INVESTIGASI

Dicari, Pasangan
untuk Jokowi

Diperkirakan hanya akan ada dua pasangan yang berlaga dalam Pemilihan Presiden 2019. Siapa saja yang mungkin menjadi ‘orang kedua’?

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 1 Maret 2018

Barangkali inilah satu-satunya teka-teki bagi masa depan Joko Widodo. Restu maju sebagai calon presiden kini sudah didapat Jokowi, dia biasa disapa, dari partai yang menaunginya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Meski Jokowi sudah mengantongi dukungan dari Partai Banteng, juga dari Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, Hanura, dan NasDem, masih ada satu ‘pekerjaan besar’ yang harus dia tuntaskan untuk kembali ke Istana Merdeka, yakni mencari pasangan.

Musababnya, Jusuf Kalla, yang saat ini jadi pendamping, sudah tidak bisa maju lagi lantaran terganjal peraturan pada Pasal 7 Undang-undang Dasar 1945. Dalam UUD 1945 yang telah diamendemen, pada pasal 7 menyatakan presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan.

Lantaran hal ini pula Jusuf Kalla menyatakan tidak akan maju lagi mendampingi Jokowi. Ketua Palang Merah Indonesia ini pun menyarankan Jokowi mencari pendamping baru. Spekulasi pun bermunculan terkait pasangan anyar Jokowi pada pemilihan presiden tahun depan. Sejumlah kalangan berupaya mengusulkan beberapa tokoh untuk menjadi pendampingnya.

Nama-nama yang beredar di kalangan lembaga survei antara lain mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Gubernur DKI Anies Baswedan, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar, Agus Harimurti Yudhoyono, bahkan Prabowo Subianto, yang menjadi kompetitor Jokowi pada Pilpres 2014, juga masuk dalam daftar.

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Muhammad Romahurmuziy alias Romi, saat berbincang dengan detikX, mengungkapkan nama Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto muncul sejak November 2017. Sejumlah lembaga survei, seperti Saiful Mujani Research Consulting dan Indo Barometer, sempat merilis survei terkait Jokowi jika berpasangan dengan Prabowo. Hasilnya, jika Jokowi-Prabowo maju bersama, bakal tak ada lawan, akan menang mudah.

Rakernas III PDIP, di Grand Inna Beach Hotel, Sanur, Bali, Jumat (23/2).
Foto: Screenshot via Twitter/@PDI_Perjuangan

Figur cawapres harus diterima oleh partai politik pendukung. Siapa sih yang bisa diterima semua parpol?”

Muhammad Qodari dari Indo Barometer

Menurut Romi, hasil survei itu sempat ditanyakan Jokowi kepada Romi dalam perbincangan di dalam pesawat kepresidenan beberapa waktu lalu. “Ketika ditanya seperti itu, saya langsung menjawab, iya saya setuju (Jokowi-Prabowo). Pak Presiden saat itu cukup terkejut. Beliau bilang, ‘Kok langsung setuju?’ Saya katakan, pertimbangannya, kalau Pak Jokowi-Prabowo ini bersatu, akan ada aklamasi nasional,” ujar Romi menceritakan perbincangannya dengan Jokowi saat itu.

Romi berpendapat, jika pasangan Jokowi-Prabowo bersatu, siapa lagi yang mau maju bersaing. Sebab, secara dukungan partai maupun kekuatan figur sudah sangat kuat. Bahkan Romi sempat bergurau di hadapan Jokowi, kalau UUD mensyaratkan lawan bagi Jokowi dalam pilpres, dia siap maju sebagai penantang demi syarat itu asalkan Jokowi dan Prabowo bisa bersatu pada Pilpres 2019. “Kalau Jokowi-Prabowo maju bersama, saya pastikan akan terjadi aklamasi nasional. Dan suasana pilpres akan penuh kedamaian,” Romi berharap.

Tapi namanya mencari ‘jodoh’ gampang-gampang susah, termasuk mencari pasangan sebagai wakil presiden. Apalagi jika melibatkan banyak pihak, banyak partai, seperti dalam pemilihan presiden. Ide memasangkan Jokowi dengan Prabowo, menurut Romi, mungkin hanya bakal jadi angan-angan semata. Sebab, secara tersirat tidak ada keinginan PDI Perjuangan maupun Jokowi bergabung dengan Prabowo dan Gerindra. Apalagi, untuk memilih cawapres, Jokowi harus meminta pertimbangan semua ketua umum partai pendukung, terutama harus mengantongi restu Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Belum lagi soal siapa yang bakal jadi calon presiden dan siapa yang bakal menduduki posisi kedua. Gerindra sepertinya enggan menjadikan Prabowo sebagai ‘orang kedua’. Sejak awal, menurut Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, Gerindra akan mengusung Prabowo sebagai calon presiden, bukan hanya calon wakil presiden.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon
Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Hambatan lain, Jokowi dan Prabowo punya platform berbeda. “Bagi kami di Gerindra, persoalan presiden, legislatif, dan jabatan-jabatan lain, itu bukan persoalan bagaimana mencapai jabatan itu, tapi persoalan bagaimana kekuasaan itu menjadi alat perubahan, untuk mengubah nasib rakyat,” kata Fadli Zon kepada detikX.

Melihat arah angin politik hari ini, Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan menduga pemilihan presiden tahun depan hanya akan menjadi pertarungan dua pasangan, yakni pasangan Jokowi dan pasangan Prabowo. Yang masih sulit ditebak memang siapa orang yang akan menjadi pendamping Jokowi maupun Prabowo.

“Saat ini kondisinya serba-mepet karena waktu pilpres dan pemilihan anggota legislatif bersamaan. Formulasi pilpres, seperti cawapres Jokowi, mungkin baru terlihat di bulan Juni,” ujar Zulkifli saat ditemui di kediamannya, kompleks Widya Chandra, Jakarta. Menurut jadwal dari Komisi Pemilihan Umum, pemilihan presiden dan pemilihan legislatif bakal berlangsung serentak, yakni 17 April 2019. Pendaftaran pasangan calon presiden akan dibuka mulai Agustus 2018.

Bagi kubu Jokowi, Direktur Survei Median Rico Marbun berpandangan, tak ada pilihan lain. Mereka harus mencari pasangan bagi Jokowi dari ‘kolam’ yang berbeda. Artinya, Jokowi jangan mengambil calon wakil presiden dari PDI Perjuangan karena tidak akan membawa tambahan keuntungan elektoral bagi Jokowi karena berasal dari basis dukungan yang sama.

“Harus diingat, pilpres mirip dengan pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Pemenang harus meraup paling sedikit 50 persen plus 1 suara. Melihat elektabilitas Jokowi saat ini, yang ada di kisaran 35-40 persen, Jokowi mutlak memerlukan tokoh partai lain untuk pasangannya,” kata Marbun. Kriteria lain bagi cawapres Jokowi, hendaklah sosok yang punya ketokohan kuat dalam bidang ekonomi dan politik umat. Pertimbangannya, dalam kedua hal tersebut pemerintahan Jokowi dianggap babak-belur.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan
Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Soal sosok pendamping Jokowi, Muhammad Qodari dari Indo Barometer juga satu pandangan dengan Marbun. Cawapres Jokowi mestinya memiliki elektabilitas yang bukan dari basis yang sama. Sebab, kata Qodari, elektabilitas Jokowi saat ini berbeda dengan Susilo Bambang Yudhoyono saat Pilpres 2009. Saat itu popularitas SBY sangat tinggi, sehingga bisa memilih figur yang tidak dikenal untuk pendampingnya.

Yang kedua, kata Qodari, pasangan Jokowi kelak harus bisa dipercaya Jokowi secara pribadi dan dia merasa nyaman dengan figur tersebut. Dari survei yang dikerjakan Indo Barometer, ada sejumlah tokoh yang layak masuk ‘radar’ kubu Jokowi, di antaranya Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, AHY, dan Ridwan Kamil. Namun yang akan menjadi persoalan adalah siapa figur yang bisa diterima oleh koalisi pendukung Jokowi.

“Nah, kriteria ini yang agak rumit. Sebab, figur cawapres harus diterima oleh partai politik pendukung. Siapa sih yang bisa diterima semua parpol? Apakah nama-nama itu bisa diterima PDIP?” kata Qodari. Dia menduga dua orang di belakang Jokowi ini akan menjadi kunci penentu siapa yang akan mendampingi mantan Gubernur DKI Jakarta itu dalam pemilihan presiden tahun depan. Mereka adalah Jusuf Kalla dan Megawati. Dengan kata lain, cawapres yang akan mendampingi Jokowi harus mendapat ‘restu’ dari kedua tokoh tersebut.

Meski peluangnya sangat kecil, Rico Marbun berharap, dalam Pemilihan Presiden 2019 bakal lahir calon alternatif selain Jokowi dan Prabowo, yang pernah bersaing pada 2014. “Tren suara petahana dan tokoh yang berlaga pada 2014 (Jokowi dan Prabowo) saat ini bukan hanya stagnan, tapi malah cenderung menurun. Artinya, pemilih saat ini masih mencari siapa tokoh alternatif yang pantas menggantikan kedua figur yang pernah berlaga pada 2014 itu,” kata Marbun.


Reporter: Ibad Durohman, Syailendra Hafiz Wiratama
Editor: Deden Gunawan
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE