INVESTIGASI

Titiek Bernasib
Sama dengan Tommy?

Setelah Tommy, kini Titiek Soeharto ingin merebut kursi Ketua Umum Golkar. Ingin mengembalikan Golkar ke akarnya, Soeharto.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Rabu, 13 Desember 2017

Sepekan belakangan ini, Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto melakukan kunjungan yang tidak biasa. Politikus Partai Golkar tersebut bersafari mengunjungi mantan presiden Megawati Soekarnoputri serta Presiden Joko widodo.

Kedua kunjungan putri keempat Soeharto tersebut dilakukan bersama para pengurus Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI Polri (FKPPI). Di organisasi itu, Titiek duduk sebagai Wakil Ketua Umum.

Meski begitu, Titiek menyebut tidak terselip kepentingan politik dalam kunjungan tersebut, melainkan hanya untuk mengundang Jokowi dan Megawati untuk menghadiri kegiatan tahunan FKPPI. “Ini kami datang dari FKPPI, saya Wakil Ketua Umum. Ada Pak Ponco, Ketua Umum. Kemudian audiensi dengan Pak Presiden untuk mengundang beliau buat pelantikan pada 11 Agustus," begitu kata Titiek.

Tapi beberapa hari setelah pertemuan tersebut, santer terdengar Titiek bakal ikut merebut kursi Ketua Umum Partai Golkar, yang ditinggalkan Setya Novanto. Novanto kini jadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi karena kasus dugaan korupsi e-KTP.

Kabar keinginan Titiek menjadi Ketua Umum Partai Beringin sepertinya bukan isapan jempol. Bahkan kakak tertua Titiek, Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut Soeharto, mendukung penuh hasrat tersebut.

Bahkan, dengan bantuan Tutut, sejumlah sesepuh Golkar, antara lain Akbar Tandjung, Jenderal (Purn) TNI Try Sutrisno, Emil Salim, Cosmas Batubara, Subiakto Tjakrawerdaya, Abdul Gafur, Oetojo Oesman, Haryono Suyono, Indra Kartasasmita, Subagyo, dan Sulastomo, diundang ke rumah mendiang Soeharto di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 9 Desember 2017.

Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto (kanan) mengundang para sesepuh Golkar ke kediamannya, Jalan Cendana, Jakarta Pusat, Sabtu ( 9/12)
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

"Mbak Tutut menyampaikan bahwa Mbak Titiek ingin ikut dalam kontestasi Ketua Umum (Golkar) dalam munaslub yang akan datang dengan aturan sesuai yang berlaku di partai," ujar Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Akbar Tandjung setelah diundang Titiek ke rumah Cendana.

Akbar menambahkan Keluarga Cendana bersedia menyambut para sesepuh Golkar untuk bertukar pikiran. Akbar menyampaikan pesan dari Tutut. “Kenapa Mbak Titiek ingin maju berkaitan dengan munaslub yang akan datang, kira-kira pertengahan Desember. Tapi kita belum tahu mekanismenya. Di mana, itu belum tahu. Mbak Tutut menyatakan, 'Kalau Bapak-bapak ingin ketemu lagi, akan bersedia menyediakan tempat di rumah Pak Harto,'" kata Akbar menirukan pesan Tutut.

Dalam kesempatan itu pula Titiek secara terang-terangan menyatakan niatnya maju dalam perebutan Ketua Umum Golkar bersaing dengan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, yang disebut sebagai calon terkuat. Titiek pun mengaku siap mengembalikan Golkar ke Keluarga Cendana, yang pernah membawa partai tersebut berjaya selama pemerintahan Orde Baru.

"Kalau ke depan kami dipercaya, kami tentu harus menggerakkan lagi roda Golkar. Senang tidak senang, di bawah itu rakyat masih menginginkan Golkar kembali ke akarnya. Kembali ke akarnya berarti kembali ke Cendana, katakanlah Pak Harto," ucap Titiek.

Titiek juga berjanji akan mengerahkan Keluarga Cendana untuk memajukan Golkar dan membangun kecintaan rakyat pada Golkar serta meneruskan cita-cita yang dibangun pada masa Orde Baru.

Impian Titiek merebut kursi Ketua Umum Golkar memang mengejutkan. Pasalnya, baru seumur jagung mantan istri Prabowo Subianto tersebut terjun ke dunia politik.

Tommy Soeharto
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Berbeda dengan kakaknya, Tutut, yang berkecimpung di dunia politik sejak awal 2000 dengan mendirikan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) pada 9 September 2002. PKPB pun lantas menjadi kontestan Pemilu 2004.

Sementara itu, karier politik Titiek diawali saat maju sebagai calon anggota legislatif dengan nomor urut 1 dari Golkar di daerah pemilihan Yogyakarta pada Pemilu 2014. Titiek berhasil melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR setelah meraih 80.121 suara.

Titiek berhasil lolos dari persaingan sengit di daerah pemilihan Yogyakarta karena harus bertarung dengan rekan separtainya, yakni Gandung Pardiman, yang lebih dulu eksis di partai.

Dia juga harus bersaing dengan lawan-lawan dari partai lain, seperti ýRoy Suryo dari Partai Demokrat, Hanafi Rais dari PAN, yang merupakan putra sulung Amien Rais, Ketua Umum Gerindra Suhardi, Idham Samawi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dan Sukamta dari Partai Keadilan Sejahtera.

Kini, dengan dalih masyarakat masih merindukan zaman Soeharto, Titiek pun berupaya merebut partai yang dilahirkan serta dibesarkan mendiang ayahnya itu.

Namun, di mata pengamat politik, impian tersebut agaknya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab, era kejayaan Soeharto sudah lewat sejak lengser pada 1998.

Airlangga Hartarto
Foto: Hesti Rika/CNN Indonesia

"Saya kira era kekuasaan Cendana sudah berakhir dengan jatuhnya Soeharto pada 1998. Titiek akan sulit tampil sebagai figur yang bisa menghidupkan lagi trah Cendana," ujar peneliti politik dari LIPI, Syamsuddin Haris.

Selain itu, kiprah Titiek di lingkup internal Golkar, sebagai Wakil Ketua Dewan Pakar, tidak terlihat gemilang dan jarang bicara, sehingga banyak orang yang meragukan kapasitasnya.

Sebenarnya kekuatan Keluarga Cendana di Golkar pernah diuji dalam Munas Golkar di Riau pada 2009. Saat itu Tommy Soeharto berniat merebut kursi Ketua Umum Golkar menggantikan Jusuf Kalla. Namun Tommy malah tidak bisa maju karena tidak memenuhi syarat dukungan untuk masuk dalam persaingan kursi Ketua Umum melawan Surya Paloh dan Aburizal Bakrie.

Dalam kontestasi tersebut, Aburizal-lah yang kemudian berhasil menduduki kursi Ketua Umum. "Bukan tidak terpilih, tapi tidak ada yang dukung Tommy," kata politikus Golkar Yorrys Raweyai kala itu.

Nama Tommy pun kembali muncul di arena Munaslub Golkar pada 15-17 Mei 2016 di Nusa Dua, Bali. Namun, lagi-lagi, putra bungsu Soeharto itu hanya bisa menyedot perhatian peserta munas untuk diajak berfoto bareng alias selfie. Sedangkan namanya tidak masuk dalam persaingan perebutan kursi Ketua Umum, yang akhirnya dimenangi Setya Novanto.

Kini Titiek ingin melakukan hal yang sama dengan rencana merebut kursi Ketua Umum Golkar. Akankah nasibnya bakal sama dengan Tommy?


Reporter: Ibad Durohman, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE