INVESTIGASI

REPORTASE HULU CILIWUNG

‘Banjir’ Sampah
di Puncak Bogor

Sampah di hulu Ciliwung disebut mencapai 7.000 ton per hari. Jika angka itu benar, sampah tersebut sama dengan yang diantar Jakarta ke Bantargebang saban harinya.

Ilustrasi: Edi Wahyono
Foto-foto: Syailendra Hafiz Wiratama

Kamis, 15 Februari 2018

Sandal hotel, kotak nasi, dan kantong plastik adalah sampah yang dominan di Sungai Ciesek, salah satu hulu Sungai Ciliwung yang membelah Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemandangan serupa pun lumrah terlihat di hulu Ciliwung lainnya, seperti Sungai Cikamasan di Tugu Utara dan Sungai Cisampai Tugu di Desa Tugu Selatan.

Forest Watch Indonesia (FWI), sebuah organisasi pemerhati Sungai Ciliwung, menemukan, setidaknya ada 44 titik sampah di sejumlah sungai yang menjadi hulu Ciliwung tersebut. Volumenya ribuan ton.

“Kalau tidak salah, ada sekitar 7.000 ton sampah per harinya yang terdata. Sampah itu mengalir ke Pintu Air Katulampa,” kata Anggi P Prayoga, Manajer Kampanye dan Advokasi FWI, kepada detikX pekan lalu.

Berdasarkan temuan FWI dan Institut Pertanian Bogor, sampah tersebut kebanyakan berasal dari hotel yang banyak berdiri di sepanjang aliran sungai. Juga dari warga yang tinggal di bantaran kali dan wisatawan di kawasan Puncak.

Dari pantauan detikX di Sungai Cikamasan, Kampung Pensiunan, Tugu Utara, bangunan rumah penduduk yang merupakan pensiunan pekerja kebun teh PT Gunung Mas itu berimpitan dan membelakangi sungai. Warga membuang sampah dan limbah rumah tangga lainnya langsung ke Sungai Cikamasan.

Sampah-sampah yang dibuang di hulu Sungai Ciliwung

Kondisi memprihatinkan juga terlihat di Sungai Cisampai yang melintas di Blok C, Tugu Selatan. Blok C adalah kampung ujung yang berbatasan dengan kebun teh milik PT Gunung Mas. Permukiman itu juga dihuni oleh karyawan PT Gunung Mas, yang memiliki hak guna usaha perkebunan teh di sana. Ada 300 keluarga yang tinggal di sana.

Saat detikX menyambangi sungai tersebut ditemani aktivis Komunitas Peduli Ciliwung, Cucup Supriyatna, pekan lalu, air di sungai terlihat jernih dan deras. Baru saja hujan turun dengan lebat dan menyapu aneka sampah di sungai.

Biasanya sampah berceceran di Sungai Cisampai. "Karena air cukup deras, mungkin sampah-sampah yang biasanya tersangkut sudah terbawa arus hingga ke Katulampa," kata Cucup, yang juga bekerja di perkebunan teh PT Gunung Mas.

Sukarna, 65 tahun, warga RT 01 RW 10 Kampung Pensiunan, mengaku membuang sampah ke sungai karena tak ingin sampah berlama-lama teronggok. Sebab, sering kali tukang sampah cukup lama tidak mengambilnya. Jika sampah tidak dibuang ke sungai, untuk mengurangi sampah, ia biasa membakarnya.

Hal yang sama dikatakan Kusmana, 46 tahun. Ia dan warga lain di Kampung Pensiunan tidak memiliki tempat pembuangan sampah. Karena itu, jalan pintasnya adalah membuang sampah ke sungai.

Cucup Supriyatna, aktivis Komunitas Peduli Ciliwung

Ia sebetulnya sadar sampah-sampah itulah yang menjadi penyebab banjir di Kampung Pensiunan. Namun tidak banyak yang bisa dilakukan. “Jadi jelas (sungai) ada penyempitan karena ada sampah itu. Jadi mampet. Makanya banjir,” kata dia kepada detikX.

Ketua RT 01 Kampung Pensiunan, Agus Komarudin, mengatakan jumlah mobil angkutan sampah memang sangat kurang. Sampah diangkut tiga bulan sekali. Sementara itu, sampah-sampah yang menumpuk kadang dibakar begitu saja, kadang dibuang warga ke sungai. Dia pun tidak bisa menyalahkan warganya yang membuang sampah ke sungai.

“Sebenarnya ada sih program Eco Village, yakni penanaman pohon di sepanjang aliran sungai, terus juga pembersihan sampah. Tapi, untuk pembersihan sampah, jujur saja, itu cukup sulit,” katanya kepada detikX.

Cucup menambahkan, di kawasan Blok C juga tidak ada bak sampah. Tempat penampungan sampah hanya tersedia di lokasi Agro Wisata Gunung Mas. Namun truk sampah juga hanya seminggu sekali ke lokasi, sehingga tidak semua sampah terangkut.

“Di Blok C Gunung Mas ini ada tempat wisata. Kan wisatawan kebanyakan dari Jakarta, jadi sampahnya dari Jakarta juga. Terus kalau pada liburan di Puncak, weekend kan macet, tuh. Di mobil sambil ngemil-ngemil, nah bungkusnya itu dibuang ke jalan, ujungnya ke kali juga. Terus yang punya vila siapa? Itu orang Jakarta juga,” katanya.

Aliran Sungai Cisampai, salah satu hulu Sungai Ciliwung

Kendati demikian, menurutnya, jumlah sampah sedikit menyusut ketika Komunitas Peduli Ciliwung membuat program bersih-bersih sampah sebulan sekali pada 2012-2015 bekerja sama dengan dinas kebersihan. Sampai saat ini program tersebut masih digalakkan, namun menyesuaikan situasi dan kondisi.

Kepala Desa Tugu Selatan Arif Lukman mengatakan sampah adalah masalah yang kompleks, sama halnya dengan alih fungsi lahan di Puncak dari hutan ke permukiman dan vila, yang seolah tak bisa dibendung. Tidak adanya tempat pembuangan sampah hampir terjadi di seluruh RT.

Selain itu, tingkat kedisiplinan dalam membuang sampah di kawasan Puncak sangat rendah. “Nanti kita akan ciptakan pengelolaan sampah, ya. Juga yang penting kita bina manusianya dulu. Kita tingkatkan akhlak warga desa,” tuturnya.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE