INVESTIGASI


Fardu Kifayah Cawapres bagi Cak Imin

“Pastilah. Saya (calon) wapresnya (Jokowi) kok nggak dibahas,
ha-ha-ha….”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 11 April 2018

Hampir satu jam Muhaimin Iskandar dan Presiden Joko Widodo bertemu di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 6 April 2018, sore. Namun Muhaimin tidak mau membuka rahasia soal isi pertemuan tersebut.

“Rahasia, Bro. Nanti Presiden marah. Pak Presiden kan juga nggak ngundang wartawan. Empat mata pertemuannya,” ujar Cak Imin, panggilan akrab Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa itu, saat ditemui detikX di rumah dinas Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Widya Chandra IV Nomor 32, Jakarta, Jumat, 6 April.

Tapi Cak Imin tak memungkiri adanya pembicaraan mengenai Pilpres 2019 dengan Jokowi. “Pastilah. Saya (calon) wapresnya (Jokowi) kok nggak dibahas, ha-ha-ha…,” jawab Cak Imin.

Cak Imin mengklaim Jokowi telah memberi izin kepadanya untuk meningkatkan pencitraan bersama Jokowi, seperti dalam poster atau baliho-baliho capres-cawapres. "Pak Jokowi mengizinkan saya branding sama Beliau. Pokoknya begini. Kesimpulannya positif, optimistis, dan prospektif,” tuturnya.

Malam harinya, Cak Imin juga kedatangan Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hasto Kristiyanto, yang menumpang mobil Lexus berwarna hitam bernopol B-2688-YS. Namun baik Cak Imin maupun Hasto memilih bungkam terkait pertemuan tersebut. “Untuk media, nanti saja keterangannya, Selasa (10 April),” kata Hasto seusai pertemuan dengan Cak Imin.

Beberapa hari kemudian, Selasa, 10 April, Cak Imin secara terbuka menyatakan PKB secara resmi mengusung Jokowi sebagai calon presiden. Namun dukungan itu bukan untuk capres semata. Sebab, Cak Imin menegaskan partainya mengusung duet Jokowi-Cak Imin.

Muhaimin Iskandar
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX


Saya mendapat dukungan dari 119 ribu ulama, itu by name, by address, maupun by phone. Jadi itu modal elektoral saya.”

Pernyataan sikap PKB ini disampaikan Cak Imin saat meresmikan posko JOIN, yang merupakan singkatan dari Jokowi-Cak Imin, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. "Terima kasih, bangga dan surprise buat saya kepada sahabat saya, Usman Sadikin, yang telah menyiapkan posko ini. Bukan hanya kantor, tapi juga jejaring di daerah-daerah telah mulai bergerak," ujar Cak Imin di lokasi.

Setelah Cak Imin memberi sambutan, posko pun diresmikan. Lalu Cak Imin menyatakan diri siap mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019. "Saya nyatakan PKB pada Pilpres 2019 mendatang akan mengusung pasangan Pak Jokowi dan Muhaimin Iskandar yang oleh Sahabat Ancu (sapaan akrab Usman Sadikin) disebut pasangan JOIN," kata Cak Imin.

Sikap ‘ngotot’ Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu untuk jadi cawapres memang sudah lama bergulir. Sejumlah spanduk dan baliho promosi Cak Imin jadi cawapres sudah tersebar di seantero daerah di Indonesia, termasuk di Jakarta. 

Cak Imin berdalih, keinginannya menjadi cawapres dipicu oleh desakan kader PKB, simpatisan, serta ulama di Jawa dan Jakarta. Bahkan para kiai kampung, yang diklaim Cak Imin berjumlah 119 ribu orang, menginginkan dirinya maju sebagai capres, bukan cawapres.

“Saya mendapat dukungan dari 119 ribu ulama, itu by name, by address, maupun by phone. Jadi itu modal elektoral saya,” ujar mantan Ketua Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia itu.

Dia kemudian menyebut beberapa kiai yang telah mendukungnya, antara lain Kiai Mukhidin Adul Somad dari Jember, Kiai Ali Mashuri (Ketua NU Jombang), Kiai Zainuddin Jazuli dari Kediri, Kiai Nurul Huda, Kiai Masyhur dari Yogyakarta, Rois Syuriah NU Jawa Tengah, Ketua NU Banyuwangi, Ketua NU Jawa Barat, serta Ketua NU Banten.

Desakan itu kemudian ditafsirkan Cak Imin sebagai ‘fardu kifayah’ atau berhukum wajib dalam ajaran Islam. Sebab, dia merasa, pada pilpres mendatang, harus ada utusan dari kalangan santri yang disokong ulama untuk maju memimpin negeri.

Ketum PKB Muhaimin Iskandar terus bergerak menuju Pilpres 2019.
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Namun langkah Cak Imin mengusung Jokowi sebagai capres dengan embel-embel dirinya sebagai cawapres dianggap kawan koalisi sebagai upaya menyandera Jokowi. "Dukungan ke Jokowi jangan sampai menyandera, apalagi disampaikan secara sepihak,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal PPP Achmad Baidowi.

Awiek—panggilan akrab Baidowi—mengutarakan sejauh ini belum ada pembicaraan nama cawapres di antara koalisi Jokowi. Awiek pun sangsi PKB masih mau mendukung Jokowi jika di kemudian hari Jokowi menentukan sendiri calonnya dan calon itu bukan Cak Imin.

Kawan koalisi pemerintah yang lain tidak kalah mencibir. “Cak Imin coba berkaca dulu, apakah sudah pantas diduetkan dengan Jokowi," kata Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah kepada wartawan.

Hanura menilai deklarasi Cak Imin itu menunjukkan ambisi yang berlebihan. Menurut Inas, posisi pasangan Jokowi pada Pilpres 2019 memang menggiurkan dan bisa mendongkrak popularitas secara instan bagi Cak Imin.

Namun ngotot-nya Cak Imin menjadi cawapres bagi Jokowi dianggap pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lili Romli sebagai hal yang wajar. Sebab, keponakan mantan presiden Abdurrahman Wahid tersebut punya modal yang cukup untuk mendampingi Jokowi. Kalangan nahdliyin dan sejumlah ulama NU berada di belakang Cak Imin.

“Kekuatan yang dimiliki Cak Imin itu memang perlu dipertimbangkan. Problemnya, apakah partai koalisi yang lain setuju atau tidak,” kata Romli kepada detikX.

Namun di sisi lain, menurutnya, posisi tawar Cak Imin cukup lemah karena posisi partainya yang berada di tengah, sehingga posisi tawar politiknya juga tidak kuat lantaran harus berhadapan dengan partai-partai besar di dalam koalisi, seperti Golkar dan PPP.

Romli mencontohkan, saat Cak Imin diangkat menjadi Wakil Ketua MPR saja PPP tidak sepakat, apalagi sekarang mau jadi cawapres Jokowi. Karena itu, Cak Imin diminta melakukan pendekatan-pendekatan dengan partai koalisi yang lain.

Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar,
Foto : Christie Stefanie/CNN Indonesia

Sekalipun Jokowi nantinya tidak memilih Cak Imin sebagai cawapres, Romli memprediksi, PKB akan tetap bersama Jokowi. Sebab PKB, merupakan partai pengusung utama Jokowi, sementara PPP dan Golkar masuk belakangan.

Ditambahkan Romli, manuver Cak Imin ‘menjual’ dirinya sebagai cawapres Jokowi lebih ditujukan untuk meningkatkan elektoral PKB karena pemilu legislatif dan pilpres serentak.

Dan dari berbagai survei, ‘Efek Jokowi’ ini hanya berdampak pada PDI Perjuangan, belum ke partai pendukung lainnya. Itu sebabnya, masing-masing partai pendukung berlomba mengusung ketua umumnya supaya terkena dampak ‘Efek Jokowi’.


Reporter: Ibad Durohman, Syailendra Hafiz Wiratama, Gresnia Arela F
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE