INVESTIGASI

Geliat Sabu dari Myanmar

Sabu berton-ton yang masuk Indonesia sebagian diproduksi di Myanmar. Sindikat pun mengeruk keuntungan besar.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 06 Maret 2018

Indonesia darurat narkoba bukan hanya slogan. Penyelundupan narkoba jaringan internasional semakin nekat dalam membawa masuk barang haram itu ke Indonesia. Indonesia, yang sebelumnya merupakan negara transit, kini menjadi negara tujuan para penyelundup karena pangsa pasar narkoba cukup besar.

Penyelundup, yang biasanya membawa narkoba dalam paket kecil, kini berani mengangkut puluhan hingga ratusan kilogram, bahkan berton-ton sabu. Sementara dulu membawa paket narkoba dengan cara ditenteng menggunakan koper, tas, atau dimasukkan ke tubuh lewat bandara atau pelabuhan, kini barang tersebut dikirim melalui jasa pos dan jasa pengiriman titipan atau kargo melalui kapal laut.

Selain itu, pemain lama muncul kembali dalam kejahatan transnasional narkoba, khususnya narkoba jenis sabu. Barang yang dikirim diduga bukan hanya racikan pabrik sabu dari China, tapi juga dari Myanmar dan Taiwan.

Pada 2 Desember 2017, tim gabungan dari Badan Narkotika Nasional, TNI Angkatan Laut, dan Direktorat Jenderal Bea-Cukai melakukan operasi bersama di laut. Saat itu, tim menerima laporan tentang adanya kapal asing yang akan membawa narkoba melalui jalur laut.

Tim mendeteksi keberadaan kapal mencurigakan. Namun kapal itu tidak berputar-putar di wilayah perairan Indonesia. Kapal bernama MV Sunrise Glory ini malah terus berlayar ke sekitar Teluk Andaman menuju Australia. Saat itu kapal diduga mendrop sabu seberat 1,3 ton di Perth, Australia bagian barat.

Polisi memperlihatkan barang bukti sabu seberat 1,6 ton dan Sebanyak empat tersangka, 1 nakhoda, dan 3 ABK warga negara China di Dir 4 Narkotika Bareskrim Polri, Jakarta. 
Foto : Adhi Wicaksono/CNNIndonesia

“Saat itu diperkirakan kapal itu sempat menurunkan muatan narkoba seberat 1 ton di Australia, yang tak tertangkap otoritas setempat,” kata Direktur Prekursor dan Psikotropika BNN Brigjen Anjan P Putra, 10 Februari 2018.

Setelah itu, kapal kembali bermanuver menuju perairan wilayah Indonesia. Identitas kapal sempat diganti menjadi Sun De Man. Diduga kapal menuju Indonesia melalui perairan Bali dan Banyuwangi, Jawa Timur. Saat berlayar di Selat Philips, Batam, kapal itu ditangkap KRI Sigorut milik TNI AL.

Tim TNI AL awalnya melakukan penangkapan karena kapal itu melanggar pemisah lalu lintas atau traffic separation scheme ketika masuk Selat Philips. Saat itu MV Sunrise Glory digiring ke dermaga Lanal Batam. Begitu digeledah, di dalam palka kapal ditemukan 41 karung sabu dengan total 1,37 ton. Barang haram itu dicampur dengan tumpukan beras dan bahan makanan lainnya. Empat anak buah kapal dari Taiwan diamankan, yaitu Chen Chung Nan, Chen Chin Tung, Huang Chin Nan, dan Hsien Lai Fa.

BNN yakin sabu berkualitas nomor wahid itu diproduksi di Myanmar. Pasalnya, sabu itu dikemas menggunakan bahan yang berbeda dibandingkan sabu yang diselundupkan dari Negeri Tirai Bambu. “Itu dari Myanmar. Kita sudah konfirmasikan. Jadi dulu Myanmar itu mengirim bahan baku, bahan mentahnya, berupa daun-daunan, getah, dan pohon-pohonan, itu biasa diolah di China. Tapi sekarang rupanya mereka mulai membuat,” tutur Kepala BNN Komjen Budi Waseso—sebelum digantikan Irjen Heru Winarko pada 1 Maret lalu—kepada detikX di kantornya di Cawang, Jakarta Timur, 23 Februari 2018.

BNN yakin sabu berkualitas nomor wahid itu diproduksi di Myanmar. Pasalnya, sabu itu dikemas menggunakan bahan yang berbeda dibandingkan sabu yang diselundupkan dari Negeri Tirai Bambu. “Itu dari Myanmar. Kita sudah konfirmasikan. Jadi dulu Myanmar itu mengirim bahan baku, bahan mentahnya, berupa daun-daunan, getah, dan pohon-pohonan, itu biasa diolah di China. Tapi sekarang rupanya mereka mulai membuat,” tutur Kepala BNN Komjen Budi Waseso—sebelum digantikan Irjen Heru Winarko pada 1 Maret lalu—kepada detikX di kantornya di Cawang, Jakarta Timur, 23 Februari 2018.

Sidang terhadap delapan penyelundup 1 ton sabu di Pantai Anyer 
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Saat ditangkap, kapal ikan jaring ketam ini ternyata mengangkut sabu seberat 1,62 ton, yang dikemas dalam 81 karung. Selain itu, empat ABK asal Taiwan ditangkap, yaitu Tan Mai, Tan Yi, Liu Yin Hua dan nakhoda kapal bernama Tan Hui.

Tiga hari kemudian, tim gabungan Polri dan Bea-Cukai menangkap kapal ikan Win Long BH 2998 di perairan Anambas, Kepulauan Riau. Kapal berbendera China dan Singapura ini membawa 28 ABK asal China dan Taiwan. Diduga kapal ini juga membawa sabu dalam jumlah cukup besar. Namun hingga berita ini diturunkan, barang haram itu belum ditemukan.

Tahun lalu, tepatnya 13 Juli 2017, Polda Metro Jaya dan Polres Depok mencegah upaya penyelundupan sabu seberat 1 ton di Pantai Anyer, Banten. Sabu itu diangkut dengan kapal besar di perairan Banten, dan hendak diselundupkan dengan perahu lebih kecil ke daratan.

Polisi saat itu menangkap para penyelundup di Hotel Mandalika, Kampung Gudang Kopi, Desa Anyer. Saat itu gembong atau bandar asal Taiwan tewas didor polisi, yaitu Li Ming Hua. Dua orang lainnya, yaitu Chen Wei Cyuan dan Liao Guan Yu, ditangkap, sedangkan Hsu Yung Li berhasil kabur.

Sampai saat ini, baik BNN maupun Polri belum bisa memastikan apakah sindikat narkoba yang mengirimkan sabu berton-ton itu merupakan satu jaringan, seperti dari China, Taiwan, atau Myanmar. Yang jelas, jaringan satu dengan yang lainnya sama-sama tahu dan memonitor penyelundupan narkoba ke Indonesia.

“Sebenarnya mereka sama-sama tahu, makanya saling monitor. Begitu ketangkap satu, mereka langsung masuk,” ujar Buwas, sapaan akrab Budi Waseso.

Gedung BNN
Foto : Ari Saputra/detikcom

Karena itulah, BNN terus bekerja sama dengan Polri, Bea-Cukai, dan TNI untuk mengawasi semua jalur penyelundup, baik darat, udara, maupun laut. Tak salah bila tim gabungan Polri dan Bea-Cukai menangkap dan menahan kapal ikan Win Long BH 2998 berawak 28 orang asal China dan Taiwan itu. Bahkan tim dari Kementerian Laut pun kini ikut membantu memberikan informasi tentang kapal-kapal ikan yang diduga mengangkut narkoba.

“Ibu Susi (Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan) rajin memberikan informasi kepada saya tentang narkotika, karena beliau punya jaringan untuk memonitor,” Buwas menambahkan. Susi lalu menyatakan kapal-kapal ikan pengangkut narkoba itu bakal ditenggelamkan. “Kapal itu berbendera dan berkewarganegaraan banyak. Namanya itu stateless, itu di mana saja boleh ditenggelamkan,” kata Susi.

Banyaknya warga negara Taiwan yang kini terlibat dalam penyelundupan narkoba, menurut Buwas, bukanlah hal baru. Jaringan Taiwan sudah bermain cukup lama, apalagi melihat pangsa pasar narkoba di Indonesia cukup menggiurkan buat mereka. Begitu juga dengan jaringan dari Myanmar. “Kalau barang dilempar dulu ke China, untungnya kecil. Makanya mereka membuat sendiri. Itulah cara berpikir dagang mereka. Pangsa pasar Indonesia luar biasa,” ujar Buwas.

Direktur Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Daniyanto mengungkapkan, setelah diselidiki lebih dalam, kapal MV Min Liang Yu Yun ternyata mengangkut sabu asal dari China. Kapal itu berangkat dari Pelabuhan Liang Ziang, Provinsi Fuzhou, pada 31 Januari 2018. “Nah, kita belum tahu apakah benar sabu ini di kapal segitu (1,622 ton) atau lebih. Ya mungkin ada 3 ton, setengahnya sudah diturunkan di tempat lain,” ujar Eko kepada detikX, 2 Maret 2018.

Brigjen Eko Daniyanto
Foto : Ahmad Ziaul Fitrahudin/detikcom

Karena itu, pihaknya sedang bekerja sama dengan Pusat Laboratorium Forensik Polri dan Kepolisian China untuk memeriksa track record dari alat navigasi kapal itu. Selama ini, pemasok sabu dominan berasal dari China, Taiwan, Myanmar, Thailand, Afganistan, Iran, dan Afrika.

“Ini masih dominan mereka untuk metamfetamin atau sabu, ya. Kalau ekstasi itu dari Belanda, China, dan Vietnam. Kalau heroin itu sudah jarang masuknya, karena jarang penggunanya,” tutur Eko.

Saat ini penghasil utama sabu memang masih berada di Provinsi Guangzhou, China. Sedangkan Myanmar dikenal sebagai penghasil misirin dan ephedrine sebagai bahan baku sabu. Di China bahan baku itu berkurang setelah pemerintah mengetatkan izin pemasaran zat kimia atau bahan baku obat-obatan atau dikenal sebagai prekursor, yang akan disalahgunakan untuk membuat narkotika dan psikotropika.

“Jadi mereka sekarang lari ke pegunungan. Nah, sekarang malah yang paling besar dari Myanmar. Sebenarnya Myanmar pemain lama, tapi muncul lagi,” Eko menambahkan.


Reporter: Gresnia Arela F
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE