INVESTIGASI

Dilarang ke Jakarta, Becak Tembus Eropa

“Ya, sejak ada berita becak boleh lagi di Jakarta, alhamdulillah, sampai sekarang belum ada yang pesan, ha-ha-ha....”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Jumat, 09 Februari 2018

Becak memang kian susut keberadaannya di sejumlah daerah. Namun becak masih terlihat beroperasi di Pulau Jawa. Model dan bentuk becak di beberapa daerah memang berbeda, mengikuti budaya dan kondisi geografis di wilayah itu.

Kini, seiring dengan menyusutnya jumlah becak yang beroperasi, pembuat dan perajin becak pun mulai hilang. Hampir semua becak yang beroperasi di Pulau Jawa berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Di daerah ini pun pembuat becak mulai langka.

Di Cirebon sebenarnya ada 16 pembuat becak. Namun kini tinggal satu pembuat becak yang masih bertahan, itu pun kini berfokus pada becak mini. Bengkel becak itu milik Jamhuri, warga Desa Klayan, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.

“Kalau dihitung, dalam setahun saja belum tentu ada yang pesan buat becak besar sekarang ini,” kata Jamhuri saat ditemui detikX di bengkelnya, Gang Jagasatru, RT 04 RW 04, Desa Klayan, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jumat, 2 Februari 2018.

Hari itu seorang pembuat becak berumur paruh baya, dengan bertelanjang dada, terlihat tengah mengecat becak dengan warna merah. Sedangkan dua orang lainnya, yang masih muda, memotong lempengan besi dan kayu albasia. Mereka tengah mengerjakan pembuatan 40 unit becak mini.

Di rumah Jamhuri terlihat beberapa batang kayu albasia dan lempengan besi. Bunyi nyaring bor dan besi beradu ditimpali bunyi mesin serut kayu. Siang itu, setelah salat Jumat, beberapa karyawan Jamhuri kembali sibuk bekerja. “Ya, ini lagi nyelesaiin pesanan untuk ke Bekasi, pesan 40 unit becak mini,” ujar Jamhuri, yang saat itu baru pulang menjemput anak bungsunya dari sekolah.

Jamhuri, pembuat becak yang masih bertahan di Cirebon
Foto : Ibad Durohman/detikX

Pria berperawakan kecil itu tak mengira usaha warisan ayahnya masih bertahan. Padahal banyak pembuat becak serupa di Cirebon yang sudah gulung tikar. Ia juga tak menyangka bisa jadi pembuat becak, padahal dulu hanya penarik becak.

Menjadi penarik becak merupakan warisan ayahnya, yang asal Indramayu. Ayah Jamhuri membuat becak besar sejak 1970-an. Setamat sekolah dasar, Jamhuri sempat menarik becak di Cirebon. Lalu menjadi penarik becak di Jakarta pada 1984 di kawasan Kebantenan, Semper, Jakarta Utara. Bahkan sempat enam tahun menarik becak di Merak, Cilegon, Banten, sampai 1989.

Sekembali dari Merak, ia membantu ayahnya membuat becak besar dan memperbaiki becak serta sepeda. Ayah Jamhuri tak melulu membuat becak baru, tapi juga merehab becak rongsokan menjadi becak baru. “Kalau becak bekas dulu kan bagus-bagus, kayunya dari jati semua, besinya juga baja bekas per mobil, jadi awet, tahan lama,” tutur Jamhuri.

Ayah Jamhuri sempat membuat becak mini. Awalnya adalah ketika kakak Jamhuri membeli sepeda baru dan hilang dicuri orang. Saat itu, Jamhuri masih duduk di bangku sekolah dasar. Ayahnya mengatakan tak usah membeli sepeda lagi dan akan membuatkan becak mini, yang nggak akan dicuri orang.

“Sudah, nggak usah beli sepeda lagi, bikin saja becak yang kecil,” ujar sang ayah ditirukan kembali oleh Jamhuri.

Becak mini hasil karya Jamhuri
Foto : Ibad Durohman/detikX

Becak mini itu sebenarnya hanya dipakai pribadi keluarga. Tapi beberapa bulan kemudian, ternyata becak mini ada peminatnya. Akhirnya ayahnya kembali membuat beberapa becak mini dan dijual di sekitar lingkungan tetangga dan lingkup Cirebon. Beberapa tahun kemudian, tepatnya setelah reformasi 1998, justru mulai banyak peminat becak mini.

Pada 1999, Jamhuri dihubungi seorang wartawan TVRI, yang juga seniman. Saat itu wartawan tersebut mengatakan telah meneliti becak se-Indonesia. Dari hasil penelitiannya itu, becak buatan Cirebon-lah yang dianggap paling bagus, termasuk buatan ayah Jamhuri.

Saat itu Jamhuri dikenalkan dengan seseorang di Bandung untuk melakukan pameran becak di Taman Budaya Dago selama lima hari. Saat itu, Jamhuri membawa lima unit becak buah karyanya. Satu becak besar dan empat becak mini. Ternyata pihak Taman Budaya meminta semua ruangan diisi becak hasil karya Jamhuri. “Alhamdulillah, setelah pameran itu, dari segala penjuru pesan becak ke saya. Selang tiga bulan dari pameran, banyak yang pesan becak,” ujarnya mengenang.

Walau Jamhuri kini berfokus pada becak mini, usaha ayahnya (almarhum) membuat becak besar masih dijalani. Sayangnya, pesanan becak besar sangat jarang. Apalagi jumlah penarik becak besar, baik di Cirebon maupun Indramayu, menyusut. “Kalau ada yang pesan, ya saya buatkan. Tapi fokusnya sekarang pada becak mini,” ujarnya.

Pesanan terhadap becak mini lebih banyak dari Bandung dan Jakarta. Becak mini yang dibuatnya ada dua tipe, yaitu tipe roda 16 inci dengan harga Rp 1,7 juta per unit dan roda 20 inci dengan harga Rp 1,9 juta per unit. Sedangkan bila ada yang memesan becak besar, Jamhuri mematok harga Rp 4-5 juta.

Untuk produksi becak mini, bengkel Jamhuri sanggup membuat 40 unit dalam satu bulan. Dalam sehari, rata-rata dua unit becak mini bisa dibuat Jamhuri, sedangkan pembuatan becak besar butuh waktu dua hari. Paling lama adalah proses pengeringan saat mengecat becak.

Dalam sebulan, Jamhuri bisa menyelesaikan 40 unit becak mini.
Foto : Ibad Durohman/detikX

Becak besar buatan bengkel Jamhuri pernah diekspor ke Irlandia, Jerman, Italia, dan Belanda. Bahkan, pada 2016, Jamhuri membuat dan menjual becak besar sebanyak 10 unit ke Brunei Darussalam. “Tahun 1990-an akhir, saya jual 15 unit becak besar ke Irlandia,” tutur Jamhuri.

Pemesan becak besar dan mini produksinya hampir rata dari seluruh Indonesia, seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat. Selain membuat becak besar dan mini, Jamhuri sampai 2005 masih menyewakan becak. Saat itu ia memiliki 21 unit, tapi sudah dijual dan sekarang ia berfokus pada pembuatan becak.

Ketika ditanya apakah ada pesanan becak ke bengkelnya setelah Pemprov DKI Jakarta mengizinkan becak beroperasi lagi, ia menjawab, “Ya, sejak ada berita becak boleh lagi di Jakarta, alhamdulillah, sampai sekarang belum ada yang pesan, ha-ha-ha....”

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Indramayu E Trisna Hendarin membenarkan becak-becak di Indramayu datang dari Cirebon. Sudah tidak ada lagi pembuat becak di Indramayu. “Nah, saat ini becak memang pabriknya atau pembuatannya sudah nggak ada ya, berkurang. Mungkin hanya ada di Cirebon beberapa saja,” katanya kepada detikX.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE