INVESTIGASI

Menelusuri Bisnis Fantasi Boneka Seks

“Pembeli yang dari Bandung itu kecewa. Ujung-ujungnya minta dibalikin duitnya. Saya bingung sendiri.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 20 Februari 2018

Beberapa tahun belakangan ini, fenomena jual-beli alat bantu seks berkembang pesat di dunia, khususnya boneka seks atau sex doll. Begitu juga di Indonesia, sudah ada beberapa penjual yang menawarkan boneka ‘teman kencan’ ini. Memang tak sesemarak di Jepang, China, Eropa, dan Amerika, pengguna boneka seks di Indonesia bisa dikatakan jarang, tapi ada.

Pasokan boneka seks, yang kadang disebut sebagai boneka cinta (love doll), istri Belanda (wife Dutch), istri diam, sintetis mitra, dan gynoid, merupakan produk Jepang dan China. Di Indonesia, pasaran boneka seks ini lebih didominasi dari China, selebihnya Jepang. Boneka seks ini pun dijual secara terbatas untuk kalangan dewasa.

China dan Jepang seolah beradu kecanggihan dalam membuat boneka seks, yang berbahan dasar silikon. Tidak hanya membuat boneka yang hampir mirip tubuh manusia, tapi juga berlomba-lomba dalam hal ‘kepintaran’ boneka itu.

Dari situs www.exdoll.com, perusahaan boneka seks asal China, Exdoll, kini mampu memproduksi 400 unit boneka per tahun. Padahal sebelumnya, sekitar 2009, ketika memulai produksinya, perusahaan itu hanya mampu membuat 10 unit boneka per bulan atau 120 per tahun.

Hampir 80 persen boneka seks dunia saat ini dipasok dari pabrik Exdoll di Negeri Tirai Bambu. Perusahaan itu menargetkan membuat boneka-boneka seks tercanggih di dunia dengan menyerap tenaga kerja 1 juta orang. Nilai aset perusahaan ini pun sangat fantastis, yaitu sekitar US$ 6,6 miliar atau Rp 898,26 triliun.

Boneka seks buatan China
Foto: dok. Exdoll

Exdoll menawarkan beragam model, bentuk, dan tipe boneka seks. Harga per unit yang paling murah dengan kode UT-145, misalnya, dibanderol dengan harga 9.980 yuan atau setara dengan Rp 19,5 juta (dengan kurs rupiah Rp 1.949 per yuan). Sedangkan boneka yang termahal dibanderol 23.800 yuan atau sekitar Rp 46,4 juta. Exdoll sedang mengembangkan boneka yang bisa ngobrol dengan penggunanya.

Pesaingnya, perusahaan Jepang, Orient Industry, yang berpusat di Tokyo, lebih tua. Selama 40 tahun, Orient menggeluti bisnis sex toys, tapi baru memproduksi boneka seks pada 1977. Seperti dilansir www.japantime.co.jp, pada 5 Juli 2017, Orient menghasilkan 400 unit boneka per tahun. Harga satu unit boneka seks berada pada kisaran 262.440-685.000 yen atau setara dengan Rp 33,3-86,9 juta.

Amerika Serikat, sejak 2009 hingga kini, sudah ‘mengekspor’ sekitar 3.500 boneka seks ke seluruh dunia. Hal ini disebutkan oleh Sarah Valverde dalam makalah tesisnya untuk meraih magister psikologi di Universitas Negeri California pada 2012. Dalam tesis berjudul ‘The Modern Sex Doll-Owner: A Descriptive Analysis’, sebuah perusahaan boneka terkenal di Amerika Serikat membanderol satu unit boneka dengan harga US$ 3.500-10.000 atau setara dengan Rp 45,5-130 juta.

Lantas bagaimana dengan produk-produk boneka seks yang dijual di Indonesia? Dari penelusuran detikX, bukan perkara mudah mendapatkan boneka seks. Jangankan berbicara soal kualitas boneka, penjualnya pun sangat sedikit jumlahnya. Umumnya penjual boneka seks di Indonesia adalah para pemilik toko ‘obat kuat’, herbal keperkasaan, dan sex toys.

Boneka seks sebetulnya mudah didapatkan melalui mesin pencari Google. Banyak penjual yang menawarkannya. Namun pemilik toko umumnya enggan didatangi langsung dalam urusan jual-beli boneka seks ini. “Kami toko online, barang kami kirim melalui jasa paket. Tidak bisa COD,” kata salah satu pemilik toko ‘obat kuat’ kepada detikX.

Salah satu boneka seks yang dijual secara online di Indonesia
Foto: screenshot

Penjual yang mengaku berdomisili Depok, Jawa Barat, ini mengatakan beberapa orang menghubunginya setelah tahu ia memajang boneka seks di blog. Namun sejauh ini ia baru berhasil menjual satu boneka, itu pun setahun lalu. Selain itu, stok barang tersebut sulit didapatkan. Ia mencoba menjualnya setelah ditawari oleh tenaga pemasaran keliling.

Boneka seks made in China itu ia jual Rp 1,5 juta. Boneka itu seluruhnya berbahan dasar silikon. Ia lantas mengirimkan sejumlah contoh gambar koleksi boneka yang memiliki bobot 60 kilogram dengan tinggi 120-160 cm. Boneka itu dijual dengan packing mirip Barbie, yang ukuran dusnya sekitar 35 x 25 x 20 cm.

Bila ingin digunakan, boneka itu harus terlebih dahulu dipompa. Fitur yang tersedia pun hanya getaran. “Ini nggak bisa bicara, fungsinya bisa bergetar saja, dipompa saja,” ujar sang penjual.

Sementara itu, salah satu toko grosir ‘obat kuat’ di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat, mengaku pernah menjual boneka seks buatan Jepang secara online. Ia pada 2010 menjual boneka yang tak hanya bergetar pada organ genital, tapi juga mampu mengeluarkan suara desahan wanita dengan harga puluhan juta rupiah.

Pembelinya adalah seorang penyanyi kafe di Bandung, Jawa Barat, yang membeli boneka tersebut seharga Rp 30 juta. Pembeli itu mengaku sudah mengantongi izin dari istrinya untuk membeli boneka dengan tujuan agar tidak ‘jajan’ bila sedang ada pekerjaan di luar kota. “Sekali itu saja yang beli, dan memang cuma satu stoknya. Setelah itu nggak ada lagi,” tutur penjual itu kepada detikX.

Boneka seks buatan perusahaan Jepang terbuat dari silikon
Foto: dok. terryfairley

Ia mengaku mendapatkan barang itu dari rekannya sesama penjual di Yogyakarta. Ia sendiri tak tahu produsen dan agen resmi boneka-boneka seks itu dari mana. Meski mampu bersuara, barang yang terjual itu kualitasnya jelek, baik bahan, model, maupun bentuk wajah dan badannya.

“Pembeli yang dari Bandung itu kecewa. Ujung-ujungnya minta dibalikin duitnya. Saya bingung sendiri,” ujarnya sambil menceritakan bagaimana cara dia mengembalikan uang puluhan juta itu.

Kapok berjualan boneka seks, akhirnya ia berfokus pada penjualan obat herbal, obat keperkasaan, dan sex toys, yang ukurannya lebih kecil dan cepat disambar pembeli. Peminat barang-barang terakhir ini didominasi kalangan anak muda, mahasiswa, atau pria dan wanita yang belum menikah.

Namun ia pun tak bisa leluasa menjual alat bantu seks jenis itu. Ia beberapa kali mencoba mengiklankan barang-barang tersebut di laman Tokopedia, Lazada, Bukalapak, dan lain-lainnya. “Tapi saya langsung diblokir. Akhirnya semua pembeli berkomunikasi melalui telepon dengan saya,” ujar penjual itu.

Diperkirakan, boneka seks dan alat bantu seks lainnya itu juga dibeli langsung dari toko online di China atau Jepang. Sebab, di Indonesia belum ada perusahaan yang mengimpor atau memproduksi. Pasalnya, Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi melarang produksi, impor, dan penawaran barang-barang yang secara eksplisit memuat persenggamaan, kekerasan seksual, masturbasi, dan sex toys.

“(Terhadap) boneka seks, khususnya impor boneka seks, Bea-Cukai sudah melakukan penindakan selama itu berdasarkan UU Pornografi itu,” kata Kepala Humas Bea-Cukai Deni Sujarjantoro saat ditemui detikX di kantornya, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin, 19 Februari 2018.

Petugas Bea-Cukai melakukan pemeriksaan di bandara.
Foto: dok. Bea-Cukai

Bea-Cukai melakukan penindakan atas boneka seks impor sebagai bagian dari fungsi commodity protection serta tanggung jawab sosial untuk mencegah barang seperti itu masuk Indonesia. Namun Bea-Cukai belum memiliki data utuh terkait tindakan pencegahan barang pornografi, termasuk boneka seks yang masuk ke Indonesia.

Namun, khusus di Bandara Soekarno-Hatta, untuk 2015 tercatat ada 30 kasus barang pornografi dan pada 2016 ada lima kasus. Sedangkan untuk barang kiriman via paket melalui pos di Pelayanan Bea-Cukai Tipe Madya Kantor Pos Pasar Baru, Jakarta Pusat, sudah ada ratusan kasus yang ditangani.

Pada 2016, disita 364 barang pornografi, di antaranya sebuah boneka seks, sembilan buku porno, lima DVD porno, tiga action figure porno, satu foto porno, 32 komik porno, 307 sex toys, dan enam seprai porno. Sementara itu, pada 2017 disita 400 barang pornografi. Semua barang itu berasal dari Amerika Serikat, China, Hong Kong, Jepang, dan Singapura.

“Itu bentuknya mainan ya, yang alat kelamin, bukan hanya bonekanya. Ini secara umum, jadi kita tidak melulu boneka seks,” ujar Deni.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka Kementerian Perindustrian Muhdori mengatakan, sampai saat ini di Indonesia belum ada perusahaan yang memproduksi boneka seks. Saat ini boneka seks yang beredar merupakan hasil impor dari China. “Jadi belum ada yang berminat investasi di sektor itu di Indonesia,” kata Muhdori.


Reporter: Gresnia Arela F
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE