapa Jenderal Gatot ‘Ditolak’ Amerika?

Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika mengatakan ada masalah ‘protokol keamanan’ yang belum tuntas. Apa yang sebenarnya terjadi?

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 26 Oktober 2017

“Bila tuntutan kami tak direspons, kami minta Duta Besar Amerika Serikat keluar dari Indonesia!” seorang demonstran berteriak lantang menggunakan pengeras suara di depan kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada Rabu siang kemarin. Tak jelas benar dari organisasi apa mereka.

Puluhan orang itu datang berduyun-duyun dan berjejer persis di seberang kantor Kedutaan AS dengan membawa bendera Merah-Putih dan membentangkan spanduk yang berisi kecaman kepada pihak pemerintah AS. Tuntutan mereka garang benar, meminta Duta Besar Amerika untuk Indonesia Joseph R Donovan segera angkat kaki dari Indonesia bila Presiden Donald Trump tak meminta maaf atas penolakan kedatangan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Dua hari sebelumnya, Senin, 23 Oktober 2017, di beberapa tempat di Jakarta, sempat terpasang sejumlah spanduk berisi kecaman serupa. Tak diketahui organisasi apa yang memasang spanduk tersebut. Salah satu spanduk dipasang tak jauh dari Markas Kostrad di Jalan Taman Pejambon, Jakarta Pusat, yang bertulisan 'Kami Tidak Takut Amerika, Bravo TNI !'. Di jembatan penyeberangan Dukuh Atas, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, spanduk menohok mata terpasang: 'Usir Dubes Amerika !!! Dari Bumi Pertiwi'. Pada hari itu juga, semua spanduk dicopot Satuan Polisi Pamong Praja Pemprov DKI Jakarta.

Kami tetap berkomitmen untuk menjaga kemitraan strategis dengan Indonesia."

Duta Besar Amerika untuk Indonesia, Joseph F Donovan

Panglima TNI Gatot Nurmantyo bersama Kepala Staf Gabungan Militer Amerika Serikat Joseph F Dunford Jr pada Februari 2016.
Foto: dok. Kementerian Pertahanan Amerika Serikat

Reaksi emosional yang tergambar di spanduk-spanduk ini merupakan buntut penolakan rombongan Panglima TNI Jenderal Gatot masuk ke Amerika Serikat. Padahal rombongan Jenderal Gatot pergi ke Amerika atas undangan sahabatnya, Kepala Staf Gabungan Jenderal Joseph F Dunford Jr, untuk menghadiri acara Chief of Defense Conference on Country Violent Extremist Organization (VEOs) di Washington, DC, pada 23-24 Oktober 2017. VEOs, yang diikuti 43 negara, akan membahas berbagai persoalan pertahanan negara dan strategi menghadapi serangan kelompok ekstremis, seperti Negara Islam alias ISIS.

Jenderal Gatot berencana berangkat ke Amerika didampingi istri, Enny Trimurti, juga Asisten Intelijen TNI Mayor Jenderal Benny Indra Pijihastono, Asisten Teritorial TNI Mayor Jenderal Wiyarto, Kepala Bagian Staf Intelijen serta sekretaris pribadi. Pada Sabtu petang, 21 Oktober lalu, mereka sudah siap terbang dari Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, dengan menggunakan pesawat Emirates menuju Washington, DC. Namun, saat hendak check in, rombongan Panglima TNI diberi tahu pihak Emirates bahwa mereka tak diperbolehkan memasuki wilayah Amerika Serikat. Padahal saat itu semua delegasi sudah mengantongi visa resmi dari pemerintah AS untuk menghadiri acara tersebut.

Mendengar kabar itu, rombongan Jenderal Gatot balik kanan, langsung pulang. “Kabar penolakan ini datangnya dari maskapai Emirates. Rombongan Panglima TNI tidak boleh memasuki wilayah AS oleh US Customs and Border Protection,” kata Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Wuryanto dalam keterangan persnya sehari setelah kejadian.

Memang penolakan pemerintah AS terhadap rombongan Panglima TNI tak membuat suasana gaduh atau heboh di Bandara Soekarno-Hatta. Bahkan pihak Angkasa Pura II tak mengetahui ada insiden tersebut. Angkasa Pura baru tahu setelah mendapat informasi dari maskapai penerbangan Emirates.


Spanduk kecaman atas penolakan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo masuk ke Amerika terpasang di Jakarta, Senin, 23 Oktober 2017.
Foto: dok. detikcom

“Kejadiannya nggak ramai, kok…. Memang terjadi ketika rombongan itu sudah mau berangkat. Setelah itu, rombongan meninggalkan terminal. Jadi nggak ada suatu yang ramai, nggak ada yang heboh,” juru bicara PT Angkasa Pura, Yado Yarismano, menuturkan kepada detikX. Angkasa Pura, menurut Yado, tak mengetahui alasan pembatalan keberangkatan Jenderal Gatot karena sudah ditangani oleh setiap maskapai penerbangan.

Kecewa dan kesal, Jenderal Gatot segera melaporkan kejadian itu kepada Presiden Joko Widodo, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, serta Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi. “Begitu saya tidak bisa berangkat, saya lapor kepada Presiden. Lapor ke Menko Polhukam dan Menteri Luar Negeri,” kata Gatot Nurmantyo kepada sejumlah wartawan di Istana Negara.

Pihak Emirates tak bisa menjelaskan secara detail soal penolakan itu. Alasannya, mereka tidak memiliki kewenangan membahas kasus penumpang secara individual dikarenakan alasan kerahasiaan. Maskapai asal Dubai, Uni Emirat Arab, itu juga tak berwenang menjelaskan keputusan yang dibuat pemerintah AS sehubungan dengan masalah visa dan keimigrasian. 

Lewat e-mail, US Customs and Border Protection (CBP) menyampaikan bahwa Kedutaan Amerika di Jakarta telah menyampaikan kepada Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, keberangkatannya ke Amerika akan mengalami penundaan karena masalah protokol. CBP pun sudah berusaha menyampaikan hal itu kepada penumpang pesawat sebelum tiba di bandara.

“Sayangnya, Jenderal Gatot sudah keburu ditolak untuk boarding,” kata juru bicara CBP, Daniel Hetlage, kepada detikX. Menurut Hetlage, masalah itu segara ditindaklanjuti dengan koordinasi antara pihak Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, CBP, Kedubes AS di Jakarta, dan pihak lainnya. Rombongan Panglima TNI sendiri sudah dipesankan tiket pesawat lain untuk berangkat ke Amerika.

Jenderal Gatot Nurmantyo saat menenuhi undangan Jenderal Dunford pada Februari 2016 di Pentagon.
Foto: dok. Kementerian Pertahanan Amerika Serikat

Tawaran itu sudah telat. Jenderal Gatot Nurmantyo bersama rombongan telah mengurungkan niat berangkat ke Amerika. Hingga kini, pihak CBP tak secara gamblang menjelaskan masalah protokol apa sehingga terjadi penolakan itu. Padahal Gatot Nurmantyo sudah beberapa kali melakukan perjalanan dinas ke Negeri Paman Sam.

Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika, seperti dikutip Reuters, hanya menyebut ada masalah ‘protokol keamanan’ yang belum tuntas. Masalah ‘protokol keamanan’ ini belum terselesaikan juga hingga rombongan Jenderal Gatot tiba di Bandara Soekarno-Hatta dan siap masuk ke pesawat.

“Saya tak bisa memberitahukan protokol apa yang menyebabkan Jenderal Gatot gagal terbang ke AS. Soalnya, ada 400 undang-undang dan 44 agensi yang berbeda menangani 1,6 juta orang yang akan pergi ke AS setiap harinya,” jelas Hetlage lagi.

Dalam laman resmi Kedutaan Besar AS, Duta Besar Joseph F Donovan telah meminta maaf kepada Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi atas ketidaknyamanan yang dialami Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. Kedubes AS pun menyatakan akan memfasilitasi keberangkatan Gatot ke AS. “Kami tetap berkomitmen untuk menjaga kemitraan strategis dengan Indonesia sebagai upaya menjamin keamanan dan kesejahteraan bagi masyarakat kedua negara,” kata Duta Besar Joseph dalam pernyataannya itu.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS James Mattis kepada koleganya, Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu, menyampaikan pihaknya akan melakukan investigasi mendalam atas penolakan terhadap Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. Mattis di sela-sela acara ASEAN Defense Ministers Meeting (ADMM)-Plus di Clark, Filipina, Rabu, 25 Oktober 2017, sekaligus meminta maaf atas insiden itu kepada Ryamizard Ryacudu. “Ya, Menhan AS menyampaikan, masalah kasus gagalnya keberangkatan Panglima TNI ke AS sedang diinvestigasi,” kata Ryamizard dalam keterangan pers yang diterima detikX.


Reporter: Gresnia Arela F, Ratu Ghea Yurisa
Redaktur: M Rizal
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE