INVESTIGASI

MUTILASI SALES CANTIK KARAWANG

Terungkap Berkat Jejak Tato ‘Stones Angels’

Seorang tenaga sales cantik di Karawang dimutilasi secara sadis. Terungkap dari jejak tato yang tak terbakar habis.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 15 Desember 2017

Beberapa bocah berjalan riang membawa bola menuju lapangan yang tak jauh dari kantor pemasaran Perumahan Grand Orland, Jalan Syech Quro, Dusun Ciranggon 3, Desa Ciranggon, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis, 7 Desember 2017, siang. Tiba-tiba mereka melihat onggokan benda berwarna hitam pekat di semak-semak bekas terbakar.

Begitu melihat lebih dekat, mereka langsung lari tunggang-langgang sambil berteriak-teriak. Rupanya onggokan mencurigakan itu adalah tubuh manusia yang hangus terbakar. Yang lebih mengerikan, tidak ada kepala dan dua betis pada mayat itu. Seketika Ciranggon geger oleh penemuan mayat itu dan warga melaporkannya ke polisi.

Tak lama berselang, personel dari Satuan Reserse Kriminal Polres Karawang tiba. Beberapa meter dari mayat, petugas menemukan botol merek Mizone yang berisi bahan bakar minyak jenis Pertalite. Polisi pun lantas mengevakuasi mayat diduga korban pembunuhan itu ke Rumah Sakit Umum Daerah Karawang.

Dari struktur tulang pinggulnya, diketahui korban berjenis kelamin perempuan dan berusia 20-25 tahun. Kondisi mayat yang terbakar hampir 90 persen membuat polisi kesulitan mengungkap lebih jauh identitas korban serta kasus pembunuhan sadis tersebut.

Namun tidak ada kejahatan yang berlangsung sempurna. Dua buah tato yang tak ikut terbakar habis menjadi petunjuk polisi. Tato itu adalah tulisan ‘Stones Angels’ di dada korban dan gambar wanita bersayap tengah duduk meringkuk di punggung kanannya.

Polisi lalu melukis ulang tato itu dan menyebarkannya kepada masyarakat sekaligus informasi ciri-ciri mayat lainnya yang masih tersisa pada mayat, seperti pakaian dalam dan jam tangan. Selama dua hari penuh, polisi merazia sejumlah preman di Karawang dan anak-anak punk untuk mengidentifikasi tato yang serupa, tapi hasilnya nihil.

Siti Saidah alias Nindy alias Nindya bersama suaminya, Holil
Foto: dok. pribadi

Sehari setelah penemuan mayat itu, Jumat, 8 Desember, seorang warga Bogor, Jawa Barat, bernama Muhamad Holil bin Entong, 23 tahun, datang bersama adik kandungnya ke Markas Polres Karawang. Holil melaporkan telah kehilangan istrinya, Siti Saidah alias Nindya alias Sinox alias Desi Wulandari, 21 tahun, yang sesuai dengan ciri-ciri mayat misterius itu.

“Dia datang mengaku karena dihubungi oleh temannya yang memberitahukan informasi soal ciri-ciri istrinya sama dengan mayat yang ditemukan di Ciranggon itu,” tutur Kepala Polres Karawang AKBP Hendy F Kurniawan kepada detikX, Kamis, 14 Desember.

Namun, saat ditanya-tanya lebih lanjut, keterangan pria yang bekerja sebagai office boy PT Grand Kartech, Karawang, itu justru janggal. Holil, misalnya, bilang istrinya masih pulang ke kontrakannya di Dusun Sukamulya RT 04 RW 05, Desa Telukjambe, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, Kamis, 7 Desember. Istrinya pergi lagi sambil membawa buku nikah, baju, dan peralatan makeup. Padahal dokter forensik meyakini korban tewas jauh hari sebelumnya.

Holil pun curhat sambil menangis bahwa selama ini dia memang kurang mampu memenuhi kebutuhan hidup sang istri, yang disebut-sebut bekerja sebagai tenaga pemasaran Kota Meikarta, Cikarang, itu. “Jadi dia datang melapor seolah-olah tak bersalah, begitu,” imbuh Kasatreskrim Polres Karawang AKP Maradona Armin Mappaseng kepada detikX, Rabu, 13 Desember lalu.

Akhirnya polisi menginterogasi Holil secara maraton. Namun pria satu anak itu selalu memberikan keterangan yang berbelit-belit. Sampai akhirnya Holil dibawa ke kontrakannya. Saat membuka pintu kontrakan, terlihat ruangan acak-acakan serta penuh bercak darah di lantai. Dia pun tak bisa lagi mengelak dan mengakui telah membunuh istrinya.

Rumah kontrakan yang selama ini ditempati Holil dan mendiang istrinya.
Foto: Syailendra Hafiz/detikX

Holil lalu menunjukkan lokasi ia membuang potongan kepala dan sepasang kaki istrinya di hutan kawasan wisata Curug Cigentis, Desa Loji, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, pada 13 Desember.

Kisah pembunuhan itu bermula pada Senin, 4 Desember, malam, ketika pasutri itu terlibat pertengkaran hebat yang dipicu oleh masalah ekonomi. Sempat terjadi perkelahian, Holil pun memukul leher istrinya dengan telapak tangan bagian samping. Mendapat pukulan sebanyak dua kali, Nindya terjatuh dan kepalanya terbentur lantai.

Holil mengecek denyut nadi dan napas istrinya yang tak berkutik. Mengetahui istrinya tewas, ia panik dan langsung menyeret tubuh korban ke ruang tengah. “Saya kaget juga pukulannya bisa sekeras itu,” ujarnya ketika ditunjukkan kepada wartawan oleh polisi di Mapolres Karawang, Kamis, 14 Desember.

Setelah membunuh istrinya, Holil duduk lemas di sofa. Ia ketakutan dan mulai terbayang wajah anaknya hasil pernikahan dengan Nindya yang masih balita, yang kabarnya dititipkan di orang tua Holil di Bogor. Ia sempat tertidur di sofa itu sampai keesokan harinya, Selasa, 5 Desember.

Begitu terbangun, Holil memacu sepeda motor Kawasaki Ninja ke pasar. Ia membeli sebilah golok, kantong plastik hitam-besar, dan lakban. Entah setan apa yang merasukinya, begitu pulang kembali ke kontrakan, ia memotong kepala dan kaki korban. “Saya lakukan (mutilasi) itu supaya bawanya (jenazah) ringan,” ucapnya sambil menangis.

Holil, pelaku yang tega membunuh dan memutilasi istrinya sendiri
Foto: dok. Polres Karawang

Holil mendatangi tetangganya untuk meminjam sepeda motor Honda Scoopy. Dengan sepeda motor itulah ia membawa bagian kepala dan sepasang kaki Nindya yang sudah terbungkus plastik hitam untuk dibuang di kawasan Curug Cigentis.

Rabu, 6 Desember, malam, Holil baru membuang badan Nindya ke semak-semak di Dusun Ciranggon 3. Ia tahu kawasan itu relatif sepi dan lengang saat malam walau dekat dengan perumahan. Badan istrinya tersebut lantas dibakar bersama buku nikah, akta kelahiran Nindya, serta surat-surat berharga lainnya.

Sedangkan golok untuk memutilasi ia buang di jembatan Sungai Citarum, tak jauh dari Alun-alun Karawang. Telepon seluler Nindya dibuang ke irigasi Johar di Jalan Veteran, Karawang Wetan. Kembali ke kontrakan, ia mengepel lantai yang penuh dengan bercak darah.

Selama sepekan Holil berhasil menutup rapat tindak kejahatannya tersebut. Ibu Anam, tetangga pasutri itu, mengatakan tidak menduga sama sekali telah terjadi pembunuhan itu. Sebab, Holil tetap pergi dan pulang bekerja seperti biasa. Ditanya istrinya ke mana, Holil menjawab sedang menginap di rumah teman.

Hanya, Anam mengaku melihat ada sedikit perubahan pada diri Holil. Pemuda yang sebelumnya tidak pernah menunaikan salat di masjid setempat itu tiba-tiba jadi sering ke masjid. “Yang saya heran, habis dia ngelakuin itu, kan Minggu itu, dia masih sembahyang di masjid. Biasanya dia nggak pernah ke masjid,” ujar Anam kepada detikX.

Tato yang menjadi petunjuk polisi untuk mengungkap korban mutilasi Karawang
Foto: dok. Istimewa

Sementara itu, Mira, pemilik warung di depan kontrakan pasutri itu, mengatakan Holil membeli sabun colek, hal yang tak pernah dilakukan pelaku sebelumnya. Holil bilang akan digunakan untuk mencuci pakaian karena istrinya tidak mau mencuci. Mira menduga sabun itu dipakai untuk membersihkan darah.

Selain itu, sebelum kasus pembunuhan itu terungkap, kontrakan Holil selalu tertutup. Sabtu malam pekan lalu, dari kontrakan berukuran kecil itu terdengar suara siaran sepakbola di televisi yang diputar keras-keras. Holil pun terdengar tertawa-tawa sama kerasnya. “Saya lagi tidur sampai kebangun. Berisik banget. Suami saya juga lagi tidur,” kata Mira kepada detikX.

Saat ini, Holil mendekam di sel dingin Polres Karawang. Rencananya, polisi akan melakukan tes kejiwaan terhadapnya. Yang jelas, ia akan dikenai Pasal 340 KUHP dan/atau Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan Berencana, yang ancaman hukumannya seumur hidup, maksimal hukuman mati.


Reporter: Ibad Durohman, Gresnia F Arela, Luthfiana, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE