INVESTIGASI

Manuver Ketiga Airlangga

Airlangga bergerilya untuk menduduki kursi Ketua Umum Golkar. Target terpilih lewat aklamasi.

 Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 5 Desember 2017

Selain desakan kader Partai Golkar agar Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar menggelar musyawarah nasional luar biasa (munaslub), bergulir dukungan kepada politikus Golkar Airlangga Hartarto untuk menggantikan Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar. Airlangga kini menjabat Menteri Perindustrian di Kabinet Kerja.

Dukungan kepada Airlangga itu diklaim berasal dari 30 dewan pimpinan daerah (DPD) Golkar. Bahkan dikabarkan restu penuh juga datang dari Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Hal itu menyusul kedatangan Airlangga, 28 DPD Golkar, serta sejumlah pengurus DPP Golkar ke Istana Bogor, Jawa Barat, pekan lalu, untuk menemui Jokowi. Namun Airlangga tak banyak menjawab saat ditanya apakah pertemuan itu terkait dengan pencalonannya sebagai Ketua Umum Golkar.

Sedangkan juru bicara Presiden, Johan Budi SP, menyebut Airlangga meminta izin kepada Presiden untuk maju dalam pemilihan Ketua Umum Golkar dalam konteks Airlangga sebagai menteri pembantu Presiden.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
Foto : Abi Sarwanto/CNN Indonesia

“Karena itu, dia perlu izin dulu untuk running ke Ketum Golkar yang katanya akan ada munaslub,” ujar Johan Budi sambil mengatakan Jokowi tidak turut campur dalam urusan Golkar.

Silakan turun gunung, tapi semua sudah menghendaki aklamasi, supaya terhindar dari perpecahan dan perbedaan pendapat yang runcing.”

Ketua Generasi Muda Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia mengatakan kebutuhan Golkar saat ini bukan hanya soal pergantian pimpinan DPP, tapi juga adanya perubahan. Karena itu, munaslub diperlukan untuk menghasilkan sosok pemimpin yang kontras dengan Novanto.

Kepemimpinan Golkar ke depan harus bisa menempatkan partai sebagai pendukung pemerintah dan menjadikan parpol pertama yang mencalonkan Jokowi pada Pilpres 2019.

“Yang paling penting, kriteria utama pengganti Ketua Umum adalah orang yang bukan berpotensi bermasalah dengan hukum,” ujar Ahmad Doli ketika berbincang dengan detikX di Akbar Tandjung Institute, Jalan Perdatam, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Aburizal Bakrie
Foto : Grandyos Zafna/detikcom

Airlangga boleh dibilang sudah cukup lama berkecimpung di Golkar. Airlangga menjabat Wakil Bendahara Umum pada 2004-2009. Ia juga menjadi anggota DPR dari Golkar selama dua periode, 2004-2009 dan 2009-2014. Pengusaha itu juga sempat menjadi Ketua Umum BM Kosgoro 1957.

Dalam Musyawarah Nasional Golkar pada 2014, Airlangga mencalonkan diri sebagai ketua umum, bersaing dengan Aburizal Bakrie (Ical), yang mencalonkan lagi sebagai ketua umum. Ia pun bergerilya mendekati jajaran pengurus Golkar tingkat daerah.

Dalam munas yang digelar pada Desember 2014 di Bali itu, Airlangga mengungkapkan 40 persen surat dukungannya dibatalkan oleh munas. Ia pun menuding Ical telah mengembargo dukungan. Ia kemudian mengundurkan diri. Ical kembali menjadi Ketua Umum Golkar secara aklamasi.

Nama Airlangga sempat digadang-gadang menjadi calon ketua umum dalam Munaslub Golkar pada 2016. Namun munaslub itu akhirnya melahirkan Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar.

Seiring dengan dukungan Golkar terhadap pemerintahan Jokowi-JK, partai penguasa Orde Baru itu mendapatkan satu kursi di kabinet. Airlangga ditunjuk sebagai Menteri Perindustrian oleh Jokowi dalam reshuffle kabinet pada Juli 2016.

Presiden Jokowi
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Adapun Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Indonesia I DPP Partai Golkar Nusron Wahid mengatakan hampir semua tokoh di Golkar saat ini cocok dengan sosok Airlangga. Karena itu, dia memprediksi Airlangga juga bakal menjadi ketua umum secara aklamasi. 

“Ya, insyaallah, jalan menuju aklamasi mesti kita lalui supaya semua bisa legowo dan bisa menerima apa adanya,” tutur Nusron kepada detikX.

Nusron mempersilakan tokoh Golkar lainnya, seperti Idrus Marham, yang saat ini menjabat Pelaksana Tugas Ketua Umum Golkar dan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, untuk maju dalam perebutan kursi ketua umum. Juga kepada Aziz Syamsuddin, yang dikabarkan ikut mengincar jabatan puncak partai berlambang beringin tersebut.

“Silakan turun gunung, tapi semua sudah menghendaki aklamasi, supaya terhindar dari perpecahan dan perbedaan pendapat yang runcing,” ujarnya.

Ketua Umum Kosgoro 1957 Agung Laksono optimistis Airlangga bisa membawa Golkar jadi lebih baik. Airlangga dipercaya mampu membawa perolehan suara 60 persen kemenangan dalam pilkada yang akan dilakukan secara serentak pada 2018.

Agung Laksono
Foto : Nur Indah/detikcom

Airlangga sudah dua kali mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Golkar. Karena itu, menurut Agung, kemampuannya sudah sangat teruji untuk memimpin Golkar. “Kedua, kita tahu tidak ada hal yang dihadapi (Airlangga) dalam masalah hukum. Ini yang jadi dasar beliau bisa menjadi figur utama bagi partai yang membawa semangat antikorupsi,” ujarnya di kantor Pengurus Pusat Kolektif Kosgoro, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 2 Desember 2017.

Airlangga juga mendapat dukungan dari tiga ormas pendiri Partai Golkar, yaitu Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong, Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia, dan Kosgoro 1957. Akankah langkah Airlangga itu mulus?


Reporter/Penulis: Ibad D, Gresnia AF
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE