INVESTIGASI

Impor Selamatkan Harga Beras?

“Saya sudah 40 tahun di Pasar Induk Cipinang. Baru kali ini menemukan harga beras tertinggi yang nggak jelas, sampai Rp 13 ribu.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 19 Januari 2018

Tiga ibu rumah tangga terlibat obrolan serius pagi itu setelah berbelanja beras di sebuah warung di kawasan perumahan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Mereka mengeluhkan naiknya harga beras yang hendak mereka masak.

Di Bogor, harga beras saat ini memang berkisar Rp 8.000 per liter untuk beras medium dan Rp 12 ribu untuk beras premium. Warga merasakan kenaikan harga beras dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.

“Saya biasa membeli Rp 7.000, sekarang sudah nggak ada lagi. Sekarang sudah Rp 8.000-an. Kualitasnya juga nggak enak lagi,” ujar Santi, seorang warga Perumahan Taman Cibinong Asri, Cibinong, Bogor, kepada detikX, Rabu, 17 Januari 2018.

Yang lebih merasakan dampak kenaikan harga beras adalah warga DKI Jakarta. Pasalnya, konsumsi beras terbesar warga Jakarta bergantung pada pasokan beras dari daerah lain, seperti Karawang, Subang, Indramayu, dan Cianjur.

Bahkan beras di Jakarta datang dari luar Pulau Jawa, seperti Sumatera dan Sulawesi. Kisaran harganya saat ini Rp 10-14 ribu per liter. Itu pun masih tergantung pada kualitas beras yang dijual.

Kenaikan harga beras yang mulai dirasakan sejak tiga bulan lalu inilah yang membuat Bulog sempat melakukan operasi pasar pada November-Desember 2017. Hanya, operasi pasar itu tak signifikan menekan lonjakan harga, yang kembali merangkak naik pada awal Januari 2018.

Beras yang dijual pedagang di Pasar Palmerah, Jakarta.
Rengga Sancaya/detikcom

Karena itu, Kementerian Perdagangan akan melakukan impor beras khusus sebanyak 500 ribu ton dari Thailand dan Vietnam. Keputusan itu terpaksa dilakukan untuk menjaga stok beras sampai menunggu panen raya padi pada Februari-Maret mendatang. Tapi harga beras di tingkat eceran kadung naik.

“Dampaknya tidak nendang. Tidak memberikan penurunan harga. Memang sesaat terjadi stuck, tidak naik, kemudian terjadi kenaikan sedikit dan awal Januari terus meningkat secara tajam,” kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di kantornya, Jumat, 12 Januari 2018.

Saat itu Enggar mengatakan harga beras melonjak karena kurangnya pasokan beras medium. Kenaikan harga beras medium ini mendorong kenaikan harga beras premium. Karena itulah impor beras harus dilakukan mengingat beras merupakan komoditas utama yang harus dijaga kestabilan harganya.

“Saya lakukan impor beras. Jenis beras yang diimpor adalah yang tidak ditanam di Indonesia,” ujar Enggar.

Namun keputusan pemerintah ini oleh sejumlah pedagang beras dianggap sudah terlambat. Pasalnya, kenaikan harga beras medium ini sudah terjadi pada November 2017. Seharusnya impor beras dilakukan saat itu untuk menjaga stabilitas harga beras eceran

“Masalah impor kan kita nggak ngerti ya, kita pedagang kecil. Menurut saya, impor seharusnya November lalu, baru bisa menutupi kondisi dengan harga sekarang. Kalau sekarang sudah telat, dua atau tiga bulan lagi sudah panen,” ucap pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Sutanto, kepada detikX, Selasa, 16 Januari.

Gudang beras di Pasar Cipinang, Jakarta Timur
Foto: Gresnia/detikX

Padahal, menurut Sutanto, setiap tahun, pada November hingga Maret kondisi harga beras memang selalu naik. Hal ini disebabkan oleh cuaca dan hasil panen yang tak sesuai dengan harapan. “Kan, namanya pertanian itu pasti ada hama, ada gangguan, banyak gangguannya,” tuturnya.

Bila impor beras masuk pada November 2017, menurut para pedagang, tentu tidak terjadi lonjakan harga beras medium. Apalagi beras impor rata-rata harganya lebih murah dan tergantung kualitas patahan beras itu sendiri. “Kalau harga, ya, beras mereka (impor) lebih kompetitif, lebih murah,” kata Sutanto.

Pedagang beras lainnya, sebut saja Budi, memerinci, saat stok masih ada pada Desember, harga beras medium masih di kisaran Rp 8.600-9.000 per kilogram, sedangkan beras premium Rp 12.800. Sayangnya, memasuki awal Januari ini, ketika pemerintah akan membuka keran impor, harga beras justru naik. Beras medium menjadi Rp 9.450. Bahkan beras premium, khususnya Pandan Wangi, yang sebelumnya Rp 12.800 menjadi Rp 14 ribu per kilogram.

Kebijakan impor beras juga menimbulkan kegaduhan tersendiri, mengingat keputusan itu diambil ketika terjadi kesimpangsiuran data stok beras di dalam negeri. Kementerian Pertanian mengklaim stok beras dalam negeri masih cukup dan tak perlu impor.

Data Kementerian Pertanian menyebutkan produksi gabah di dalam negeri pada Januari 2018 sekitar 4,5 juta ton, yang dikonversi menjadi 2,83 juta ton beras. Sementara kebutuhan konsumsi nasional 2,5 juta ton beras perbulan. Itu artinya, masih ada surplus stok beras sekitar 329 ribu ton beras dan pasokan dalam negeri lancar.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menambahkan, stok beras saat ini hanya 930 ribu ton, kurang dari 1 juta ton, yang menjadi batas aman cadangan beras nasional. Namun kekurangan stok beras nasional itu bakal bisa dipenuhi pada musim panen Januari-Februari 2018.

Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli mengkritik langkah impor beras. Pemerintah sejak awal tidak mengantisipasi stok beras nasional, sehingga menimbulkan lonjakan harga eceran. Seharusnya cadangan beras yang aman 2-2,5 juta ton.

Terjaganya stok beras bisa membuat stabil harga di pasaran. Dia menduga pemerintah sejak awal terlihat sengaja membiarkan agar bisa melakukan impor beras. “Kenapa Bulog tidak beli sesuai target? Kalau sengaja, ini kasihan sekali pemerintah Jokowi dikerjain,” kata Rizal kala mengunjungi Pasar Cipinang, Senin, 15 Januari.

Ketua Umum Koperasi Pasar Induk Beras Cipinang Zulkifli Rasyid mengaku sudah menyampaikan kekurangan stok beras medium itu kepada Menteri Pertanian. Tapi pada saat itu Menteri Pertanian mengatakan stok beras surplus. Kalau data itu benar, harga beras di pasar seharusnya tidak akan mengalami kenaikan.

“Saya sudah 40 tahun di Pasar Induk Cipinang. Baru kali ini saya menemukan harga beras tertinggi yang nggak jelas, sampai Rp 13 ribu,” ujar Zulkifli dalam sebuah diskusi Ikatan Alumni Universitas Indonesia di kampus UI Salemba, Jakarta, Kamis, 18 Januari 2018.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita
Foto: Eduardo Simorangkir/detikX

Itu sebabnya, Zulkifli setuju pemerintah saat ini membuka keran impor beras lantaran tak mau ambil risiko terkait ketersediaan beras nasional walau diklaim surplus. Sebab, Januari-Februari merupakan bulan berbahaya mengingat hasil panen raya belum tentu bagus juga.

“Januari-Februari itu sangat berbahaya. Kita nggak perlu impor. Walau kita impor, itu sudah terlambat. Tapi itu lebih baik daripada tidak. Kalau nggak (impor), dengan apa? Banyak rakyat Indonesia belum makan,” imbuhnya.

Meski masih terus terjadi kontroversi, Bulog, yang menerima penugasan dari pemerintah, sudah bersiap mendatangkan beras impor. Dana Rp 15 triliun bakal digulirkan untuk mengimpor beras pada Januari hingga Februari.

Beras itu akan tiba di wilayah-wilayah yang tidak mengalami panen, seperti Jakarta, Sulawesi Utara, Medan, dan Batam. "Dari sisi anggaran, kami sudah persiapkan khusus untuk beras. Ada Rp 15 triliun. Untuk impor, itu masih jauh di bawah kecukupan. Artinya, Bulog sangat mampu, jangan khawatir," kata Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti.


Reporter: Ibad Durohman, Gresnia Arela F, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE