INVESTIGASI

Dari Mahfud, Puan, hingga Zulkifli Hasan

Nama-nama baru bakal calon wakil presiden pendamping Jokowi terus berkembang. Ada Mahfud, Puan, hingga Zukifli Hasan.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 20 Maret 2018

Poster digital bergambar Presiden Joko Widodo dan Mahfud Md beredar di media sosial dan grup-grup WhatsApp pekan lalu. Poster tersebut bertulisan ‘Bernas’, yang merupakan akronim dari ‘bekerja, nasionalis, dan antikorupsi’. Di bagian bawah poster itu juga tertulis dengan huruf kapital duet Jokowi-Mahfud Md untuk Indonesia di 2019.

Mahfud, Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2013, mengatakan tidak tahu siapa yang membuat dan menyebarkan poster tersebut. "Biar saja. Saya tak ingin tahu siapa yang membuat,” ujar Mahfud, Sabtu, 17 Maret 2018.

Mahfud memang masuk daftar cawapres yang pernah disurvei elektabilitasnya oleh Poltracking Indonesia, yang dilakukan pada 27 Januari hingga 3 Februari. Namun, dalam survei cawapres yang akan mendampingi Jokowi dari kalangan santri tersebut, namanya masih berada di bawah Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar dan mantan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Bukan itu saja. Mahfud mengaku sudah menjalin komunikasi dengan salah satu partai politik pengusung Jokowi terkait cawapres. Namun dia tidak mau jemawa saat namanya digadang-gadang. Mahfud menyatakan sebenarnya tidak terlalu menginginkan posisi tersebut. Belakangan ia mencuitkan dukungan kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang Muhamad Zainul Majdi untuk maju pilpres. 

“Alhamdulillah ya masuk, karena saya tidak pernah ingin. Tapi saya juga tidak katakan tak mau karena nggak mau sombong. Pada akhirnya itu akan terserah mekanisme dan itu ada di tangan calon presiden dan partai-partai nanti," ujarnya.

Mahfud MD
Foto : Grandyos Zafna/detikcom


Beliau orang baik. Teman baik saya. Profesor, ahli hukum tata negara. Prof Mahfud jangankan wapres, capres saja cocok dia.”

Informasi yang diperoleh detikX, partai pendukung Jokowi yang mengajak Mahfud adalah Hanura melalui ketua umumnya, Oesman Sapta Odang (OSO). “Dalam beberapa kali pertemuan, Pak OSO meminta Pak Mahfud untuk jadi cawapres Jokowi. Tapi Pak Mahfud hanya menanggapi dengan gurauan,” kata sumber tersebut.

Selain Hanura, lanjut dia, Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan pernah melontarkan usul tersebut. Zulkifli merayu Mahfud agar mau diusung PAN untuk menjadi cawapres bagi Jokowi. Tapi lagi-lagi Mahfud hanya menanggapi dengan guyonan.

Mahfud belum bisa dimintai konfirmasi terkait upaya pendekatan yang dilakukan OSO dan Zulkifli karena sedang berada di Taiwan. Begitupun dengan OSO, belum merespons permintaan wawancara detikX. Adapun Zulkifli menolak berkomentar dan meminta agar hal itu ditanyakan langsung kepada Mahfud.

Meski begitu, Zulkifli mengaku sangat suka pada figur Mahfud, yang merupakan profesor hukum tata negara. “Beliau orang baik. Teman baik saya. Profesor, ahli hukum tata negara. Prof Mahfud jangankan wapres, capres saja cocok dia,” katanya kepada detikX di kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, Senin, 19 Maret.

Muhaimin Iskandar
Foto : Lamhot Aritonang/detikcom

Mahfud, yang juga menjabat penasihat Lembaga Pelayanan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, sebenarnya bukan kali saja masuk bursa pilpres. Pada Pilpres 2014, dia bahkan pernah menjadi salah satu bakal calon wakil presiden untuk mendampingi Jokowi, bersaing dengan Jusuf Kalla dan Abraham Samad.

Namun nasib berkata lain. Rupanya Jokowi memilih politikus senior Partai Golkar Jusuf Kalla. Penetapan Jusuf Kalla sebagai pasangan Jokowi tersebut dideklarasikan pada 19 Mei 2014. Karena jalan menuju Istana tertutup, Mahfud kemudian memilih menyeberang ke kubu Prabowo Subianto, yang berpasangan dengan Hatta Rajasa. Mahfud didapuk sebagai Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta.

Pada Pilpres 2019, Mahfud harus bersaing dengan banyak nama yang tidak kalah beken atau populer sebagai bakal cawapres Jokowi. Sebut saja Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang kini menjabat Ketua Komando Satuan Tugas Bersama Pemenangan Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 Partai Demokrat.

Agus Harimurti Yudhoyono
Foto : Andhika Prasetia/detikcom

Sebagai ‘putra mahkota’ Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono, yang sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat, AHY dipersiapkan jauh-jauh hari, yakni sejak gelaran Pilkada DKI Jakarta. Bahkan AHY didapuk sebagai penyambung silaturahmi SBY dengan Presiden Jokowi.

Jangan heran jika lembaga survei Poltracking menempatkan AHY sebagai salah satu kandidat cawapres Jokowi di atas kandidat lain, seperti Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, serta Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.

Cak Imin terlihat agresif mengkampanyekan diri belakangan ini. Bahkan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada era SBY ini sudah mendeklarasikan niatnya maju menjadi cawapres. Baliho dan spanduknya pun bertebaran di sejumlah wilayah Indonesia.

Alasan maju Cak Imin, menurut Sekretaris Jenderal PKB Abdul Kadir Karding, adalah amanah para kiai sepuh Nahdlatul Ulama. Karena amanah itu, Cak Imin gencar melakukan sosialisasi untuk menjadi cawapres bagi Jokowi.

Menteri Sekretaris Negara Pratikno
Foto : Christie Stefanie/CNN Indonesia

Selain nama-nama itu, yang tidak kalah santer adalah Gatot. Gatot juga sempat masuk dalam radar survei sejumlah lembaga sebagai kandidat cawapres Jokowi. Tapi jenderal bintang empat yang pensiun pada pengujung Maret nanti itu sampai saat ini belum menunjukkan sikap. Alasannya, saat ini ia masih seorang prajurit, sehingga tabu jika berbicara politik.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Ahmad Basarah mengatakan partainya sedang mengkaji secara mendalam nama-nama yang dilirik menjadi pendamping Jokowi. Masuk daftar list juga antara lain Puan Maharani, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy, dan Zulkifli Hasan.

Sementara itu, Jokowi sendiri disebut-sebut telah membentuk tim untuk urusan cawapres itu. Tim tersebut diketuai oleh Pratikno, yang kini menjabat Menteri-Sekretaris Negara. Namun ia membantah adanya tim tersebut. “Ini bukan tim segala macam begitu. Telaah saja. Malah teman di luar itu, yang banyak saya dengar, katanya ada studi (soal cawapres),” kata Pratikno.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE