INVESTIGASI

Sudurisme dan Konflik Cak Imin Vs Gus Dur

“Tega sekali menjual nama Gus Dur sedemikian rupa hanya untuk kepentingan sesaat, yang tentu saja tidak bisa dibawa mati.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 12 April 2018

Sudurisme. Konsep itulah yang akhir-akhir ini kerap didengungkan oleh Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, yang telah mendeklarasikan diri menjadi calon wakil presiden 2019. Sudurisme, menurut Cak Imin, merupakan gabungan antara Sukarnoisme dan Gus Durisme.

Dalam visi Presiden Sukarno, kata dia, api Islam harus tetap menyala dan menjadi semangat. Maka kemudian muncullah Pancasila, marhaenisme, dan kerakyatan. Sukarno juga berhasil membuat narasi kemandirian bangsa, anti-imperalisme, dan antikolonialisme.

Sedangkan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berhasil ‘mempribumikan’ Islam di Indonesia. Seperti Wali Songo, Gus Dur mengawinkan norma agama dengan realitas lokal. Gus Dur, yang merupakan pendiri PKB, juga berhasil menata demokrasi di Indonesia pasca-Reformasi 1998.

Sudur itu ada bahasa Arab, artinya dada. Di atas dada ini harga diri. Di atas dada ini kepercayaan. Di atas ini harus ada kemandirian. Negeri tidak bisa didikte negara lain. Sudurisme itu kira-kira itu kemandirian kemanusiaan, dan harus mudah ditangkap oleh seluruh masyarakat. Itu menjadi visi saya,” kata Cak Imin dalam perbincangan dengan detikX di rumah dinas Wakil Ketua MPR, Widya Chandra, Jakarta Selatan, Jumat, 6 April 2018.

Sudurisme itu pulalah yang ditawarkan Cak Imin untuk ‘melamar’ sebagai cawapres kepada Joko Widodo dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan selaku pengusung Jokowi. “Apakah narasi perjuangan saya yang saya sebutkan tadi, Sudurisme, akan diterima? Nah, Hasto saja tadi saya jelaskan langsung jatuh cinta, ha-ha-ha…,” ucap Cak Imin. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto sempat menemui Cak Imin di sela-sela wawancara.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar mendirikan posko pemenangan JOIN, yang merupakan singkatan dari Jokowi-Cak Imin.
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Yahya Cholil Staquf, seorang Gusdurian yang menjabat Wakil Sekretaris Jenderal PKB era Gus Dur, menilai Cak Imin brilian dalam menyodorkan konsep Sudurisme itu, meski ia mempertanyakan apakah isinya sungguh-sungguh. “Apakah betul merupakan pengembangan visi Sukarno dan Gus Dur? Apakah bentuk pengembangan yang dipilih itu feasible atau tidak, saya mau menanyakan,” kata dia kepada detikX.

Meski Cak Imin pernah terlibat konflik perebutan PKB dengan Gus Dur, ujar Yahya, pemakaian simbol Gus Dur dalam politik sekarang ini tidak jadi masalah. Gus Dur merupakan inspirasi politik bagi PKB. Hanya, menurutnya, PKB di bawah Cak Imin sekarang ini belum sepenuhnya mencapai kondisi yang dicita-citakan Gus Dur.

Terkait konflik Cak Imin dengan Gus Dur pada 2007 itu, Yahya melihat hanya perbedaan pendapat di PKB dan tidak mempengaruhi hubungan personal. Hubungan Cak Imin dengan Gus Dur secara personal pun baik-baik saja meski di PKB sempat memanas. Sebab, bagaimanapun, Cak Imin adalah keponakan Gus Dur.

Menurutnya, konflik Gus Dur dengan Cak Imin merupakan bentuk gemblengan terhadap generasi muda. Sebab, Gus Dur selalu mempercayakan urusan besar dan penting kepada tokoh-tokoh muda. “Imin itu menjadi Wakil Ketua DPR di umur 34 tahun. Gus Dur ingin mengajari kami untuk berani mandiri. Kalau tidak berani bertarung dengan teman sendiri, ya sudah, berhenti saja,” tutur Yahya.

Wakil Sekretaris Jenderal PKB Daniel Johan
Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Sebagai orang yang blak-blakan, (saya) mengingat bagaimana Gus Dur bersikap bahkan kepada ‘musuh-musuh’ politiknya, respons Bapak saat itu amat sangat jelas: tidak suka bertemu dengan mereka.”

Alissa Wahid, putri Gus Dur

Hal yang sama dikatakan Daniel Johan, yang sekarang menjabat Wakil Sekjen PKB. Daniel bergabung dengan partai berbasis nahdliyin itu pada 2007 saat partai tersebut dalam masa transisi pascakonflik. “Waktu itu nggak terbayang bisa muncul kejadian itu (konflik). Karena, bagi kami, Gus Dur dan Cak Imin itu seperti satu batang tubuh,” ujar Daniel kepada detikX.

Tapi, karena sudah lama dekat dengan Gus Dur, Daniel akhirnya paham terhadap sikap cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari yang sering melakukan gerakan-gerakan mengagetkan itu. Meski di media konflik Gus Dur dengan Cak Imin terlihat tajam, dalam sejumlah pertemuan antara Gus Dur dan Cak Imin, keduanya masih bisa bercanda seperti tidak pernah ada konflik. “Cak Imin masih cium tangan Gus Dur,” katanya kepada detikX.

Dan sampai detik ini, Daniel menambahkan, Cak Imin tidak pernah merasa melawan Gus Dur. Sebab, saat Gus Dur meminta Cak Imin mundur dari Ketua Dewan Tanfiz PKB, permintaan itu dituruti dengan mengajukan surat pengunduran kepada Gus Dur. Namun surat itu kemudian dikembalikan lagi saat itu juga oleh Gus Dur kepada Cak Imin dan masih disimpan sampai sekarang.

Namun, soal konflik Gus Dur dengan Cak Imin, Alissa Wahid punya pengalaman sendiri. Hal itu dituangkan di blog pribadinya yang di-posting pada 6 April 2014. Putri Gus Dur ini yakin konflik Gus Dur dengan Cak Imin nyata adanya, bukan sebuah rekayasa untuk penggemblengan atau apa pun.

Di blog itu, Alissa mengisahkan permintaan kubu Cak Imin kepada dirinya untuk menjadi jembatan islah antara Cak Imin dan keluarga Ciganjur. Alissa juga menyaksikan sendiri sikap Gus Dur ketika Cak Imin datang ke rumah bersama Rustini, istrinya. Kala itu Gus Dur hanya menjawab pertanyaan Rustini dan mendiamkan Cak Imin. Ini terulang di banyak kesempatan lain.

Abdurrahman Wahid
Foto: dok. detikcom

Gus Dur juga secara terang-terangan menolak kedatangan Lukman Eddy ke Ciganjur. Lukman Eddy adalah Sekjen PKB versi kepemimpinan Cak Imin. “Sebagai orang yang blak-blakan, (saya) mengingat bagaimana Gus Dur bersikap bahkan kepada ‘musuh-musuh’ politiknya, respons Bapak saat itu amat sangat jelas: tidak suka bertemu dengan mereka,” demikian tulisan Alissa .

Alissa pun bertutur, pada 2008, saat proses hukum PKB Gus Dur versus PKB Cak Imin bergulir, Gus Dur terjatuh saat dituntun ke kamar mandi oleh Sulaiman di kantor Gus Dur di pojok kantor PBNU. Setelah itu, dia dinyatakan menderita stroke ringan. Sulaiman bercerita, Gus Dur terkejut terhadap pernyataan orang-orang PKB versi Cak Imin di sidang Pengadilan Tata Usaha Negara yang menyatakan lebih senang Gus Dur tidak di PKB. “Orang-orang ini saya yang bawa masuk politik, kok tega, ya, mereka ngomong begitu tentang saya, Man,” ucap Gus Dur.

Puncaknya adalah ketika Mahkamah Agung menyatakan gugatan PKB Gus Dur ditolak dan menyatakan PKB yang sah adalah hasil Muktamar Semarang dengan Ketua Umum Cak Imin dan Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syuro. Cak Imin tetap berkantor di Menteng, tidak lagi di DPP PKB Kalibata, tempat biasa Gus Dur ngantor. Kondisi kesehatan Gus Dur pada 2009 itu makin buruk.

Alissa Wahid
Foto: dok. detikcom

Gus Dur sampai mengumpulkan amplop-amplop bela rasa dan urunan biaya perawatan. Uang yang disimpan di laci kantor PBNU itu hendak digunakan Gus Dur untuk menggelar lagi muktamar PKB. “Bapak sedang mengumpulkan uang untuk muktamar PKB, Nak. Imin nggak bisa dibiarkan terus-menerus,” ucap Gus Dur seperti ditirukan Alissa. Gus Dur juga beberapa kali bercerita, PKB tak boleh dipegang Cak Imin.

Karena itu, Alissa pun meminta Cak Imin tidak mengait-ngaitkan PKB versinya dengan Gus Dur. Tidak diperkenankan pula memakai simbol-simbol Gus Dur untuk kepentingan menarik suara dan kekuasaan. “Hanya ingin mendapatkan dukungan dari pencinta Gus Dur, tega sekali orang-orang ini menyebarkan narasi yang justru menghina karakter Gus Dur. Tega sekali menjual nama Gus Dur sedemikian rupa hanya untuk kepentingan sesaat, yang tentu saja tidak bisa dibawa mati,” kata Alissa.


Reporter: Ibad Durohman, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Habib Rifai

[Widget:Baca Juga]
SHARE