INVESTIGASI

Akhir Teror
Geng ‘Jepang’

Kelompok berandal remaja di Depok ini punya hobi menjarah dan tak segan melukai orang. Korban pemilik toko hingga tukang nasi goreng.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 2 Januari 2018

Tujuh bilah senjata tajam buatan sendiri itu dijamin membuat bergidik siapa saja yang melihatnya. Betapa tidak, ukuran senjata itu besar dan panjang serta berkarat.

Senjata tersebut dibuat secara sederhana. Bahannya hanya pelat baja bekas yang dipotong memakai las, kemudian digerinda pada sisi-sisinya.

Senjata itu diproduksi oleh anak-anak remaja di kawasan Depok, Jawa Barat, yang tergabung dalam geng ‘Jepang’ alias Jembatan Mampang.

Selain digunakan sebagai alat tawuran dengan geng lain, mereka menjualnya melalui media sosial. Penjualan dilakukan tiga remaja putri yang tergabung dalam geng tersebut.

Geng Jepang, yang diambil dari sebutan Jembatan Mampang, yang menjadi markas mereka di Pancoran Mas, Depok, diketahui selalu membuat onar di seantero kota berlambang buah belimbing tersebut.

Berandalan remaja ini tercatat selalu melakukan perampasan dan penodongan terhadap pedagang makanan serta pengendara sepeda motor. Bahkan tukang gorengan pun tidak luput dari sasaran aksi kejahatan mereka.

Salah satu korban mereka adalah Muslim, seorang pedagang kelontong di Jalan Pramuka, Kelurahan Mampang, Kecamatan Pancoran Mas, Depok. Warung Muslim dijarah dan dirusak oleh belasan anggota geng Jepang dua bulan lalu.

Habibi (pang kiri memakai seragam tahanan) di Mapolres Depok
Foto : Gresnia Arela F/detikX

Beberapa warga setempat menjadi saksi mata kebrutalan remaja-remaja tanggung tersebut. “Malah pemiliknya (Muslim) sempat dibacok di perut,” kata salah seorang warga yang enggan disebut namanya kepada detikX.

Pembacokan itu bermula saat salah satu anggota geng hendak berutang rokok di warung Muslim. Namun Muslim malah menagih utang rokok yang belum dibayar anggota geng tersebut. “Yang kemarin saja belum bayar, masak mau minta utang lagi?" kata Muslim saat itu seperti ditirukan warga.

Setelah melontarkan kekesalannya itu, Muslim langsung dicelurit perutnya hingga robek. Bukan hanya itu, mereka juga menjarah dan menghancurkan etalase toko milik Muslim.

Buntut dari kejadian tersebut, Muslim pulang kampung ke Madura, Jawa Timur. Warung sembako tersebut kini sudah berpindah tangan ke pedagang lain bernama Siti.

Belakangan, kelompok kriminal itu semakin bikin geram saat mereka menjarah toko pakaian ‘Fernando’ di Jalan Sentosa Raya, Depok, Minggu, 24 Desember 2017. Puluhan remaja ini menghampiri toko itu pada waktu subuh dengan mengendarai 20 sepeda motor. Tiap sepeda motor ditumpangi oleh dua dan tiga orang.

Robert, penjaga toko baju yang buka 24 jam tersebut, tidak berkutik saat mereka menodongkan senjata tajam berukuran besar ke tubuhnya. Bahkan salah satu anggota geng ada yang ingin membacoknya dengan celurit. “Anak cewek yang mau membacok saya, pakai celurit,” ujar Robert.

Chandra, pemilik toko Fernando
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Pria berusia 23 tahun ini pun hanya bisa pasrah melihat puluhan anggota geng menjarah pakaian yang ada di dalam toko dengan perincian: 9 lusin celana jins, 1 lusin kaus, 5 potong jaket, dan 8 celana pendek. Akibat aksi geng Jepang, pemilik toko mengalami kerugian belasan juta rupiah.

“Kemarin waktu membikin laporan ke Polsek (kerugian) sebesar Rp 13.100.000. Setelah kita benah-benah, total kerugiannya semua ada Rp 14 jutaan,” kata Chandra, pemilik toko, kepada detikX di Markas Polresta Depok, Jalan Margonda.

Untung saja, Chandra memasang kamera CCTV di tokonya, sehingga polisi bisa bergerak cepat mencokok puluhan anggota geng Jepang tersebut.

Kepala Polres Kota Depok AKBP Didik Sugiarto saat ditemui detikX mengatakan, setelah menjarah toko baju, geng ini melakukan aksi di kawasan Limo. Di sana mereka menodong pelanggan warung nasi. Selain merampas uang dan telepon seluler, mereka mengambil sepeda motor korban.

Setelah beraksi di warung nasi, mereka mendatangi warung kopi di wilayah yang sama. “Pengunjung di sana dipaksa menyerahkan semua propertinya, seperti ponsel,” tutur Didik.

Bahkan, menurut Didik, beberapa waktu sebelumnya, geng Jepang juga melakukan kejahatan terhadap tukang nasi goreng yang sedang menutup dagangan. Mereka mengambil uang hasil dagangan tukang nasi goreng berikut tabung gas 3 kilogram.

Habibi

Foto : Gresnia Arela F/detikX

Polisi menunjukkan senjata buatan Geng Jepang

Foto : Gresnia Arela F/detikX

Para anggota Geng Jepang

Foto : Gresnia Arela F/detikX

Barang bukti yang disita dari Geng Jepang

Foto : Gresnia Arela F/detikX

Jembatan Mampang, Pancoran Mas, Depok

Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Dari hasil penyelidikan polisi, selain di wilayah Depok, geng Jepang melakukan aksi hingga kawasan Jakarta Selatan, seperti Kecamatan Jagakarsa dan Ragunan.

Sementara ini, sekurangnya ada lima catatan kejahatan geng Jepang di wilayah Depok. Polisi masih terus menginventarisasi kasus-kasus yang dilakukan geng Jepang, baik di wilayah Depok maupun Jakarta Selatan.

Polisi pun telah menangkap 26 anggota geng tersebut. Namun hanya proses delapan orang yang dilanjutkan ke penahanan karena sisanya tidak terlibat dan usianya masih di bawah umur. Dari pemeriksaan terhadap anggota geng tersebut, diketahui mereka dipimpin Habibi, 18 tahun, yang punya nama panggilan ‘Kapten’.

Dari catatan Polresta Depok, Habibi tak punya catatan kriminal di wilayah Depok. Namun ada informasi Habibi punya catatan kriminal di wilayah Jakarta Selatan.

Kini, setelah penangkapan geng Jepang, warung kopi yang jadi tempat tongkrongan mereka sepi. Padahal biasanya tidak kurang dari 20 orang saban hari berkumpul di sana. “Biasanya mereka nongkrong di sini (warung), kadang di warnet dan jembatan di depan warung,” kata Tria, pemilik warung, saat berbincang dengan detikX.

Menurut Tria, meski sering berkumpul di situ, mereka tidak pernah membuat keonaran. “Mereka di sini cuma nongkrong-nongkrong. Ngopi dan ngerokok. Paling berisik aja, tapi nggak pernah bikin onar,” tutur Tria.

Kapolresta Depok AKBP Didik Sugiarto
Foto : Gresnia Arela F/detikX

Menurut Tria, meski sering berkumpul di situ, mereka tidak pernah membuat keonaran. “Mereka di sini cuma nongkrong-nongkrong. Ngopi dan ngerokok. Paling berisik aja, tapi nggak pernah bikin onar,” tutur Tria.

Diakui Tria, anak-anak geng Jepang itu mayoritas bukan warga setempat. Mereka hanya punya teman yang tinggal di situ, kemudian menjadikan wilayah setempat sebagai tongkrongan. Usia mereka rata-rata belasan tahun. “Yang paling tua umurnya paling 20 tahun,” kata Tria.

Perempuan ini pun mengatakan, meski suasana jadi sepi karena tidak ada lagi remaja yang nongkrong di warung, hal itu tidak mempengaruhi omzet warungnya.


Reporter/Penulis: Gresnia Arela F, Ibad Durohman, Syailendra Hafiz Wiratama
Reporter/Penulis: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE