INVESTIGASI

Cak Imin: Jokowi Izinkan Saya Branding

“Perintah kiai, saya maju menjadi cawapres. Nanti kalau Pak Jokowi tidak memilih saya, saya harus konsultasi lagi.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Jumat, 13 April 2018

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar atau Cak Imin makin gencar mengejar target menjadi calon wakil presiden pada Pemilu 2019. Ia rajin berkeliling ke sejumlah wilayah untuk memperbesar dukungan dari para kiai dan santri.

Cak Imin mengaku sering bertemu empat mata dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta. Ia pun mengatakan sejauh ini sinyal dari Jokowi positif. “Ya, Pak Jokowi mengizinkan saya branding bersama beliau,” kata Cak Imin kepada detikX.

Berikut ini wawancara khusus detikX dengan Cak Imin di rumah dinas Wakil Ketua MPR, kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, Jumat, 6 April 2018, selengkapnya.

Jadi Anda tadi habis bertemu Presiden, ya?
Waduh… saya kelepasan ngomong, ha-ha-ha…. Rahasialah. Kan Pak Presiden juga nggak mengundang wartawan. Empat mata pertemuannya. Saya rutin bertemu, 2-3 hari sekali bicara empat mata. Makan bareng di Istana.

Apakah membahas Pilpres 2019 juga?
Pastilah. Saya (calon) wapresnya (Jokowi) kok nggak bahas, ha-ha-ha…. Rahasia, Bro. Nanti Presiden marah.

Oke, bicara mengenai Pemilu 2019, apa target PKB?
Tentu kita berusaha sekuat tenaga agar perolehan suara PKB meningkat tajam. Karena kemenangan PKB adalah kemenangan untuk perbaikan bangsa kita. Peran politik PKB, baik di legislatif maupun di eksekutif, alhamdulillah so far bisa berkontribusi sangat baik dan produktif kepada bangsa dan negara. Untuk itu, saya menargetkan perolehan suara 100 kursi di DPR. Kemudian (saya) menjadi wapres itu target pada 2019.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar
Foto : Bimo Wiwoho/CNN Indonesia

Ada perbedaan strategi tidak dengan Pemilu 2014?
Ada coattail effect di mana pilpres mempengaruhi kursi, di mana kalau pimpinan partai memiliki simbol yang signifikan dalam pilpres, maka partai tersebut akan mendapatkan suara yang signifikan juga. Makanya saya mesti jadi capres atau cawapres pada 2019.

Anda melakukan roadshow ke NTB, Kalimantan, dan Yogyakarta, apakah ada permintaan capres yang tepat untuk Anda dampingi?
Itu bervariasi. Banyak yang meminta saya bersama Pak Jokowi, seperti di daerah Jawa Tengah, sebagian Yogyakarta, ya banyak.

Apakah Anda sudah membentuk tim pemenangan?
Jadi timnya yang bergerak baru orang DPP PKB saja semua.

Sejak kapan muncul keinginan menjadi cawapres pada 2019?
Dari dulu kan aspirasi para konstituen PKB dan pengurus PKB, pokoknya Ketua Umum harus maju di pilpres yang akan datang. Mayoritas menginginkan saya menjadi capres. Ya wajar namanya juga kader. Tapi kan saya bilang itu belum waktunya. Saya bilang sabar. Tapi mereka itu ngotot terus.

Akhirnya suatu hari DPW Jawa Tengah bergerak tanpa sepengetahuan kita, membuat surat instruksi kepada DPC-DPC untuk mengambil langkah-langkah pencapresan saya. Nah, surat instruksi dari DPW itu kemudian bocor ke wartawan, dan menjadi berita di media-media besar. Judulnya ‘DPW PKB Jateng Mencapreskan Cak Imin’. Nah, kaget kita baca itu di koran.

Saya panggil dan saya marahin. Sebab, kalau tak dipersiapkan secara matang, akan jadi kontraproduktif. Setelah ramai berita itu, banyak ulama dan kiai di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI pada baca dan nelepon saya. Saya kira saya akan dimarahi, ternyata pada menyatakan, “Langkah DPW Jawa Tengah harus diambil alih oleh DPP.” Itu kejadiannya 6-8 bulan yang lalu.

Akhirnya pada kumpul ketika rapat DPP, dan DPP minta kepada saya agar mau di-branding dan dimunculkan atau dipersiapkan tim sukses untuk tujuan itu. Saya bilang, ‘Saya setuju asalkan tidak jadi capres, tapi cawapres.” Kenapa? Karena kalau capres saya ini ada di koalisi pemerintahan Jokowi, dan Pak Jokowi pasti maju lagi. Kalau mencapreskan saya, itu sama saja secara psikologis saya terhambat hubungannya dengan Pak Jokowi. Akhirnya mereka setuju.

Gus Dur
Foto : gettyimages

Kemudian setelah itu apa lagi?
Langsung bergerak. Pasang billboard di mana-mana, spontanitas. DPW, DPC, dan teman-teman pengusaha yang simpatisan PKB bikin semua. Itulah sebabnya muncul di mana-mana ‘Cak Imin Cawapres’. Setelah itu rombongan kiai datang, “Ini perintah, 2019 harus jadi minimal wapres.” Itu perintah-perintah kiai top. Ada Kiai Mukhidin Adul Somad dari Jember, Kiai Ali Mashuri, Ketua NU Jombang, Kiai Zainuddin Jazuli dari Kediri, dan lain-lain.

Saya bingung, “Kok jadi perintah begini?” Makanya, kalau Anda lihat, awal-awal itu foto di baliho itu nggak keru-keruan. Gambarnya pecah-pecah segala macam. Foto itu di-download dari Google, makanya kualitasnya jelek-jelek.

Dari semua rangkaian itu, ternyata saya mendapatkan respons yang luar biasa. Semua kiai di Indonesia minta deklarasi, minta pertemuan, minta halaqoh-halaqoh membahas itu, minta rapat-rapat koordinasi, segala macam. Lalu saya kumpulkan Forum Pemred dan saya bilang, “Kalau melihat animo nahdliyin-nahdliyin, para kiai, dan ulama, ya sudah, di depan Bapak-Ibu sekalian menyatakan dengan ini bismillah maju jadi cawapres.”

Apa visi dan misi Anda?
Ada butuh persatuan dan keutuhan bangsa, di mana pengaruh konflik-konflik global, perang Timur Tengah, ISIS, dan radikalisme global jangan sampai terimpor ke Indonesia. Kenapa bahaya? Karena yang terjadi, kebetulan harus kita syukuri dan kemudian kita harus tahu detailnya, Indonesia hari ini kegairahan umat Islam, ghiroh keagamaannya, lagi tinggi-tingginya. 

Semangat beribadah tinggi, semangat berislam tinggi, semangat menjalankan  ajaran-ajaran sangat tinggi. Ghiroh keagamaan ini, kalau tidak didalami untuk menjadi kekuatan positif bagi kemajuan bangsa, maka sayang.

Nah berbahayanya lagi kalau yang memahami ghiroh keagamaan hanya kulitnya saja. Semangat tinggi tanpa kedalaman agama, maka akan salah jalan, akan rindu khilafah, akan berkeinginan mudah menerima impor pertempuran dan kekerasan dari luar negeri. Umat Islam di Indonesia ini, walaupun terbesar, tenang damai.

Saya sampaikan Islam dan kebangsaan harus semakin final. Pancasila, NKRI, semuanya belum menjadi ideologi yang menyatu. Buktinya? Hanya karena puisi marah, langsung men-sublime jadi emosi. Itu bisa ditunggangi perang Timur Tengah masuk ke sini.

Visi pertama ini sebetulnya kata kuncinya sudah ada di pemerintahan Jokowi, tapi belum digunakan dengan baik. Apa itu? Revolusi mental. Visi kebangsaan, visi nasionalisme, visi character building. Visi yang kedua, karena kalau ini berhasil, pembangunan dan kemajuan ekonomi ini harus berpatokan dan ditarik dari satu ideologi kebangsaan yang kuat. Ekonomi maju harus berpijak pada ideologi kebangsaan.

Ekonomi pasar memajukan tapi pasar harus dikontrol negara, harus bisa mengakomodasi kekuatan-kekuatan lemah yang tidak bisa bersaing dalam rezim pasar yang begitu ganas. Hari ini yang terjadi bukan rezim pemerintah dan negara, tapi rezim pasar yang kuat. Itu boleh, tetapi bagaimana yang menjadi kekuatan kecil ini tidak tergerus oleh rezim pasar yang besar, yang kecil jangan sampai tertindas. Saya tegaskan visi saya itu.

Visi ketiga, SDM kita dahsyat dan luar biasa. Pesantren-pesantren kita yang miskin berhasil membentuk karakter mental akhlak kebangsaan itu adalah kekuatan yang belum disentuh, padahal itu puluhan ribu kekuatannya. Bonus demografi angkatan muda yang jumlahnya besar itu belum tertangani dengan sempurna.

Presiden Jokowi
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Ini sekaligus kritik terhadap pemerintahan Jokowi?
Saya tidak bilang ini kritik. Saya ini di dalam pemerintahan, tidak bisa saya bilang kritik. Saya bilang ini semua harus disempurnakan. Nah, saya membawa misi ini untuk menyempurnakan. Makanya saya menyatakan siap maju.

Ada alasan lain ulama mendorong Anda maju cawapres?
Sebetulnya kenapa kiai mendukung, karena mereka rindu Gus Dur jadi presiden seperti dulu. Tapi bukan hanya rindu. Mereka mengharapkan saya menjadi pengayom bagi santri-santri di Indonesia. Makanya saya kan disebut panglima santri.

Kenapa mereka spontanitasnya makin tinggi? Karena baru menangkap, ‘Oh, selama ini mereka diam, tidak muncul, tidak deklarasi apa pun, ternyata mereka berharap memimpikan ada pemimpin dari santri.” Dari segi nasib, mereka yang belum baik, yaitu pondok-pondok becek, MCK-nya tidak sesuai standar kesehatan, semua selama ini mereka terima dengan keadaan diam dan ikhlas. Tapi, ketika saya muncul menjadi calon, mereka berharap Cak Imin membenahi kebutuhan infrastruktur pesantren. Selama ini mereka diam dalam penuh harapan. Itu namanya silent hope.

Anda mengusung konsep Sudurisme, apa itu?
Nah, visi saya tentang ekonomi kebangsaan, SDM, dan lain-lain tadi bahasanya apa ya yang mudah untuk rakyat? Akhirnya ketemu. Rakyat itu sangat mengenal Sukarno. Rakyat itu mengenal yang namanya Gus Dur. Bung Karno menyatakan api Islam harus tetap tumbuh dan menguat di Tanah Air yang menjadi spirit kebangsaan. Makanya lahir Pancasila. Marhaenisme, kerakyatan, semua itu inspirasi api Islam.

Gus Dur pribumisasi Islam. Islam yang sangat mulia, yang sangat normatif. Norma bisa kawin-kinawin dengan realitas lokal. Gus Dur mewarisi Wali Songo yang berhasil mengislamkan Jawa dan Indonesia dengan cara kawin-mengawinkan antara ajaran dogma normatif dan realitas kultural.

Belum lagi Sukarno berhasil membuat narasi kemandirian bangsa, antikolonialisme, dan imperialisme. Gus Dur berhasil menata demokrasi. Tidak pernah ada negara demokrasi tanpa Gus Dur mendirikan Forum Demokrasi.

Dari seluruh narasi itu, Indonesia butuh Gus Dur dan Sukarno. Makanya visi Sukarno-Gus Dur saya gabung menjadi Sudurisme. Sukarno dan Gus Durisme. Sudur itu ada bahasa Arab, artinya dada. Di atas dada ini harga diri. Di atas dada ini kepercayaan. Di atas ini harus ada kemandirian. Negeri tidak bisa didikte negara lain. Sudurisme itu kira-kira itu kemandirian kemanusiaan, dan harus mudah ditangkap oleh semua masyarakat, itu menjadi visi saya.

Anda merasa pede akan dipilih Jokowi, mengingat banyak sekali dukungan ulama dan santri itu….
Jadi ini bukan soal percaya diri. Ini soal perintah para kiai, perintah partai. Istilah NU-nya itu adalah fardu kifayah. Saya diwajibkan oleh para kiai, harus ada yang mewakili aspirasi. Nih, ya, kalau mau enak, ya enaknya jadi Wakil Ketua MPR saja. Nikmatnya begini, Bro. Sudah nggak beban nggak apa. Kalau cawapres kan harus lobi sana lobi sini, kampanye.

Apa respons Jokowi ketika melihat arus dukungan yang begitu deras?
Ya, Pak Jokowi mengizinkan saya branding bersama beliau, ya.

Kembali pertemuan di Istana, bagaimana pembicaraannya dengan Jokowi?
Pokoknya begini, kesimpulannya, positif, optimistis, dan prospektif.

Cak Imin
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Banyak parpol pengusung Jokowi mengusulkan cawapres. Ada kesepakatan syarat pendamping Jokowi?
Tentu semua punya hak. Tapi siapa yang terbaik di antara itu semua, siapa yang visinya sama, siapa yang memiliki agenda yang sama. Saya belum bicara itu dengan yang lain. Tapi itu logika umum kan, logika demokrasi. Bagi PKB, yang penting narasi perjuangan saya beriringan. Perintah dari kiai sudah terdata, menandatangani, mendukung saya itu sudah 119 ribu kiai. Tanda tangan by name, by phone, by address. Kita bergerak 4 bulan terakhir itu keliling. Sekitar 119 ribu kiai itu dari seluruh Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Lampung, NTB.

Dengan dukungan sebesar itu, Anda ingin memberikan tawaran yang tak bisa ditolak oleh Jokowi?
Ya, nggak tahu. Pak Jokowi kan masih punya banyak pertimbangan. Beliau punya kewenangan mutlak. Apakah narasi perjuangan saya yang saya sebutkan tadi Sudurisme akan diterima? Nah, Hasto Kristiyanto saja tadi saya jelaskan langsung jatuh cinta, ha-ha-ha…. Dia Sukarnoisme, saya Gus Durisme.

Ada tawaran dari Demokrat membentuk poros tengah di Bandung, tapi Anda tidak mau datang, padahal ada SBY?
Bohong itu. Saya diundang sekali pas kebetulan nggak bisa. Terus waktunya nggak cocok. Terus diatur lagi di Bandung, ya saya lagi jauh dari Bandung, bagaimana saya bisa datang? Kok saya dibilang menghindar. Saya itu terbuka dengan partai mana pun. Dengan siapa pun, karena republik yang sangat demokratik ini menganut asas kita harus sebanyak mungkin melakukan dialog, agar demokrasi ini sehat dan dinamis. Jangan ada black campaign.

Indonesia terlampau besar untuk sebuah harga demokrasi dengan saling mencela, saling menyalahkan. Pernah dengar tidak PKB menyalahkan orang lain? Tidak pernah sama sekali. Pernah tidak nyerang satu orang pun, karena kami punya prinsip yang jelas, demokrasi kita mengelola negara dengan sebesar ini tidak boleh saling melukai.

Saya harus berkomunikasi, bertemu, apalagi dengan Pak SBY, mantan presiden saya, saya jadi menterinya. Nggak mungkin saya diundang tapi nggak datang. Itu lo, kok Hinca ngomong saya menghindar. Pak SBY itu presiden yang saya jadi menterinya, saya mantan anak buahnya, ya diajak ketemu ya saya pasti ketemu.

Tapi Anda menilai poros tengah itu bagaimana? Apakah memungkinkan?
Nggak tahu saya. Belum pernah ada yang ngomong sama saya. Belum ada yang meminta saya bikin poros, belum pernah ada yang minta.

Sekjen PKB kan pernah bertemu dengan Sekjen PAN dan PD, membicarakan poros?
Belum pernah laporan, belum pernah cerita. Nah, kalau ada yang menghubungi dan mengajak bikin poros, pasti saya pikirkan apa kemungkinannya, ada nggak peluangnya. Politik demokratik yang multipartai ini kemungkinan (poros) atau tidak ada kemungkinan baru bisa kita baca pas tanggal 4 Agustus. Sebelum itu kita nggak bisa prediksi. Misalnya Pak Jokowi dalam waktu dekat menentukan calon wakil presidennya siapa gitu, bukan saya, saya masih yakin belum tentu benar. Jangan-jangan misalnya Jokowi hari ini dengan si A, nanti pas tanggal 4 dengan Muhaimin. Nah… ha-ha-ha….

Kalau melihat survei terakhir di Indo Barometer, posisi suara Anda jika jadi cawapres hanya 5 persen, jauh di bawah AHY dan Anies….
Belum tahu saya kalau Indo Barometer. Dan itu masih bias dengan dinamika pilgub. Nggak tahu setelah saya diundang terus-menerus deklarasi. Tapi survei selain Indo Barometer kita lumayan. Burhanuddin Muhtadi bilang, “Cawapres berbasis Islam tertinggi Cak Imin.” Bukan hanya tertinggi, tapi tak tertandingi. Yang ber-background keumatan ya.

Mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Foto : Puspa Perwitasari/ANTARA FOTO

Apa kepribadian Pak Jokowi yang berkesesuaian dengan Anda dan yang tidak berkesesuaian?
Jokowi ini luar biasa pekerja keras. Mengambil keputusan dengan cepat. Hanya butuh dilengkapi kerangka. Artinya, butuh pelengkap yang mengisi beberapa kekurangan. Misalnya menggenjot revolusi mental, menggenjot character building UKP Pancasila itu. Beliau kan konsentasinya infrastruktur dan menggenjot ekonomi, mengenai SDM, dan keumatan perlu dilengkapi.

Kapan rencana deklarasi secara resmi kepartaian Anda menjadi cawapres Pilpres 2019?
Secara kepartaian, kalender kita bulan Juni. Tapi kalau melihat dinamika perkembangannya membutuhkan cepat, ya saya akan mengumpulkan para kiai, pengurus, dan lainnya.

Apakah masih memungkinkan PKB dengan Jokowi sekalipun Anda tidak dipilih menjadi cawapres Jokowi?
Begini, ini perintah kiai saya maju menjadi cawapres. Nanti kalau Pak Jokowi tidak memilih saya, saya harus diskusi lagi, konsultasi lagi.


Reporter: Ibad Durohman, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE