INVESTIGASI

Supercar yang Tak Lagi Kencang Meraung

Penjualan mobil mewah turun sejak diterapkan pajak tinggi oleh pemerintah. “Member kami banyak yang mengeluh,” kata Presiden Ferrari Owners Club Indonesia Hanan Supangkat.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Rabu, 24 Januari 2018

Mobil jenis supercar maupun hypercar selalu menjadi impian masyarakat Indonesia yang berkantong tebal. Harga selangit dengan perawatan rumit bukan rintangan yang berarti.

Sejumlah mobil mewah jenis supercar sering terlihat melaju di jalanan, terutama di kota-kota besar di Indonesia. Khusus di Jakarta saja, angkanya melebihi 2.000 unit dan sebanyak 1.293 di antaranya diketahui masih menunggak pajak.

Namun, menurut Rudy Salim, seorang importir mobil mewah dengan bendera Prestige Motorcars, sejak Desember 2013 penjualan mobil jenis supercar dan hypercar itu mengalami penurunan, terutama sejak diterapkannya aneka pajak oleh pemerintah.

Pajak yang dibebankan kepada konsumen antara lain pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), pemberitahuan impor barang, pajak pertambahan nilai, pajak penghasilan, dan pajak barang mewah. Alhasil, rentetan pajak itu membuat harga mobil melambung hingga jadi 200 persen lebih mahal dibanding di negara asalnya.

“Akibatnya, penjualan kami jadi drop (menurun) hingga 70 persen sejak 2014,” ujar Rudy, yang mengaku pelanggannya berasal dari kalangan pejabat, pengusaha, hingga selebritas, kepada detikX pekan lalu.

Karena harga mobil mewah, seperti Ferrari dan Lamborghini, semakin mahal, pelanggan pun kini memilih mobil bermerek Porsche, yang harganya lebih rendah daripada dua mobil supercar itu. “Porsche Boxster, Cayman, dan Macan masih menjadi andalan penjualan di Prestige. Dan dalam waktu dekat ini kami juga akan launching Bugatti,” tutur Rudy.

Salah satu mobil yang dipasarkan Excel Trade Indonesia
Foto: dok. Instagram Prestigemotorcars

Dijelaskan Rudy, urusan harga bergantung pada kapasitas mesin dan kelasnya. Untuk kelas sports car, harganya masih ratusan juta rupiah. Supercar seperti Porsche dijual Rp 3 miliar lebih, Lamborghini Rp 9 miliar lebih, dan Ferrari dihargai mulai Rp 10 miliar hingga belasan miliar rupiah.

Sedangkan mobil jenis hypercar, seperti Koenigsegg, Pagani, Ferrari LaFerrari, Bugatti, dan Lamborghini Veneno, harga terendahnya Rp 30 miliar.

Presiden Ferrari Owners Club Indonesia Hanan Supangkat membenarkan dampak kenaikan pajak mobil mewah sejak 4 tahun lalu. Sebelum 2013, harga Ferrari masih Rp 7-9 miliar, tapi saat ini harga satu unit mobil buatan Italia itu minimal Rp 13 miliar. “Makanya jumlah pembelian mobil Ferrari cenderung menurun tiap tahun. Member kami banyak yang mengeluh,” ucap Hanan kepada detikX.

Sayang, tidak ada data pasti penjualan mobil mewah. Innez Lawry, Marketing & Public Relations Manager PT Citra Langgeng Otomotif, selaku agen penjualan resmi Ferrari di Indonesia, enggan menjelaskan penjualan mobil berlogo kuda jingkrak tersebut.

“Kami tidak memiliki kewenangan untuk mendistribusikan informasi tersebut. Ferrari akan mengumumkan tingkat penjualannya melalui press release tahunan,” ujar Innez kepada detikX saat dimintai tanggapan, Rabu, 24 Januari 2018.

Badan Pajak dan Retribusi Daerah DKI Jakarta mendatangi wajib pajak pemilik mobil mewah yang menunggak pajak secara door to door.
Foto: Arief Ikhsanudin/detikcom

Innez juga tidak mau membocorkan berapa kisaran harga Ferrari saat ini dengan alasan Ferrari dibuat berdasarkan permintaan pelanggan, sehingga harganya akan berbeda-beda. Namun, saat ini, yang sedang menjadi idola adalah Ferrari V8 Mid-Engined karena dianggap memiliki keunikan performa.

Ferrari tidak mempersoalkan tingginya pajak dan bea masuk, yang membuat harga mobil yang dijualnya semakin tinggi di Indonesia. “Berhubung itu merupakan peraturan dari pemerintah, kami tentunya wajib mengikuti meskipun berdampak pada naiknya harga mobil,” kata Innez.

Soal tingginya pajak mobil impor diakui Hestu Yoga, Direktur Humas Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan. Kata Hestu, pajak pertambahan nilainya hanya 10 persen flat. Namun barang-barang tertentu akan dikenai PPnBM.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No 64/PMK.001/2014, hitung-hitungan PPnBM tersebut berpatokan pada kapasitas mesin. Semakin besar kapasitas mesinnya, makin besar pula PPnBM-nya, kecuali angkutan umum. Belum lagi bea masuk, yang dikenakan berdasarkan tingkat kemewahan mobil tersebut.

Menurut Hestu, PPnBM ini diterapkan secara selektif, yakni hanya untuk barang-barang yang dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi. “Yang kita kenai pajak tinggi itu kan golongan masyarakat berpenghasilan tinggi. Bisa beli Ferrari atau Lambo tentu mereka penghasilannya sangat tinggi. Itu untuk aspek keadilan juga,” tutur Hestu.

Selain harga yang hingga belasan miliaran rupiah, merawat mobil mewah sekelas supercar atau hypercar tidaklah murah dan mudah. Apalagi jika masa garansi telah habis. Sebab, soal maintenance, seperti dikatakan Rudy, penjual hanya memberikan garansi servis gratis dan perawatan selama 2 tahun untuk mobil baru dan tergantung tipenya.

Prestige Motorcars mememeriahkan Hari Kemerdekaan RI dengan melakukan konvoi mobil mewah yang bertemakan merah-putih.
Foto: Hasan Alhabshy/detikcom


Bengkel untuk menangani mobil-mobil tersebut juga harus bengkel khusus dengan mekanik khusus pula. “Untuk Ferrari dan Lamborghini, ada bengkelnya di Jakarta. Porsche bisa di Eurokars Jakarta Selatan,” kata Rudy.

Sementara itu, Innez mengatakan pihaknya memiliki program 7-Years Maintenance untuk para pelanggan. Program tersebut memberikan perawatan berkala secara gratis pada tujuh tahun pertama. “Program tersebut memberikan perawatan berkala beserta beberapa sparepart, seperti oli dan minyak rem, gratis untuk 7 tahun pertama,” tuturnya.

Soal rumitnya penanganan mobil mewah sempat dialami Komisi Pemberantasan Korupsi, yang menyita sejumlah mobil mewah dari tangan para koruptor. Mobil-mobil mewah, yang kebanyakan milik terdakwa Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, memang perlu dirawat dengan baik karena statusnya sebagai barang sitaan.

Untuk kepentingan tersebut, KPK meminta bantuan Taqwa Suryo Swasono, teknisi ahli dari Sentul Driving Course, untuk memberi pelatihan kepada belasan petugas dari unit pengelolaan alat bukti dan sitaan KPK. Butuh waktu dua jam penuh guna memberi pengarahan kepada petugas untuk merawat mobil-mobil mewah tersebut.

Pelatihan yang diajarkan antara lain pencucian dan perawatan mesin agar tetap fit. Proses pencucian atau pengelapan mobil tidak boleh saat mobil dalam kondisi terpapar matahari. Jadi kondisi paling ideal untuk membersihkannya pada pagi atau malam hari, saat bodinya masih dingin.

Ferrari 812 Superfast
Foto: Rachman Haryanto/detikcom

Lalu, untuk meminimalkan korosi, piringan rem harus ditutup agar tak terkena air hujan. Kondisi tekanan angin ban juga perlu dicek secara periodik, minimal sekali sepekan.

Sedangkan mesin harus dipanaskan sekali seminggu. Bahan bakarnya pun lebih baik jika diisi sedikit. Supaya bensinnya tetap fresh.

Kepada petugas penjaga aset KPK, Taqwa juga menjelaskan bahan bakar untuk mobil-mobil sport mewah, seperti Bentley, Ferrari, Lamborghini, Nissan GTR, dan Rolls-Royce, berbeda dengan mobil pasaran. Sebab, bensin yang digunakan harus beroktan tinggi, yakni oktan 100, yang harganya Rp 60 ribu per 1 liter. Tapi, kalau hanya untuk memanaskan mesin saja, cukup bensin beroktan 95.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pembersihan bagian interior mobil. Soalnya, bahan yang digunakan untuk interior mobil-mobil mewah tersebut materialnya dari kulit domba asli dan dashboard dari kayu. Keduanya sangat sensitif terhadap noda keringat, minyak, lemak, ataupun air sehingga harus hati-hati.

Meski harga dan perawatan mobil tersebut menelan biaya selangit, banyak kalangan berduit tidak mempersoalkannya. Mobil-mobil mewah keluaran Eropa itu masih tetap jadi incaran.


Reporter: Ibad Durohman, Gresnia Arela F, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE