INVESTIGASI

PILGUB JAWA TIMUR

Drama Keluar Gelanggang Bupati Anas

Azwar Anas menyebut kampanye hitam melalui foto panas sudah biasa. Tapi kali ini dia menyerah, bahkan mundur dari ajang Pilgub Jawa Timur.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 12 Januari 2018

Kompak dan solid. Begitulah Halim Iskandar menggambarkan duet pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas, selama dua hari melakukan safari politik ke Kediri dan Jombang pada 1-2 Januari 2018. Keduanya mengisi tahun baru 2018 dengan menyambangi sejumlah pemimpin tarekat Islam di dua daerah tersebut.

Pasangan cagub-cawagub yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu juga memanfaatkan waktu untuk melakukan konsolidasi dengan para relawan Ginas. Gus Ipul-Anas pun sudah membahas visi dan misi pencalonan mereka.

“Kita itu muter-muter di Kediri sampai Jombang. Kompak banget. Konsolidasi di sana. Sudah jauh pembahasannya. Membicarakan penataan visi dan misi,” ujar Halim, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PKB Jawa Timur, yang menyertai perjalanan Gus Ipul-Anas, kepada detikX, Senin, 8 Januari 2018.

Namun, hanya berselang empat hari, pasangan kandidat cagub-cawagub yang digadang-gadang bakal unggul di Pilgub Jawa Timur itu bubar. Anas mengundurkan diri sebagai pendamping Gus Ipul pada Sabtu, 6 Januari 2018. Bupati Banyuwangi itu mengembalikan mandat dan penugasannya kepada PDI Perjuangan.

Keputusan tersebut diambil oleh anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat termuda pada periode 1997-1999 itu lantaran sehari sebelumnya beredar dua foto tidak pantas seorang pria yang mirip dirinya. Kendati begitu, foto-foto itu sudah menjadi perbincangan di kalangan kiai Nahdlatul Ulama sekitar dua minggu sebelumnya.

Saifullah Yusuf dan Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Senin (23/10/2017).
Foto: Ardian Fanani/detikcom

Anas pun kabarnya sempat dimintai klarifikasi oleh para kiai tersebut. “Anas juga sempat dipanggil para kiai pada saat itu. Dan para kiai itu pulalah yang menyarankan Anas mundur,” tutur seorang sumber detikX yang merupakan salah satu anggota tim sukses Gus Ipul-Anas.

Lalu pada Kamis, 4 Januari, Gus Ipul mengungkap niat mundur Anas, yang, menurutnya, disampaikan Anas melalui WhatsApp. Hanya, Wakil Gubernur Jawa Timur tersebut enggan menyebutkan alasan Anas mundur. Anas bakal menjelaskan kepada PDI Perjuangan dan PKB.

Kami hanya menangis, para kiai menangis, Ibu Megawati menangis. Kami tidak menyangka ada orang yang menggunakan cara-cara seperti ini."

Sebelum Anas keluar dari gelanggang Pilgub Jawa Timur, PDI Perjuangan terus membujuknya agar tidak mundur. Terang saja PDI Perjuangan kelabakan karena keputusan itu dibuat hanya beberapa hari sebelum pendaftaran. Di lain pihak, PKB hanya memilih menunggu keputusan PDI Perjuangan.

Sempat ada wacana Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang bakal menggantikan Anas. Namun Risma, yang sejak lama menolak dicalonkan dalam Pilgub Jawa Timur, justru ikut menelepon Anas pada Jumat sore dan memberikan semangat.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan serangan kampanye hitam terhadap bupati yang dikenal telah menorehkan banyak prestasi di Banyuwangi itu merusak kompetisi sehat yang dibangun dalam pilkada. Meski Anas mundur, partainya menegaskan tetap memberikan dukungan kepada Anas.

"Kami hanya menangis, para kiai menangis, Ibu Megawati menangis. Kami tidak menyangka ada orang yang menggunakan cara-cara seperti ini," kata Hasto di depan kediaman Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 6 Januari.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas
Foto: Ardian Fanani/detikcom

Anas sendiri sebetulnya sempat menyatakan sudah biasa mendapatkan teror dan serangan seperti foto panas itu. Sejak tahun kedua ia menjabat, banyak pihak yang tak suka terhadap kebijakan-kebijakannya di Banyuwangi, seperti pasar modern dan saham tambang untuk rakyat.

"Ya, ini saya anggap sebagai risiko. Apa pun yang datang menghadang untuk kebaikan banyak orang, seperti program Rantang Kasih, yang memberi makanan bergizi tiap hari kepada lansia, program uang saku tiap hari bagi pelajar miskin, dan sebagainya, ya itu sudah biasa kita hadapi jika ada yang menyerang terkait momen politik," kata dia.

Anas, yang menjabat bupati sejak 2010, mengaku selalu bisa mengatasi serangan-serangan terhadap dirinya itu. Tapi sepertinya tidak untuk kali ini. Anas tak terlihat berusaha membela diri. Ia sepertinya menyerah begitu saja terhadap kampanye hitam menjelang pendaftaran pilgub itu.

Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya yang membantah atau membenarkan foto tak senonoh tersebut. Dari dua foto yang beredar, terlihat laki-laki berkaus biru mirip Anas duduk di mobil dengan kaki wanita selonjoran di pangkuan. Sedangkan pada foto kedua, lelaki yang diduga Anas berdiri dengan tubuh bagian bawah tak mengenakan pakaian.

Rumor yang berkembang di Jawa Timur, kedua foto itu diambil pada Juli 2017 di Eropa. Kebetulan, pada Juli tahun lalu itu, Anas memang tengah berkunjung ke Prancis untuk menonton Tour de France, ajang balap sepeda paling bergengsi di dunia.

Anas ingin melihat event itu untuk diaplikasikan pada gelaran serupa milik Pemkab Banyuwangi, Tour de Ijen, pada September 2017. Ia melawat ke Eropa bersama tiga pejabat dan seorang staf Pemkab Banyuwangi. Semuanya laki-laki. Anas berangkat menyusul tanpa dikawal ajudan.

Menurut sumber yang tahu perjalanan Anas, rombongan tak langsung menuju Prancis, melainkan singgah lebih dulu di Belanda. Lalu mereka bergerak ke Jerman karena pembukaan etape pertama Tour De France dilakukan di Jerman.

Azwar Anas dalam sebuah acara kesenian di Banyuwangi.
Foto: Ardian Fanani/detikcom

Setelah itu, rombongan meluncur ke Prancis menumpang mobil ditemani seorang sopir dan pria Turki, yang didapuk sebagai guide. Dari Prancis, rombongan bolak-balik ke Jerman, Prancis, dan terakhir kembali lagi ke Belanda.

Selama menonton Tour de France, mereka selalu berlima. Tidak ada seorang perempuan pun yang mendampingi Anas. Hanya, ketika berada di Belanda, tepatnya pada hari keempat, Anas memisahkan diri dari rombongan.

Ia bilang sudah sering ke Belanda, sehingga meminta anak buahnya berkeliling untuk memotret aneka fasilitas umum di Negeri Kincir Angin sebagai referensi. Sedangkan dia sendiri pergi menumpang mobil yang disewa rombongan dan mengajak guide.

Sebelum berpisah, Anas dan anggota rombongan berjanji bertemu kembali keesokan harinya di Bandara Schiphol, Amsterdam, untuk pulang ke Indonesia.

Jadi itu tidak benar. Silakan mengkonfirmasi kepada Pak Anas tentang foto itu.”

Ke mana Anas pergi, sumber itu tidak tahu. Tapi seorang pejabat yang ikut dalam rombongan itu bilang Anas mengatakan menjadi narasumber di sebuah universitas di Belanda. “Selisih jarak waktunya nggak lama, hanya beberapa jam,” kata pejabat yang menolak disebut namanya itu kepada detikX.

detikX telah beberapa kali mengajukan permohonan wawancara kepada Anas untuk meminta konfirmasi tentang keaslian foto itu. Termasuk apa saja kegiatannya selama di Eropa. Namun Anas belum memberikan jawaban. Pesan singkat yang dikirim juga tak dibalas.

Sementara itu, seorang sosialita Surabaya bernama Asrilia Kurniawati alias Lia ikut terseret dalam kasus foto syur itu. Lia diisukan sebagai wanita yang berada di dalam mobil bersama pria diduga Anas.

Lia adalah istri anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono. Pada November 2017, Lia bersaing merebut kursi Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jawa Timur dengan adik Anas, Mufti Aimah Nurul Anam.

Lia mengakui mengenal baik Anas. Ketua Gabungan Organisasi Wanita di Surabaya itu sering berkunjung ke Banyuwangi menghadiri undangan Pemkab Banyuwangi untuk mewakili suaminya.

Namun Lia menyangkal bila dikatakan bahwa perempuan yang berada di dalam mobil itu adalah dirinya. “Jadi itu tidak benar. Silakan mengkonfirmasi kepada Pak Anas tentang foto itu,” ujar Lia saat dihubungi detikX melalui telepon, Selasa, 9 Januari.

Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno, calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur
Foto: Zabur Karuru/Antara Foto

Menurutnya, ia pertama kali melihat foto itu di sebuah media yang terbit di Surabaya pekan lalu. Lia pun lalu membahas foto itu bersama suami dan keluarga. Mereka juga tak percaya wanita yang bermesraan di mobil itu adalah Lia. "Suami saya bilang, 'Kok (paha kakinya) seperti kentongan?'" kata wanita berambut panjang itu.

Adapun Bambang mengatakan istrinya selalu dikawal oleh ajudan, Diah, ketika bepergian ke mana pun. Pengusaha di bidang perkapalan yang sempat hendak maju dalam Pilgub Jatim itu pun menyesalkan beredarnya foto-foto itu. Foto itu hanya sarana untuk menjatuhkan istrinya dan Anas.

"Prestasi yang dicapai Pak Anas ini seharusnya diapresiasi untuk bisa naik ke posisi lebih tinggi, yang mana masyarakat nantinya membutuhkan kepemimpinan untuk menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya," ujarnya.

Sementara masalah Anas menjadi berita nasional, situasi di Banyuwangi adem-adem saja. Malah masyarakat Banyuwangi bergembira Anas tak jadi ‘meninggalkan’ kepemimpinannya di kabupaten di ujung timur Pulau Jawa itu. Sebab, program-program Anas bagus dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Terkait dengan foto, Ketua Aisyiyah Banyuwangi Dwi Deritaning Tyas menganggap apa yang menimpa Anas merupakan ujian. Ia berharap Anas dapat melakoninya dengan tawakal. “Kami dari hati yang paling dalam sebenarnya gembira bahwa Allah menakdirkan Pak Anas tetap bekerja fokus untuk Banyuwangi," ujarnya dalam pertemuan dengan Anas di pendapa Kabupaten Banyuwangi.

Anas pun berkegiatan seperti biasa sebagai Bupati Banyuwangi. Selain mengumpulkan kaum wanita di pendapa pada Selasa, 9 Januari lalu, ia blusukan melakukan operasi pasar terkait kenaikan harga beras. Anas pun tampil serasi bersama sang istri, Ipuk Fiestiandani.

“Untuk selanjutnya, saya akan berjuang dengan segenap daya dan upaya, bersama-sama rakyat Banyuwangi, untuk mewujudkan kesejahteraan bagi semua sebagaimana telah berhasil kita jalankan dalam hampir delapan tahun terakhir,” kata Anas.

Sedangkan PDI Perjuangan akhirnya memilih Puti Guntur Soekarno sebagai pengganti Anas. Pasangan Gus Ipul-Puti mendaftar pada menit-menit akhir batas waktu pendaftaran cagub-cawagub Jawa Timur periode 2018-2023.


Reporter: Ibad D, Gresnia AF, Putri Akmal (Banyuwangi), Rois Jajeli (Surabaya)
Redaktur/Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE