INVESTIGASI

PILGUB JAWA TIMUR

Berharap pada
Cucu Sukarno

Gus Ipul-Puti dianggap lebih menjual dibanding Gus Ipul-Anas. Juga setara dengan duet Khofifah-Emil. Siapa bakal menang?

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Kamis, 11 Januari 2018

Calon Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf kini bisa tersenyum lagi. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan akhirnya menetapkan pendamping calon yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa itu pada hari terakhir pendaftaran Pemilihan Gubernur Jawa Timur.

Pria yang akrab disapa Gus Ipul tersebut sempat galau karena pasangan sebelumnya, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, mendadak mundur lantaran foto panas diduga dirinya beredar luas. Sedangkan waktu pendaftaran sudah mepet.

Dalam lima hari waktu yang tersisa, sebelum pendaftaran ditutup, Gus Ipul dan partai pendukungnya berjibaku mencari pengganti. Targetnya tentu saja yang beraliran nasionalis untuk melengkapi Gus Ipul, yang berasal dari kalangan nahdliyin.

Awalnya, pilihan utama jatuh pada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, yang punya segudang prestasi, untuk menghadapi pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak, yang juga punya catatan elok, baik di skala nasional maupun lokal.

Namun pinangan tersebut ditolak tegas Risma dengan dalih sedang berfokus mengurusi kota berlambang hiu dan buaya itu. “Nggak. Di awal saya sudah sampaikan. Terus terang saya masih pengin di Surabaya. Saya tidak ingin berubah. (Keputusan) itu sejak beberapa tahun lalu," ujar Risma.

Bakal calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf  dan Puti Guntur Soekarno.
Foto: Zabur Karuru/Antara Foto

Penolakan itu membuat partai berlambang kepala banteng tersebut kembali putar otak. Beberapa nama di kalangan internal mulai dilirik dan dibahas, seperti Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Ahmad Basarah, Bupati Ngawi Budi 'Kanang' Sulistiono, dan Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Sri Untari.

Namun pilihan justru jatuh pada Puti Guntur Soekarno, keponakan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Alasannya, putri sulung Guntur Soekarno itu adalah trah Presiden RI pertama, Sukarno, yang punya magnet kuat di Jawa Timur.

Dengan dipilihnya Mbak Puti, partai-partai yang akan membuat poros baru di Jawa Timur akhirnya bergabung. Ini bukti hadirnya Puti menambah kekuatan baru bagi Ipul.”

Perempuan bernama lengkap Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno tersebut ditetapkan sebagai pendamping Gus Ipul bertepatan dengan perayaan ulang partai itu yang ke-45 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu, 10 Januari 2018.

“Puti ditetapkan setelah mempertimbangkan secara saksama dan matang, juga atas masukan-masukan dari para kiai keluarga besar NU, dan semangat persaudaraan PDIP dan NU,” ujar Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.

Meski PDI Perjuangan sudah bulat mengusung Puti sebagai cawagub, ada pandangan di lingkup internal partai itu yang kurang sepakat dengan keputusan memilih Puti, yang sebelumnya masuk daftar kandidat di pilgub Jawa Barat.

“Harusnya PDI Perjuangan memilih Djarot (Djarot Syaiful Hidayat) di Jawa Timur. Puti di Jawa Barat. Karena Djarot lebih menguasai Jawa Timur dibanding Puti,” kata sumber detikX di kalangan internal PDI Perjuangan itu.

Gus Ipul-Puti saat mendaftar di KPU Jawa Timur.
Foto: Rois Jajeli/detikcom

Djarot memang menjabat Bupati Blitar selama dua periode sebelum akhirnya diminta menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Pengalaman-pengalaman yang dimiliki Djarot dianggap punya nilai jual untuk berkompetisi menghadapi pasangan Khofifah dan Emil Dardak, yang diusung Partai Demokrat, Golkar, Hanura, NasDem, PPP, dan PKPI.

Sedangkan Puti lebih menguasai Jawa Barat karena pernah menjadi juru bicara kampanye tim pemenangan wilayah Jawa Barat dan Bengkulu untuk pasangan Megawati-Prabowo pada Pilpres 2009.

Namun keraguan itu dibantah Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDI Perjuangan Bambang Dwi Hartono. Menurutnya, Puti justru punya nilai tersendiri di Jawa Timur selain sebagai cucu Proklamator RI.

“Buktinya, dengan dipilihnya Mbak Puti, partai-partai yang akan membuat poros baru di Jawa Timur akhirnya bergabung. Ini bukti hadirnya Puti menambah kekuatan baru bagi Ipul,” tutur Bambang.

Adapun soal pengalaman Puti yang masih minim di birokrasi, Bambang menyebut hampir semua kepala daerah sebelumnya tidak punya pengalaman birokrasi. Namun, dalam perjalanannya nanti, ia akan memperoleh persepsi dan bisa mendengarkan rakyat dengan baik.

Hasto Kristiyanto
Foto: Andry Novelino/CNN Indonesia

Tapi, di mata pengamat politik dari Indo Barometer Muhammad Qodari, meski menyandang nama besar, Puti tetap harus bekerja ekstrakeras untuk mendulang suara di kalangan Mataraman. Qodari mengingatkan, Partai Demokrat, yang mendukung Khofifah, juga cukup berpengaruh di wilayah Mataraman. Begitupun dengan Emil Dardak, yang berasal dan sempat menjadi Bupati Trenggalek, yang masuk wilayah Mataraman.

“Jadi Puti harus bekerja ekstrakeras untuk bisa mendulang suara di wilayah itu (Mataraman). Karena Ibas (Edhie Baskoro Yudhoyono) dan Emil juga populer di wilayah itu,” kata Qodari.

Masalah lainnya, Puti merupakan ‘pemain impor’ yang didatangkan dari Jawa Barat. Puti merupakan anggota legislatif dua periode, yakni 2009-2014 dan 2014-2019, dari daerah pemilihan Jawa Barat X, yang meliputi Ciamis, Kuningan, dan Kota Banjar.

Sedangkan di Jawa Timur, pengalaman dan jaringan Puti masih dianggap minim meski dikenal sebagai cucu Sukarno. “Tapi memang pemain impor ini tidak tabu dan bukan hal baru. Misalnya Jokowi dulu ke Jakarta dari Solo. Tapi Jokowi dulu itu eksposurnya sudah nasional. Kemudian Djarot juga pemain impor ke Sumut, tapi Djarot di level nasional juga sudah cukup lumayan. Nah, Mbak Puti ini belum mendapat eksposur seperti Jokowi dan Djarot,” tutur Qodari.

Meski begitu, Puti akan tetap bisa ‘dijual’ karena PDI Perjuangan merupakan kekuatan politik utama di Jawa Timur, selain bisa memecah suara kalangan perempuan yang dibidik Khofifah. “Tapi tetap tidak mudah. Karena waktu tidak sampai 6 bulan lagi,” ujar Qodari.

Djarot Saiful Hidayat
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Meski demikian, Qodari beranggapan pasangan Gus Ipul-Puti lebih menjual dibanding Gus Ipul-Anas. Alasannya, Gus Ipul dan Anas punya satu warna, yakni sama-sama berbasis santri. Sedangkan pasangan Gus Ipul-Puti memiliki dua warna, yakni ‘hijau’ dan ‘merah’.

Dengan komposisi yang seimbang antara pasangan Gus Ipul-Puti dan Khofifah-Emil di wilayah Mataraman dan Tapal Kuda, menurut Qodari, kini yang jadi fokus rebutan adalah wilayah Surabaya dan Malang.

Puti sendiri mengaku baru bertatap muka pertama kali dengan para kiai di DPW PKB Jawa Timur sebelum mendaftar. Penunjukannya sebagai cawagub memang tak direncanakan. Namun dia siap mengabdi di Jawa Timur.

"Kita tunjukkan bahwa kebersamaan sebagai bangsa Indonesia yang nasionalis-religius ini bisa membangun Indonesia lebih maju ke depan dengan kegotongroyongan kita," tutur Puti.


Reporter/Penulis: Gresnia Arela F, Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE