INVESTIGASI

Becak Indramayu
yang Kian Layu

“Dulu pelanggannya banyak, sampai kita capek sendiri. Ada penumpang saja nggak diterima, ngumpulin napas dulu.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 08 Februari 2018

Pada 1970-1980, penarik becak di Jakarta didominasi perantau dari Indramayu, Jawa Barat. Sejak becak dibersihkan dari Jakarta, banyak penarik becak kembali ke kampung mereka. Hampir di setiap sudut jalan Indramayu terdapat penarik becak. Becak bebas berseliweran di kota yang terkenal akan mangganya ini.

Tapi kini penarik becak di Indramayu tak seramai dahulu. Hanya beberapa tempat yang menjadi konsentrasi penarik becak, sebut saja Pasar Patrol, Pasar Jatibarang, Pasar Karang Ampel, dan Sindang. Itu pun tak sebanyak dahulu.

Penarik becak di Indramayu kini didominasi pria berusia lanjut, 50-80 tahun. Solihin misalnya. Pria yang berumur sekitar 80 tahun itu setiap hari mangkal di depan Hotel Prima, Jalan DI Panjaitan, Karanganyar, Indramayu.

“Saya narik becak sejak 1984, sejak pensiun kerja di Hotel Prima,” ucap Solihin sambil menunjuk Hotel Prima di seberang tempatnya mangkal kepada detikX, Kamis, 1 Februari 2018.

Solihin mendapatkan uang pensiun Rp 850. Uang itu sebagian ia belikan becak seharga Rp 350. Becak itu ia operasikan sehari-hari untuk menafkahi keluarganya. Kini setiap hari ia bisa membawa pulang Rp 20 ribu . “Lumayanlah. Itu kalau lagi ramai penumpang,” ujarnya sambil tersenyum.

Sama halnya dengan Karnilah, 65 tahun. Setiap hari dia bisa mengantongi pendapatan Rp 20-40 ribu dari mengayuh kendaraan roda tiga itu. Kata Karnilah, semua penarik becak di Indramayu tidak pernah mematok tarif.

Solihin, penarik becak di Indramayu.
Foto : M Rizal/detikX

“Semuanya begitu. Se-dikasih-nya saja, nggak ada tarif. Seikhlasnya. Kalau nggak ikhlas, saya nggak mau. Kalau ada nenek-nenek jatuh, saya angkut juga. Paling bayarannya didoain saja saya sudah terima kasih,” katanya kepada detikX saat ditemui di kawasan Pasar Mambo, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Lemahabang, Indramayu, Rabu, 31 Januari 2018.

Populasi penarik becak di Indramayu sendiri sekarang berkurang drastis. Berbeda dengan pada 1980-2000-an. Saat itu, penarik becak masih banyak di Indramayu. Bahkan saat itu hampir setiap gang di sudut-sudut Kota Indramayu dipenuhi penarik becak. Belum lagi pangkalan becak yang berjejer, khususnya di pasar-pasar.

“Mulai 2004 sampai sekarang kondisinya parah, sepi. Mungkin sekarang sudah modern. Dulu pelanggannya banyak, sampai kita capek sendiri. Ada penumpang saja nggak diterima, ngumpulin napas dulu,” ujar Karnilah.

Berbeda kondisinya dengan saat ini. Kini jarang orang yang mau naik becak. Bahkan Solihin, Karnilah, dan sesama penarik becak lainnya hanya bisa melongo melihat orang hilir mudik menggunakan sepeda motor dan mobil dari atas becak mereka. Kalaupun ada penumpang, mereka biasanya pelanggan lama ibu-ibu yang hendak ke pasar, mengantar barang, atau menjemput anak sekolah.

“Saking nggak ada yang mau naik, kita lihatin saja. Kalau ada anak-anak, ya, saya anterin saja. Kasihan dan daripada saya diam saja,” tuturnya sambil tertawa.

Becak di antara mobil dan sepeda motor di Kota Indramayu
Foto : M Rizal/detikX

Walau tak ada larangan khusus soal becak, jumlah penarik becak di Indramayu berkurang terus. Pasalnya, menurut Karnilah, sudah banyak penarik becak yang sepuh atau meninggal.

Berkeliling Indramayu, detikX akhirnya bertemu dengan penarik becak berusia muda, Mamat, 27 tahun. Ia adalah pemuda asal Karang Ampel. Mamat menjadi penarik becak sejak 11 tahun lalu, setamat SMP. Mamat sendiri menarik becak menggantikan orang tuanya, yang juga penarik becak. Bila tak menarik becak, Mamat bekerja serabutan sebagai buruh bangunan di Jakarta dan buruh tani.

“Ini narik sebagai sampingan saja. Kalau nggak ada proyek bangunan, ya saya narik becak. Enakan sih jadi buruh bangunan, lebih jelas uangnya,” ucapnya.

Mamat sendiri tak tahu berapa jumlah becak yang sekarang masih beroperasi di Indramayu. “Ya lumayan, seratusan kali ya, kebanyakan sudah tua-tua dan kebanyakan buat narik belanjaan saja,” imbuhnya.

Bukan hanya penarik becak, bandar becak pun merasakan penyusutan jumlah becak dan penghasilannya. Syamsudin alias Udin Ceret, 63 tahun, misalnya, dulu memiliki 40 becak, tapi kini tinggal 15 becak yang disewakan.

“Sekarang sudah jarang ya orang yang mau narik becak, nggak sebanding sama tenaga. Kebanyakan sudah pada sepuh. Angkatan saya sama di atas saya,” kata pemilik becak Putera Indramayu itu kepada detikX di pangkalan sekaligus bengkel becaknya di Sindang Barat, Sindang, Indramayu.

Salah satu pangkalan becak di Indramayu
Foto : M Rizal/detikX

Syamsudin baru menjadi bandar becak sejak 10 tahun lalu. Sebelumnya, ia berjualan bubur kacang hijau di depan SD Sindang. Ia menjadi bandar becak dengan membeli sejumlah becak bekas untuk disewakan. Harga becak bekas yang dia beli antara Rp 800 ribu dan Rp 1 juta. Ini lebih murah dibanding membeli becak baru buatan Cirebon, yang harganya Rp 3-4 juta.

Syamsudin menyewakan becaknya per hari Rp 7.000 sebagai setoran. Namun, karena kondisi sekarang sulit, banyak penarik becak yang menyewa becaknya tak bisa bayar setoran. Kadang ada penarik becak yang membawa uang Rp 10 ribu. “Masak iya dia bawa pulang ke rumah cuma Rp 3.000. Ya sudah, saya suruh bawa pulang uangnya. Memang bener, makin ke sini makin parah,” Syamsudin menambahkan.

Banyak teman Syamsudin yang menjual becak untuk menutupi kebutuhan hidup. Karena becaknya dijual, temannya itu justru menyewa becaknya lagi. Dia sendiri kini tak bisa membeli banyak becak karena susah menjualnya. Bahkan banyak becaknya yang menganggur karena tak ada yang menarik.

Pemerintah Kabupaten Indramayu mengaku tidak tahu persis berapa populasi warganya yang menjadi penarik becak. Pasalnya, menarik becak bagi kebanyakan orang Indramayu merupakan kerja sampingan. Biasanya pekerjaan utama mereka adalah buruh tani dan nelayan.

“Jadi data itu nggak ada. Kalau petani dan nelayan ada, narik becak itu hanya sampingan, makanya tak terdata,” ujar Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Indramayu Ending Abdul Qodir kepada detikX di kantornya, Kamis, 1 Februari 2018.

Syamsudin alias Udin, bandar becak di Indramayu
Foto : M Rizal/detikX

Begitu juga soal jumlah becak di Indramayu, menurut Ending, pemerintah daerah tak memiliki data persis. Berbeda dengan sebelum 1998 akhir, jumlah becak masih terdata karena memang becak masih ada pajaknya.

“Karena dulu becak, termasuk sepeda dan radio, itu masuk objek pajak. Kalau tidak salah, akhir 1980-an semua pajak itu dihapuskan, jadi kami tak pegang data lagi,” ucap Ending.

Sementara itu, menurut Kepala Dinas Perhubungan Indramayu E Trisna Hendarin, pihaknya memang tak mengatur persoalan becak. Karena itu, pihaknya tak memiliki kewenangan dalam pendataan becak di daerahnya.

“Becak ini kan kendaraan umum nonmesin sehingga tidak ada pengendalian, bahkan ojek saja belum dikatakan sarana transportasi umum,” kata Trisna kepada detikX di kantornya.

Yang jelas, becak banyak tersebar di Indramayu, Cirebon, dan Tegal. Sedangkan di Kuningan dan Sumedang lebih banyak becak motor karena kondisi jalan yang naik-turun. Trisna mengakui, pada 1980-1990-an di Indramayu memang ada pajak untuk becak. Bahkan penarik becak harus mengantongi surat izin mengemudi D ‘khusus becak’.

“Nah, dulu juga di Indramayu, sepengetahuan saya, itu ada pengaturannya, ada pelatnya yang membedakan jam operasional. Misalnya kalau malam pelatnya putih, kalau siang pelatnya biru,” Trisna menambahkan.

Kepala Dinas Perhubungan Indramayu, E Trisna Hendarin
Foto : Ibad Durohman/detikX

Hal itu diberlakukan karena populasi becak sangat tinggi, sehingga mengganggu lalu lintas. Besarnya populasi becak juga disebabkan oleh angka pengangguran yang tinggi, sehingga menarik becak menjadi pilihan paling populer sebagai ladang pekerjaan, apalagi tak membutuhkan izin trayek dan lainnya. “Bahkan dulu becak bisa menjadi barang investasi. Tapi sekarang beda,” ujar Trisna.

Penurunan jumlah becak di Indramayu, menurut Trisna, disebabkan banyak faktor, di antaranya mulai menjamurnya mobil angkutan kota dan ojek. Sejak 2000-an, seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian, masyarakat lebih mudah membeli motor.

Di Indramayu, becak masih diperbolehkan beroperasi karena lalu lintas jalan di Indramayu tidak semacet di Jakarta. Pengaturan becak di Indramayu sifatnya situasional dan tentatif. Artinya, pengaturan mengenai becak tidak diterapkan di semua jalan. Hanya, soal jalur satu arah, becak dilarang menerabasnya karena membahayakan keselamatan berlalu lintas sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE