INVESTIGASI

Sensasi Menenggak Darah Kobra

Seekor kobra disajikan masak Rp 100 ribu. Tapi jenis king cobra dibanderol Rp 300 ribu per kilogram.

Ilustrasi : Edi Wahyono 
Foto-foto: Syailendra Hafiz Wiratama

Kamis, 21 Desember 2017

Bagi banyak orang, kobra sangat menakutkan karena bisanya sangat mematikan. Namun, di tangan seorang pria bernama Pais, kobra justru dijadikan menu kuliner serta obat-obatan.

Pria kelahiran Jakarta berdarah Karawang, Jawa Barat, ini sudah belasan tahun menjual kuliner kobra dan menu binatang ekstrem lainnya, seperti sate kobra, abon ular, tangkur ular, sup ular, abon biawak, sate biawak, dan sup biawak.

Selain menjual aneka makanan berbahan dasar ular dan biawak, Pais menjual aneka obat yang berbahan sama, yakni salep ular, kapsul tokek, kapsul bulus, kapsul kalong, minyak ular, serta minyak bulus.

Saat detikX menyambangi lapak milik Pais di Jalan Mangga Besar Raya, Jakarta Barat, beberapa hari lalu, tampak beberapa pembeli berada di situ. Salah satunya Juwita, yang datang bersama suami dan anaknya.

Perempuan yang tinggal di Jakarta Selatan itu ingin membeli empedu kobra. Juwita mengaku menjadi pelanggan Pais sejak awal 2000 karena informasi dari ayahnya.

“Ayah saya dulu pernah bilang, karena lihat muka saya banyak jerawatnya, dia menyarankan makan empedu ular atau minum darah ular kobra,” ujar Juwita kepada detikX.

Juwita, yang kala itu belum menikah, merasa takut dan jijik melihat ular yang akan disembelih pedagangnya. Tapi, karena tekadnya sudah bulat mengatasi masalah jerawat, darah kobra pun akhirnya diminumnya.

Warung kaki lima milik Lisa di Jalan Mangga Besar, Jakarta Pusat.
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

“Pas saya cobain, ya, nggak parah-parah amatlah rasanya. Dan hasilnya lumayan mujarab. Jerawat saya langsung kering,” begitu kata Juwita.

Setelah itu, Juwita pun tidak jijik lagi dan secara rutin menenggak empedu kobra hingga jerawat dan penyakit kulitnya sembuh. Rupanya penyakit kulit yang pernah dideritanya saat ini dialami juga oleh anaknya. Metode penyembuhan alternatif itu pun kembali dijalani dengan menyambangi kedai milik Pais di Mangga Besar.

“Sekarang harga per ekornya sudah Rp 100 ribu. Dahulu harganya masih Rp 20 ribu per ekor,” ucap Juwita. Meski ia sudah membeli seekor kobra secara utuh, daging ular tersebut tidak dia makan dengan alasan tidak suka.

Sementara itu, Umar, pembeli asal Matraman, Jakarta Timur, punya alasan berbeda datang ke kedai milik Pais. Dia ingin membeli salep yang berasal dari darah ular. Sama seperti Juwita, Umar tidak pernah merasakan sate ular ataupun supnya.

“Tadi habis beli salep ular Rp 20 ribu. Buat istri saya yang kena eksim. Saya juga tahu khasiat empedu kobra dari ibu saya,” kata Umar kepada detikX.

detikx sempat menjajal daging kobra. Rasanya tidak jauh berbeda dengan daging sate ayam pada umumnya. Bumbunya pun terdiri atas bumbu kecap dan kacang.

Sedangkan darah kobra tidak terlalu terasa pahit dan amis karena dicampur dengan madu dan arak. Darah itu dialirkan langsung dari tubuh ular ke dalam gelas plastik setelah dipotong kepalanya. Setengah jam setelahnya, perut terasa panas.

Puluhan ular kobra siap untuk dipotong dan disajikan kepada pengunjung di Warung "34" milik Pais di Mangga Besar.
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Lapak Pais memang sudah dikenal banyak orang. Sebab, keluarganya turun-menurun berdagang ular di Mangga Besar. “Engkong saya orang yang pertama jualan makanan dari kobra di Mangga Besar. Sebelum 1980 dan turun-temurun sampai sekarang,” tutur Pais kepada detikX.

Pais, yang berjualan sejak 2000, mengaku mengikuti jejak engkongnya yang bernama Leman dengan nama toko ‘34’. Nomor ini, tutur Pais, dalam keyakinan masyarakat Tionghoa bermakna hidup dan mati.

Untuk stok ular yang akan diolah menjadi makanan dan obat-obatan, dia mendapat pasokan dari pengepul ular yang berada di wilayah Karawang dan wilayah Banten. Namun terkadang dia mengambil ular dari Jawa Tengah jika stok dari kedua daerah tersebut habis.

“Soalnya, yang kita pakai kan ular hasil tangkapan, bukan ternakan. Jadi tergantung pengepul dapat-tidaknya ular di sana,” tutur Pais.

Diakuinya, kobra yang paling bagus berasal dari Menes, Pandeglang, Banten. Kobra di wilayah itu berwarna hitam dan kuat saat menempuh perjalanan. Sedangkan kobra yang berasal dari Karawang dan Jawa Tengah berwarna cokelat dan agak ringkih, sehingga rentan mati karena kelelahan dalam perjalanan menuju Jakarta.

Dalam sepekan, Pais setidaknya menghabiskan 50 ekor kobra untuk disantap pengunjung. “Yang ramai biasanya akhir pekan. Kalau hari biasa, ya, paling tidak lima pembeli,” ujarnya.

Untuk memesan menu kobra, pembeli harus membeli satu ekor ular, sekalipun hanya membutuhkan darahnya, yang diyakini bisa mengobati penyakit kulit, bahkan sebagai penambah vitalitas pria.

Salep hasil olahan dari ular kobra
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Harga satu ekor kobra Rp 100 ribu. Sedangkan king cobra Rp 300 ribu per kilogram. Untuk kobra jenis tertinggi ini, pembeli harus memesan jauh hari sebelumnya. “King cobra sulit didapatkan dan saya harus pesan dulu ke pengepulnya. Waktunya juga tidak tentu, bagaimana dapatnya saja,” ujar Pais.

Selain Pais, pedagang yang sudah belasan tahun berdagang makanan berbahan dasar ular tersebut adalah Lisa, 45 tahun, yang berkecimpung di bisnis ini secara tidak sengaja.

Saat ditemui detikX beberapa hari lalu, Lisa mengaku awal terjun ke bisnis ini hanya menjadi pemilik usaha, sedangkan pengolahannya dia serahkan kepada anak buah dari Medan, Sumatera Utara, yang sudah biasa mengolah ular untuk dijadikan makanan dan obat-obatan.

“Saya kan awalnya cuma jualan durian sama suami. Karena dagang ular kelihatan menjanjikan, saya nyemplung saja. Tapi saya awalnya cuma ngebosin doang, yang urus ada orang dari Medan,” kata Lisa.

Namun, baru tiga tahun usaha itu berjalan, anak buahnya pamit pulang dan enggan lagi mengolah menu ular. Alhasil, usaha tersebut dijalankan sendiri oleh Lisa. Dalam sehari, Lisa bisa menjual 10 ekor kobra. Jika sedang ramai, dia bisa menjual hingga 20 ekor sehari.

Untuk stok ular, Lisa mendapat pasokan dari pengepul yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat. Bagi Lisa, berdagang ular adalah jalan hidupnya sekalipun ia pernah meregang nyawa akibat tangannya dipatok ular pada 2009.

Daging ular kobra yang hendak dibakar menjadi sate.
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Pelayan menuangkan darah kobra ke dalam gelas
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX.

“Waktu itu saya sedang siapin dagangan, tapi anak buah saya lupa nutup kandang ular, sehingga mematok tangan saya,” ujar Lisa sambil menunjukkan bekas luka akibat gigitan kobra.

Beruntung, Lisa cepat dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, sehingga nyawanya bisa tertolong, sekalipun Lisa harus menjalani perawatan dua bulan di rumah sakit tersebut.

Sebenarnya, kata Lisa, saat itu dokter menyarankan tangannya diamputasi karena hampir membusuk akibat bisa kobra. Tapi Lisa menolak. “Akhirnya diakalin, daging yang busuk ditambal pakai daging dan kulit bokong saya,” tuturnya.

Meski nyawanya sempat terancam, Lisa mengaku tidak kapok. Sebab, baginya, petaka yang dialami merupakan risiko pedagang ular.

Apalagi kehidupan keluarganya selama ini ditopang dari bisnis ular yang dia jalankan. Bahkan lewat bisnis yang tidak biasa tersebut, Lisa bisa menyekolahkan anaknya di salah satu perguruan tinggi ternama di Jakarta.


Reporter: Ibad Durohman, Gresnia Arela F, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE