INVESTIGASI

Sex Doll, Jomblo, dan Bebas Protes

“Orang yang menggunakan atau memiliki sex doll bukan berarti pasti memiliki kelainan psikologis atau kelainan seksual.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 20 Februari 2018

Anda pernah menyaksikan film berjudul Mannequin, yang dibintangi aktor kondang Andrew McCarthy? Dalam film yang diproduksi pada 1987 itu, Andrew memerankan Jonathan Switcher, yang bekerja di sebuah department store. Ia sangat jatuh cinta pada Mannequin, yang diperankan oleh aktris cantik Kim Cattrall.

Atau Anda sudah menonton film Simone, yang diperankan oleh Alfredo James Al Pacino? Dalam film yang diproduksi pada 2002 itu, Al Pacino memerankan seorang tokoh sutradara bernama Viktor Taransky, yang tengah mencari pemeran wanita yang sempurna. Ia pun menciptakan secara virtual tokoh pemeran wanita bernama Simone. Ciptaannya itu lebih populer tapi tak nyata, sehingga Viktor terpaksa membunuhnya karena frustrasi.

Di dunia nyata, banyak ‘Mannequin’ dan ‘Simone’ lainnya yang juga dicintai manusia. Ada orang yang serupa dengan karakter Jonathan Switcher atau Viktor Taransky. Mereka berimajinasi memiliki pasangan hidup, bahkan berfantasi seksual dengan memiliki boneka seks atau sex doll.

Boneka seks adalah boneka yang memang dirancang khusus dengan kemampuan menstimulasi rangsangan seksual. Istilah ini juga untuk membedakan dengan produk boneka lainnya, yang berbahan dasar plastik. Tidak hanya boneka ‘berjenis kelamin’ wanita, boneka seks juga ada yang pria.

Sarah Valverde dalam tesisnya bertajuk ‘The Modern Sex Doll-Owner: A Descriptive Analysis’ di Universitas Negeri California, Amerika Serikat, pada 2012 menyebutkan fenomena boneka seks merebak luas ke seluruh dunia. Bahkan para ahli seksologi menyebut pengguna boneka seks merupakan orang yang terstimulasi seksuoerotiknya pada patung telanjang atau model manusia, yang disebut agalmatophilia atau statuephilia.

Boneka seks yang dijual secara online
Foto: dok. Istimewa

Statuephilia bermula dari hasrat ego pikiran manusia, kejeniusan, dan kegilaan yang menyatu. Mitos Yunani punya cerita Pygmalion, seorang perupa yang menciptakan patung Galatea, yang direstui Dewi Venus untuk dihidupkan. Kegilaan seperti itu terkait dengan patung dengan unsur interaksi seksual.

Psikolog Tiara Puspita mengatakan kepemilikan dan penggunaan boneka seks di Indonesia belum sebanyak dan seluas seperti di luar negeri, khususnya Jepang, China, Eropa, dan Amerika. Di negara-negara tersebut, boneka seks menjadi sesuatu hal yang umum. Sedangkan di Indonesia, boneka alat bantu seksual itu sangat sulit didapatkan karena ada pembatasan.

“Perlu diketahui, orang yang menggunakan atau memiliki sex doll bukan berarti pasti memiliki kelainan psikologis atau kelainan seksual,” kata Tiara, yang membuka praktik di International Welbing Center dan Tiga Generasi, kepada detikX, Jumat, 16 Februari 2018.

Di luar negeri, menurut Tiara, pengguna boneka seks adalah orang yang memiliki kehidupan normal. Artinya, mereka bekerja setiap hari dan bisa bersosialisasi. Selama pengguna atau pemilik masih bisa menjalankan fungsi dan tidak berdampak negatif, misalnya masih memiliki ketertarikan terhadap manusia dewasa, tak bisa dikatakan orang itu memiliki gangguan jiwa.

Menurut sejumlah survei, rata-rata pengguna boneka seks di Eropa dan Amerika berumur di atas 40 tahun dengan tingkat perekonomian yang cukup mapan dan memiliki pasangan hidup. Apalagi harga sebuah boneka seks relatif mahal, dari belasan hingga ratusan juta rupiah.

Tiara Puspita, psikolog
Foto: dok. pribadi

Berbeda dengan Jepang, yang rata-rata pengguna boneka seks adalah jomblo atau single. Hal itu terjadi karena banyak faktor, di antaranya jam kerja yang tinggi dan fokus pada karier pekerjaan, sehingga waktu untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis sangat minim. Orang seperti ini lebih dimudahkan untuk memiliki boneka seks. “Namun bukan berarti mereka yang sedang menjalani hubungan dengan pasangannya sudah pasti tidak memiliki sex doll,” tutur Tiara.

Faktor lainnya, boneka seks merupakan bentuk boneka dengan kualitas menyerupai manusia asli. Artinya, boneka seks selalu siap menjadi pemenuh hasrat seksual tanpa harus menjalin hubungan atau mencari jasa prostitusi. Bahkan mungkin pengguna merupakan korban traumatik dari sebuah jalinan hubungan yang buruk pada masa lalunya. “Penyebabnya kembali pada individu tersebut dan perlu dilihat case by case,” Tiara menambahkan.

Sementara itu, seksolog dari Universitas Tarumanagara, Jakarta, Andri Wanananda, mengatakan penggunaan boneka seks merupakan fenomena fantasi. “Dengan boneka lebih seperti hidup, apalagi sosok wanita. Itu sebetulnya masturbasi dengan fantasi. Fantasi dengan objek mati,” tutur pria yang membuka praktik di Bogor ini kepada detikX.

Andri juga membenarkan, pengguna boneka seks belum tentu mengidap kelainan jiwa. Ia mencontohkan, bila ada seorang pria yang ditinggal istrinya tapi tak mau berhubungan dengan wanita lain, jalan paling aman adalah menggunakan boneka. Atau boneka menjadi solusi bagi mereka yang mengidap permasalahan seksual.

“Kalau dengan wanita asli kan bisa malu. Misalnya fungsi ereksinya ejakulasi dini. Kalau ini kan lewat boneka, nggak ada yang protes,” kata Andri.

Dr Andri Wanananda, seksolog
Foto: dok. pribadi

Jadi, menurutnya, ada empat dimensi penggunaan boneka seks. Pertama, terbiasa melakukan masturbasi sejak kecil. Kedua, pria jauh dari istri tapi takut ke prostitusi. Ketiga, rata-rata pengguna pria di atas 60 tahun. Keempat, para penderita ejakulasi dini atau disfungsi ereksi, yang tak akan mendapat protes bila bermain dengan boneka.

Untuk wanita memang lebih gampang dan sederhana, tak perlu boneka seks walau memang ada boneka seks pria. Wanita lebih banyak menggunakan alat bantu seks (sex toys) yang lebih kecil. “Kalau sex doll untuk pria kan menyeluruh,” tuturnya.

Apakah ada efek buruk bagi kesehatan, baik jangka pendek maupun panjang, bagi pengguna boneka seks, Andri mengatakan nihil. Andri sendiri mengaku memiliki boneka wanita terbuat dari silikon yang digunakan di laboratorium kampusnya. Namun boneka itu digunakan untuk mahasiswa kedokteran melakukan praktik pemeriksaan.

“Kalau boneka untuk seksual kan beda lagi. Boneka yang buat praktikum kan buat anatomi, wajahnya nggak dipoles. Kalau boneka seks kan bagus, ada rambutnya, pake wig, mulutnya bisa gerak-gerak begitu,” ujarnya.


Reporter: Gresnia Arela F
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE