INVESTIGASI

Yang Plus-plus
Setelah Alexis

Setelah Alexis mati, masih banyak tempat ‘plus-plus’ yang beroperasi. Inilah hasil penelusuran tim detikX.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 07 November 2017

Formasi hari itu sangat lengkap: Camat Sawah Besar Martua Sitorus, Wakil Kepala Polsek Sawah Besar Ajun Komisaris Margiono, Komandan Koramil Sawah Besar Mayor Galuh Sumantri, dan Lurah Gunung Sahari Utara Trisno Mulyono. Kamis sore hari pekan lalu itu, mereka beramai-ramai mendatangi Hotel Classic di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Jika para laki-laki menghendaki hiburan malam yang ‘berkeringat’, Hotel Classic, Hotel Fashion, dan Hotel Alexis adalah beberapa nama yang sering jadi rujukan di Jakarta. Tentu saja masih banyak tempat lain. Dua tahun lalu, tim dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menggelandang 18 perempuan penghibur yang bekerja di Hotel Classic dan Hotel Travel.

Camat Martua dan rombongan, yang datang saat masih terang tanah, hendak memastikan tak ada kegiatan prostitusi di Hotel Classic dan dua hotel lain di wilayahnya, Hotel Orchard dan Hotel Fashion. Tiba di Hotel Classic, mereka segera menuju lantai 3 untuk memeriksa kamar-kamar. Tak menjumpai apa pun, Martua lanjut melongok ruang-ruang karaoke di lantai 6. Lantai ini, menurut penuturan manajemen hotel, sudah beberapa bulan ditutup.

“Sudah berapa lama ditutup? Mengapa ditutup?” Camat Martua, dikutip detikcom, bertanya. "Sudah tidak digunakan sejak delapan bulan lalu. Ada 50 lebih kamar sudah nggak beroperasi. Eskalator sudah dua bulan nggak jalan, supaya karyawan tertutupi kebutuhannya," Dan Dachmat, General Manager Hotel Classic, menjelaskan.

‘Inspeksi mendadak’ ala Camat Martua tak menemukan hal ‘tak biasa’ di Hotel Classic maupun Hotel Orchard dan Hotel Fashion. "Ya, setelah kita lihat bersama, memang griya pijat ini masih melaksanakan ketentuan sesuai dengan aturan yang ada. Walaupun demikian, kami tetap mengingatkan, jangan sampai ada yang terselubung dalam griya pijat," ujar Camat Martua. Apakah benar tak ada sesuatu yang ‘terselubung’ di Hotel Classic, Orchard, hotel-hotel lain dan griya pijat di Jakarta?

Razia tempat hiburan malam di Jakarta.
Foto : Istimewa

Kami tak menginginkan Jakarta menjadi kota yang membiarkan praktik prostitusi,”

Gubernur DKI Jakarta Anies R. Baswedan

Tim detikX mengunjungi beberapa tempat, membuktikan bahwa Hotel Alexis memang bukan satu-satunya yang menyediakan layanan ‘plus-plus’. Keputusan Pemerintah Provinsi Jakarta menyengat para pengelola hiburan malam yang bertebaran di Jakarta yang juga menyajikan layanan seperti yang dituduhkan terhadap Alexis. Setelah Alexis tamat, di beberapa tempat hiburan ‘plus’, pengelola mulai ‘siaga satu’, bahkan ada yang sampai ‘tiarap’.

Saat detikX menyambangi King Cross beberapa hari lalu, suasana ‘siaga’ itu sudah terasa sejak pintu depan hotel yang berada di Kompleks Kokan Permata Blok E38- 42, Jalan Boulevard Bukit Gading Raya, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, itu. Beberapa pria berbadan tegap mengenakan pakaian batik dan safari hitam mengawasi setiap tamu satu per satu yang melewati pintu.

Setiap tamu yang masuk, setelah melewati pintu pemeriksaan metal detector, akan digeledah secara fisik dengan diraba tubuhnya. Alasannya, menghindari tamu membawa senjata tajam atau senjata api. Di meja resepsionis, setiap tamu mendapatkan selembar kartu berwarna hitam yang tertulis empat angka bertinta emas.

Kartu itu berfungsi sebagai pengganti identitas tamu. Jika ingin memesan makanan, minuman, atau fasilitas lain, pengunjung cukup menunjukkan kartu itu dan pelayan akan mencatat nomor yang tertera pada kartu. Begitu mendapatkan kartu, kami masuk ke lounge seukuran tiga kali lapangan basket yang berada di lantai pertama atau lantai G. Ada puluhan meja dan kursi, enam meja biliar, serta sofa panjang berwarna cokelat di sisi kanan dan kiri ruangan

Nah, di sofa-sofa itulah duduk berjajar perempuan cantik dibalut pakaian seksi. “Kalau mau lihat-lihat dulu, silakan, Pak. Nanti kalau sudah ketemu, panggil saya saja,” ujar seorang perempuan berkulit putih berusia 40-an sambil menyodorkan tisu bertuliskan namanya. Tak berapa lama, datanglah Maya menghampiri. Gayanya sedikit canggung dan irit bicara.

Ditjen Imigrasi Kemkumham menangkap ratusan orang asing dalam operasi pengawasan orang asing yang dilaksanakan pada 30-31 Desember 2016 di sejumlah tempat hiburan malam yang diduga memfasilitasi kegiatan ilegal.
Foto: Agung Pambudhy

Maya, bukan nama sebenarnya, salah satu guest relations officer di Hotel & Club King Cross, menuturkan mereka memang sedang ‘siaga’. Pihak manajemen, kata Maya, sudah memberikan arahan bahwa hanya tamu yang sudah dikenal yang mendapatkan pelayanan ‘seperti biasa’. “Sekarang saya takut, Mas. Kali aja yang datang cepu, informan…. Kami sekarang lagi was-was gara-gara kasus Alexis,” ujar Maya mengeluh.

Tamu-tamu yang wajahnya asing bagi mereka akan diawasi oleh petugas keamanan berpakaian hitam yang berdiri di sekitar mejanya. Lantaran terus dibayangi petugas, detikX tak bisa mengambil gambar dalam ruangan. Untuk menghilangkan kecurigaan, reporter detikX meminta Maya memanggil ‘anak buah’-nya. Tak lama, datang dua perempuan. Linda berasal dari Subang, Jawa Barat, dan Sandra, dari negeri seberang Vietnam. Keduanya tentu bukan nama sebenarnya.

Seorang pelayan berbisik, tarif sekali berkencan dengan perempuan lokal Rp 900 ribu. Sementara untuk perempuan dari negeri seberang, tarifnya hampir dua kali lipatnya, Rp 1,7 juta. Kalau berminat ‘ditemani’ penari yang meliuk-liuk di atas panggung, siapkan saja Rp 1,6 juta.

Maya mengajak tim detikX ke ruang karaoke di lantai 1. Ternyata room karaoke yang terdapat di King Cross tidak seperti ruang karaoke pada umumnya. Sebab, di ruang karaoke itu, selain terdapat perangkat alat karaoke dan televisi layar datar berukuran 90 inci, dilengkapi toilet serta kamar tidur layaknya sebuah kamar hotel. “Di sini saja, Mas. Jadi, kalau ada operasi, kami bisa beralasan bahwa tamu datang untuk berkaraoke, bukan untuk ‘main’,” Maya menjelaskan.

Rupanya bukan hanya manajemen yang was-was setelah Alexis dipaksa tutup, para perempuan penghibur di King Cross juga ikut cemas. “Banyak teman yang nggak masuk karena takut. Kalau yang masuk kerja seperti saya, pilih-pilih tamu,” kata Linda. Dia sudah setahun bekerja di King Cross.

Sebanyak 20 WNA terjaring operasi petugas imigrasi. Mereka diamankan dari tempat hiburan malam dan hunian kos di Jakarta Barat.
Foto : Agung Pambudhy

Gina, salah satu anggota staf di King Cross, membantah kabar adanya praktik prostitusi di tempat mereka. “Di sini cuma ada terapis spa dan yang nemenin karaoke,” tuturnya. Dia menolak menghubungkan reporter detikX dengan manajer King Cross. Menurut dia, ada tiga manajer di hotel itu. Dan untuk bertemu, harus ada janji.

* * *

Poverty, the mother of manhood. Also, the mother of prostitution.
Lucan

Dari hotel-hotel bintang hingga kelas kios, dari Alexis hingga gubuk-gubuk reot di pinggir rel kereta api, dari Jakarta Utara, hingga Jakarta Selatan, bahkan hingga ke wilayah-wilayah pinggiran, ada pelacuran dengan rupa-rupa kedok. Entah hotel, entah griya pijat, karaoke, entah salon kecantikan.

Tak jauh dari Hotel King Cross, ada Sumo Hotel & Spa. Ada empat lantai di Sumo. Di lantai pertama atau G terdapat area spa, sauna, whirlpool, ginger steam, dan gymnasium. Di lantai kedua terdapat lounge berukuran sekitar dua kali lapangan bulu tangkis. Di lounge inilah pelanggan bisa melihat perempuan-perempuan molek dan berbusana seksi duduk berderet di sofa. Tarif berkencan di Sumo kurang-lebih sama dengan di King Cross, Rp 900 ribu, belum termasuk ongkos kamar.

Dari Kelapa Gading, tim detikX menyusuri daerah Mangga Besar, kawasan di Jakarta Barat, yang kondang dengan ‘wisata remang-remang’. Persis di depan Hotel Travel, Jalan Mangga Besar VIII, reporter detikX bertanya kepada tukang parkir, apakah ada perempuan di Hotel Travel yang bisa menjadi teman kencan.

“Ada banyak, memang di situ tempatnya. Cakep-cakep dan muda-muda, Bos…. Naik saja ke lantai spa, itu surga bener,” kata dia dengan gaya berpromosi. Saat kami masuk, tanpa banyak bertanya, resepsionis Hotel Travel menyodorkan gelang. Di dalam lounge, hanya ada beberapa gelintir pengunjung ditemani perempuan sedang menikmati musik.

Medika Bar & Massage
Foto : Tim detik X

Tak ada yang menghampiri menawarkan jasa berkencan. Saat detikX menghampiri resepsionis, seorang perempuan langsung melontarkan pertanyaan. “Mau pijat?” Dengan terang-terangan kami bertanya, “Ada plus-plusnya?” Perempuan itu kontan menyergah. “Maksudnya apa? Kami tidak menyediakan yang plus-plus. Hanya ada pijat. Mau nggak?” Kami pun ngeloyor keluar. Rupanya, kata tukang parkir, pengelola Hotel Travel sedang ‘tiarap’.

Ada yang tiarap, tapi ada pula yang jalan terus. Terselip di deretan rumah-toko di daerah Grogol, Jakarta Barat, ada New Medika. Diskotek dan karaoke ini terang-terangan menyediakan jasa ‘plus-plus’. Namun Dedi, karyawan bagian informasi New Medika, terus berkelit saat ditanya soal bisnisnya yang lain itu. “Waduh, manajemen nggak di sini, Pak…. Nanti saya informasikan saja, ya,” kata Dedi.

Hari sudah larut malam saat tim detikX tiba di Medika beberapa hari lalu. Di pintu masuk, petugas keamanan memeriksa dengan sangat teliti semua barang bawaan. Tas besar wajib dititipkan. Begitu badan menyentuh sofa dan minuman datang, seorang laki-laki menghampiri. “Mau cewek, Bos?” dia bertanya sembari mendekatkan mulutnya ke telinga. Di belakang, musik berdentum kencang dan asap rokok mengepul membuat ruangan seperti berkabut. Merasa kami kurang antusias menanggapi, dia segera angkat kaki.

Tak berapa lama, seorang perempuan paruh baya menghampiri dan, tanpa ditawari lagi, duduk di samping kami serta memperkenalkan diri. Namanya Uci. “Mau ya ditemenin cewek?” Uci bertanya tanpa basa-basi lagi. Dia menjelaskan hanya ada dua kategori tarif kencan di Medika, Rp 360 ribu dan Rp 380 ribu. Tak jelas benar apa pula bedanya.

Hanya terpisahkan oleh lorong, ada bar yang agak tersembunyi. Di ruangan itulah sekitar 40 perempuan duduk berjejer. “Silakan dipilih saja,” kata Uci. Setelah seorang perempuan dipilih dan pembayaran dituntaskan, kasir menyodorkan dua buah kondom.

Perempuan itu memperkenalkan namanya singkat saja: Cacha. Umur 23 tahun dari Karawang, Jawa Barat. “Saya nikah muda,” kata Cacha. Tak disangka, Cacha menuturkan, dia pernah mondok di pesantren. “Saya diajak teman yang duluan kerja di sini. Ceritanya panjanglah kayak kereta.” Malam makin tua, cerita Cacha entah akan berakhir di mana.


Tim DetikX

[Widget:Baca Juga]
SHARE